SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada malam hari, ketika suasana lebih sunyi dan gangguan lebih sedikit. Ketika orang lain mulai tidur, pikiran saya justru terasa lebih leluasa bekerja. Laptop menyala, buku terbuka, kopi tersedia, sementara rokok menemani jeda di antara kalimat. Begitulah malam perlahan menjadi bagian dari kehidupan saya sebagai penulis.
Saya tidak merasa sedang menyiksa tubuh. Saya merasa sedang bekerja. Satu tulisan selesai, lalu tulisan lain menyusul. Buku bertambah, esai terbit, pekerjaan berjalan. Saya tidur ketika pagi mulai menjelang, kemudian bangun dan kembali menjalani rutinitas. Begadang akhirnya bukan lagi kejadian sesekali, melainkan kebiasaan yang saya anggap wajar.
Kopi pun menjadi semacam ritual. Bukan sekadar minuman, melainkan teman berpikir yang hampir selalu hadir ketika menulis. Rokok menjadi jeda di antara paragraf atau ketika sebuah kalimat terasa buntu. Saya tidak pernah menghitung berapa cangkir kopi dan batang rokok yang menemani sepuluh tahun itu. Yang saya hitung justru tulisan, buku, pekerjaan, dan tenggat yang berhasil saya lewati.
Tubuh saya seperti selalu saya letakkan di belakang produktivitas. Selama masih sanggup duduk di depan laptop, saya merasa semuanya baik-baik saja. Rasa lelah sering saya anggap sebagai bagian dari pekerjaan. Kantuk dilawan dengan kopi, sementara malam diperpanjang demi menyelesaikan tulisan. Tubuh seolah hanya perlu mengikuti kemauan kepala.
Kini, ketika saya harus menjalani pemeriksaan karena kecurigaan terhadap penyakit pada tubuh, kebiasaan-kebiasaan itu kembali muncul dalam ingatan. Saya mulai bertanya apakah selama ini terlalu lama mengabaikan tubuh sendiri. Pertanyaan berikutnya lebih mengganggu; apakah begadang, kopi, dan rokok ikut membawa saya sampai ke sini? Saya tahu pertanyaan semacam itu mudah muncul ketika seseorang mulai berhadapan dengan kemungkinan penyakit.
Namun saya harus berhati-hati menjawabnya. Kanker bukan persamaan sederhana yang memungkinkan seseorang menunjuk satu kebiasaan sebagai penyebab. Pada Hodgkin lymphoma, misalnya, penyebab pastinya pada kebanyakan orang belum diketahui. Penyakit ini berkaitan dengan perubahan DNA pada sel tertentu, sementara sebagian kasus berhubungan dengan Epstein-Barr virus. Banyak pasien bahkan tidak mempunyai faktor risiko yang jelas.
Karena itu saya tidak bisa berkata, “Saya mengalami ini karena sepuluh tahun begadang.” Kopi pun tidak layak dijadikan terdakwa hanya karena selama ini selalu berada di samping laptop. Untuk rokok, persoalannya lebih jelas; tembakau meningkatkan risiko berbagai kanker. Saya punya alasan untuk berhenti merokok tanpa harus menunggu tubuh memberikan vonis. Keputusan itu seharusnya berdiri sendiri, bukan bergantung pada hasil pemeriksaan.
Begadang juga perlu ditempatkan secara hati-hati. IARC (International Agency for Research on Cancer), lembaga penelitian kanker di bawah WHO, menggolongkan kerja malam yang mengganggu ritme sirkadian sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia atau Kelompok 2A. Namun kerja malam yang teratur tidak bisa begitu saja disamakan dengan kebiasaan seorang penulis yang tidur larut untuk menyelesaikan tulisan. Penilaian IARC menunjukkan kekuatan bukti mengenai bahaya, bukan kepastian bahwa setiap orang dengan kebiasaan tersebut akan terkena kanker.
Barangkali persoalan sebenarnya bukan mencari siapa yang bersalah, melainkan menyadari bagaimana saya selama ini memperlakukan tubuh. Saya terbiasa membaca manusia melalui tulisan; kebudayaan, perilaku, sejarah, percakapan, dan perubahan sosial. Saya menulis tentang kehidupan orang lain sambil berusaha memahami manusia. Ironisnya, tubuh sendiri justru jarang saya baca dengan perhatian yang sama.
Ia lapar, saya beri makan. Ia mengantuk, saya suruh bertahan. Ia lelah, saya beri kopi. Ketika pikiran ingin terus bekerja, tubuh harus menyesuaikan diri. Bahkan ketika malam sudah terlalu larut, saya masih mengatakan kepada diri sendiri bahwa tulisan ini tinggal sedikit lagi. Tubuh akhirnya seperti pekerja yang tidak pernah ikut menentukan jam kerjanya.
Barangkali itulah yang paling mengganggu dari kesadaran saya sekarang. Bukan karena saya menemukan bukti bahwa gaya hidup tersebut menyebabkan penyakit, melainkan karena saya menyadari betapa lama tubuh saya perlakukan sebagai alat produksi. Saya merawat tulisan dengan teliti, mengedit kalimat berkali-kali, menghapus kata yang berlebihan, lalu membaca ulang paragraf yang terasa kurang tepat. Terhadap tubuh, saya justru sering tidak melakukan penyuntingan apa pun.
Saya membiarkannya berjalan dengan kebiasaan lama. Ketika tubuh mengirimkan sinyal, saya sering menganggapnya gangguan kecil yang akan hilang sendiri. Padahal tubuh mempunyai bahasa yang tidak selalu berbentuk kata, yakni lelah, sakit, perubahan berat badan, gangguan tidur, benjolan, atau sesuatu yang akhirnya membawa kita ke ruang pemeriksaan. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membaca dunia sampai lupa bahwa tubuh juga sedang menulis.
Saya belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tubuh saya. Pemeriksaan masih berjalan, sehingga saya tidak ingin mendahului diagnosis dengan ketakutan. Saya juga tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai terdakwa. Jika nanti penyakit benar-benar ditemukan, pertanyaan “Apa kesalahan saya?” tidak akan banyak membantu. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Apa yang bisa saya lakukan mulai sekarang?”
Saya bisa mulai tidur lebih teratur. Kopi dapat saya perlakukan sebagai minuman, bukan bahan bakar untuk melawan kantuk. Rokok bisa saya tinggalkan. Saya juga perlu belajar mendengarkan tubuh sebelum ia terpaksa berbicara lebih keras. Menulis tetap akan menjadi bagian penting dari hidup saya, tetapi mungkin tidak lagi dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun terakhir.
Tidak semua tulisan harus selesai malam itu juga. Laptop boleh ditutup ketika tubuh membutuhkan tidur. Kopi boleh dibiarkan dingin ketika pikiran belum menemukan kalimat yang tepat. Sebuah tulisan bisa menunggu sampai pagi. Saya tidak kehilangan identitas sebagai penulis hanya karena memilih tidur lebih awal. Mungkin justru dengan tidur, saya sedang memberi kesempatan kepada penulis di dalam diri saya untuk hidup lebih lama.
Selama ini saya berpikir tugas seorang penulis adalah membaca dunia; manusia, zaman, kebudayaan, dan perubahan yang berlangsung di sekitar saya. Semua saya coba pahami, saya catat, lalu saya ubah menjadi kata-kata. Tetapi ada satu teks yang luput saya baca selama bertahun-tahun. Teks itu tidak berada di buku, layar laptop, atau halaman koran. Ia berada di dalam diri saya sendiri, tubuh saya.
Sepuluh tahun saya menyuruhnya begadang demi tulisan. Kini ia mengirimkan tanda yang memaksa saya berhenti dan membaca. Saya belum tahu bagaimana kalimat terakhirnya. Saya bahkan belum tahu apakah ini benar sebuah akhir. Tetapi untuk pertama kalinya, saya mengerti satu hal: sebuah tulisan boleh dipaksa sampai pagi. Tubuh tidak. Dan kalau selama ini saya begitu takut tulisan saya tidak selesai, mungkin sekarang saya harus belajar takut pada sesuatu yang lebih nyata; kehabisan waktu untuk menulisnya. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole






























