22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 27, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus


— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027

Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua gara-gara investor.

Peristiwa ini adalah jerit suara alarm karena kompas moral di Bali telah menghadapi stagnasi.

Masih banyak orang Bali bergeleng tidak percaya, penuh penyangkalan, berpikir yang cekcok dan berhadap-hadapan demi perut itu mungkin bukan orang Bali. Penyangkalan ini berbahaya.

Pasukan Payuk Jakan: Siap Berkelahi dengan Nyama (Saudara Sendiri) Demi Isi Perut

“Payuk Jakan” secara harfiah adalah “periuk” (payuk) dan “jakan” (penanak nasi) atau alat masak nasi orang Bali. Pasukan Payuk Jakan adalah ungkapan untuk menggambarkan sekelompok orang yang bergerak, beraksi, atau mendukung satu pihak atau kepentingan tertentu semata-mata karena didorong oleh kebutuhan perut atau uang (materi).

Mungkin karena kepepet kebutuhan atau demi bertahan hidup, atau bisa jadi memang hatinya sudah bebal. Pasukan Payuk Jakan adalah kelompok yang memilih posisi jadi pembela kepentingan demi uang atau penghasilan tidak didasarkan pada logika, wiweka (kebijaksanaan/hati nurani), atau kecintaan pada tanah kelahiran. Bagi mereka, “Tri Hita Karana” atau “Sadkrtih” hanyalah slogan, sementara “isi payuk jakan” adalah kenyataan. Jika ada investor yang memberi suap atau bayaran, mereka akan membela, meski investor tersebut merusak tatanan adat dan lingkungan alam Bali.

Cicing Borosan: Anjing Penggonggong Tanpa Nurani

Senada dengan itu, ada ungkapan yang lebih kasar namun terasa lebih mewakili situasi kekinian Bali: “Cicing Borosan”. Ini artinya “anjing berburu” yang menyalak dan menggonggong demi jatah makan pemberian majikan.

Bayangkan seekor anjing peliharaan yang disuruh menyalak dan mengejar sasaran oleh majikannya. Anjing tersebut tidak peduli siapa yang dikejar, apakah itu benar atau salah. Anjing itu bergerak hanya karena terikat, tunduk, dan demi makanan harian yang diberikan pemajikannya.

Cicing borosan adalah simbol manuver kelompok yang menyerang pihak-pihak yang kritis terhadap perusakan lingkungan hidup. Mereka juga adalah para membela pejabat yang tidak berpihak pada rakyat kecil, asalkan mendapat imbalan harian dari pemodal. Mereka adalah “alat” yang hilang hati nuraninya.

“Cicing borosan” ini bekerja di alam nyata sebagai sosok yang pasang badan di tengah proyek besar, atau mereka yang menjadi buzzer siluman di alam sosmed yang kerjanya membela pejabat atau penguasa tanpa peduli benar atau salah sepak terjang penguasa yang dibelanya. Dalilnya sederhana: “Serang dan bela. Yang penting transfer masuk. Benar atau salah yang dibela tidak perlu dipikirkan”.

Pragmatisme di Tengah Krisis Lingkungan Bali

Kerumitan dan makin kompleksnya situasi sosial-politik dan investasi di Bali saat ini menunjukkan betapa dua ungkapan dalam masyarakat Bali tersebut mewujud nyata, muncul kelompok Pasukan Payuk Jakan dan Cicing Borosan.

Di saat alih fungsi lahan terjadi masif, bukit-bukit dikeruk untuk villa, air tanah dieksploitasi, dan pantai-pantai ditutup oleh pembangunan ilegal, banyak warga/krama Bali yang pikir pendek dan pragmatis justru “pasang badan” untuk investor asing yang merusak lingkungan maupun pejabat yang korup berjualan ijin dan melegalkan konversi sawah dan menyerobot sempadan sungai dan muara, serta otak-atik tanah pelaba dan hutan lindung demi investor luar.

1.⁠ ⁠Membela yang Salah Demi CSR/Uang:

Krama Bali yang seharusnya vokal menolak perusakan alam di desanya, justru menjadi pemandu sorak investor karena iming-iming dana CSR atau pekerjaan, padahal dampak kerusakan lingkungan jauh lebih besar.

2.⁠ ⁠Konflik Tenurial:

Seringkali terjadi konflik antara krama Bali yang sadar lingkungan dengan kelompok Cicing Borosan yang disewa untuk mengintimidasi warga yang menolak pembangunan.

3.⁠ ⁠Pelanggaran Investor WNA:

Fenomena WNA yang berbisnis ilegal di Bali (seperti sewa kendaraan atau vila) seringkali dilindungi oleh oknum lokal yang menjadi Pasukan Payuk Jakan, demi mendapatkan bagi hasil keuntungan ilegal tersebut.

Pakeling Leluhur Bali

Ungkapan tajam “Pasukan Payuk Jakan” dan “Cicing Borosan” adalah sebuah pengingat (pakeling) bagi masyarakat Bali yang sudah diturunkan bergenerasi dari leluhur Bali.

Ini peringatan serius: Ketika kepentingan pragmatisme mengalahkan wiweka dan hati nurani, sesungguhnya Bali sedang dijual oleh warganya sendiri.

Krama Bali sekarang tidak bisa lagi membela dan menyelamatkan Bali denga cara-cara lama yang sentimental, seperti mengajak damai atau mengutip ayat-ayat kearifan lokal seperti Tri Hita Karana atau Sadhkrtih. Perlu ketegasan sikap untuk berbaris sesama krama Bali yang sadar dan tindih, jengah bersama melawan arus “cicing borosan” dan kembali pada akar budaya yang menghormati alam, demi keberlangsungan kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, bukan sekadar pragmastis cari isi perut untuk hari ini.

Bali memang perlu menyelamatkan payuk-jakan tetapi secara bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu. Payuk jakan kita bersama harus diselamatkan dari tangan-tangan asing yang mau menguasai Bali demi diri mereka dan kelompok mereka. Mereka merebut dan menjauhkan masyarakat Bali dari alam Bali dan mengambil alih pulau Bali sehingga sampai semua krama Bali di masa depan hanya bekerja tidak lebih sebatas “cicing borosan” mereka, yang manut dan bergantung makanan harian yang mereka bagikan sebagai jatah ransum, yang membuat sesama krama Bali gontok-gontokan.

Banyak kasus sudah terjadi, gara-gara investor: Mesiat petuturu nyama Bali. Ini adalah tanda-tanda dan “ceciren” mulainya keruntuhan moralitas di tengah peradaban Bali. [T]

Tags: baliinvestororang balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

Next Post

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co