26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 27, 2026
in Esai
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Warga Baduy Dalam yang ikut Seba 2026 jalan kaki sejauh 90 KM bolak-balik/ Foto Dok. Penulis

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan sebagai alat pembangunan kepercayaan (mutual trust ) dan dijadikan sarana promosi citra positif (nation branding).

Bahkan Seba sudah digunakan untuk menciptakan jembatan jalinan komunikasi dalam meredakan ketegangan politik serta menghubungkan pihak-pihak yang berkonflik melalui dialog budaya. Dan tentunya, hari ini dan seterusnya Seba Baduy sudah mulai dipakai sebagai suasana dan momentum berharga bagi promosi kebijakan politik para pejabat politik.

Pada acara Seba Baduy 2026 yang digelar dari tanggal 24 – 26 April 2026 di empat tempat (Lebak, Pandeglang, Provinsi Banten, dan Serang) amat sangat nampak jelas.  Seba tidak lagi dipandang hanya sebagai identitas adat khas Baduy dengan ritualnya yang sakral dan unik, tidak juga dipandang hanya sekedar tontonan pariwisata semata dengan segala gebyarnya.

 Kini Seba sudah  menjadi sesuatu yang menggemparkan, membuat heboh, atau menarik perhatian publik (sensasi). Seba sudah dikemas begitu apik dengan berbagai kreatif, inovasi dan modifikasi acara untuk dijadikan komoditi politik atau pernyataan politk dan spiritual yang tentunya masih sangat relevan, bahwa tradisi  yang dijaga dengan rasa hormat akan selalu menemukan jalannya untuk tetap eksis melampaui  segala bentuk intimidasi zaman.

Sejak lima tahun terakhir (2020 – 2025), acara Seba sudah diaransemen sedemikian rupa agar terjadi jaring-jaring kehidupan mutualisme (saling menguntungkan) antara subjek/pelaku Seba itu sendiri dengan  penerima Seba (pejabat pemerintahan). Seba yang semula hanya merupakan  kewajiban adat untuk mendoakan para pemimpin negara dan sekaligus menitipkan penjagaan keseimbangan lingkungan alam oleh tokoh adat (membacakan rajah khusus) dan tentunya hanya dihadiri oleh sejumlah tokoh adat,  kini digebyarkan dengan jumlah peserta (pengikut) yang begitu banyak rerata di angka 1500 – 1600 orang.

Beberapa Warga Baduy Dalam, persiapan  berangkat Seba Baduy 2026 | Foto Dok. Penulis

Seba terus dipromosikan sebagai aset Budaya unggulan Lebak-Banten yang pada akhirnya berhasil diakui dan dicatat sebagai acara adat yang masuk kategori 125 Kharisma Event Nusantara (KEN). Upaya dan usaha itu adalah bukti bahwa pemerintah menaruh perhatian yang positif terhadap Seba Baduy, pun demikian bahwa Baduy merasa dihormati, dihargai dan dijaga aset budayanya bahkan bersyukur dan berterima kasih  pemerintah lebak dan Provinsi Banten  telah berhasil menduniakan Seba Baduy.

Pemerintah daerah beserta pihak terkait sudah sukses menduniakan Seba Baduy dan sudah berhasil mengkokohkan Seba Baduy sebagai aset dan omset budaya di event nasional. Fakta akuratnya adalah bahwa di puncak acara Seba 2026 dengan ditandai  berdatangannya tamu undangan spesifik dari mencanegara setaraf duta besar dan konsulat jenderal, ditambah undangan khusus tokoh terkait dari berbagai elemen termasuk para pakar budaya yang turut menyaksikan kekhidmatan Seba.

Mereka (peserta Seba) yang membersamai Seba adalah 38 warga  Baduy Dalam (25 Cibeo, 4 Cikartawana, 7 Cikeusik) dan 1514 warga Baduy Luar.  Tentunya sensasi acara seba 2026 itu pun sontak  ‘ mengagetkan sekaligus mengejutkan ‘ publik.

Sensasi dan Kejutan di Seba 2026

Penulis yang rutin memandu dan mengamati  Seba Baduy hampir  26 tahun berturut-turut ( 2000 -2026) tentunya sudah banyak mencatatkan  berbagai kejadian, pergeseran, dan bagaimana geliatnya acara Seba Baduy dari masa ke masa. Mulai dari pelaksanaan Seba yang orisinal penuh kesederhanaan tanpa intervensi dan polusi , kemudian terjadi modifikasi, lalu menjadi event gebyar dan sekarang menjadi acara sensasi penuh kejutan, di mana secara ekplisit diselipkan sebagai ajang atau arena promosi mendulang pamor kepemimpinan dan popularitas pejabat politik

Sampai saat ini ketika  bicara Seba sesungguhnya  sederhana sekali. Inti ritual Seba hanya dilaksanakan kurang lebih  15-20 menit di mana tokoh adat Jaro Warega atau yang mewakili membacakan rajah Seba, lalu ditutup dengan menyerahkan laksa ke pemerintah melalui  bupati atau gubernur (bapak gede), kemudian beliau menerimanya, dan selesailah acara Seba. Di luar itu hanyalah acara tambahan ( sisipan dan susupan) hasil kesepakatan dan negoisasi yang bersifat  untuk menghormati, memuliakan peserta Seba serta bagaimana mempublikasikan Seba sebagai aset budaya adiluhung agar lebih terkenal dan dikenal di berbagai negara.

Selain tetap gebyar dan penuh dengan acara tambahan yang melibatkan berbagai pihak, Seba 2026 memiliki nilai tambah karena begitu sensasi dan penuh kejutan, dan itu menjadi hal yang sensitif untuk dicermati dan menjadi catatan sejarah penting bagi masa depan Seba. Berbagai sensasi dan kejutan yang penting penulis catatkan adalah :

1. Seba 2026 adalah Seba Leutik (Alit) tapi jumlah peserta lebih dari jumlah Seba Gede tahun sebelumnya.

2. Peserta Seba 2026 lebih banyak kawula muda Baduy yang siap dengan agenda jepretan ala digitalisasi dan promosi untuk membikin jaringan usaha dan secara tidak sadar mereka sedang memperagakan dan menampakkan pengadopsian pola modernisasi mereka.

3. Acara begitu meriah dengan berbagai tambahan yang melibatkan berbagai pihak, dan itu disengaja oleh panitia agar Seba 2026 lebih terasa menggigit, lebih wah, dan lebih booming demi menarik wisatawan.

4. Sambutan Bupati Lebak berdurasi hampir 30 menitan yang biasanya dan seharusnya singkat hanya menjawab atau mengucapkan kata-kata menerima Seba dari tokoh adat. Namun kali ini isinya lebih pada pemaparan atau penjelasan kebijakan politiknya yang begitu semangat dan menggebu sampai pada titik minta didoakan jadi pemimpin amanah karena masih muda dan kuat (bedas) untuk membangun Lebak.

Sambutan tersebut sangat sensasi dan penuh kejutan, karena sebelumnya belum pernah ada bupati yang memberi sambutan panjang lebar bernuasa tentang penjelasan kekuasaan bupati di acara Seba. Kefasihan membaca narasi dan diksi sambutan kelihatan dipersiapkan secara matang. Di lain pihak justru sambutan Gubernur Banten lebih teras hemat, ringkas, singkat dan padat sesuai SOP, dan isinya benar- benar fokus pada menerima Seba.

5. Yang lebih sensasi dan menjadi kejutan dahsyat adalah : Seba 2026 di Gedung Negara Provinsi Banten, acaranya diterjemahkan kedalam dua bahasa, para tamu duta besar memakai baju adat suku Baduy, dan etah karena permintaan panitia ataukah inisiatif pihak tertentu atau murni keinginan tokoh adat Baduy :  “Bahasa asli rajah/doa seba Baduy yang selama ini menjadi inti rahasia Seba Baduy atau ikon Seba mendadak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris”. Sehingga wajah tokoh adat mendadak seperti kebingungan.

Apakah ini pertanda Seba bukan lagi ritual yang sakral yang penuh misteri dan menarik? Atau Seba mulai dipandang secara utuh sebagai diplomasi budaya yang berpengertian upaya “menjual” segala keunikan budaya untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi yang lebih besar.

Penulis sangat terkejut menyaksikan situasi dibukanya isi bait-bait rajah Seba yang selama berabad-abad dilindungi dan dijaga keorisinalannya, termasuk maknanya di depan publik. Kesan mendadak dan terburu-buru masih kelihatan.Tapi apa pun itu, kalau pihak adat sudah menyetujui dan mengizinkan, kita mau bilang apa, karena itu adalah ranah hak prerogatif mereka. Mungkin seba 2026 adalah tonggak dibukanya rahasia rajah Seba Baduy yang kita pusti-pusti.

Pelaksanaan Seba Baduy 2026 telah selesai dilaksanakan secara meriah, tertib, khidmat. Tepat jam 09.00 WIB diakhiri di Pendopo Kabupaten Serang, dan kini mereka sudah kembali lagi ke tanah ulayat untuk melanjutkan kegiatan sehari-hari mereka.

Kini,   masa depan dan kemartabatan Seba Baduy ada ditangan panitia berikutnya. Tetap digebyarkan atau lebih dibijaksanai pelaksanaannya. Kita tinggal tunggu tanggal mainnya. Yang pasti, bahwa Seba Baduy akan terus dilaksanakan selama suku Baduy masih eksis keberadaannya. Ritual Seba menghilang  atau tidak ada berarti Baduy bubar.

Sampai jumpa di Seba Baduy 2027. [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 26 April 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatpariwisata indonesiapariwisata provinsi bantenProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

Next Post

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co