BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk “Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu“. Diskusi ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat karya Gus Martin atau yang bernama lengkap Ida Bagus Martinaya. Kegiatan yang merupakan rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 ini juga mengajak peserta memahami proses kreatif di balik penulisan naskah dramanya.
Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali, tempat berlangsungnya diskusi pada Selasa, 21 Juli 2026, seakan membuka cara pandang baru terhadap kisah-kisah lama. Cerita-cerita yang selama ini diterima begitu saja dipertanyakan kembali. Tokoh-tokohnya yang telanjur dianggap baik atau jahat diajak untuk dibaca ulang. Melalui buku Rahu: Kumpulan Lima Naskah Drama, Gus Martin mengajak pembaca melihat kisah-kisah tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
Buku Rahu, yang diterbitkan Pustaka Ekspresi pada 2021, memuat lima naskah drama, yakni Drona, Rabas, Dalrya, Sampek-Ingtay, dan Rahu. Karya ini juga menerima Penghargaan Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada 2022.

Salah satu naskah yang paling menarik adalah Rahu. Dalam naskah ini, Gus Martin mengajak pembaca melihat kembali kisah Ramayana dengan cara yang berbeda. Tokoh-tokoh yang selama ini dianggap sebagai pahlawan atau penjahat tidak lagi dipandang secara hitam putih. Pembaca diajak menyadari bahwa sebuah cerita dapat memiliki banyak sudut pandang.
Tidak hanya membahas mitos, kelima naskah dalam buku ini juga berbicara tentang kehidupan masyarakat, tradisi, persoalan sosial, hingga unsur-unsur mistis yang dekat dengan keseharian. Semua itu disampaikan melalui bahasa teater yang sederhana, hidup, dan mudah dinikmati.
Di tengah masih sedikitnya buku naskah drama yang diterbitkan di Indonesia, kehadiran Rahu menjadi sesuatu yang menarik. Buku ini tidak hanya dapat dinikmati oleh pegiat teater, tetapi juga oleh siapa saja yang menyukai sastra dan ingin melihat cerita-cerita lama dengan cara pandang yang baru.
Melalui diskusi ini, peserta diajak memahami bagaimana sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi naskah drama, mengapa mitos perlu dibaca ulang, serta bagaimana teater dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kritik sosial dan mendorong masyarakat berpikir lebih kritis.

Gus Martin dikenal sebagai seniman teater, penulis, dan kartunis yang telah lama berkarya. Ia aktif menulis naskah drama untuk panggung maupun televisi, serta terus berkarya bersama Sanggar Teater Agustus. Kiprahnya juga mendapat penghargaan Bali Jani Nugraha pada 2020.
Diskusi bedah buku ini menghadirkan Isnan Waluyo, M.A., sebagai pembahas. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana tersebut aktif menulis esai sastra dan meneliti berbagai isu sastra Indonesia. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru dalam membaca karya-karya Gus Martin.
Bedah buku ini terbuka bagi siapa saja yang tertarik pada sastra, teater, maupun cerita-cerita yang mengajak kita melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Sebab, melalui Rahu, Gus Martin menunjukkan bahwa cerita lama selalu dapat dibaca dengan cara yang baru.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-350x250.jpg)



