25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (2)

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
February 2, 2018
in Esai

 

Aku Anak Papua

Aku anak Papua

Dan kau anak Papua

Kita semua anak Papua 

…

Kaki disentak-sentak

Pinggung digoyang-goyang

Tangan dilambaikan

…

Putar badan…

(Ciptaan: Abner E Korwa)

PADA bagian pertama esai ini saya telah mencoba mengawali bagaimana sangat pentingnya kita merefleksikan situasi dunia pendidikan di tanah Papua—juga di negeri ini tentunya—dengan diri kita. Sekolah Bunga Papua hanyalah salah satu contoh untuk kita bersama-sama bercermin tentang wajah kita sendiri dalam silang sengkarut dunia pendidikan. Sekolah Bunga Papua saya kira menjadi menjadi salah satu oase yang semoga ke depannya menjadi inspirasi untuk gerakan pendidikan yang mencerdaskan kehidupan berbangsa kita.

Bagian kedua esai ini diawali dengan kutipan lagu “Aku Anak Papua” yang selalu dinyanyikan dalam setiap pembelajaran di beberapa sekolah Bunga Papua di Kota Sorong, Papua Barat. Lagu ini sarat makna dan cermin kegembiraan anak-anak Papua sebelum menerima pelajaran dari para bunda mereka. Dalam proses pendidikan, rasa riang gembira itulah yang utama di atas segalanya. Jika anak-anak sudah riang gembira, maka proses pendidikan akan berlangsung dengan mulus dan proses pembelajaran akan berlangsung dengan menyenangkan.

Sebagai sebuah oase di tengah sesak hingar bingar Kota Sorong, Bunga Papua tidak bisa menjangkau seluruh tempat-tempat yang tersisihkan dari laju moderitas tersebut. Beberapa wilayah kampung di pusat kota maupun pinggiran berusaha dijangkau dengan kemampuan yang tersedia. Beberapa daerah tersebut diantaranya adalah Aspen dan Rufei yang merupakan daerah orang-orang Tambrauw. Wilayah Malamo merupakan daerah khusus yang berada di kawasan prostitusi di Sorong.

Banyak anak-anak di kawasan ini yang tidak mendapatkan pendidikan dasar layak. Daerah Kuda Laut yaitu di seputaran Supermarket Saga adalah kompleks dari masyarakat Suku Ayamaru di Kota Sorong. Kawasan lainnya adalah wilayah Bambu Kuning yang merupakan perkampungan orang-orang Suku Moi. Wilayah-wilayah inilah yang awalnya menjadi sasaran dari Bunga Papua untuk melaksanakan kegiatannya. Memang tidak mudah, tapi mereka terus berusaha untuk membuka sekolah di beberapa kampung lainnya untuk anak-anak agar mendapatkan pendidikan dasar.

Anak-anak Bunga Papua bersama dengan para bunda menyanyikan lagu “Aku Anak Papua“ (foto: I Ngurah Suryawan)

“Kami tidak memikirkan gedung. Bahkan tidak memakai gedung,” ujar Danarti. Mereka mengawalinya dengan meminjam teras-teras rumah warga yang bersedia dijadikan tempat untuk belajar. Mereka mencoba untuk memakai terus rumah-rumah keluarga di kampung untuk pelaksanaan proses belajar mengajar. Perlengkapan juga mereka sediakan sendiri atau dibantu oleh keluarga-keluarga yang anaknya ikut belajar di Bunga Papua. Cara mereka belajar sangat sederhana dengan duduk di lantai beralasan tikar atau karpet plastik. Meja-meja sederhana dibuat dari kayu menjadi teman keseharian anak-anak.

Salah satu persoalan penting mengenai pendidikan usia dini di tanah Papua secara umum adalah ketersediaan buku-buku penunjang. Bunga Papua menyadari itu dan enggan untuk memilih bergantung ke dinas pendidikan untuk mendapatkan buku ajar. Mereka memilih untuk kreatif membuat materi ajar sendiri dengan materi, desain, dan produksi sendiri. Materi-materinya berkonteks lokal Papua yang berhubungan dengan keseharian anak-anak Papua. Desainnya mereka buat sendiri dengan sederhana dan perbanyak untuk kepentingan sendiri pula.

Materi-materi untuk pendidikan anak usia dini mereka dapatkan dari bahan di internet. Tim dari Bunga Papua juga membandingkan dengan buku-buku PAUD yang digunakan di sekolah-sekolah. Keseluruhan materi-materi tersebut mereka modifikasi terlebih dahulu dengan unsur utama memasukkan materi dengan latar belakang lingkungan Papua yang akrab dengan keseharian anak-anak di kampung. Bunga Papua juga memasukkan materi-materi lagu-lagu Papua dan anak-anak.

Salah satu keberuntungan yang dimiliki oleh Bunga Papua adalah kehadiran para pendamping yang mayoritas perempuan. Para pendamping inilah yang memegang peranan penting dalam pelaksanaan pendidikan Bunga Papua dengan kemampuan mereka memainkan alat musik dan bernyanyi. Keunggulan itulah yang mereka manfaatkan untuk melaksanakan proses pendidikan dengan media bernyanyi. Para pendamping inilah—yang bekerja dengan sukarela—menciptakan lagu-lagu yang berisi materi pembelajaran bagi anak-anak.

Para pendamping anak-anak di Bunga Papua disebut dengan bunda. Para bunda ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka berasal dari kampung setempat atau kampung tetangga. Ada juga yang dengan sukarela bersedia mengajar dengan jarak yang jauh dari tempat tinggalnya. Semuanya diberikan kebebasan. Sebagian besar dari para bunda ini sudah lulus pendidikan kejar paket, Sekolah Dasar (SD), bahkan ada sukarelawan yang sudah sarjana. Bunga Papua membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapa saja yang bersedia menjadi bunda, terutama anak-anak muda dan mama-mama di kampung tersebut.

Para bunda yang direkrut oleh Bunga Papua sebelumnya diberikan pelatihan untuk lebih mengenal tujuan dan model pendidikan yang akan dilakukan. Intinya adalah mereka—para bunda—ini bersedia dengan sukarela untuk membantu mengajar. Tim Bunga Papua hanya memberikan pondasi dasar dari kehadiran Bunga Papua dan sebagai sebuah kegiatan sosial yang membantu anak-anak kurang mampu di kantong-kantong kemiskinan di Kota Sorong. Dasar inilah yang harus dipahami oleh para bunda agar mereka menyadari kegiatan sosial ini. Selanjutnya adalah komitmen dan kesadaran dari para bunda untuk kesediaan mengajar dan bersama-sama aktif di Bunga Papua.

Baca Juga : Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (1)

Bunga Papua juga membuka kesempatan untuk proses saling belajar diantara sesama guru. Danarti Wulandari menjelaskan bahwa terkadang terdapat guru-guru PAUD yang datang ke sekolah-sekolah Bunga Papua untuk membantu mengajar dengan sukarela. Terkadang ada juga pelatihan-pelatihan bagi guru-guru PAUD yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Sorong.

Para bunda Bunga Papua juga ikut serta dalam kegiatan pelatihan tersebut. Kendala tersedianya para bunda untuk mengajar selalu menjadi masalah pelik bagi Sekolah Bunga Papua. Namun seiring dengan berjalannya waktu, para bunda selalu datang silih berganti. Selalu saja ada bunda-bunda baru yang datang dan bersedia untuk mengajar dengan sukarela. Meski memang diakui susah untuk bertahan lama.

Keceriaan dan riang gembira adalah modal utama berlangsungnya proses pembelajaran yang menjadi prinsip Sekolah Bunga Papua (foto: I Ngurah Suryawan).

Permasalahan para bunda selalu diatasi dengan cara tak terduga dan selalu saja kejutan-kejutan untuk menyelamatkannya. Danarti mengakui bahwa para bunda boleh datang dan pergi silih berganti, namun visi dan misi Bunga Papua harus terus berjalan siapapun para bundanya. Tantangan terbesar sudah menunggu di depan mata mereka: anak-anak Papua yang membutuhkan kasih sayang mereka. Anak-anak Papua yang bisa ceria dan gembira di tengah kesulitan hidup yang mereka hadapi bersama dengan orang tua mereka.

Mayoritas yang menjadi anak-anak Bunga Papua adalah anak-anak Papua dari kampung-kampung tersisihkan tersebut. Tim dari Bunga Papua terlebih dahulu akan mendata kampung tersebut dan anak-anak yang ikut bersekolah. Langkah ini juga menjadi bagian dari survei awal untuk mencari bunda-bunda yang berasal dari kampung tersebut dan juga rumah yang bersedia dijadikan lokasi belajar.

Hal ini tentu saja setelah mendapat persetujuan dari kepala kampung dan tetua adat di lokasi tersebut. Syarat-syaratnya tidak terlalu membebani mereka dengan surat-surat. Danarti menjelaskan yang penting bersemangat dan mempunyai tekad untuk belajar. Tim Bunga Papua sudah memahami betul situasi mereka.

Sekolah Bunga Papua mencoba untuk menepis cara pandang “orang-orang kaya” di Kota Sorong yang selalu melihat jika sekolah jorok maka tidak mau bersekolah. Cara pandang seperti ini hanya mementingkan gedung dan sarana pendidikan, bukan isi dari pendidikan tersebut. Sarana pendidikan tetap penting, namun yang jauh lebih penting adalah proses pendidikan itu sendiri.

Oleh sebab itulah Sekolah Bunga Papua melangsungkan proses belajar mengajarnya dengan tidak ada gedung permanen yaitu hanya menumpang di rumah orang tua siswa di kampung-kampung. Juga tidak ada seragam, sepatu yang nantinya akan membebani para siswa. “Kami merancang pondasi Bunga Papua sebagai pendidikan anak usia dini sebagai sanggar belajar bagi anak-anak yang bersemangat dan ceria,” ungkap Danarti.  (T)

Tags: anak-anakPapuaPendidikanpendidikan usia dinisekolah
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Reinterpreting Culture #3: Progresif Seni Rupa Membara dari Spiritualitas

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus# Komisi Percepatan Ganti Ban Cikar

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus# Komisi Percepatan Ganti Ban Cikar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co