Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi. Dalam pikiran saya, mereka adalah pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan. Rambut mereka mungkin mulai rontok sebagai salah satu efek samping kemoterapi. Ada yang memotong rambutnya menjadi pendek, ada pula yang mencukur hingga gundul.
Mungkin topi itu dipakai untuk menutupi perubahan tersebut. Terlebih bagi perempuan yang selama bertahun-tahun terbiasa memiliki rambut panjang. Rambut bukan sekadar bagian dari tubuh. Ia bisa menjadi bagian dari cara seseorang mengenali dirinya sendiri. Rambut yang panjang, pendek, hitam, dicat, lurus atau keriting, bisa menjadi bagian dari penampilan yang membuat seseorang merasa sebagai dirinya.
Ketika rambut itu tiba-tiba rontok, ada sesuatu yang ikut berubah. Saya melihat mereka duduk di ruang tunggu. Ada yang ditemani suami, anak, atau kerabat. Dan, ada pula yang datang sendirian. Mereka menunggu panggilan pemeriksaan, menunggu dokter, menunggu obat, atau sekadar menunggu giliran. Saya melihat semua itu sebagai sesuatu yang terjadi pada orang lain, sampai kemudian saya menjadi salah satunya.
Sejak Juni 2026, saya didiagnosis limfoma Hodgkin, salah satu jenis kanker yang berasal dari sistem limfatik dan umumnya ditemukan pada kelenjar getah bening. Semuanya berawal dari sebuah benjolan di atas selangkangan sebelah kiri. Pada pemeriksaan awal, dokter bahkan sempat menduga benjolan itu sebagai hernia. Untuk memastikan penyebabnya, kemudian dilakukan biopsi. Biopsi adalah tindakan mengambil sampel jaringan tubuh untuk diperiksa secara mikroskopis di laboratorium. Hasil pemeriksaan itulah yang kemudian mengubah banyak hal
Benjolan tersebut ternyata berkaitan dengan kanker kelenjar getah bening. Saya shock. Ada kata-kata yang terdengar biasa ketika kita membacanya di buku, koran, atau internet. Tetapi ketika kata yang sama diucapkan dokter setelah memeriksa tubuh kita sendiri, maknanya tiba-tiba menjadi sangat dekat.
Kanker. Selama ini kanker berada di luar diri saya. Ia ada dalam berita, cerita keluarga, percakapan di warung kopi, atau pada tubuh orang-orang yang saya lihat di rumah sakit. Kini ia berada di tubuh saya. Saya tertekan. Ada ketakutan yang sulit dijelaskan. Ada pertanyaan tentang pengobatan, pekerjaan, masa depan, dan tentang berapa lama saya masih bisa menjalani kehidupan seperti sebelumnya.
Tetapi perlahan-lahan saya mulai bisa menerima keadaan itu. Menerima bukan berarti tidak takut. Menerima mungkin hanya berarti mengakui bahwa sesuatu memang sedang terjadi, lalu mencoba menjalani apa yang harus dijalani.
Saya kemudian teringat pada Siddhartha Gautama. Dalam ajaran Buddha terdapat gagasan tentang dukkha, tentang penderitaan atau ketidakpuasan yang melekat dalam kehidupan manusia. Sakit, usia tua, kematian, kehilangan, perpisahan, dan berbagai keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan merupakan bagian dari kenyataan hidup. Saya memikirkan penyakit saya sendiri.
Lalu muncul pertanyaan yang agak mengganggu, yakni, apakah ada penderitaan yang sebagian muncul dari cara kita menjalani hidup? Saya tidak sedang mengatakan bahwa kanker adalah hukuman atas perilaku buruk seseorang. Saya juga tidak percaya bahwa setiap orang yang sakit pasti telah melakukan kesalahan dalam hidupnya.
Kenyataan medis jauh lebih rumit daripada itu. Orang yang menjaga kesehatan bisa tetap sakit. Mereka yang hidup sembarangan bisa saja tampak sehat selama bertahun-tahun. Karena itu saya tidak ingin menjadikan kanker sebagai pengadilan moral. Tetapi penyakit membuat saya menengok ke belakang. Saya pernah merokok cukup banyak. Dua bungkus sehari bukan sesuatu yang sedikit. Saya sering begadang karena menulis. Pekerjaan, tekanan hidup, stres, dan terlalu banyak pikiran membuat tubuh kadang-kadang hanya menjadi sesuatu yang saya pakai untuk menjalankan kehidupan.
Tubuh bekerja, tubuh lelah. Tetapi saya sering menganggapnya akan selalu baik-baik saja. Barangkali manusia memang seperti itu. Kita baru menyadari betapa pentingnya tubuh ketika tubuh mulai memberikan peringatan. Selama tubuh sehat, kita jarang memikirkannya. Kita berjalan tanpa memikirkan kaki. Bernapas tanpa memikirkan paru-paru. Tidur tanpa memikirkan tubuh yang sedang memulihkan diri. Kita hidup seolah-olah tubuh adalah kendaraan yang selalu siap mengantar kita ke mana saja.
Sampai suatu hari kendaraan itu berhenti. Di titik inilah saya kembali memikirkan karma phala. Dalam kebudayaan Bali, karma phala dikenal sebagai hukum sebab dan akibat, bahwa setiap perbuatan membawa hasilnya sendiri. Tetapi setelah mengalami sakit, saya tidak lagi ingin memahami karma sebagai hukuman. Bagi saya, karma lebih menarik jika dipahami sebagai kesadaran bahwa setiap pilihan meninggalkan jejak.
Bukan berarti setiap penyakit merupakan akibat dari kesalahan seseorang. Bukan pula berarti Tuhan sedang menghukum manusia karena ia merokok, begadang, stres, atau menjalani pola hidup tertentu. Tidak sesederhana itu. Namun tubuh mempunyai batas. Dan setiap manusia mempunyai tanggung jawab untuk mengenali batas tersebut.
Saya tidak tahu apakah kebiasaan hidup saya selama bertahun-tahun menyebabkan limfoma Hodgkin yang saya alami. Saya tidak mempunyai pengetahuan medis untuk membuat kesimpulan seperti itu. Tetapi penyakit membuat saya menyadari sesuatu yang lain, bahwa saya terlalu lama menganggap tubuh sebagai sesuatu yang tidak akan pergi ke mana-mana. Padahal tubuh adalah bagian pertama dari kehidupan yang seharusnya kita rawat. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk merawat hal-hal di luar tubuh; pekerjaan, tulisan, urusan sehari-hari, dan berbagai persoalan yang datang silih berganti. Saya lupa bahwa ada satu rumah yang selalu saya bawa ke mana-mana, yakni, tubuh.
Kini keadaan mengharuskan saya lebih sering bolak-balik ke rumah sakit. Sebenarnya, rumah sakit bukan tempat yang asing bagi saya. Selama bertahun-tahun, saya sudah cukup sering datang ke rumah sakit untuk kontrol. Bedanya, selama ini saya lebih sering datang ke Poliklinik Psikiatri, untuk mengontrol kondisi skizofrenia yang pernah membuat hidup saya berantakan.
Saya sudah terbiasa dengan ruang tunggu, antrean, suara petugas memanggil nama pasien, dan percakapan kecil di antara orang-orang yang sedang menunggu giliran diperiksa. Saya bahkan sudah cukup lama mengenal diri saya sebagai seorang penyintas skizofrenia. Kini, tanpa pernah saya rencanakan, kehidupan seperti menambahkan satu sebutan lagi. Saya tetap datang ke rumah sakit sebagai penyintas skizofrenia, tetapi sekarang ada alasan lain yang membuat saya harus lebih sering berada di sana, yakni, kanker kelenjar getah bening.
Kalau dahulu saya lebih akrab dengan Poli Psikiatri, kini saya mulai mengenal Poli Onkologi. Seolah-olah perjalanan hidup memberi saya sebuah identitas baru yang tidak pernah saya minta. Dulu saya belajar hidup dengan skizofrenia. Kini saya harus belajar pula hidup dengan kanker. Dua pengalaman yang berbeda, tetapi sama-sama mengajarkan saya bahwa tubuh dan pikiran manusia memiliki kerentanannya masing-masing.
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi penyintas dari penyakit apa pun. Tetapi mungkin hidup memang tidak selalu bertanya kepada kita tentang sebutan apa yang ingin kita sandang. Ada kalanya sebuah sebutan melekat bukan karena kita memilihnya, melainkan karena kita berhasil melewati sesuatu. Maka, jika selama ini saya mengenal diri sebagai penyintas skizofrenia, kini saya juga sedang belajar menerima satu sebutan baru; penyintas kanker kelenjar getah bening.
Bukan sebuah gelar yang patut dibanggakan, tentu saja. Tetapi juga bukan sesuatu yang harus saya sembunyikan. Ia adalah bagian lain dari perjalanan hidup yang sedang saya jalani. Di Poli Onkologi, saya kembali melihat pemandangan yang sebenarnya tidak asing bagi saya, yakni, orang-orang menunggu. Ada yang berjalan perlahan atau membawa map berisi hasil pemeriksaan. Ada yang lebih banyak diam, atau yang tertawa kecil bersama keluarganya, seolah-olah untuk beberapa saat ingin melupakan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit.
Banyak pula yang duduk di kursi roda, terutama perempuan. Di belakang kursi roda itu biasanya ada anggota keluarga yang setia mendorongnya. Suami, anak, saudara, atau orang tua. Mereka tidak banyak bicara. Hanya mendorong kursi dari satu ruangan ke ruangan lain, membantu mengambil nomor antrean, membawa tas, mengambil obat, atau sekadar berdiri menunggu ketika pasien sedang diperiksa.
Saya melihat pemandangan itu berulang kali. Pasien duduk di kursi roda dan keluarga berjalan di belakangnya. Seperti sebuah rombongan kecil yang sedang menghadapi sesuatu yang tidak mereka pilih, tetapi harus mereka jalani bersama. Dulu mungkin saya hanya akan melihatnya sebagai pemandangan biasa di rumah sakit. Sekarang saya melihatnya dengan perasaan yang berbeda. Di rumah sakit, penyakit ternyata tidak pernah hanya dialami oleh satu tubuh.
Ketika seseorang sakit, keluarganya ikut masuk ke dalam sakit itu. Mereka ikut menunggu, cemas, lelah, dan ikut berharap. Dan mungkin, dalam banyak keadaan, mereka juga harus belajar menjadi kuat ketika pasien yang mereka cintai sedang kehilangan kekuatannya. Ada sesuatu yang menarik dari orang-orang yang mendorong kursi roda. Mereka berada di belakang. Tidak menjadi pusat perhatia, tidak tercatat dalam hasil laboratorium, tidak disebut dalam diagnosi, tetapi mereka ada. Terus ada. Dan mungkin justru karena mereka tidak berada di pusat perhatian, keberadaan mereka sering luput kita lihat.
Padahal perjalanan seorang pasien tidak hanya ditentukan oleh obat dan dokter. Ada orang-orang yang mengantar, menunggu, mengingatkan jadwal kontrol, membawakan makanan, mengambil obat, dan memastikan pasien sampai kembali ke rumah. Barangkali keluarga adalah semacam tubuh kedua bagi seseorang yang sedang sakit. Ketika kaki pasien tidak kuat, tangan keluarga yang mendorong . Ketika ingatan pasien terganggu oleh banyaknya jadwal, keluarga yang mengingatkan. Ketika pasien takut, keluarga yang berusaha terlihat tenang. Mereka ikut sakit, tetapi sakit mereka sering tidak terlihat.
Dulu saya melihat topi mereka sebagai penutup kepala. Sekarang saya melihatnya dengan mata yang berbeda. Mungkin topi itu memang menutupi rambut yang rontok. Tetapi mungkin juga ia menutupi sesuatu yang lebih dalam, yakni rasa tidak nyaman ketika tubuh tiba-tiba berubah dan perubahan itu bisa dilihat oleh orang lain.
Saya tidak tahu apa yang dirasakan perempuan-perempuan itu ketika rambut mereka mulai berguguran. Saya tidak pernah bertanya. Tetapi setelah menjadi pasien, saya mulai memahami bahwa penyakit bukan hanya perkara rasa sakit yang muncul di tubuh. Ada rasa takut, rasa malu, dan rasa cemas.
Juga, ada perasaan kehilangan kendali. Tubuh yang selama ini kita kenal tiba-tiba menjadi asing. Bagi sebagian perempuan, rambut mungkin merupakan bagian penting dari identitas. Ketika rambut itu hilang karena pengobatan, mereka bukan hanya kehilangan rambut. Mereka mungkin juga sedang berusaha menerima wajah baru yang muncul di hadapan cermin. Maka topi menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar penutup kepala. Ia seperti batas kecil antara tubuh seseorang dan pandangan dunia. Dengan topi, seseorang masih bisa memilih bagaimana ia ingin dilihat.
Saya mulai menyadari bahwa rumah sakit adalah tempat di mana manusia memperlihatkan bentuk kasih sayang yang paling sederhana. Tidak selalu melalui kata-kata. Kadang-kadang melalui tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang, seperti membawakan air minum, membantu pasien berdir, menyimpan obat, mengambil nomor antrean, mengingat jadwal kontrol, mendorong kursi roda, atau menunggu di depan ruang pemeriksaan.
Hal-hal kecil yang dari luar tampak biasa, tetapi bagi seseorang yang sedang sakit bisa berarti sangat besar. Saya kemudian berpikir tentang betapa individualistisnya kehidupan kita di luar rumah sakit. Kita sibuk dengan pekerjaan, telepon genggam, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Kita sering merasa bahwa hidup adalah proyek pribadi. Tetapi ketika penyakit datang, kita kembali menemukan sesuatu yang mungkin selama ini kita lupakan, bahwa manusia membutuhkan manusia lain.
Tubuh yang sakit mengingatkan kita bahwa tidak seorang pun benar-benar hidup sendirian. Mungkin karena itu pula saya tidak lagi melihat para pasien di Poliklinik Onkologi hanya sebagai orang-orang yang sedang menunggu pengobatan. Saya melihat sebuah komunitas kecil. Komunitas orang-orang yang sedang berhadapan dengan ketidakpastian. Mereka tidak saling mengenal. Mereka mungkin berbeda agama, suku, pekerjaan, pendidikan, bahkan kelas sosial.
Tetapi pagi itu mereka duduk di tempat yang sama, menunggu hal yang sama, mendengarkan panggilan yang sama. Dan berharap pada sesuatu yang sama, yakni, agar tubuh mereka kembali membaik. Di tempat seperti itu, perbedaan manusia terasa lebih kecil. Yang tersisa adalah tubuh, dan harapan. Saya sendiri belum tahu bagaimana perjalanan limfoma Hodgkin ini akan membawa saya. Saya belum tahu bagaimana tubuh saya akan berubah dalam proses pengobatan. Saya belum tahu apakah suatu hari nanti rambut saya akan rontok dan saya akan datang ke rumah sakit dengan kepala tertutup topi.
Tetapi sekarang saya tahu bagaimana rasanya menjadi pasien kanker. Saya tahu bagaimana rasanya menunggu. Saya tahu bagaimana rasanya mendengar kata kanker diarahkan kepada diri sendiri. Karena itu, saya tidak lagi melihat para perempuan bertopi sebagai orang lain. Ada jarak yang telah hilang. Dulu saya melihat mereka dari luar. Sekarang saya berada di dalam cerita yang sama. Dan mungkin itulah salah satu hal paling aneh dari penyakit: ia mengubah cara kita memandang orang lain.
Sebelum sakit, kita melihat seorang pasien. Setelah sakit, kita melihat seorang manusia. Kita melihat ketakutannya, harapannya, keluarganya, dan tubuhnya yang sedang berubah. Dan kita mulai memahami bahwa di balik sebuah diagnosis medis selalu ada kehidupan yang jauh lebih besar daripada diagnosis itu sendiri. Suatu hari nanti, ketika saya kembali duduk di ruang tunggu Poliklinik Onkologi dan melihat seorang perempuan dengan topi, mungkin saya tidak akan lagi bertanya-tanya mengapa ia menutupi kepalanya. Saya akan tahu. Mungkin ia sedang menyembunyikan rambut yang rontok, atau sedang melindungi kepalanya dari matahari atau udara dingin. Mungkin ia hanya merasa lebih nyaman memakai topi.
Atau mungkin ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana, yakni berusaha tetap menjadi dirinya sendiri. Dan di belakangnya mungkin ada seseorang yang terus mendorong kursi rodanya. Seseorang yang mungkin juga takut, lelah, tetapi tetap berada di sana. Saya akan melihat topi itu bukan sebagai simbol kanker. Saya akan melihatnya sebagai simbol kehidupan yang sedang berusaha bertahan. Dan kursi roda itu bukan sekadar alat untuk membawa tubuh yang sedang lemah.
Ia menjadi pengingat bahwa dalam hidup, ada masa ketika kita bisa berjalan sendiri, dan ada masa ketika kita membutuhkan seseorang untuk mendorong kita. Mungkin suatu hari giliran kita, mungkin suatu hari giliran orang yang kita cintai. Sebab manusia kadang-kadang membutuhkan sesuatu yang sangat kecil untuk menghadapi sesuatu yang sangat besar; sebuah topi, kursi roda, atau sepasang tangan yang mendorongnya. Seorang anggota keluarga yang setia menemani, atau seorang dokter yang mengatakan bahwa pengobatan masih bisa dijalani. Atau sekadar keberanian untuk bangun pagi dan kembali datang ke rumah sakit. Kini saya mengerti. Dulu saya hanya melihat topi para penyintas kanker. Sekarang, setiap kali melihatnya, saya melihat manusia yang sedang berusaha mempertahankan dirinya di tengah tubuh yang berubah.
Saya juga melihat orang-orang yang berdiri di belakang mereka. Orang-orang yang mungkin tidak pernah disebut dalam hasil laboratorium, tidak tercatat dalam diagnosis, tetapi ikut menjalani seluruh perjalanan penyakit. Dan mungkin, pada akhirnya, penyembuhan bukan hanya tentang obat yang masuk ke dalam tubuh. Kadang-kadang penyembuhan juga datang dari seseorang yang tidak pergi ketika kita sedang lemah. Dari tangan yang tetap mendorong kursi roda, yang tetap duduk di samping kita. Dari seseorang yang berkata: “Kita jalani saja.”
Saya tidak tahu apakah saya akan menjadi lebih kuat setelah penyakit ini. Tetapi saya mulai belajar sesuatu yang lain, bahwa menjadi kuat bukan berarti selalu mampu berjalan sendiri. Kadang-kadang, menjadi kuat adalah bersedia didorong. Dan ketika suatu hari saya melihat topi-topi itu lagi, saya mungkin akan tersenyum kecil. Bukan karena saya sudah tidak takut pada kanker. Tetapi karena saya tahu, di balik setiap topi, kursi roda, dan setiap orang yang menemani, ada manusia yang sedang melakukan hal yang sama; berusaha tetap hidup. [T]
























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)




