7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
June 7, 2026
in Esai
Kesalahan-kesalahan Umum dalam Membaca Puisi —Catatan Juri Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Peserta Lomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang

Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri menilai video pembacaan puisi, sehingga tidak sempat ada ruang tatap muka bagi juri dengan peserta. Duduk di bangku juri, bagi kami bukan hanya mendengarkan pembacaan puisi, memberi nilai, lalu mengumumkan pemenang lomba. Lebih dari itu, kami dituntut cermat mengamati berbagai aspek, sesuai dengan kriteria penilaian yang telah ditetapkan panitia.

Kegiatan yang bertajuk Firstsma Fun Day 6 (FFD 6) diselenggarakan dengan format lomba internal dan eksternal. Untuk tahun ini, baru pertama kali diselenggarakan lomba membaca puisi untuk peserta dari luar sekolah. Kami terkejut, peserta yang mendaftar sebanyak 38 orang yang berasal dari Tabanan, Buleleng, Denpasar, Jembrana, Kintamani, serta Badung. Ternyata antusias siswa dalam mengikuti lomba membaca puisi masih bagus. Kami membatasi usia peserta yaitu dari usia 9 – 15 tahun.

Peserta lomba

Para peserta harus membaca satu puisi wajib dan satu puisi pilihan yang telah disediakan panitia dalam buku panduan. Beberapa aspek penilaian yaitu, penghayatan, vokal, gesture, dan tafsir. Di sinilah peran pembina bersama peserta melakukan pengartikulasian estetik, semacam upaya mewujudkan teks puisi (tulisan) dihidupkan (diberi nyawa) dalam bentuk lisan dengan berbagai muatan emosi dan karakter ketika dibaca. Oleh karena itu, pembaca harus melakukan analisis (interpretasi) agar mengetahui unsur jiwa atau roh puisi: rasa (feeling), nada (tone), amanat/tujuan (intention), dan pokok persoalan (sense). 

Melalui arahan pembina, para peserta ‘dibebaskan’ dalam menciptakan dinamika pembacaan dan memahami suasana dramatik sebuah puisi. Persoalan kemudian, banyak peserta ternyata memiliki potensi sebagai MC, aktor pementasan drama, orator, atau storyteller yang baik. Namun, ‘dipaksakan’ atau belum menemukan pakem membaca puisi.

Sebuah lomba baca puisi selalu diawali dengan pertemuan teknis untuk mencapai kesepakatan antara peserta, panitia, dan dewan juri. Termasuk di dalamnya mengoreksi ulang puisi yang akan dibacakan, bahkan kami lanjutkan diskusi di grup WhatsApp peserta. Beberapa puisi dari panitia terkadang salah ketik, berbeda dari puisi aslinya. Proses, teknik, dan kriteria penilaian turut dijelaskan. Kami mengingatkan kembali kepada peserta untuk membaca ulang puisi, memberi interpretasi, menandai teks puisi: mana yang harus dibaca cepat, lambat, naik, turun menurut versi mereka masing-masing. 

Peserta lomba

Kami pun menjelaskan kembali, bahwa lomba yang diikuti adalah lomba membaca puisi, bukan deklamasi, terlebih dramatisasi atau teaterikalisasi puisi. Dengan begitu, penilaian memiliki parameter terukur dan disepakati bersama. Semuanya tetap dengan pakem-pakem membaca puisi yang telah diketahui secara umum.

Kesalahan umum dalam membaca puisi

Peserta yang ikut dalam kegiatan kami, mulai dari siswa SD hingga SMA. Kami menemukan banyak potensi yang bagus, terutama pada peserta SD. Kami mencoba mengurai beberapa catatan, untuk evaluasi peserta. Salah satu kekeliruan yang banyak ditemukan adalah mendahulukan nada sebelum memahami makna. Peserta cenderung mengedepankan lengkingan suara dan intonasi dramatis, padahal isi puisinya belum sepenuhnya dikuasai. Pada kasus ini, kami berasumsi ada intervensi pembina yang kuat.

Catatan berikutnya adalah pengubahan warna vokal. Banyak peserta memaksakan suara besar dengan membulatkan vokal secara tidak alami. Kembali kami berasumsi, mungkin ini dilakukan karena meniru atau ‘menuruti’ contoh entah dari pembina atau YouTube. Tentu dalam membaca puisi, suara terbaik adalah suara yang jujur, bukan yang ‘dipaksa’. Bahkan ada peserta yang membaca dengan volume suara terlalu keras. Tentu membaca puisi adalah perihal penyampaian makna, bukan sekadar volume suara.

Catatan lain tentang, gestur tubuh yang berlebihan atau tidak sesuai dengan pemaknaan puisi. Ada peserta yang tampil seperti sedang pentas tari alih-alih membaca puisi. Semestinya, gesture hanya menjadi penguat ekspresi, bukan justru menutupi pesan yang ingin disampaikan puisi.

Memahami pakem

Membaca puisi berbeda dengan mendeklamasikan puisi. Membaca puisi berarti membacakan puisi dengan melihat teks puisi. Mendeklamasikan puisi, berarti menghafal teks puisi, kemudian melakokankannya dalam ruang gerak yang luas dan bebas, ekspresif tanpa melihat teks. Perbedaan ini perlu menjadi perhatian juga.
Ketika membaca teks puisi, maka hal yang paling penting diperhatikan adalah intonasi, artikulasi, dan ekspresi.

Peserta lomba

Pada intonasi (tinggi-rendah suara), pembaca membaca puisi dengan penekanan-penekanan suara yang menafsirkan maksud atau arti puisi secara jelas dan tepat pemaknaannya. Dalam penilaian ada poin tafsir. Bagian berikutnya, artikulasi (kejelasan vokal dan ketepatan ujaran). Artikulasi hendaknya ditakar dengan teliti dan cermat. Ujaran yang diucapkan ketika membaca puisi tidak boleh meleset dan salah ucap, karena bisa menimbulkan pergeseran makna. Dalam penilaian ada poin vokal dan penghayatan. Pada ekspresi (mimik wajah), yakni raut wajah yang ditunjukkan ketika seseorang membaca puisi. Wajah ketika membaca puisi, haruslah wajah yang mencerminkan makna puisi yang dibaca, sehingga pendengar turut merasakan makna puisi yang dibacanya. Dalam penilaian ada poin gesture dan penghayatan.

Menilai 35 video (ada tiga peserta yang tidak mengirim video) baca puisi peserta cukup membuat kami ada dalam debat seru. Mengingat perbedaan yang tipis antar peserta. Akhirnya penghayatan yang menjadi pembedanya. Penghayatan baca puisi mulai dari pembacaan judul hingga isi. Pembaca puisi yang telah mahir lebih cepat memahami maksud baris dan bait puisi seketika dibaca setelah menahami judul. Dalam catatan kami, ada beberapa peserta yang memang telah akrab mengikuti lomba membaca puisi.

Akhirnya kami harus memutuskan tiga terbaik dari seluruh video yang masuk ke panitia baik melalui akun Youtube, TikTok, Instagram, dan tautan drive. Semua peserta telah menunaikan membaca puisi dengan versi paling maksimal. Setiap peserta memiliki cara sendiri untuk meresapi dan memahami teks puisi yang dibaca. Hanya saja, peserta yang paling unggul tentu yang paling sedikit kesalahannya, teknik membaca, dan penghayatan yang paling baik. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara, juri Bomba Baca Puisi HUT SMAN 1 Petang
Editor: Adnyana Ole

Tags: lomba puisiPuisiSMAN 1 Petang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Semua Saling Terkait: Membaca Yajña, Pancakosha, Chakra, Hawkins, dan Fritjof Capra dalam Satu Kesadaran

Next Post

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co