Di tengah hiruk-pikuk kota pelabuhan yang multikultur, sekelompok umat Hindu di Makassar kembali menghidupkan tradisi diskusi keagamaan melalui kegiatan Dharma Tula. Kegiatan yang di Inisiasi Oleh PHDI Provinsi Sulawesi Selatan itu berlangsung secara sederhana namun penuh makna, karena menjadi ruang belajar bersama, khususnya bagi generasi muda Hindu yang tumbuh di tanah perantauan.
Dharma Tula diadakan Minggu, 7 Desember 2025, di Pura Giri Natha Makassar tepatnya di Sekretariat PHDI Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan ini menghadirkan Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba yang merupakan Sulinggih dari Sunda yang menjabat juga sebagai Sekretaris Sabha Pandita PHDI Pusat. Kegiatan ini diikuti oleh umat Hindu dengan berbagai latar belakang profesi. Ada mahasiswa, guru, pegawai, hingga pekerja sektor informal.
Dengan suasana yang hangat dan kekeluargaan, diskusi mengangkat tema “Penguatan iman dan Tatwa Bagi Umat Hindu di Makassar “, sebuah tema yang terasa dekat dengan realitas umat Hindu di Makassar.

Ketua PHDI Provinsi Sulawesi Selatan Gede Durahman atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gusdur menyampaikan bahwa Dharma Tula tidak sekadar menjadi forum tanya jawab keagamaan, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan umat. “Kami ingin umat Hindu di Sulawesi Selatan khususnya di Makassar tidak hanya rajin bersembahyang, tetapi juga memahami makna ajaran yang dijalani sehari-hari , Khususnya Bagi Generasi Muda Hindu,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan materi, Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba menjelaskan bahwa dharma tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai pedoman etika dalam bekerja, bermasyarakat, dan menjaga harmoni dengan lingkungan. Penjelasan disampaikan dengan bahasa sederhana, disertai contoh-contoh nyata yang sering dihadapi umat di perkotaan, seperti etika dalam bekerja, toleransi antarumat beragama, serta tantangan menjaga identitas di tengah modernitas.
Sesi diskusi menjadi bagian paling hidup. Peserta aktif mengajukan pertanyaan, mulai dari persoalan pelaksanaan yadnya di tengah keterbatasan waktu, hingga cara menanamkan nilai-nilai Hindu kepada anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan multikultural. Beberapa peserta juga berbagi pengalaman pribadi tentang tantangan menjalani ajaran dharma di lingkungan kerja yang mayoritas non-Hindu.
Tak hanya sebagai ruang penguatan spiritual, Dharma Tula juga menjadi wadah membangun kesadaran sosial umat. Dalam diskusi tersebut, muncul pula gagasan agar umat Hindu di Makassar lebih aktif terlibat dalam kegiatan sosial lintas agama, seperti bakti sosial dan gerakan peduli lingkungan. Hal ini dinilai sejalan dengan nilai Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Kegiatan Dharma Tula kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Meskipun dilaksanakan secara sederhana, semangat kebersamaan begitu terasa. Di tengah keterbatasan fasilitas dan jumlah umat yang tidak banyak, kegiatan ini justru menunjukkan bahwa semangat belajar dan menjaga dharma tetap hidup di tanah rantau.
Melalui Dharma Tula, umat Hindu di Makassar tidak hanya belajar tentang ajaran agama, tetapi juga belajar tentang arti kebersamaan, toleransi, dan keteguhan dalam menjaga identitas di tengah keberagaman. Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak generasi muda Hindu sebagai bekal духов (spiritual) dalam menjalani kehidupan di kota yang terus bergerak. [T]
Penulis: Bagus WKP
Editor:Adnyana Ole



























