ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7 Agustus 2026. Trio jazz fusion eksperimental asal Bali itu berhasil mengajak penonton memasuki komposisi yang tidak berjalan dalam pola yang mudah ditebak.
LaDju tampil pada pukul 19.10–20.00. Penonton mancanegara turut menyaksikan. Beberapa menganggukkan kepala, sebagian lain menggeleng mengikuti perubahan musik yang berlangsung di hadapan mereka. Di antara suara instrumen dan aliran sungai, LaDju memainkan musik yang bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya SUVJF 2026 menjaga regenerasi jazz. Pada penyelenggaraan tahun ini, festival menghadirkan musisi-musisi muda dengan karakter musik yang beragam. LaDju menjadi salah satunya.
LaDju ikut ambil bagian sebagai wujud komitmen SUVJF dalam mendukung regenerasi musisi jazz Indonesia melalui semangat preservation of jazzistry. Keberadaan musisi muda di panggung yang sama dengan musisi senior menjadi salah satu ciri khas SUVJF. Selain memperluas pengalaman bermusik, kesempatan tersebut juga membuka ruang kolaborasi lintas generasi dan lintas negara yang selama ini menjadi identitas festival.


Bagi festival yang telah memasuki penyelenggaraan ke-13 itu, kehadiran generasi baru bukan sekadar menambah daftar penampil. SUVJF sejak awal memang dibangun sebagai ruang berekspresi bagi musisi jazz Indonesia, termasuk mereka yang tak banyak memiliki panggung. Co-founder Sthala UVJF Yuri Mahatma menyebut regenerasi sebagai bagian dari tanggung jawab komunitas jazz. Karena itu, musisi muda dihadirkan berdampingan dengan nama-nama yang telah dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
LaDju sendiri datang dengan pendekatan musik yang memang tidak mengejar pola konvensional. Musik mereka bergerak dinamis. Lewat interaksi teknis dan penggunaan sampel elektronik, mereka berupaya menghindari pengulangan maupun resolusi yang mudah ditebak.
Di atas panggung, Reno Yosua pada gitar, Kristian Dharma pada bass dan elektronik, serta Jonathan Dangawa pada drum membangun dialog yang mengalir. Mereka membawakan sejumlah komposisi orisinal, antara lain “Distance”, “Eat That Frog”, “365”, “Love and Hate”, “Capital”, “Annisah’s Song”, dan “PO.AO”. Komposisi-komposisi tersebut menjadi ruang bagi LaDju untuk menunjukkan karakter musik mereka: jazz fusion eksperimental yang memberi tempat besar pada perubahan ritme, tekstur, dan improvisasi.
Pendekatan itu membuat penampilan LaDju tidak bergerak statis. Ada bagian yang terasa energik, lalu bergeser menjadi lebih tenang. Melodi dan ritme bertemu dengan sampel elektronik, sementara permainan ketiga personel menjaga musik tetap mengalir.
Bagi penonton yang datang untuk mencari jazz kontemporer, eksplorasi ritmis, dan kemungkinan-kemungkinan yang muncul dari improvisasi, LaDju menawarkan pengalaman mendengarkan yang tidak selesai dalam satu pola. Setiap perubahan ritme dan interaksi antarpemain membuka arah baru.


Bagi Kristian Dharma, panggung seperti SUVJF penting karena tidak banyak ruang yang secara khusus memberikan kesempatan bagi kelompok musik jazz seperti LaDju.
“Kami berterima kasih kepada Sthala Ubud Village Jazz Festival yang telah melibatkan kami pada perhelatan tahun ini,” ujar Kristian Dharma.
Ia berharap kesempatan semacam itu terus tersedia bagi kelompok jazz yang jarang memperoleh panggung.
“Semoga event semacam Sthala UVJF selalu diadakan, terkhusus bagi band jazz yang jarang dapat panggung seperti kami,” tandas Kristian, disahuti tawa ringan penonton.
Harapan itu sekaligus menunjukkan mengapa regenerasi menjadi penting dalam sebuah festival jazz. Musik tidak hanya dipertahankan melalui nama-nama yang sudah mapan, tetapi juga melalui ruang bagi musisi pendatang baru untuk memperkenalkan karya, menguji gagasan musikal, dan bertemu langsung dengan pendengar.
Di Sthala UVJF 2026, LaDju mendapatkan ruang tersebut selama 50 menit di Subak Stage. Mereka datang membawa komposisi orisinal, perangkat elektronik, permainan ritmis yang dinamis, serta improvisasi yang memberi ruang bagi jazz masa kini untuk terus bergerak.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































