2 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
in Esai
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang tidak teriris melihat seorang pendidik diperlakukan seperti keset kaki oleh anak-anak didiknya sendiri.

Sungguh ironis memang, konon katanya, mereka adalah generasi yang sangat dimanjakan oleh pemerintah untuk menjadi generasi emas di 2045 mendatang, oleh sebab itu asupan gizinya dipenuhi. Lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah jalan, protein terpenuhi, gizi melimpah, tapi kok akhlaknya malah longsor alias terdegradasi.

Jujur saja, buat apa punya anak-anak dengan tinggi badan ideal dan IQ tinggi  kalau kelakuannya tidak ada bedanya sama preman pasar?. Ini menunjukkan bahwa kenyangnya perut ternyata tidak otomatis menyelesaikan urusan otak dan hati.

Kita sedang menghadapi anomali mengerikan di mana pertumbuhan fisik melesat, tapi kemanusiaan jalan di tempat, bahkan mundur, sungguh kasihan.

Protein Masuk, Empati Tergerus

Kasih makan yang enak, kasih susu yang banyak, maka lahirlah generasi cerdas, logika warasnya seperti itu. Tapi pemerintah lupa, manusia itu bukan ayam potong yang kalau dikasih pur berkualitas bakal jadi gemuk dan bernilai tinggi.

Manusia itu punya adab. Tanpa adab, gizi yang masuk itu cuma jadi kotoran yang berakhir di Septic Tank. Protein yang seharusnya membantu otak untuk berpikir kritis, malah cuma jadi asupan tenaga buat teriak-teriak menghina guru di depan kamera ponsel.

Lihatlah siswi-siswi itu, mereka punya energi yang meledak-ledak. Masalahnya, energi itu bukan dipakai buat mikir rumus matematika atau latihan pencak silat, tapi malah buat beradu adegan sok jagoan melawan gurunya sendiri.

Secara fisik mereka kuat, gurunya pun kalah, tapi soal mentalitas siswi-siswi itu sakit. Ini adalah bentuk kegagalan kita dalam memahami bahwa gizi yang melimpah tanpa diimbangi dengan didikan karakter yang keras cuma bakal menciptakan preman-preman kecil yang pintar menindas. Akui saja, kita sibuk mengurus stunting fisik, tapi abai pada stunting moral yang jauh lebih berbahaya bagi masa depan bangsa.

Dari Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Jadi Sasaran Perundungan

Dulu, guru itu punya aura yang bikin murid mikir dua kali kalau mau macam-macam. Sekarang?. Guru sekarang berada di posisi paling apes di tatanan pendidikan di negeri ini. Mau mendisiplinkan siswa, takut dilaporkan ke polisi. Mau memarahi, takut kena viral dan dicap sebagai pelaku kekerasan. Jadinya murid seenaknya sendiri memperlakukan guru.

Mereka tahu guru itu lemah di mata hukum. Maka, aksi merundung guru wanita itu dianggap hal paling berani, sebuah konten yang dianggap keren untuk dipamerkan. Mereka merasa sedang melakukan sebuah perlawasan, padahal yang mereka lakukan adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.

Perut mereka mungkin kenyang dengan makanan bergizi dari pajak rakyat, tapi perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka lapar akan rasa hormat.

“Jangan sampai, kalau gede jadi koruptor-koruptor yang kenyang dengan harta duniawi tapi miskin akhlak”, harapan dari seorang kawan yang menjadi guru di pinggiran kota.

Kita menuntut mereka menghasilkan generasi emas, tapi kita biarkan mereka bertarung sendirian melawan siswa-siswa yang sudah kehilangan rasa malu. Jika kondisi ini dibiarkan, jangan kaget kalau suatu saat nanti tidak ada lagi orang waras yang mau menjadi guru di negeri ini.

Mentalitas Culas dari Orang Tua

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, pepatah kuno mengatakan seperti itu.

Lihat saja fenomena PPDB, ketika orang tua dengan bangganya memanipulasi domisili, menyuap oknum, dan mengakali sistem demi sekolah favorit, secara tidak langsung mereka mengajarkan ke anaknya mentalitas culas.

Anak-anak ini tumbuh dalam ekosistem yang menghalalkan segala cara. Mereka melihat orang dewasa di sekitar mereka tidak punya integritas. Mereka menyaksikan bagaimana kebohongan demi kebohongan dilakukan demi status sosial.

Jadi, ketika mereka merundung guru, dalam kepala mereka itu adalah hal yang lumrah. Mereka menganggap guru hanyalah pegawai yang bisa diperlakukan apapun. Gizi dari pemerintah mungkin bisa menaikkan IQ,  tapi teladan buruk dari orang tua sudah menutup hati nurani.

Kalau nilai anak jelek, guru disalahkan. Kalau anak ditegur karena nakal, guru dilaporkan. Pola parenting yang kayak gini melahirkan generasi kurang ajar.

Sudahi Harapan Indonesia Emas

Kalau modalnya adalah generasi yang proteinnya tinggi tapi etikanya lumpuh, yang kita dapatkan bukan Indonesia emas, melainkan Indonesia cemas. Kita sedang menuju sebuah masa depan di mana orang-orangnya pintar berdebat dan kuat secara fisik, tapi tidak punya rasa malu untuk merendahkan sesama manusia.

Apa gunanya pertumbuhan ekonomi positif dan angka kemiskinan turun kalau angka kriminalitas remaja dan tingkat depresi guru malah meroket?

Memberi makan anak sekolah itu penting, jangan salah paham. Tapi menjadikan makanan sebagai satu-satunya solusi untuk memperbaiki kualitas manusia adalah sebuah kenaifan. Kita butuh kurikulum yang berani menindak tegas kekurangajaran, bukan yang cuma sibuk mengurus administrasi dan pencitraan.

Berhentilah memuja angka pertumbuhan fisik jika karakter siswa kita masih awur-awuran. Kita butuh revolusi mental yang sebenarnya, bukan sekadar slogan di baliho pinggir jalan.

“Katanya, baik buruknya kelakuan orang salah satunya didapatkan dari keberkahan makanan, apa karena kelakuan siswa-siswi kita yang kurang ajar, karena makanan bergizi yang mereka dapatkan dari anggaran yang tidak berkah?”, biarkan ini menjadi pikiran liar saya saja.

Kembalikan wibawa guru, tertibkan orang tua yang culas, dan ajarkan anak-anak kita bahwa sepotong roti bergizi lebih berharga jika dimakan dengan rasa syukur dan adab yang tinggi, bukan dimakan sambil merundung orang yang berjasa memberi mereka ilmu. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Next Post

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
0
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

Read moreDetails

Guru Profesional Bekerja Proporsional

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
0
Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

Read moreDetails

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

Read moreDetails

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

by Angga Wijaya
May 2, 2026
0
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

Read moreDetails

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails
Next Post
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam
Esai

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

by Angga Wijaya
May 2, 2026
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co