25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 21, 2025
in Esai
Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Ilustrasi tatkala.co | Arix

“Tidak datang untuk validasi keren, ini caraku untuk mengekspresikan diri dan merayakan musik yang kucintai!”

Begitu ungkapan yang seringkali ada di benak saya ketika mengunjungi acara musik.

Gigs dan konser bukan sekadar mendengar dan menonton musik. Kedua hal itu bagai ruang interaksi, tempat energi kolektif dituangkan, dan ruang bagi musisi serta penikmat musik untuk saling berbagi pengalaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat semakin banyak anak muda yang hadir di gigs dan konser, walaupun jujur saja, saya tidak terlalu sering datang ke acara-acara musik itu. Tapi yang saya ingat ketika menonton, orang-orang membawa semangat baru sekaligus fenomena yang menarik perhatian saya, mereka yang datang banyak yang menikmati, tapi tidak sedikit juga yang hanya demi FOMO (fear of missing out), tanpa benar-benar memahami esensi musik yang dihidangkan.      

Apa Itu Gigs, Pogo, dan Moshing?

Mari kita kenali beberapa istilah yang sering muncul di dunia musik. Gigs singkatan dari “engagement” adalah pertunjukan musik skala kecil hingga menengah, biasanya digelar di bar, kafe, atau ruang komunitas.

Istilah “gig” dalam dunia musik berasal dari bahasa gaul para musisi jazz di Amerika Serikat awal abad ke-20.  Acara yang menjadi wadah bagi band lokal atau musisi independen untuk menampilkan karya mereka, dan biasanya penggemar mereka tidak terlalu banyak.

Berbeda dengan konser yang sering kali megah dan terorganisasi secara komersial, gigs memiliki suasana lebih intim, seperti di khususkan untuk para pendengar VIP, hahahaa.

Dalam beberapa skena musik, seperti punk, metal, atau hardcore, muncul bentuk ekspresi fisik unik dari penonton, pogo dan moshing. Pogo, tarian yang dipopulerkan oleh Bassis Sex Pistols Sid Vicious sekitar tahun 1976, adalah gaya menari yang sederhana namun energik, di mana orang melompat naik turun mengikuti irama musik, keringat bercucuran tanda ungkapan semangat.

Sementara itu, moshing, yang mulai berkembang pada akhir 1970-an dan awal 1980-an di California Selatan, Amerika Serikat. Saat itu, moshing disebut “slam dancing”, adalah bentuk ekspresi yang lebih agresif. Diiringi oleh musik keras dan cepat, penonton saling mendorong dan bertabrakan dalam area yang disebut mosh pit.

Meskipun terlihat kasar, dan tidak jarang memakan korban luka, moshing sebenarnya memiliki aturan tidak tertulis. Jika ada yang jatuh, mereka akan segera dibantu bangkit. Tidak ada amarah, hanya kesenangan, kesenangan, dan kesenangan.

Moshing mencerminkan semangat kebersamaan, energic, dan ungkapan perasaan yang tulus terhadap musik. Namun, aturan ini seolah tidak berlaku ketika fenomena FOMO mengambil alih.

FOMO di Gigs dan Konser

FOMO, atau rasa takut ketinggalan akan hal baru, menjadi salah satu pendorong utama tidak hanya generasi muda untuk hadir di gigs dan konser. Media sosial memperkuat fenomena ini. Unggahan di Instagram, dan cerita di TikTok menjadi alasan banyak anak muda datang ke acara musik, bukan untuk menikmati musik itu sendiri, melainkan demi dokumentasi.

Seolah menciptakan dinamika acara musik. Beberapa penonton tidak lagi datang dengan niat untuk memahami atau meresapi aliran musik tertentu. Mereka hadir dengan pakaian yang menonjol, gaya yang mencolok, dan keinginan untuk terlihat keren. Salah satu hasilnya adalah aksi pogo dan moshing yang dilakukan secara sembarangan, termasuk di lagu yang tidak sesuai.

Moshing di Lagu yang Salah

Bayangkan saja, jujur ini pasti sering terjadi, suasana gigs kecil dengan band yang memainkan lagu balada akustik. Ini kan harusnya menjadi momen untuk menikmati lirik yang menyentuh dan melodi yang menenangkan. Namun, tiba-tiba beberapa penonton mulai pogo atau bahkan mencoba moshing, menciptakan kekacauan di tengah suasana yang seharusnya damai.

Fenomena ini tidak hanya mengganggu pengalaman orang lain, tetapi juga menunjukkan ketidaktahuan akan budaya musik yang sedang dimainkan. Dan berlaku juga di konser yang boleh di kunjungi secara gratis, karena gratis juga, menyebabkan orang-orang dari kalangan mana pun bisa datang. Maka tak heran di konser gratis kalian bisa melihat orang yang mabuk.

Aksi seperti ini sering dianggap sebagai bentuk “pemberontakan gaya baru” oleh sebagian anak muda. Mereka ingin tampil beda, tetapi justru kehilangan esensi musik itu sendiri. Moshing di lagu keras sejatinya ungkapan perasaan, energi, dan kebersamaan. Namun, melakukannya di lagu yang salah justru mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap seni dan budaya musik tersebut, menimbulkan kekacauan dan akhirnya baku pukul. Kami para penikmat musik biasa menyebutnya dengan istilah “Kampungan!!!.”

Skena Musik

Menurut saya, fenomena ini memiliki dampak positif dan negatif. Di satu sisi, meningkatnya antusiasme generasi muda terhadap gigs dan konser membantu mempopulerkan skena musik lokal. Semakin banyak orang yang datang berarti semakin besar peluang bagi musisi untuk mendapatkan dukungan, harusnya begitu kan?

Namun, di sisi lain, aksi-aksi nyeleneh ini dapat merusak suasana dan mengganggu penonton lain yang lebih serius menikmati musik. Argumen saya ini di perkuat oleh pernyataan vokalis dari salah satu band Grindcore legend di Bali, ANTIPOP.

“Sekarang banyak yang sekedar ikut-ikutan (poser) datang ke gigs ngelakuin  two step ala New York malahan jadinya  crowd killin, kalo fenomena yang sekarang saya liat malahan two step bertujuan untuk menyakiti bukan lagi sebuah ekspresi dari emosi yang dicurahkan secara positif, bahkan banyak juga yang ga tau teknik pogo, two step, stage diving itu malahan ujung-ujungnya jadi nyakitin diri sendiri dan berujung perkelahian (agak ndeso klo ini),” kata Agung Yudha (vokalis ANTIPOP).

Band atau musisi pun bisa merasa kurang dihargai ketika penonton tidak memberikan respons yang sesuai dengan suasana musik mereka. Walaupun memang, tak banyak yang tahu dan malah menghakimi bahwa bentuk ekspresi diri lewat moshing dan pogo itu salah dan tak wajar, balik lagi itu adalah bentuk ekspresi kami terhadap musik.

Mengembalikan Esensi Musik

Musik adalah bahasa universal yang menghubungkan manusia secara emosional. Konser dan gigs adalah ruang di mana seni bertemu dengan apresiasi, bukan sekadar ajang pamer. Untuk generasi muda, memahami konteks musik yang dimainkan adalah langkah awal untuk menikmati acara dengan lebih mendalam.

Bagi musisi, fenomena ini menjadi tantangan baru, bagaimana menciptakan koneksi dengan penonton yang sebagian besar hanya mengejar FOMO. Dengan memberikan edukasi ringan atau menciptakan ruang khusus bagi penonton yang ingin sekadar berdokumentasi, pengalaman musik bisa tetap terjaga tanpa kehilangan esensinya.

Pada akhirnya, musik adalah tentang merasakan, bukan sekadar terlihat merasakan. “the right music, the right gigs and the right way, sehingga tidak crowd killing, setiap genre musik memiliki cara untuk dapat dinikmati, jadi jangan sampai salah Alamat” tambah Agung Yudha (vokalis ANTIPOP). Karena sesungguhnya, gigs dan konser adalah tentang kebersamaan, bukan sekadar kehadiran. Jangan sampai esensi musik dilucuti hanya karena sekedar update story. [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO
Tags: FOMOGigsmoshingmusikpogo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Next Post

Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co