25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 6, 2025
in Esai
Reinkarnasi Perilaku Baik melalui Momen Hari Saraswati

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

HARI Saraswati yang jatuh pada Sabtu, 6 September 2025, seyogianya bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Hindu. Ia adalah momen sakral untuk meneguhkan diri, mereinkarnasi perilaku baik, dan menghidupkan kembali karma yang suci dalam kehidupan kita. Kitab-kitab suci, lontar, dan ilmu pengetahuan yang dihaturkan bunga, canang, serta puja bukan benda mati yang hanya dipuja secara simbolik. Ia adalah sumber cahaya yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam kegelapan perilaku.

Saraswati, sebagai personifikasi ilmu pengetahuan suci, mengingatkan kita bahwa belajar bukan sekadar menghafal. Belajar adalah upaya menapaki jejak karma baik. Hal ini penting agar pengetahuan yang kita serap menjadi suluh bagi kehidupan. Lalu, apa gunanya hidup, bila kita gagal mewarisi perilaku yang baik dan suci, baik sebagai umat, sebagai anak bangsa, apalagi sebagai generasi muda yang kelak mewarisi negeri ini?

Pertanyaan itu semakin terasa relevan ketika kita menyaksikan hiruk pikuk demokrasi belakangan ini. Di berbagai daerah, di ibu kota, di panggung politik nasional, kita kerap melihat perilaku yang “melewati batas kewajaran”. Demokrasi seolah hanya pesta suara, bukan lagi perayaan adab. Padahal, Hindu telah sejak lama mengajarkan Tatwamasi—“aku adalah engkau, engkau adalah aku”—sebuah pengingat bahwa manusia adalah cermin satu sama lain.

Dalam hukum alam, kita mengenal aksi dan reaksi, stimulus dan respons. Namun, apakah setiap reaksi harus berupa kemarahan, hujatan, atau arogansi? Tidak. Semua semestinya tetap dalam koridor kemanusiaan yang menjunjung adab. Adab itu bersumber dari ajaran leluhur, yang diwariskan sejak berabad-abad sebagai kompas moral. Di sinilah kita perlu kearifan untuk menyelami makna sesungguhnya dari perayaan Saraswati, yakni membasuh diri, menenangkan pikiran, dan membaharui tekad untuk menjaga keluhuran budi.

Saraswati tidak hanya mengajarkan kita menulis dengan aksara, tetapi juga menulis perilaku dengan tinta kebaikan. Tidak hanya membaca kitab, tetapi juga membaca kehidupan dengan hati yang terang. Di tengah gempita efek demokrasi yang kadang kebablasan, mari kita jadikan Saraswati sebagai titik balik, bahwa ilmu pengetahuan sejati bukan hanya alat untuk cerdas, melainkan juga jalan untuk beradab. Karena tanpa adab, ilmu hanyalah pedang tanpa sarung; ia bisa melukai siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Banten Gebogan Karya Siswa/Foto Dok.: SMKN 1 Petang

Enam bulan lalu, dalam perayaan Saraswati sebelumnya, saya menulis bahwa Saraswati bukanlah sekadar mantenin buku—baik cetak maupun elektronik. Saraswati adalah harinya Sang Hyang Aji Sastra, hari ketika kita diajak kembali merenungi hakikat sastra sebagai pencerahan hidup. Ilmu pengetahuan yang sejatinya dipancarkan secara adil, merata, dan tanpa putus waktu, semestinya memberi keleluasaan bagi manusia untuk terus belajar sepanjang hayat.

Di sini, kita kembali pada hakikat sastra. Ada sastra tulis dan ada sastra lisan. Sastra tulis memang lahir belakangan, tetapi jauh sebelum itu manusia sudah ditempa oleh sastra lisan—kisah-kisah yang dituturkan dari mulut ke telinga, dari kakek-nenek ke cucu-cicit. Cerita rakyat, mitologi, petuah leluhur, semua itu adalah suluh pengetahuan yang menyinari jalan hidup. Sastra lisan tidak sekadar hiburan; ia sarat nilai moral, spiritual, dan etika sosial. Dari sinilah lahir leluhur Bali yang unggul, yang meninggalkan peradaban luhur hingga kini.

Kini menucul pertanyaan: mengapa kita, generasi hari ini, sering gagal memaknainya? Mengapa nilai-nilai luhur itu terkadang berhenti sekadar cerita, tidak menjelma perilaku? Inilah pentingnya introspeksi. Hari Saraswati seharusnya bukan hanya upacara simbolik, melainkan momen perenungan untuk mereinkarnasi kembali karma baik leluhur, agar Bali tidak sekadar bangga dengan warisan budaya, tetapi mampu menghidupinya di tengah tantangan zaman.

Saraswati mengingatkan kita, bahwa pengetahuan tidak boleh menjauh dari kehidupan. Ia harus hadir dalam demokrasi, dalam politik, dalam pendidikan, bahkan dalam keseharian paling sederhana sekalipun. Di tengah derasnya arus zaman, kita memerlukan Tatwamasi—aku adalah engkau, engkau adalah aku—sebagai landasan moral. Dengan begitu, perayaan Saraswati bukan hanya tentang menghaturkan sesajen pada buku dan lontar, tetapi tentang bagaimana kita menjaga adab, memperbaiki perilaku, dan mewariskan karma baik pada generasi berikutnya.

Melestarikan Tradisi/Foto Dok.: SMKN 1 Kintamani

Hari Saraswati adalah panggilan. Sebuah panggilan untuk kembali pada inti: bahwa ilmu pengetahuan sejati adalah cahaya yang menuntun, bukan bara yang membakar. Maka, Saraswati bukan hanya perayaan seremonial, melainkan sebuah pengingat keras: bahwa ilmu tanpa adab hanyalah ilusi, dan adab tanpa ilmu hanyalah kebodohan. Keduanya harus menyatu, agar cahaya pengetahuan benar-benar mampu menuntun kita menuju kehidupan yang lebih suci dan beradab.

Sebagaimana ajaran Rsi Markandeya yang tercatat dalam Markandeya Purana bahwa “Pengetahuan adalah air suci; ia membersihkan kegelapan hati dan memberi kesuburan pada budi.” Tanpa pengetahuan yang benar, manusia akan terjerumus pada kegelapan batin dan kehilangan arah moral. Oleh karena itu, Hari Saraswati mestinya menjadi titik balik untuk menyalakan cahaya pengetahuan agar karma baik terus bersemi dalam kehidupan. (Markandeya Purana,  terjemahan dan kisah dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul).

Sejalan dengan itu, Ir. Soekarno dalam pidatonya yang dihimpun dalam Di Bawah Bendera Revolusi (1959) pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang beradab, bukan semata-mata bangsa yang besar bangunannya. Pembangunan tanpa adab hanyalah meninggikan tembok peradaban tanpa fondasi yang kokoh.” Pesan Bung Karno ini terasa sangat relevan di tengah euforia demokrasi hari ini, ketika perilaku politik seringkali melampaui batas kewajaran.

Maka dari itu, Hari Saraswati bukan hanya perayaan simbolik terhadap buku, lontar, atau literasi pengetahuan. Lebih jauh merupakan momentum moral ketika kita mewarisi laku bijak leluhur, menghidupkan kembali ajaran adab, serta mereinkarnasi karma baik agar Bali – dan bangsa Indonesia – tetap tumbuh dengan cahaya ilmu yang suci. [T]

Tags: Hari SaraswatihinduPendidikanSMKN 1 Kintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jambore GenRe Kota Denpasar 2025: Dua Hari Satu Malam Penuh Canda, Solidaritas, dan Harapan

Next Post

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rizan Panda  |  Sa Lhéë Sa Duwa

Puisi-puisi Rizan Panda | Sa Lhéë Sa Duwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co