27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
in Esai
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemendikdasmen Abdul Mu’ti pada 1 April 2026, menetapkan April sebagai  Bulan  Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan. Dalam release-nya, Kemendikdasmen menyebutkan Bulan Pemberdayaan Perempuan adalah gerakan kolaboratif yang dicanangkan dengan mengambil semangat perjuangan Kartini berfokus pada penguatan kesetaraan gender, pendidikan, dan peningkatan literasi untuk membekali perempuan agar mampu berpartisipasi penuh dalam berbagai bidang pembangunan.

Dengan menjadikan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan, makin lengkaplah jejak Menteri sebelumnya yang menetapkan Mei sebagai Bulan Pendidikan oleh Anies Baswedan dan Bulan Merdeka Belajar oleh Nadiem Makarim. Sebelumnya, pada zaman Orde Baru, Mei juga ditetapkan sebagai Bulan Buku Nasional. Makin banyak pula ritual kebangsaan dari April menuju Mei. Kita membentangkan karpet merah untuk para pejabat melakukan serimonial. Kadang-kadang serimonial yang formalitas sering menutup substansi yang sesungguhnya. Serimonial menjadi panggung para pejabat, sedangkan substansi ada di ruang sunyi sepi tanpa tepi. Kadang-kadang tidak terlihat, lebih-lebih di dunia Pendidikan yang tidak menjanjikan rujak yang pedasnya langsung dirasakan begitu digigit. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan investasi lalah tabia.

Dalam konteks Pendidikan, menjadikan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan adalah strategi literasi yang perlu terus diasah dan digemakan. Karpet merah untuk mendorong penerbitan buku karya perempuan atau tema perempuan adalah sebuah kebutuhan. Target keterwakilan 30 % perempuan di lembaga pemerintah perlu terus didorong.

Dalam konteks Bali, peran strategis perempuan sudah mulai sejak dulu. Indikatornya, peran laki-laki sudah banyak diambil alih perempuan Bali, misalnya Sekaa Gong dan Sekaa Shanti. Kini, urusan  ngelawar, mencari bahan, membuat banten, ngaturang banten, ngayah mangigel juga sudah biasa dilakukan perempuan Bali. Pidan mapayas ? Tidak pernah terlewatkan dalam setiap momen. Perempuan Bali kini tetap tampil modis merawat tubuh, di tengah kesibukannya. Tanda mereka cerdas berbudaya di tengah tekanan dan himpitan hidup.

Semua itu mengingatkan saya pada puisi, “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya. Bait terakhir dari tiga bait puisinya, ia menulis : “…Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta/siapakah mereka…/Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa/akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota…/Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa…//

Jika melihat dari posisi Hartojo Andangdjaya sebagai tokoh Angkatan 66 dalam Sastra Indonesia, maka Bulan Pemberdayaan Perempuan yang dicanangkan Abdul Mu’ti pada 1 April 2026 terasa hambar. Tanpa diformalkan dengan nama Bulan Pemberdayaan Perempuan, perempuan-perempuan desa sudah memberdayakan diri untuk anak dan keluarga, demi sesuap nasi. Perempuan-perempuan desa tidak perlu karpet merah untuk bisa bergerak. Badan otomatisnya bergerak mengeja hidup yang berakar di tanah tandus. Namun, cinta kasihnya bergerak melampaui desanya sendiri. Cinta kasihnya tak terhingga merawat anak negeri di tengah segala keterbatasan.

Bulan Pemberdayaan Perempuan sesungguhnya terhubung dengan Bulan  Pendidikan/Bulan Merdeka Belajar sepanjang bulan Mei. Jika diandaikan Raden Ajeng Kartini sebagai seorang ibu bagi anak negeri, ialah pendidik pertama dan utama dalam pemerolehan bahasa sebagai jembatan komunikasi. Dalam konteks ini, komunikasi tidak saja terhubung secara sosial (fungsi fatik Bahasa), tetapi juga dengan asupan spirit individu untuk mengisi diri secara memadai membangun kepekaan rasa. Tugas ibu negara dengan inspirasi Kartini sudah diperkuat oleh Chairil Anwar yang wafatnya pada 28 April 1949. Kita tak bisa melupakan Chairil Anwar ketika Bulan Pemberdayaan Perempuan digelar. Chairil Anwar menyiapkan sarana komunikasi dengan puisi-puisi berjiwa untuk penyemangat perjuangan perempuan tetapi tidak lupa mohon restu pada Tuhan, “Di pintu-Mu aku mengetuk”.

Chairil Anwar memuliakan kaum perempuan melalui puisi-puisinya, antara lain Sajak Putih : Buat Tunanganku Mirat, Dengan Mirat, Mirat Muda, Chairil Muda, Hampa (kepada Sri yang selalu sangsi), Senja di Pelabuhan Kecil (buat Sri Ayati),  Ida, Kenangan (untuk Karinah Moordjono), Dari Dia (buat K), Cerita Buat Dian Tamaela, Tuti Artic, Ina Mia, Buat Gadis Rasyid, Buat Nyonya N.

Puisi sebagai alat perjuangan bagi Chairil Anwar telah memberikan asupan kosa kata yang memadai bagi kaum perempuan. Perempuan pembaca puisi Chairil Anwar dapat merenungkan bagai mana cinta berlabuh sebagai laut yang tidak mudah ditaklukkan. Ada permainan, keceriaan, tetapi juga ada ketakutan dan bahaya ombak yang menggulung. Kepada Chairil Anwar, perempuan berguru bagaimana kata-kata liar dijinakkan lalu diringkas menjadi puisi. Namun, kaum laki bisa berguru kepada Kartini menemukan titik terang di goa gelap (dark continent) sebagaimana dicetuskan Sigmund Freud terhadap perempuan.

Dengan menjadikan puisi-puisi Chairil Anwar sebagai penyemangat bagi perjuangan perempuan, sesungguhnya Bulan Pemberdayaan Perempuan sepanjang April dapat diperkuat kembali melalui  Bulan Pendidikan/Bulan Merdeka Belajar/Bulan Buku Nasional sepanjang Mei. Beranalogi pada pendekatan pembelajaran mendalam, pemanggungan perempuan sepanjang April adalah hal yang menyenangkan dilakukan dengan penuh kesadaran dan bermakna. Pada Bulan Pendidikan dengan Merdeka Belajar diperdalam melalui kajian sesuai dengan semangat Bulan Buku Nasional, dengan puncaknya pada Hari Buku Nasional setiap 17 Mei. Penguatan literasi tiada henti walaupun pemimpin berubah. Program Literasi tidak boleh goyah karena dari situlah cikal bakal kecerdasan disemaikan.

Dengan hadirnya Bulan Pemberdayaan Perempuan dilanjutkan dengan Bulan Pendidikan, seyogyanya pemahaman arti Pendidikan dalam memanusiakan manusia makin bermutu, dengan pondasi kuat di keluarga berkat didikan cinta kasih ibu ditopang kekuatan sang ayah. Di sekolah, pendidikan bermutu untuk semua dilakukan secara berkelanjutan. Ki Hadjar Dewantara menyebut kontinuitas dalam ajaran Trikonnya. [T]

Tags: PendidikanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Next Post

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co