22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
April 7, 2025
in Esai
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

MULAI Tahun Pelajaran 2025/2026, Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto akan mulai membuka Sekolah Rakyat (SR) di bawah Kementerian Sosial. Pertama mendengar SR tiba-tiba saja saya teringat pada ayah yang sudah meninggal 2014. Ayah tamatan SR zaman Belanda. Di KTP-nya, tertulis beliau lahir 1932. Saat penjajahan Jepang, ayah ikut menjadi seinendan yang diseleksi dengan persyaratan Pendidikan dan usia (14 -22 tahun). Dengan syarat itu, pasti tidak banyak yang bisa lolos seleksi karena awal Kemerdekaan Indonesia angka buta huruf 97 % dan melek huruf 3 %.

 Keikutsertaan ayah berperang zaman Jepang hingga menghilang sampai-sampai kakek berkaul, “Jika ayah kembali, akan mengupah Arja Basur”. Ayah memang akhirnya kembali setelah kakek berkaul dan kaul baru dibayar pada 1995, ketika saya sudah punya anak pertama.

Walaupun ayah ikut menjadi seinendan zaman Jepang, ia tidak menjadi veteran. Konon, sertifikat keikutsertaannya berjuang melawan Jepang, dipinjam teman dari desa tetangga untuk mengurus veteran. Dasar lugu bin polos, ayah menyerahkan begitu saja. Namun apa yang dijanjikan untuk mengurus veteran itu tak pernah kembali. Saya jadi ingat kisah akur anjing dan kambing pada mulanya, yang melahirkan sesonggan Bali, “silih-silih kambing”. Konon pada mulanya anjing bertanduk. Karena bersahabat baik dengan kambing, dipinjamlah tanduknya, tanpa curiga akan diliciki. Saking nyamannya kambing bertanduk, ia tak mengembalikan tanduk kepada anjing.

  Kembali ke Sekolah Rakyat. Berdasarkan penelusuran mesin pencari, Sekolah Rakyat berdiri pada 1907 di setiap daerah yang dikuasai penjajahan Belanda. Tujuan Sekolah Rakyat zaman Belanda memberikan kesempatan kepada warga pribumi untuk belajar ilmu pengetahuan dengan biaya gratis. Pada zaman Belanda, Sekolah Rakyat  berlangsung selama 3 tahun. Saat Jepang menjajah, Sekolah Rakyat menjadi 6 tahun. Setelah Merdeka, Sekolah Rakyat berganti nama menjadi Sekolah Dasar (SD) pada13 Maret  1946.Kebijakan Belanda mendirikan Sekolah Rakyat tidak terlepas dari kebijakan politik etis (politik balas budi) yang dikembangkan Van De Venter pada 17 September 1901. Ada tiga sasaran politik etis Belanda : irigasi, emigrasi, dan edukasi. Irigasi dan emigrasi lebih menguntungkan Belanda dalam memertahankan wilayah kekuasaannya dengan mempekerjakan kaum pribumi melalui sistem kerja rodi. Hasilnya sudah pasti demi keuntungan dan langgengnya kekuasaan Belanda. Sindiran orang Bali dalam metafora, “Cara nyebit tiing, ngamis kacerikan”, benar adanya dan berlaku hingga kini. Ketika masih hidup, ayah menyebut, “Gumi gelah anak gede”.  Kedua frase berkearifan lokal Bali  itu mencerminkan relasi kuasa yang mencengkram yang kecil dan lemah.

Sejarah mengajarkan Belanda menjajah selama 3,5 abad, ada juga hikmahnya. Kita juga pantas berterima kasih kepada Belanda yang meletakkan dasar-dasar pendidikan modern kepada kaum warga pribumi. Kelak, Politik Etis Belanda khususnya dalam bidang edukasi inilah membentuk kesadaran kaum pribumi tentang pentingnya semangat nasionalisme dengan berdirinya Budi Utomo diikuti dengan berdirinya Taman Bacaan Rakyat (14 September 1908), Balai Pustaka (17 September 1917) yang kemudian menjadi Angkatan Balai Pustaka dalam Sastra Indonesia. Baik Taman Bacaan Rakyat maupun Balai Pustaka adalah cikal bakal program Gerakan Literasi kini, yang berakar di dunia Pendidikan. Namun disayangkan, Belanda yang memberikan karpet merah bagi kaum pribumi dalam bidang Pendidikan tetap diskriminasi. Pendidikan diperuntukkan hanya bagi kaum laki-laki sedangkan perempuan cukup ngempu di rumah dan menghibur dengan selalu dekat  dapur, sumur, dan kasur.

Kini, ketika Sekolah Rakyat dibangkitkan kembali didasari pandangan bahwa masih banyaknya anak usia sekolah yang putus sekolah dan tidak mendapat pendidikan yang layak sehingga potensial jatuh miskin ekstrem. Draf yang dikeluarkan Kemensos pada 16 Maret 2025 menyebutkan data kemiskinan ekstrem di Indonesia sebesar 3,17 juta. Dari jumlah itu sebagian besar menyenyam pendidikan setingkat SD bahkan lebih rendah (74,51%). Relasi Pendidikan dengan kemiskinan disadari sebagai jalan keluar memutus rantai  kemiskinan. Oleh karena itu, ajakan Ganjar Pranowo mencetak satu sarjana setiap keluarga layak dipertimbangkan walaupun ia kalah dalam kontestasi dalam Pemilu 2024.

Dalam draf itu juga disebutkan Sekolah Rakyat Unggul (SRU)  memiliki 9 nilai inti (core value) yang dikembangkan yaitu welas asih, pola pikir terus berkembang, tata budaya, kesehatan, pendidikan berkualitas yang relevan, kepemimpinan, agen perubahan, kesetiakawanan sosial, serta keberlanjutan dan inovasi. Sungguh luar biasa niat untuk memutus mata rantai kemiskinan ektrem bila program SRU ini berhasil dilaksanakan secara konsisten dan kontinu.

Selain itu, SRU juga diproyeksikan berasrama dan gratis di bawah Kemensos tetapi penyiapan gurunya oleh Kemendikdasmen. Seleksinya konon diprioritaskan kepada guru  penggerak dan sudah bersertifikat pendidik melalui jalur PPG. Oleh karena berada di dua Kementerian yang berbeda, perlu regulasi yang jelas agar tidak merugikan profesi guru. Guru di bawah Kemendikdasmen sudah jelas regulasinya terkait tugas pokok dan fungsinya dalam memenuhi hak-hak dan kewajibannya, termasuk hak mendapatkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) setiap bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan, walaupun sering telat.

Bagaimana bila nanti guru itu ditarik ke SRU yang pada tahun pertama mungkin tidak memenuhi syarat jumlah jam mengajar yang selama ini diekuivalensikan setara 24 jam pelajaran. Selain itu, skema guru yang direkrut ke SRU juga akan dilatih secara ofline selama satu bulan dan pasti meninggalkan siswa. Dampak lanjutannya, terjadi kekurangan guru di sekolah regular di bawah Kemendikdasmen seperti dikeluhkan sejumlah sekolah di berbagai daerah. Sementara itu,  program pengangkatan guru PPPK tahun 2025 ditunda dan progres guru mengikuti percepatan PPG juga dikurangi.

Niat memuliakan warga negara yang miskin ekstrem dengan mendirikan SRU memang sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan bangsa, khususnya menjalankan pasal 34 (1) Fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara. Basis data anak miskin ekstrem sesuai dengan Inpres Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Terpadu Sosial dan Ekonomi Nasional. Walaupun demikian, perlu kehati-hatian dalam pencuplikan dan pemutakhiran data mengingat basis data itu sangat dinamis. Dinamikanya bisa bergerak lintas desa, kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi.

Daripada pemerintah membangun SRU dengan fasilitas wah melebihi fasilitas sekolah regular kini, ada baiknya juga melirik dan memberdayakan sekolah swasta tradisional yang sudah ada dan membantunya untuk bangkit kembali. Faktanya, banyak sekolah swasta tradisional yang  hidup segan mati tak mau. Menghidupkan kembali denyut sekolah swasta menjadi SRU, adalah bentuk subsidi nyata keberpihakan pemerintah sebagaimana awal Kemerdekaan hingga Orde Baru, sekolah swasta mendapatkan subsidi guru dan gedung bangunan (ruang kelas, lab) sehingga sinergitas pemerintah dan swasta makin mesra dan mutualistik. Di sejumlah sekolah swasta tradisional, keluhan kepala sekolah tentang banyaknya anak kurang mampu juga sudah sering digemakan. Kolaborasi program SRU dengan sekolah swasta yang sudah ada perlu dikomunikasikan secara humanis, konsisten, kontinu dan mutualistik.

 Selain itu, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang sudah ada juga bisa lebih diberdayakan sehingga gema efisiensi yang digaungkan pemerintah lebih mengena. Namun, PKBM merupakan lembaga pendidikan nonformal, sementara SRU dirancang seperti sekolah formal. Walaupun demikian, regulasi bisa diselaraskan sehingga landasan hukumnya jelas dan terukur.

 Seperti juga sekolah swasta tradisional, PKBM juga didirikan atas dasar idealisme dan kepedulian untuk memutus mata rantai persoalan anak-anak putus sekolah (kawin muda, miskin ekstrem, membantu orang tua). Selama ini, peran PKBM telah berhasil menjalankan misinya memutus mata rantai anak putus sekolah. Prinsifnya belajar sambil bekerja sehingga muatan keterampilan hidup lebih diutamakan.  Itu juga berarti memutus mata rantai kemiskinan ekstrem bersinergi dengan  program SRU yang dicanangkan pemerintah. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Berguru Pada Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan di Yogyakarta
Membaca Arah  Pendidikan Lima Tahun ke Depan    
Refleksi Hari Guru Nasional 2024: Antara Prestasi dan Perubahan Nasib
Tags: Pendidikansekolah dasarsekolah rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Raya Ketupat, Lebaran Kedua ala Islam Jawa

Next Post

Putu Bayu Yudha dan Dhea Prasasti Jadi Duta GenRe Gianyar 2025: Wajah Baru Menjaga Semangat Berkelanjutan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Putu Bayu Yudha dan Dhea Prasasti Jadi Duta GenRe Gianyar 2025: Wajah Baru Menjaga Semangat Berkelanjutan

Putu Bayu Yudha dan Dhea Prasasti Jadi Duta GenRe Gianyar 2025: Wajah Baru Menjaga Semangat Berkelanjutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co