4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MEDITASI [1] :  ORANG BALI MEMIKIRKAN PIKIRAN

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 21, 2025
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 21 Pebruari 2024

Ketika orang Bali memikirkan pikiran, khususnya orang yang “pikiran  dan pertimbangannya pendek” atau “cepat marah tanpa pikiran panjang”, dalam bahasa Bali disebut sebagai “basang bawak” (perut pendek).

“Basangne bawak” atau “mabasang bawak” adalah stempel pada orang yang daya pikirnya pendek, pertimbangnya tidak panjang (kadang tanpa pertimbangan), cepat bertindak hanya berdasarkan emosi, dan ekspresi yang keluar adalah dari paling rendah ‘ngambul’, ‘marah’, sampai tahapan ‘ngamuk’.

Basang = pikiran. Demikian seakan-akan dipadankan antara keneh (pikiran) dan basang (perut). Ini menjadi jelas ketika dipadankan antara ungkapan “basang bawak” dan “sing ngelah keneh”.

Inilah pedoman orang Bali memikirkan pikiran:

“Pikiran tidak beda dengan perut.”

Jadi, jika kita mendalami lebih jauh lagi, bahwa orang Bali secara tradisional sudah mengakui bahwa ‘pikiran’ adalah sama dengan alat pencernaan.

Pikiran sebagai alat pencernaan bekerja untuk mencerna apa yang masuk. Jika sesuatu yang sehat masuk, maka diproses menjadi asupan yang menyehatkan. Jika yang masuk tidak sehat, atau racun, maka yang diproses akan meracuni.

Begitulah: Makanan sehat kita makan, maka sehat tubuh kita. Informasi sehat bermanfaat kita masukan ke pikiran, maka sehat pikiran kita. Racun dan residu atau sesuatu yang tidak mengandung manfaat kita masukkan ke pikiran, maka pikiran kita keracunan. Ide dan pikiran pesimis kita masukkan ke pikiran kita, maka pikiran kita mencerna dan keracunan.

Orang Bali menyimpulkan pikiran adalah basang (alat pencernaan).

Apakah kita bisa mengontrol alat pencernaan kita?

Alat pencernaan bekerja ketika kita tidur. Alat pencernaan bekerja sekalipun tidak kita perintah. Ia bekerja alamiah dan bekerja sesuai sifat alamiahnya: Mencerna apa saja yang masuk. Tanpa pandang bulu.

“Batu untal, batu mesu.” Batu kita telan, batu keluar. Dan, jika mengkonsumsi batu atau material yang tidak menyehatkan, maka yang bersangkutan akan mengalami derita konstipasi atau sembelit.

Sembelit pikiran pun dikenal dalam bahasa Bali: “Kabebelan”.

Seseorang yang terbebani dan kesulitan mencerna dan sampai mengalami struk karena terbeban mencerna berbagai persoalan yang dimasukkan ke pikiran, disebut “kabebelan”. Terlalu banyak ‘“memasukkan ilmu gaib yang tidak-tidak” alias “aywawera”, menjadikan pikiran kehilangan kewarasannya, alias “buduh-buduhan”, ini juga karena sembelit pikiran.

Lebih jauh, orang Bali memahami manusia punya dua alat pencernaan: Pencernaan untuk mencerna makanan disebut sebagai ‘basang’, dan pencernaan untuk mencerna informasi disebut sebagai ‘keneh’ (pikiran).

Keduanya bekerja secara alamiah. Keduanya bekerja sekalipun kita tidur. Sekalipun kita tidak sadar atau sedang melalukan aktivitas lain, kedua pencernaan ini bekerja masing-masing secara terus menerus, auto-pilot.

Pikiran adalah alat pencernaan. Sekalipun menduduki bagian penting tapi ini baru sebagian kecil dari kemanusiaan kita. Menurut orang Bali, pikiran bukan segala-galanya,.

Pikiran adalah alat pencernaan yang harus dikelola dan diamati kerjanya.

Kita bukan semata-mata alat pencernaan kita, tapi ada yang jauh lebih luas yang menyusun kemanusian kita.

Belajar dari ungkapan “basang bawak” (perut pendek) ini, orang Bali belajar bahwa ada hal lain yang perlu mendapat perhatian:

1.⁠ ⁠Ada perut yang sedang mencerna, ada kesadaran yang menyadari perut sedang mencerna.

2.⁠ ⁠Ada pikiran yang sedang mencerna dan bereaksi terhadap apa yang dicernanya, ada kesadaran yang menyadari jika pikiran sedang mencerna dan bekerja (bahkan bergolak) memproses dan bereraksi terhadap data, informasi, masukan, ide-ide, dstnya.

Perut mencerna, ada yang menyadari. Pikiran mencerna, ada yang menyadari.

Siapa/apa yang penyadari perut sedang mencerna? Siapa/apa yang menyadari pikiran yang sedang memproses?

Apakah keduanya kesadaran yang sama?

Yang menyadari ini dalam ungkapan kadyatmikan (kebatinan) di Bali dijuluki “Rare Angon”.

Dia yang menyaksikan proses yang terjadi di perut, di pikiran, di hati, dan semua proses sarira kita.

Perut kita, pikiran kita, keduanya proses alamiah.

Dalam kadhyatmikan di Bali, pusat bekerjanya sarira yang bekerja secara alamiah itu, baik perut dan pikiran, serta putaran darah manusia, adalah ‘padma-hredaya’ yang secara anatomi disebutkan di pusat jantung.

Jadi, menurut ajaran leluhur Bali: Pikiran bukanlah pusat kemanusiaan kita.

Ajaran luhur Bali mengajari untuk menyadari totalitas sarira kita.

Tidak menjadi ajaran pokok dalam tradisi Bali kita harus berkonsentrasi terfokus pengendalian pikiran. Yang ada adalah ‘mineh-minehang dewek’, ‘ngasan-asaning awak’, ‘mulat sarira’.

 ‘Negdegang dewek’. Meredakan diri dengan cara apa? Dengan menyadari dan sebatas nyaksikan bahwa perut sedang mencerna dan salah makan, ya resiko ditanggung sakit perut. Jangan menyalahkan orang. Dengan menyadari dan sebatas menyaksikan bahwa pikiran menncerna isu-isu negatif yang berkembang, atau informasi sesat, maka pikiran kita jadi galau dan tersinggung atau murka. Jika pikiran galau setelah memasukkan berita duka atau kekacauan, ya jangan menyalahkan orang. Harus disadari bahwa SISO, GIGO, RIRO — Shit in, shit out. Garbage in, garbage out. Rubbish in, rubbish out.

Ajaran Rare Angon mengarahkan kesadaran untuk sebatas menyadari semua proses alamiah itu. Tidak memberikan komentar-komentar di pikiran. Menyadari tanpa komentar, adalah Rare Angon.

Dalam Kepemangkuan Rare Angon, disebutkan secara mendalam, bahwa yang bisa memimpin doa adalah bukan pikiran, tapi kesadaran yang tidak terganggu pikiran. Menyadari pikiran kita apa adanya. Menyadari pencernaan kita yang demikian alami lapar, kenyang, kembali kosong, dan lapar lagi, adalah latihan dasar memasuki kesadaran yang lebih mendalam dalam kemanusiaan kita.

Menyadari terus menerus tanpa berkometar terhadap kerja pikiran yang kadang ragu, kadang menggebu dan penuh semangat atau penuh nafsu, kembali merasa hampa dan sia-sia, kadang mudah tersinggung dan kemudian tersenyum bungah ketika dipuji dan diapresiasi baik; ini adalah latihan terus-menerus yang harus dilakukan untuk memasuki dan memahami kemanusiaan kita tidak terbatas pikiran kita semata. Ada kesadaran mendalam di dalam diri kita yang tidak tersentuh emosi dan kegalauan yang muncul akibat pikiran mencerna hal-hal yang tidak sehat.

Ketika orang Bali mengatakan “basangne bawak”, itu artinya orang Bali secara terbuka mengatakan bahwa kita harus memantau pikiran kita sebagai pencernaan dan paham apa yang dimasukkan ke dalam perut akan bereaksi. Di tahap ini orang Bali paham, pikiran bisa dan harus dipantau. Dengan apa? Dengan menyadari terus menerus, tanpa mengimbuhi dengan komentar. Menyadari semuanya tanpa berkomentar atau membatin mengucapkan sesuatu. Ketika berkomentar, yang terjadi bukan menyadari, tapi yang terjadi adalah pikiran mengomentari pikiran lain.

Ketika kita bisa menyadari semua proses sarira secara alamiah, tanpa komentar, tanpa kata-kata atau tanpa mengucapkan sepatah kata di pikiran, inilah meditasi tahap pertama, Rare Angon. [T]

Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole

PARWATA BERPULANG — BALI KEHILANGAN TAKSU
SEBARIS DOA | Catatan Harian Sugi Lanus
MATI CARA HINDU (1)
𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗗𝗨 (𝟮)
Tags: meditasiorang baliSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bendesa Adat di Bali Adu Kecakapan Memberi  “Sambrama Wacana”

Next Post

Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Pura di Tengah Hiruk-Pikuk Hotel Kawasan ITDC Nusa Dua   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co