DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam. Atmosfer langsung menggelegar sejak lagu pertama dimainkan. Penonton tak sekadar menyaksikan pertunjukan, melainkan larut menjadi bagian dari konser. Mereka berdiri, bernyanyi lantang, melompat mengikuti irama, hingga mengangkat tangan setiap kali riff gitar menghentak.
Di deretan kursi tamu undangan, kepala-kepala ikut bergoyang mengikuti tempo musik. Sementara di sudut arena, sejumlah wisatawan mancanegara tampak menikmati euforia yang sama. Bahkan, beberapa di antaranya maju ke depan panggung, bernyanyi bersama para penonton, memperlihatkan bahwa bahasa musik mampu menembus batas negara maupun generasi.
Energi itulah yang menandai hadirnya Rockestrasi: Perjalanan Musik Rock Indonesia-Dunia, sebuah pertunjukan produksi Pregina Showbiz yang menjadi salah satu sajian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Meski baru pertama kali dihadirkan dalam festival ini, Rockestrasi langsung memberi warna baru bagi ajang yang selama ini dikenal sebagai ruang ekspresi seni modern, kontemporer, dan inovatif.
Malam itu sekaligus menjadi bukti bahwa musik rock masih memiliki denyut yang kuat di Bali. Para penggemarnya datang bukan sekadar menikmati konser, melainkan juga melepas rindu pada dentuman musik yang pernah mengiringi perjalanan hidup mereka. Semakin larut malam, jumlah penonton justru terus bertambah. Mereka bertahan hingga pertunjukan usai, mengikuti perjalanan musik rock Indonesia dan dunia yang dikemas dalam balutan orkestra.

Sejalan dengan tema Festival Seni Bali Jani VIII, “Kembara Sukma Atma Kerthi” (Pengembaraan Menuju Jiwa Mahasuci), Rockestrasi menawarkan tafsir yang berbeda. Musik rock diposisikan bukan semata sebagai hiburan, tetapi sebagai medium perjalanan kreativitas, penghormatan kepada para legenda, sekaligus ruang regenerasi bagi musisi lintas generasi.
Konser dibagi dalam tiga segmen yang merepresentasikan perjalanan musik rock dari masa ke masa.
Segmen pertama menghadirkan band-band tribute yang membawakan karya kelompok rock dunia. Ballbreaker menghidupkan kembali energi AC/DC, sementara Blackburn membangun atmosfer konser Iron Maiden dengan karakter heavy metal yang kuat.
Memasuki segmen kedua bertajuk Generasi Rock Jawara, panggung menjadi milik para musisi muda Bali yang telah menorehkan prestasi di berbagai kompetisi musik rock. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa estafet musik rock di Pulau Dewata terus berlanjut melalui generasi baru yang tumbuh dengan referensi musik yang semakin beragam.
Puncak pertunjukan hadir pada segmen ketiga melalui konsep Rockestrasi, ketika para musisi rock Bali berkolaborasi dengan Dasa Strings. Lagu-lagu rock klasik Indonesia dan mancanegara era 1990-an dibawakan dalam balutan aransemen orkestra yang megah tanpa menghilangkan karakter garang musik rock.
Selain Dasa Strings, konser juga melibatkan Bali Rockestra, gitaris Balawan, Rocker Muda Jawara, Ballbreaker (AC/DC Tribute), serta Blackburn (Iron Maiden Tribute). Kolaborasi lintas generasi tersebut memperlihatkan bagaimana musik rock di Bali terus berevolusi tanpa memutus hubungan dengan akar sejarahnya.

Penanggung jawab pertunjukan dari Pregina Showbiz, Gus Mantra, mengatakan konsep Rockestrasi lahir sebagai bentuk penghormatan kepada para maestro yang telah memberi pengaruh besar terhadap perkembangan musik rock di Bali maupun Indonesia.
“Pagelaran ini kami bagi menjadi tiga segmen, yakni tribute band, Generasi Rock Jawara, dan Rockestrasi yang memadukan musisi rock dengan orkestra. Kami ingin mengajak penonton melihat kembali perjalanan musik rock Indonesia dan dunia sekaligus memberikan penghormatan kepada karya-karya para maestro yang menjadi inspirasi lahirnya musisi-musisi rock di Bali,” ujarnya.
Menurut Gus Mantra, Rockestrasi juga menjadi upaya membangkitkan kembali semangat musik rock yang mencapai masa kejayaannya pada era 1990-an.
“Rock era 90-an memberi pengaruh besar terhadap perkembangan musik rock di Bali maupun Indonesia. Melalui Rockestrasi, semangat itu kami hidupkan kembali,” katanya.
Ia menambahkan, sekitar 80 orang terlibat dalam produksi pertunjukan tersebut, mulai dari musisi, penata artistik, hingga tim teknis di balik layar.
Bagi Blackburn, tampil di Festival Seni Bali Jani menjadi pengalaman yang istimewa. Band heavy metal yang berdiri sejak 1994 itu kembali mempersembahkan penghormatan kepada Iron Maiden melalui penampilan tribute yang disambut meriah para penonton.
Personel Blackburn, Putu Agus Yudiantara atau Gus Yudi, mengapresiasi langkah Festival Seni Bali Jani yang membuka ruang bagi komunitas musik rock. Menurutnya, kehadiran rock memperkaya keragaman ekspresi seni yang selama ini menjadi identitas festival tersebut.
“Festival Seni Bali Jani merupakan ajang seni modern, kontemporer, dan inovatif. Kami sangat mengapresiasi karena diberi kesempatan tampil di sini. Harapannya, ke depan Festival Seni Bali Jani tidak hanya menghadirkan teater, puisi, atau tari modern, tetapi juga terus memberi ruang bagi berbagai genre musik,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kurator Festival Seni Bali Jani, Made Adnyana, menyebut Rockestrasi sebagai tonggak baru karena untuk pertama kalinya musik rock masuk dalam program resmi festival.
Selama ini masyarakat lebih mengenal Festival Seni Bali Jani sebagai panggung teater, sastra, tari modern, seni rupa, dan musik pop Bali. Padahal, sejarah perkembangan musik modern di Bali juga dibentuk oleh perjalanan panjang musik rock.
“Ini pertama kalinya Festival Seni Bali Jani menghadirkan pementasan musik rock. Musik itu sangat luas dan di Bali perkembangan musik rock sudah berlangsung sejak lama. Karena itu kami mencoba menghadirkan pertunjukan yang menampilkan lagu-lagu rock klasik Indonesia maupun dunia,” jelasnya.
Menurut Made Adnyana, Rockestrasi bukan sekadar menghadirkan nostalgia. Yang lebih penting adalah menunjukkan proses regenerasi yang kini sedang berlangsung. Lagu-lagu Iron Maiden, AC/DC, Led Zeppelin, Deep Purple, God Bless, hingga Nicky Astria dimainkan tidak hanya oleh musisi senior, tetapi juga oleh generasi muda yang aktif mengikuti berbagai kompetisi musik.
“Yang menarik, lagu-lagu klasik itu juga dimainkan oleh anak-anak Gen Z. Jadi Rockestrasi bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga menunjukkan bahwa regenerasi musisi rock di Bali sedang berlangsung,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan musik rock di Bali memang sempat mengalami penurunan sekitar satu dekade lalu ketika banyak musisi tampil secara insidental tanpa memiliki kelompok yang solid. Namun, dalam lima tahun terakhir, situasi mulai berubah seiring tumbuhnya sekolah musik, komunitas, dan sanggar yang melahirkan band-band baru.
“Anak-anak sekarang mulai kembali membentuk band yang serius. Mereka tidak hanya bermain musik untuk mencari pekerjaan, tetapi juga karena benar-benar mencintai musik. Ini perkembangan yang sangat positif,” ujarnya.
Bagi Made Adnyana, tema besar Festival Seni Bali Jani tidak harus dimaknai secara harfiah. Yang lebih penting adalah bagaimana seniman Bali mampu merespons perkembangan musik dunia tanpa kehilangan identitas budayanya.
“Yang kami lihat bukan semata-mata musik rock berasal dari luar negeri. Tetapi bagaimana orang Bali merespons perkembangan zaman, memainkan musik rock tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Bali,” tandasnya.
Malam itu, Rockestrasi menjelma lebih dari sekadar konser. Ia menjadi perayaan perjalanan panjang musik rock, penghormatan kepada para legenda yang telah membentuk sejarah, sekaligus penanda bahwa denyut rock di Bali masih hidup. Melalui kolaborasi lintas generasi dan sentuhan orkestra, Rockestrasi membuka kemungkinan baru bagi perkembangan musik modern di Pulau Dewata sekaligus memperluas cakrawala artistik Festival Seni Bali Jani.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























