BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun mendadak menyimpang dari rute utama demi menjelajahi tempat yang tersembunyi, autentik, dan tenang. Itulah detour.
Wisatawan memilih jalan menyimpang atau memutar dari tujuan awal berwisata untuk mendapatkan pengalaman lokal mendalam, seringkali di sekitar kota besar atau destinasi populer. Destinasi detour pada prinsipnya adalah tempat yang belum banyak dijamah wisatawan dan jauh dari keramaian.
Pengalaman autentik menjadi motivasi wisatawan mengunjungi destinasi detour. Wisatawan lebih fokus pada budaya lokal, kuliner, dan interaksi dengan masyarakat setempat. Pola seperti ini menekankan bahwa perjalanan detour seringkali lebih berharga daripada sekadar mengunjungi destinasi populer.
Kota seperti Yogya, Bandung, Surabaya; atau destinasi di daerah seperti Ubud, Kuta, Borobudur, Dieng, Batu-Malang, dan Puncak-Bogor sudah dikenal wisatawan yang kadang macet dan mahal. Destinasi detour merupakan desa atau tempat kecil dari jalur wisata populer yang masih sepi, lebih murah, dan memiliki cerita lokal yang kuat. Wisatawan yang awalnya singgah sebentar untuk menghindari keramaian pada akhirnya justru menjadi betah lantaran lebih autentik.
Destinasi detour berbeda dengan hidden gem. Biasanya hidden gem memang memiliki keindahan alam yang bagus, namun letaknya jauh, aksesibilitasnya masih belum baik, belum banyak dikenal, dan perlu usaha keras menuju ke tempat itu. Sedangkan detour lokasinya dekat, mudah dilewati, dan sengaja didesain untuk persinggahan perjalanan wisata.
Banyak destinasi detour, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Desa Wisata Candirejo, Magelang merupakan rute menyimpang bagi wisatawan yang hendak ke Borobudur. Di desa wisata ini wisatawan dapat melakukan berbagai kegiatan mengelilingi desa, naik andong, menikmati tarian tradisional, maupun belajar memasak.
Jepang memiliki kota Uji yang kerap dijadikan destinasi detour sebelum wisatawan berkunjung ke Kyoto yang dipenuhi wisata taman rekreasi. Di kota Uji wisatawan lebih merasa santai dan tenang mengunjungi pusat penghasil matcha (teh hijau), mengunjungi Kuil Byodo-in sebagai warisan Unesco, serta menikmati pemandangan indah sambil berwisata di Sungai Uji.
Alasan Memilih Detour
Sesungguhnya bukan lantaran kesasar wisatawan memilih destinasi detour. Mereka biasanya sudah merasa stres dan capai menginap di destinasi yang ramai, padat, bising, dan jalanan yang macet. Yang mereka cari adalah suasana yang sepi, santai, dapat jalan-jalan sambil mengobrol dengan warga lokal. Wisatawan mungkin memiliki tujuan utama ke Kuta atau Garuda Wisnu Kencana, tetapi mereka memilih menginap di Desa Jatiluwih atau Kelating di Kabupaten Tabanan.
Pertimbangan harga menjadi alasan wisatawan memilih detour. Destinasi utama pastinya sudah dikuasai investor, sehingga untuk menikmati kopi, spot foto, atau parkir kendaraan dengan harga tinggi. Sedangkan detour biasanya dikelola oleh warga. Dengan demikian harga homestay maupun kuliner masih murah.
Pengalaman autentik dan menghindari algoritma media sosial sering menjadi alasan wisatawan detour. Wisatawan Gen Z merasa sudah jenuh dan basi jika harus mengunjungi destinasi yang viral di TikTok. Mereka sengaja menyimpang jalur wisata ke desa sebelah yang masih sepi, memiliki view yang indah, dan warganya ramah. Dan itu dapat menjadi bahan flexing baru di media sosialnya.
Efisiensi waktu dan logistik juga jadi pertimbangan wisatawan detour. Destinasi ini memang berada di jalur utama yang akan dilewati, sehingga tidak terlalu membuang waktu banyak. Di destinasi ini wisatawan bisa berada cukup lama dengan biaya murah, sedangkan di destinasi utama cukup sebentar saja. Destinasi ini bersifat low effort, high reward.
Positif dan Negatif
Destinasi detour layaknya dosis obat. Bila sesuai akan membuat satu daerah menjadi bergairah. Akan tetapi akan menyebabkan ketergantungan pada wisatawan bila dosisnya berlebihan. Destinasi utama seperti Borobudur, Dieng, dan Ubud sudah padat pengunjung pada libur panjang.Positifnya, Detour dapat menarik 20-30% wisatawan agar tidak menumpuk di satu titik, dan warga desa kecipratan uang.
Investor besar biasanya kurang berminat membangun bisnis wisata di pinggiran yang jauh dari jalan utama. Detour memberi nilai postif bagi warga lokal untuk turut berkiprah di industri pariwisata. Dampak baiknya, uang parkir, makan, dan homestay langsung masuk kantong warga, bukan ke perusahaan dari kota besar.
Konsep detour semestinya memang tidak mengejar jumlah wisatawan. Dengan demikian destinasi itu masih tetap dapat menjaga alam dan budayanya. Infrastruktur detour juga tidak perlu dipaksakan menyedot anggaran terlalu besar, sehingga bila sepi kunjungan wisatawan tidak menimbulkan kebangkrutan.
Meski demikian, detour juga memiliki sisi negatifnya. Destinasi ini hidup seperti menumpang pada destinasi utama. Bila Borobudur atau Dieng sepi, maka destinasi detour di sekitar juga turut sepi. Lantaran dikelola oleh warga, detour juga rawan konflik internal yang disebabkan oleh bagi hasil pendapatan.
Keterbatasan infrastruktur menjadi hal negatif yang sering dijumpai wisatawan detour. Banyak desa yang memaksakan diri menjadi detour, tetapi mereka hanya memiliki satu toilet untuk wisatawan. itu pun dalam kondisi yang kurang bersih.
Tidak sedikit pula desa yang menjual “detour washing”. Wisatawan ditawari suasana desa yang asri dan nyaman untuk beristirahat sejenak sebelum ke destinasi utama. Namun kenyataannya, desa itu sudah tidak asri lagi. Banyak bangunan, sampah di mana-mana, wisatawan ditarik biaya tinggi, dan penduduknya tidak ramah. Tentu saja ini akan merusak citra detour yang sesungguhnya.
Destinasi detour tidak perlu terlalu muluk-muluk. Sederhana saja. Seperti warung makan di pinggir jalan tol, kecil dan sederhana; tetapi para pelanggan selalu datang kembali karena rasanya yang pas di lidah. Begitu pun detour, akan bertahan lama bila wisatawan menyimpang dari jalur utama dan selalu kembali ke detour. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)







