23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

Raka Prama Putra by Raka Prama Putra
September 7, 2025
in Esai
Pemimpin dan Ajaran Bhaerawa: Memimpin dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Jabatan

acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi

TULISAN ini lahir dari perenungan yang mendalam setelah saya berkesempatan menjadi moderator dalam acara Bedah Buku *Bhaerawa Jnana* karya Ida Dukuh Celagi. Buku ini membuka tabir Bhaerawa yang menekankan bahwa pembebasan dari penderitaan dapat dicapai melalui pelenyapan ego, keinginan, dan ketakutan.

Diskusi dalam acara tersebut membuka pandangan saya: bahwa ajaran Bhaerawa—yang selama ini kerap dipersepsikan ekstrem, gelap, atau bahkan mistis—justru menyimpan nilai-nilai yang luhur yang bisa menjadi pedoman kepemimpinan. Nilai-nilai yang relevan dan sangat kontekstual dengan tantangan zaman, bahkan untuk konteks sosial-politik masa kini.

Ajaran Bhaerawa tidak hanya menguraikan jalan spiritual secara personal, tetapi juga menunjukkan bagaimana kekuatan batin, keberanian moral, dan kedalaman kesadaran bisa menjadi fondasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan maupun kepemimpinan sosial.

Di tengah tantangan zaman yang kompleks, —krisis moral, ekonomi, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga polarisasi politik—muncul pertanyaan mendasar: seperti apakah pemimpin yang ideal? Bukan hanya cerdas dan tegas, seorang pemimpin sejati juga harus matang secara spiritual dan emosional.

Tulisan ini mencoba merefleksikan bagaimana nilai-nilai Bhaerawa bisa dihayati oleh pemimpin masa kini, sekaligus menelusuri jejak historis para pemimpin Nusantara—termasuk di Bali—yang pernah menapaki jalan ini dengan gagah dan bijak.

Jejak Bhaerawa dalam Sejarah Kepemimpinan Nusantara

Ajaran Bhaerawa merupakan bagian dari khazanah Tantrayana Hindu-Buddha yang dikenal berani, nonkonvensional, dan transformatif. Ajaran ini tidak sekadar berkembang di India atau Tibet, tetapi juga berakar kuat dalam sejarah Nusantara.

Di Jawa, ajaran ini pernah menjadi fondasi spiritual dan ideologis pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Ia dikenal sebagai pemimpin dengan visi besar, keberanian luar biasa, dan keterbukaan spiritual—ciri khas pemimpin Bhaerawa.

Di Bali, ajaran ini juga dipercaya dianut oleh Ratu Mahendradatta, istri Raja Udayana Warmadewa dan ibu dari Raja Airlangga. Beberapa peninggalan arkeologis, seperti arca Bhaerawa di Pura Kebo Edan, menjadi saksi bagaimana ajaran ini menjadi bagian dari tradisi kerajaan dan spiritualitas elite pada masa lalu.

Para pemimpin tersebut bukan hanya penguasa politik, tetapi juga praktisi spiritual yang menghayati kekuasaan sebagai sarana pelayanan, bukan dominasi.

Ajaran Bhaerawa dalam Konteks Kepemimpinan

Secara esoterik, Bhaerawa adalah aspek Tuhan (Siwa) dalam manifestasi yang tegas, keras, bahkan destruktif terhadap ilusi, ketidakseimbangan, dan kebodohan. Namun, hal ini sebenarnya merupakan manifestasi kasih yang lebih tinggi.

Bhaerawa tidak mengajarkan lari dari kegelapan, melainkan menaklukkannya dari dalam. Dalam konteks kepemimpinan, ajaran ini menekankan:

•⁠  ⁠Penguasaan atas ego dan nafsu pribadi

•⁠  ⁠Ketegasan terhadap ketidakadilan

•⁠  ⁠Kemampuan mentransformasi krisis menjadi peluang

•⁠  ⁠Kepemimpinan yang berlandaskan kesadaran spiritual

Dengan penggalian ajaran ini, pemimpin tidak boleh hanya menyukai yang indah dan terang, tetapi harus mampu memasuki dan menaklukkan kekacauan, penderitaan, dan sisi gelap kekuasaan, agar dapat diubah menjadi kekuatan yang menyejahterakan.

Jadi, di era modern, nilai-nilai Bhaerawa tetap sangat relevan. Meski tanpa atribut spiritual formal, intisari ajarannya adalah kepemimpinan yang berani, rendah hati, dan transformatif.

Relevansi Ajaran Bhaerawa untuk Pemimpin Masa Kini

Berikut adalah nilai-nilai dari ajaran Bhaerawa yang bisa dijadikan prinsip kepemimpinan masa kini:

1. Empati dalam Kekuasaan

Pemimpin Bhaerawa hadir dalam penderitaan rakyat, bukan sekadar tampil dalam seremonial, bukan hanya dalam kemewahan.

Ia memahami bahwa kekuasaan adalah sarana untuk melayani, bukan menikmati. Ini relevan dalam menghadapi krisis ekonomi dan sosial. Pemimpin mesti turun tangan, bukan lepas tangan.

2. Berani Mengambil Keputusan Sulit

Layaknya Bhaerawa yang tidak ragu menghancurkan kejahatan, pemimpin ideal harus berani menindak korupsi, membela yang tertindas, dan menegakkan keadilan. Pemimpin ideal berdiri membela yang lemah, meski harus melawan arus.

3. Mengendalikan Nafsu Pribadi dan Citra

Dalam era pencitraan dan hedonisme dewasa ini, pemimpin Bhaerawa tidak butuh panggung atau pengakuan. Ia bekerja dalam keheningan, namun hasilnya berdampak nyata. Ia tidak “flexing”, tidak haus pujian, dan tidak memanipulasi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

4. Menjaga Keseimbangan Sakala dan Niskala

Pemimpin bukan hanya seorang birokrat, tetapi juga pemelihara nilai. Ia harus bisa mengatur dunia fisik (sakala) sembari menjaga kesucian, etika, dan spiritualitas masyarakat (niskala).

Kepemimpinan: Jalan Ke Dalam, Bukan Sekadar Naik ke Atas

Dalam dunia yang semakin bising oleh popularitas semu, ajaran Bhaerawa menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati berasal dari kedalaman kesadaran, bukan sorotan kamera. Seorang pemimpin sejati adalah ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri, sebelum mencoba mengatur orang lain.

Kekuasaan sejati tidak terletak pada posisi, melainkan pada kekuatan batin untuk bertanggung jawab, melayani, dan bertransformasi demi kebaikan bersama. Keberanian menghadapi tantangan-tantangan yang ada untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan.

Bhaerawa mengajarkan bahwa keberanian, empati, dan kedalaman jiwa jauh lebih penting daripada gelar, popularitas, atau pengaruh. Di sinilah pemimpin sejati lahir—bukan dari ambisi, tetapi dari kesadaran.

Di tengah dunia yang gaduh oleh ego dan citra, kita butuh lebih banyak pemimpin yang sunyi, namun bekerja dengan kekuatan sejati—seperti semangat Bhaerawa yang tak gentar menghadapi gelap, demi menghadirkan terang. Di titik inilah, ajaran Bhaerawa kembali menemukan relevansinya—bukan sebagai dogma, tapi sebagai jiwa kepemimpinan sejati.

Semoga tulisan ini menginspirasi para pemimpin—baik di lingkup pemerintahan, organisasi, maupun komunitas—untuk melihat kepemimpinan bukan sebagai tangga kekuasaan, tetapi sebagai jalan pelayanan spiritual yang mulia. [T]

Kemenuh, 6 September 2025
Rahajeng rahina Saraswati lan Banyupinaruh. Rahayu

Penulis: Raka Prama Putra
Editor: Jaswanto

Tags: bhaerawaBukukepemimpinanpemimpin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Next Post

Rawon, Rujak, Mi

Raka Prama Putra

Raka Prama Putra

Nama lengkapnya I Putu Gede Raka Prama Putra. Penulis, wartawan

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Rawon, Rujak, Mi

Rawon, Rujak, Mi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co