23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
September 7, 2025
in Esai
Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi

TULISAN ini lahir dari perenungan yang mendalam setelah saya berkesempatan menjadi moderator dalam acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi. Buku ini membuka tabir Bhaerawa yang menekankan bahwa pembebasan dari penderitaan dapat dicapai melalui pelenyapan ego, keinginan, dan ketakutan.

Diskusi dalam acara tersebut membuka pandangan saya: bahwa ajaran Bhaerawa—yang selama ini kerap dipersepsikan ekstrem, gelap, atau bahkan mistis—justru menyimpan nilai-nilai yang luhur yang bisa menjadi pedoman kepemimpinan. Nilai-nilai yang relevan dan sangat kontekstual dengan tantangan zaman, bahkan untuk konteks sosial-politik masa kini.

Ajaran Bhaerawa tidak hanya menguraikan jalan spiritual secara personal, tetapi juga menunjukkan bagaimana kekuatan batin, keberanian moral, dan kedalaman kesadaran bisa menjadi fondasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan maupun kepemimpinan sosial.

Di tengah tantangan zaman yang kompleks, —krisis moral, ekonomi, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga polarisasi politik—muncul pertanyaan mendasar: seperti apakah pemimpin yang ideal? Bukan hanya cerdas dan tegas, seorang pemimpin sejati juga harus matang secara spiritual dan emosional.

Tulisan ini mencoba merefleksikan bagaimana nilai-nilai Bhaerawa bisa dihayati oleh pemimpin masa kini, sekaligus menelusuri jejak historis para pemimpin Nusantara—termasuk di Bali—yang pernah menapaki jalan ini dengan gagah dan bijak.

Jejak Bhaerawa dalam Sejarah Kepemimpinan Nusantara

Ajaran Bhaerawa merupakan bagian dari khazanah Tantrayana Hindu-Buddha yang dikenal berani, nonkonvensional, dan transformatif. Ajaran ini tidak sekadar berkembang di India atau Tibet, tetapi juga berakar kuat dalam sejarah Nusantara.

Di Jawa, ajaran ini pernah menjadi fondasi spiritual dan ideologis pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Ia dikenal sebagai pemimpin dengan visi besar, keberanian luar biasa, dan keterbukaan spiritual—ciri khas pemimpin Bhaerawa.

Di Bali, ajaran ini juga dipercaya dianut oleh Ratu Mahendradatta, istri Raja Udayana Warmadewa dan ibu dari Raja Airlangga. Beberapa peninggalan arkeologis, seperti arca Bhaerawa di Pura Kebo Edan, menjadi saksi bagaimana ajaran ini menjadi bagian dari tradisi kerajaan dan spiritualitas elite pada masa lalu.

Para pemimpin tersebut bukan hanya penguasa politik, tetapi juga praktisi spiritual yang menghayati kekuasaan sebagai sarana pelayanan, bukan dominasi.

Ajaran Bhaerawa dalam Konteks Kepemimpinan

Secara esoterik, Bhaerawa adalah aspek Tuhan (Siwa) dalam manifestasi yang tegas, keras, bahkan destruktif terhadap ilusi, ketidakseimbangan, dan kebodohan. Namun, hal ini sebenarnya merupakan manifestasi kasih yang lebih tinggi.

Bhaerawa tidak mengajarkan lari dari kegelapan, melainkan menaklukkannya dari dalam. Dalam konteks kepemimpinan, ajaran ini menekankan:

•⁠  ⁠Penguasaan atas ego dan nafsu pribadi

•⁠  ⁠Ketegasan terhadap ketidakadilan

•⁠  ⁠Kemampuan mentransformasi krisis menjadi peluang

•⁠  ⁠Kepemimpinan yang berlandaskan kesadaran spiritual

Dengan penggalian ajaran ini, pemimpin tidak boleh hanya menyukai yang indah dan terang, tetapi harus mampu memasuki dan menaklukkan kekacauan, penderitaan, dan sisi gelap kekuasaan, agar dapat diubah menjadi kekuatan yang menyejahterakan.

Jadi, di era modern, nilai-nilai Bhaerawa tetap sangat relevan. Meski tanpa atribut spiritual formal, intisari ajarannya adalah kepemimpinan yang berani, rendah hati, dan transformatif.

Relevansi Ajaran Bhaerawa untuk Pemimpin Masa Kini

Berikut adalah nilai-nilai dari ajaran Bhaerawa yang bisa dijadikan prinsip kepemimpinan masa kini:

1. Empati dalam Kekuasaan

Pemimpin Bhaerawa hadir dalam penderitaan rakyat, bukan sekadar tampil dalam seremonial, bukan hanya dalam kemewahan.

Ia memahami bahwa kekuasaan adalah sarana untuk melayani, bukan menikmati. Ini relevan dalam menghadapi krisis ekonomi dan sosial. Pemimpin mesti turun tangan, bukan lepas tangan.

2. Berani Mengambil Keputusan Sulit

Layaknya Bhaerawa yang tidak ragu menghancurkan kejahatan, pemimpin ideal harus berani menindak korupsi, membela yang tertindas, dan menegakkan keadilan. Pemimpin ideal berdiri membela yang lemah, meski harus melawan arus.

3. Mengendalikan Nafsu Pribadi dan Citra

Dalam era pencitraan dan hedonisme dewasa ini, pemimpin Bhaerawa tidak butuh panggung atau pengakuan. Ia bekerja dalam keheningan, namun hasilnya berdampak nyata. Ia tidak “flexing”, tidak haus pujian, dan tidak memanipulasi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

4. Menjaga Keseimbangan Sakala dan Niskala

Pemimpin bukan hanya seorang birokrat, tetapi juga pemelihara nilai. Ia harus bisa mengatur dunia fisik (sakala) sembari menjaga kesucian, etika, dan spiritualitas masyarakat (niskala).

Kepemimpinan: Jalan Ke Dalam, Bukan Sekadar Naik ke Atas

Dalam dunia yang semakin bising oleh popularitas semu, ajaran Bhaerawa menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati berasal dari kedalaman kesadaran, bukan sorotan kamera. Seorang pemimpin sejati adalah ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri, sebelum mencoba mengatur orang lain.

Kekuasaan sejati tidak terletak pada posisi, melainkan pada kekuatan batin untuk bertanggung jawab, melayani, dan bertransformasi demi kebaikan bersama. Keberanian menghadapi tantangan-tantangan yang ada untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

Bhaerawa mengajarkan bahwa keberanian, empati, dan kedalaman jiwa jauh lebih penting daripada gelar, popularitas, atau pengaruh. Di sinilah pemimpin sejati lahir—bukan dari ambisi, tetapi dari kesadaran.

Di tengah dunia yang gaduh oleh ego dan citra, kita butuh lebih banyak pemimpin yang sunyi, namun bekerja dengan kekuatan sejati—seperti semangat Bhaerawa yang tak gentar menghadapi gelap, demi menghadirkan terang. Di titik inilah, ajaran Bhaerawa kembali menemukan relevansinya—bukan sebagai dogma, tapi sebagai jiwa kepemimpinan sejati.

Semoga tulisan ini menginspirasi para pemimpin—baik di lingkup pemerintahan, organisasi, maupun komunitas—untuk melihat kepemimpinan bukan sebagai tangga kekuasaan, tetapi sebagai jalan pelayanan spiritual yang mulia. [T]

Kemenuh, 6 September 2025
Rahajeng rahina Saraswati lan Banyupinaruh. Rahayu

Penulis: Raka Prama Putra
Editor: Jaswanto

Tags: bhaerawaBukukepemimpinanpemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Next Post

Rawon, Rujak, Mi

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Rawon, Rujak, Mi

Rawon, Rujak, Mi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co