DI tengah gempuran lagu dewasa yang kian mudah diakses anak-anak lewat gawai, kemunculan lagu anak-anak berbahasa daerah terasa seperti oasis di padang pasir. Terlebih lagi jika lagu itu lahir dari seorang bocah kelas 5 SD, dengan pesan kuat tentang identitas dan warisan budaya. Itulah yang ditawarkan Wikan Satya melalui single terbarunya, “Anacaraka”.
Dirilis dengan balutan video animasi kartun sederhana yang ramah anak, “Anacaraka” hadir sebagai upaya kecil namun bermakna dalam menjaga Bahasa Bali dan Aksara Bali tetap hidup di telinga generasi muda. Wikan memperkenalkan karya ini bukan sekadar sebagai lagu, tetapi sebagai ajakan: agar anak-anak Bali tetap mengenal, mencintai, dan bangga pada bahasanya sendiri.
Pesan itu terasa kian relevan di masa kini. Di sekolah, anak-anak akrab dengan Bahasa Indonesia, Inggris, bahkan Mandarin, Jepang, dan bahasa asing lainnya. Semua penting sebagai bekal masa depan. Namun di tengah arus global tersebut, Bahasa Bali dan aksaranya perlahan tersisih dari ruang keseharian. Lagu “Anacaraka” datang sebagai pengingat sederhana namun kuat: kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?
Secara musikal, lagu ini terasa ringan dan bersahabat. Nadanya easy listening, mudah diingat, dan gampang diikuti anak-anak. Bahkan di telinga orang dewasa, “Anacaraka” tetap nyaman didengarkan. Suara kecil Wikan yang lembut menghadirkan ketenangan dan ciri khas tersendiri ─ tidak berisik, tidak memaksa, tetapi pelan-pelan meresap. Lagu ini seolah seperti teman belajar yang sabar, menemani anak-anak mengenal aksara Bali tanpa merasa sedang ‘diajar’.
Menariknya, proses kreatif “Anacaraka” menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Ide musik digarap langsung oleh Wikan Satya. Sebagai musisi cilik, ia membawa spontanitas dan kepolosan khas anak-anak. Karya itu kemudian disempurnakan melalui proses mixing, mastering, dan editing oleh Sila Home Studio. Di sinilah sentuhan musisi senior masuk, merapikan gagasan bocah kelas 5 SD menjadi karya yang layak edar di berbagai platform digital.
Lirik “Anacaraka” sendiri ditulis oleh Papa Wikan, yang membantu menerjemahkan gagasan anaknya menjadi barisan kata yang komunikatif dan edukatif. Sementara itu, video animasi kartun digarap oleh guru Wikan di JB School, Mr. Yuda. Dengan visual sederhana, karakter lucu, dan warna cerah, pesan lagu dikemas agar mudah dipahami sekaligus menarik bagi anak-anak.
Hasilnya adalah sebuah paket edukasi ringan: lagu yang bisa dinyanyikan bersama, animasi yang bisa ditonton berulang kali, dan pesan budaya yang disisipkan tanpa terasa menggurui.
Bagi saya pribadi sebagai penikmat musik, kemunculan “Anacaraka” membuka kembali ingatan akan masa ketika lagu anak-anak berbahasa Bali masih lebih sering terdengar. Dulu, anak-anak punya banyak pilihan lagu yang sesuai usia mereka ─ lagu yang mengajarkan sopan santun, cinta alam, ataupun bangga pada identitas budaya. Kini, ruang itu semakin menyempit. Lagu anak-anak berbahasa Bali tak banyak bermunculan seperti dahulu, tergeser oleh musik dewasa maupun lagu anak-anak bertema dewasa yang belum tentu ramah bagi telinga dan jiwa anak-anak.
Karena itu, karya seperti “Anacaraka” terasa penting, meski lahir dari langkah kecil. Ia membuktikan bahwa lagu anak-anak berbahasa Bali masih mungkin hidup, asalkan ada kemauan untuk memulai. Lebih dari sekadar hiburan, lagu ini menjadi media belajar, penguat identitas, sekaligus jembatan emosional antara anak-anak dan budayanya.
Harapannya sederhana, agar semakin banyak anak-anak Bali yang tumbuh dengan rasa bangga terhadap bahasanya sendiri. Dan semoga saja, jejak Wikan Satya bisa menginspirasi lahirnya lebih banyak lagi lagu anak-anak berbahasa Bali.
Kini, lagu “Anacaraka” sudah dapat dinikmati melalui YouTube, Spotify, Apple Music, serta berbagai platform musik digital lainnya. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























