DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Denpasar, melakukan demonstrasi—yang kita kenal sebagai Mendobrak Hegemoni—di lapangan Puputan Renon, Denpasar.
Gelaran berbagai orasi dan pernyataan sikap dalam bentuk pameran dan pertunjukan seni rupa itu, menjadi serangkaian kegiatan yang menghiasi gerakan yang pernah dijuluki “Februari Kelabu” itu. “Potret Nyoman Erawan”, “Art Ne Pis”, “Manifesto Mendrobrak”, “Formalisme Malu-Malu”, dan “Cili-Cili Orang Tidak Kreatif”, adalah karya-karya yang mewakili titik kejenuhan para angkatan muda terhadap pelaku kesenian dan institusi mapan seperti kampus, galeri, dan museum yang pada masa itu hanya memberikan ruang dan apresiasi pada seniman-seniman yang sudah kadung beken, serta mereka yang lulus dari kampus seni di seberang barat sana.

Dan siapa sangka, aksi yang lebih mirip protes dan demo daripada pameran seni (rupa) itu, sukses membelokan peta seni rupa Bali yang dahulu pernah tertidur akibat gegap gempitanya Boom seni rupa dan dominasi kelompok Sanggar Dewata Indonesia sampai awal 2000-an.
Gerakan itu kini sayup-sayup terdengar, seolah telah menjadi urban legend, yang mungkin banyak perupa muda kini tidak benar-benar tahu apa yang mereka nikmati sekarang, sedikit banyak ya adalah ulah dari para dedengkot kesenian—yang belum lulus dan pernah dicap sebagai generasi iri yang gagal itu.

Namun, tulisan bukan upaya bernostalgia. Ia lahir dari kegelisahan melihat medan seni rupa Bali hari ini, yang kembali berhadapan dengan persoalan-persoalan yang pernah diperdebatkan seperempat abad silam. Karena itu, menengok Klinik Seni Taxu bukan semata melihat masa lalu, melainkan mencari cara memahami masa kini.
Klinik Seni Taxu dan Kitch (Buletin Seni Rupa)
Seperti halnya kebanyakan gerakan. Wacana impulsif yang bergerak cepat pasti akan berangsur-angsur kehilangan momen dan jatuh pada perjumpaan yang membakar sesaat. Tekanan dari berbagai pihak, termasuk para akademisi yang terus mendesak, membuat goyah dan tercerai-berainya eksponen dari gerakan “Mendobrak Hegemoni” ini.
Namun, cita-cita saat duduk bersama dalam satu komitmen, kemudian kembali menyatukan mereka dalam satu pemikiran yang berbuah pada kelompok bernama “Klinik Seni Taxu”, sebuah “klinik” yang akan mengobatimu dari kemandatan berpikir oleh karena euforia kebudayaan yang latah. Kelompok yang berdiri tahun 2002 ini terdiri dari anggota lintas disiplin yang didominasi oleh para mahasiswa seni rupa STSI Denpasar. Di antaranya adalah Seriyoga Parta, Mahendra Yasa, Wayan Suja, Ngakan Ardana, Made ‘Bayak’, Dodit artawan, Ngurah Suryawan, Wayan Arsana, Moniarta, Gede Puja dan beberapa eksponen lainnya pada waktu itu.

Namanya lahir dari plesetan kata “taksu” yang jamak digunakan untuk menjelaskan keangkeran, mistisisme kebudayaan, dan upacara yang ada di Bali. Misinya sederhana, yaitu membongkar dan mendesakralisasi mitos-mitos yang menempel pada kanon-kanon kesenian (rupa) kebanyakan.
Pameran demi pameran dihelat untuk mewadahi pemikiran dan lingkaran diskursif yang telah dibangun, meliputi berbagai tematik menyoal identitas, sosial, politik, dan kelatahan budaya yang mereka alami sebagai generasi yang lahir dari rahim reformasi. Kehadiran kelompok ini membangkitkan geliat kritisisme di tengah pusaran wacana yang tengah lengang dan stagnan.

Pameran perdana mereka yang bertajuk “Hati-Hati!!! Ada Upacara Taxu” pada Februari, 2003, dihiasi macam-macam karya seperti “Identitas Bali…?” oleh Wayan Suja serta “Not Proud Being A Balinese” dari Gede Puja. Karya dan pameran tersebut adalah buah artistik yang lahir dari dialektika antarseniman yang waktu itu tengah mengeluhkan dan mempertanyakan kembali atribut ke-Baliannya.
Selain produksi artistik berupa karya-karya visual, mereka juga melebarkan sayap pergerakannya melalui penerbitan independen berupa buletin seni rupa yang mereka sebut sebagai “Kitsch”. Sejalan dengan maknanya yang berarti “Selera kelas bawah”, istilah yang berasal dari bahasa Jerman itu dianggap mewakili inisiasi mereka (angkatan muda)—yang “dari kumpulannya terbuang”—untuk menuangkan pemikiran mereka dalam bentuk sebuah buletin yang bercita-cita ingin terbit sebulan sekali.
“… Hari ini, edisi pertama hadir dengan segudang kritik dan cela. Tak apalah. Sebagai awal daripada tidak sama sekali……Dan gerakan perubahan melawan dominatif memang harus dilanjutkan dan dipelihara. Msalahnya, bisakah kita betah dan menikmati memelihara perlawanan itu?” (Redaksi, Kitsch edisi perdana Agustus-September, 2002)
Pada edisi pertamanya yang berjudul “Kebohongan Pengider Bhuana”, mereka meluncurkan hujaman kritik atas pameran bersama Pengider Bhuana dosen STSI Denpasar di Museum Rudana, Agustus, 2002. Kelahirannya yang pertama sontak mengguncang para elitis akademisi (rupa) terutama seniman dan dosen kawakan I Wayan Karja, yang menjadi sosok utama di balik pameran tersebut.

Seperti halnya penerbit zine independen, berbagai artikel yang muncul kebanyakan dari para anggota Taxu itu sendiri. Sehingga buletin ini bekerja layaknya arena sparing bagi para seniman untuk menajamkan pemikiran, dan analisis kritis mereka ke dalam sebuah teks bacaan.
Berjalannya waktu dan gelaran yang konsisten, membuat kelompok ini mulai dikenal dan mulai juga terjaring dengan kelompok akar rumput di berbagai daerah, seperti Jogja dan Bandung pada masa itu.
Artikel dalam buletin bulanan ini lambat laun mulai diperkaya oleh tulisan-tulisan dari penulis di luar daerah Bali itu sendiri. Sehingga wacana dan diskusi yang terjadi meluas hingga pada perbincangan dan problematika seni rupa Indonesia.
Memasak & Sejarah: Puncak Eksperimentasi
Pada 9 Juni 2004, Klinik Seni Taxu mendapat kesempatan untuk menggelar pameran di sebuah tempat yang kini kita kenal sebagai Cemeti Institute. Di antara pertarungan artistik yang ketat, terdapat satu karya kolaboratif dengan judul “Memasak & Sejarah” yang juga menjadi judul dari pameran ini.
Pameran ini menjadi salah satu proyek yang begitu eksperimental di zamannya, mungkin juga sampai hari ini. Mereka yang datang dari pulau kecil bernama Bali, tidak hadir dengan eksotika mooi ala seniman eks patriat yang menjual keindahan alam dan mistisisme budaya Bali. Mereka justru berbalik melihat sejarah pembantaian—yang dikenal sebagai Gestok (Gerakan 1 Oktober 1965)—yang menghabisi 300 kepala warga Tegalbadeng, Jembrana, Bali.

Di antara ingatan kelam tersebut, mereka hadir dengan ide gila. Mereka memasak makanan tradisional Bali dari bahan singkong, di mana tanah tempat singkong itu tumbuh adalah kuburan bagi puluhan bahkan ratusan tulang-belulang manusia yang dibantai pada malam-malam mencekam tahun 1965-1966 di Bali. Tak terbayang betapa terkejutnya ekspresi para pengunjung yang tadinya lahap mengunyah jajan yang telah disediakan sebelumnya. Dan itu sebagian dari salah satu pameran yang paling membekas, ketika kita membicarakan Taxu dan berbagai proyek pemikirannya.

Kembali pada buletin Kitsch. Edisi demi edisi mulai diterbitkan di tengah para eksponen yang mulai punya kesibukan; saat arah kesenian mulai menunjukan perbedaan di antara tubuh kelompok itu sendiri.
Hingga sampai pada edisi terakhirnya, yaitu ke-10—sebuah edisi yang tak direncanakan sebagai yang terakhir—gejolak intern pada Klinik Seni Taxu memaksa buletin tersebut harus berhenti setelah berjibaku selama 3 tahun dengan biaya produksi dan berbagai problem visi anggota. Ego yang besar, serta bujuk rayu dari pintu-pintu “kekuasaan” yang dahulu mereka sangat kritisi, membuat kelompok ini kehilangan arah dan menimbulkan segudang pertanyaan, ke mana ideologi Taxu sebenarnya berlabuh?

Problematika yang diangkat dalam karya mengalami pergeseran demi pergeseran. Kontekstualisme yang berangsur-angsur berubah pada formalisme menjadi penyebab sebagian besar anggota yang berseberangan mulai melipir, menyisakan hanya beberapa anggotanya saja. Hingga kemudian meredup setelah pameran terakhir mereka di CP Art Space pada Januari, 2006, yang lalu.
Sejarah dan Pertanyaan yang Mengulang Dirinya
Cerita tentang heroisme para angkatan muda tadi, pada akhirnya tak selamat dari kejamnya waktu yang terus bergerak dan keadaan yang terus bergeser. Sehingga, medan kritisisme yang dahulu pernah sangat lantang digaungkan kini seolah tertidur kembali. Topik-topik yang 25 tahun lalu digembar-gemborkan dan dipertanyakan rasanya seperti mengulang kembali dirinya. Stagnansi wacana seni (rupa), kualitas pendidikan, desentralisasi pusat infrastruktur, miskinnya ruang alternatif, paradoks Bali dan pariwisata, masalah sampah, hingga kapitalisme global masih dan kian menjadi topik yang tak pernah kunjung selesai untuk ditembangkan.
Apakah kita jalan di tempat? Atau memang sejarah yang selalu berulang, di mana pelaku dan mediumnya yang berganti? Pertanyaan-pertanyaan itu seakan menghujani pikiran saya, seakan jawaban masih belum menemukan bentuknya.
Atau perspektif saya yang harus dibenahi? Mungkin masalahnya bukan pada mereka yang dahulu pernah berapi-api tapi kini mulai menepi; tapi zaman yang kian cepat menuntut regenerasi, padahal belum tentu di tiap tahunnya bisa lahir para pemikir dan kritikus baru. Boro-boro. Kehadiran seniman yang benar-benar terjun dan paham akan medan seni saja hanya segelintir.

Atau jangan-jangan, apakah akademi seni rupa tidak begitu kompeten? Sehingga kehadiran alumni yang berkarier sebagai seniman bisa disamakan sebagai tumbuhan langka yang patut disyukuri, dan seolah diakui keberadaannya. Jika bukan itu, mungkin juga generasi kini yang begitu mudah terdistraksi oleh muntahan brainrot media sosial. Sehingga penjara algoritma perlahan membentuk ruang gema yang membuat mereka dan kita semakin sulit berjumpa dengan gagasan yang benar-benar mengusik cara berpikir.
Kiranya, ini hanya sebuah refleksi yang berakar pada mereka yang pernah dengan teramat sangat memperjuangkan dinamisnya geliat wacana dan tumbuhnya ekosistem yang kini kita nikmati bersama.
Dan persoalannya kemudian adalah, mampukah setiap zaman melahirkan kembali orang-orang yang bersedia berpikir, mempertanyakan, dan mengambil risiko untuk mengganggu kenyamanan yang mapan? Kini tongkat estafet berada di tangan generasi Milenial dan Gen Z. Kita tak lagi dihadapkan pada tuntutan apakah kita mampu mengulang romansa Klinik Seni Taxu, tetapi lebih kepada keberanian baru seperti apa yang akan kita ciptakan untuk menjawab persoalan zaman kita sendiri—sebab sejarah tak butuh pengulangan; ia butuh generasi yang berani untuk membuka lembaran berikutnya.
Panjang Umur Seni Rupa![T]
Bahan bacaan:
Arsana, W. (2003). Klinik Seni Taxu dan perubahan perspektif berkesenian. Pengantar katalog pameran Hati-Hati!!! Ada Upacara Taxu. Kitsch, edisi khusus.
Parta, I. W. Seriyoga., Suryawan, I. N., & Yasa, I. G. M. (2004). Sapihan Memori, Narasi Menuju Humanisme. Pengantar kuratorial pameran Memasak dan Sejarah, Klinik Seni Taxu di Cemeti Art House, 9 Juni–4 Juli.
Parta, I. W. Seriyoga. (2006). Klinik Seni Taxu: Dari Persoalan Konteks ke Persoalan Bahasa Rupa. Naskah ko-kurator pameran Klinik Seni Taxu di CP Art Space.
Parta, I. W. Seriyoga. (2025). Transformasi estetik ala Klinik Seni Taxu. Dalam Rupa Is Me: Kumpulan Tulisan Seni Rupa & Budaya.
Parta, I. W. Seriyoga. (2026). Muatan Kritisisme dalam Karya-Karya I Wayan Suja. Dalam Menjaga Asa Merawat Ingatan: Refleksi Perjalanan Artistik I Wayan Suja.
Parta, I. W. Seriyoga. (2022). Mendobrak Hegemoni: Dapatkah Menumbuhkan Wajah Alternatif Pada Seni Rupa Bali. Dalam Hard-Iman: Kumpulan Tulisan Seni Rupa & Budaya.
Suryawan, N. (2002). Mau Apa Setelah Mendobrak. Dalam Kitsch: Buletin Seni Rupa, edisi perdana.
Suryawan, N. (2003). Budaya Taxu = Budaya Palsu (Membongkar Peta Pemikiran Seni dan Budaya Bali). Pengantar katalog pameran Hati-Hati!!! Ada Upacara Taxu, Pameran Perdana Klinik Seni Taxu, Januari.
Yasa, I. G. M. (2002). “Realita Kuantum atau Realitas Kuantitas?” Dalam Kitsch: Buletin Seni Rupa Klinik Seni Taxu, Agustus–September
Kent, E. (2016). Entanglement: Individual and participatory art practice in Indonesia.
Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto






























