SINGARAJA Literary Festival (SLF) IV berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali Gedong Kirtya Singaraja. SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Tema yang diusung pun berbeda-beda setiap tahun dengan berpedoman pada lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja. SLF IV 2026 mengusung tema Stri Sasana yang berarti etika seorang istri. Tema ini sangat inspiratif bagi pemuliaan perempuan di tengah kesibukan bergulat di dapur, kasur, dan sumur.
SLF yang diinisiasi sejak 2023 oleh Yayasan Mahima Indonesia ini menawarkan festival dengan cara lain. Didorong oleh rasa kesepian, SLF digelar. “Apa yang bisa saya buat untuk meramaikan Singaraja sebagai Kota Pelajar yang kesepian,” begitu kata Adnyana Ole sang penggagas bersama istri, Sonia Piscayanti.
Lagi pula SLF hadir dari idealisme dan kekuatan persaudaraan para penulis yang rindu bertemu walaupun minim dana. Berbeda dengan Ubud Writers and readers yang diinisiasi oleh Janet DeNeefe dari Australia sebagai respon terhadap peristiwa Sabtu Kelabu Bom Bali 12 Oktober 2002. Hadir dengan huruf kapital dalam permodalan.
Selain itu, SLF lebih memberdayakan komunitas dan individu dengan kesadaran belajar bermakna untuk selalu menjaga stamina senantiasa penuh vitalitas. Alhasil, peserta pun berdatangan dari berbagai daerah dengan swadaya dan swadana. Tidak saja dari luar Provinsi Bali, tetapi juga dari berbagai negara. “Bahkan, seorang putra Buleleng di luar negeri akhirnya pulang ke Singaraja untuk ikut dapat menikmati sajian selama SLF berlangsung,” kata Adnyana Ole diokekan sang istri di tengah obrolan bersama Romo Setyo sambil menikmati tipat cantok khas Buleleng diakhiri kopi penundung traktiran Bli Putrayasa seniman Canggu, Kuta Utara, Bali, yang hadir memborong sejumlah buku.

Apa makna penting SLF bagi Bali di tengah pariwisata yang gemuruh di Bali Selatan?
Pertama, Singaraja mengukuhkan diri sebagai kepalanya Bali tempat pemikiran dan ide besar dilahirkan. Hal ini sangat cocok bila melongok sejarah tempo doeloe, Singaraja sebagai Ibu Kota Sunda Ketjil sekaligus kota pelajar. Jejaknya kini ada di Undiksha sebagai universitas terbesar di Bali Utara.
Kedua, memancing minat khusus wisatawan untuk datang ke Singaraja. Mereka yang datang dengan minat khusus adalah orang-orang yang haus belajar seni budaya berkearifan Den Bukit. Kesempatan bagi Singaraja menguatkan kebulelengannya dengan desa-desa Bali Kuno sebagai penyangga. Teks-teks tentangnya juga bisa dilacak di rumah peradaban Bali, Gedong Kirtya.
Ketiga, secara ekonomi denyut Singaraja berbinar. Hotel dan Penginapan di-booking peserta berbagai daerah. Cerita mereka tentang SLF berdampak bagi pariwisata Buleleng lebih-lebih dengan ikon baru Titik Nol yang mirip Malioboro Yogyakarta. Pemda Buleleng pun mendapatkan promosi dari event tahunan ini.
Keempat, SLF menghidupkan Sastra Pariwisata seutuhnya. Aktivitas seni pada umumnya dan sastra pada khususnya menjadi perekat kebudayaan yang berbeda-beda. Ibarat tokoh dalam novel, ada protagonis dan antagonis selalu berdialektika membangun komposisi harmonis. Menjadi bacaan yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Dalam konteks itulah, kehadiran SLF IV juga memberikan ruang pameran buku bagi para penulis sekaligus menghadirkan penulisnya untuk berdiskusi membincang karya-karyanya. Ini adalah hal langka bagi Bali. SLF menjadi jembatan penghubung antara pengarang dengan pembaca dalam konteks keduluan, kekinian dan kemasadepanan dengan memperkuat kedisinian seraya menatap harapan kedisanaan. Ruang waktu dan ruang tempat dibuat tanpa sekat. Umumnya, saat virtual meeting yang berlangsung secara maya, wajah bisa disembunyikan yang tidak kita tahu apakah yang bersangkutan benar-benar hadir dan ikut ataukah sedang berbohong. Tidak demikian dengan gelaran SLF yang hadir nyata tanpa sekat hegemoni.
Poin penting dari SLF adalah berhasil menghadirkan Ratih Kumala dan JS Khairen yang sesama novelis. Ratih Kumala yang terkenal dengan novel Koloni dan Gadis Kretek. Koloni berkisah tentang intrik politik dan perebutan kekuasaan di dunia semut. Sementara itu, Khairen tampil dengan novel Rumah yang dibedah oleh Dede Putra Wiguna. Novel Rumah berkisah tentang liku-liku dan luka-luka perjuangan perempuan di rumah yang sering tidak nyaman akibat pola asuh yang kurang terbuka.

Perjumpaan pembaca dan penulis dalam SLF adalah pertemuan memanusiakan manusia sebagaimana diajarkan dalam Pendidikan. Tersirat maksud membangun katalisator dan jejaring makin kuat dan makin berkualitas baik dalam pemahaman pembaca maupun dalam menghasilkan produk berbagai genre sastra.
Di tengah rendahnya hasil PISA yang terpotret dari skor literasi (359) dan numerasi (366) pada 2025, kehadiran SLF dengan Pameran Buku dan Bedah Buku adalah langkah strategis. Ke depan, model ini bisa digairahkan lebih intensif melibatkan para murid sekolah dengan menggandeng Dinas Pendidikan Kota Singaraja. Perintah struktural biasanya mujarab untuk menggerakkan murid-murid sekolah. Banyak hal yang didapat murid dengan arahan guru selama SLF berlangsung apalagi kegiatannya padat dari pagi sampai malam lagi pula sajiannya beragam. Jadi, murid-murid dapat memilih sajian sesuai bakat dan minatnya.
Di sinilah praktik nyata belajar berdiferensiasi diaktualisasikan yang belakangan sering diwacanakan. Dan SLF menjawabnya dengan aksi nyata.
Selain itu, Pameran Buku dan Bedah Buku adalah strategi penyeimbang antara buku fisik dan buku digital. Walaupun keberadaannya antara ada dan tiada akibat tergerus momentum digital, buku fisik tetap penting sebagai kulkas pengawet kebudayaan menjadi abadi. Di samping itu, perbincangan antara teks Sastra Lama yang berbasis lontar seperti dibincang Putu Eka Guna Yasa, dosen Unud yang berkuliah di Prancis dan Ari Dwijayanthi, dosen Institut Mpu Kuturan Singaraja disandingkan dengan karya sastra modern sebagai simbol keberlanjutan keduluan, kekinian, dan kenantian.
Dalam posisi demikian harapan SLF akan tetap berbinar dengan semangat literasi yang terus menyala seperti api Sumpah Pemuda. Waktu akan menjawab apakah SLF akan abadi berkelanjutan seperti PKB yang akan segera memasuki usia setengah abad. Begitulah, SLF IV berakhir dan perlu dicatat serta dimaknai di tengah perubahan yang serba cepat. Sampai jumpa pada lustrum SLF tahun 2027. Salam Literasi dari Singaraja Bali. [T]
Penulis: Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto































