Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx. Terutama dalam Critique oh Hegel’s Philosophy of Right dan The German Ideology. Agama memberi penghiburan, meskipun takkan mengubah kondisi material (yang membuat orang menderita atau miskin.)
Sama seperti candu, agama membuat orang lupa akan sakitnya, pasrah dan tak termotivasi melawan penindasan struktur sosial. Jadi agama dapat menjadi tempat orang melarikan diri dari penderitaan. Dan sayangnya, untuk hal-hal baik yang semu itu sekalipun, agama di Indonesia tak mampu lakukan! Lalu, apa yang telah diberikan oleh agama di Indonesia? Segala berita buruk, konflik dan kemarahan. Tentu saja ambisi politik, tahta dan kekayaan. Betul-betul sebuah paradoks yang sedemikian suram, gelap dan pongah!
Berita buruk terbesar datang dari pusat kekuasaan agama, Departemen Agama. Tak hanya sekali, dari istana iman dan ahlak tersebut, praktek membegal miliaran uang rakyat secara turun-temurun dilakukan. Maka, istana iman dan ahlak telah berubah menjadi kartel dan sindikat mafia dan penjarah. Dan lucunya, di negeri ini, hal begitu seperti telah menjadi hal biasa dan lumrah saja. Turun-temurun. Luar biasa. Dan kita sebagai bangsa, terus berlatih untuk memakluminya.
Dalam hal ini Marx benar, kelas penguasa memakai agama untuk menciptakan tatanan sosial yang tak adil menjadi kelihatan wajar dan seakan dikehendaki Tuhan. Maka tepat sekali, ini selaras juga dengan gagasan filsuf Muslim abad ke-12, Ibnu Rusyd (Averroes), “JIka ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama.” Jika pusat agama, istana iman dan ahlak menjelma menjadi kartel dan sindikat rampok, lihatlah apa yang diikuti oleh wakil Tuhan dlam masyarakat.
Wakil Tuhan merasa punya hak, bukan saja kapling surga di akhirat. Juga untuk melarang umat lain untuk beribadah. Meski mereka memuja Tuhan-nya di tanah dan rumah mereka sendiri. Itu tetap harus dijegal karena dapat mencemari keimanan yang lain. Juga keriuhan dinamika umat soal daging babi. Makanan yang diyakini dapat mengoyak-koyak keimanan seseorang meski itu dimakan oleh orang lain. Sebuah paranoid yang telah diciptakan oleh agamanya sendiri. Dan ini disiarkan berulang di banyak media tanpa membuat mereka malu.
Jadi, bukan hanya telah menciptakan paranoid, namun mungkin juga berbagai gangguan kejiwaan lain seperti megalomania atau narsistic personal disorder (NPD.) Membuat tak sedikit pemuka agama yang bersikap tak etis dihadapan pengikutnya dan itu selalu dianggap benar. Bahkan lebih mengerikan lagi kemudian mereka merasa punya hak untuk menguasai para muridnya secara seksual.
Berita yang lain, namun kita abaikan. Fakta dari banjir akibat sungai yang meluap, dipenuhi oleh limbah sesajen bekas upacara. Dan itu akan terus dilakukan. Karena ritual adalah cara utama dan terpenting untuk baik di hadapan Tuhan. Meski terhimpit, berdesakan di antara ribuan umat manusia. Walau emosi meluap karena saling dorong dan serobot. Dan berbagai meski dan walau yang lainnya.
Itu adalah proses spiritual yang sangat bernilai. Lalu tumpukan sampah sesajen yang dibuang di jalanan, got atau sungai bukanlah dosa karena sudah memuja-Nya dengan segenap perjuangan. Kalau toh air bah datang menyapa dan mengambil beberapa nyawa manusia, itu pun tak lebih penting ketimbang ritual yang sudah dilakukan. Entah sejak kapan ritual ini telah menggeser porsi etika dan filsafat yang seharusnya lebih tebal dalam praktek beragama.
Kita mungkin akan terkaget-kaget mengetahui, sebuah paradoks yang lain. Yang terjadi di bangsa-bangsa Skandinavia. Di mana tempat-tempat ibadah semakin sepi. Begitu sedikit orang beribadah. Seakan-akan tempat ibadah menemukan kembali auranya sebagai rumah Tuhan yang hening. Namun lihatlah, penjara-penjara di sana pun sunyi dan hening tak berpenghuni. Karena tak ada umat yang telah melanggar hukum dan tentu saja norma. Maka kembali pada Marx, dalam hal ini ia benar.
Agama bukanlah kebenaran absolut. Ia muncul karena struktur kelas dan eksploitasi ekonomi, ketimpangan kekuasaan dan kebutuhan manusia untuk merasionalisasikan penderitaannya. Begitulan ketika kemiskinan, kebodohan dan eksploitasi tak terjadi pada bangsa-bangsa Skandinavia, maka kebutuhan agama sebagai penghiburan atau candu juga akan hilang. Kejahatan pun tiada. Lalu penjara sunyi.
Di Indonesia, hunian penjara rata-rata melebihi kapasitas hingga 300%. Isinya mulai dari rakyat terbawah, sampai pejabat tinggi. Dari para begal hingga tokoh agama, dari pengedar narkoba ke predator seksual dan seterusnya. Selaras dengan rumah-rumah ibadah yang juga selalu over capacity, sampai terjadi antrian, kemacetan bahkan kecelakaan. Apakah artinya ini, mental bangsa hipokrit yang sedemikian nyata? Entahlah. Lagi-lagi gagasan Marx perlu dipikirkan, manusia seharusnya menikmati kebahagiaan nyata di dunia lewat kesadaran sosial, bukan janji surga di akhirat. [T]




























