23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laut Kita: Citra Sastra dan Sikap Penguasa-Pengusaha dalam Realita

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
February 3, 2025
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

DARI hulu masa lalu hingga hilir masa kini, teks-teks sastra tidak hanya mewartakan laut sebagai sumber amreta ‘air suci kehidupan’. Dalam pustaka Yadu Parwa, keganasan laut bahkan dilukiskan dapat menenggelamkan satu negeri bernama Dwarawati. Situasi ini mirip seperti Tsunami yang juga meululuhlantahkan wilayah Aceh. Tidak hanya itu, menyimak pustaka Rogha Sanghara Bumi kita diingatkan bahwa laut memiliki potensi destruktif sakala-niskala. Sebab, pada bulan-bulan tertentu laut diyakini sumber penebar penyakit.  Sementara itu, melalui Kakawin Ramayana kita juga diberitahu bahwa laut juga tidak pernah luput dari kemelut. 

Kakawin Rāmāyana

Salah satu fragmen mengenai laut muncul ketika Rama bermaksud menyeberang menuju negeri Alengka. Rama yang telah lama berpisah dengan Sita, tak kuasa lagi menahan panah rindu yang telah ditancapkan oleh Dewa Kama. Dengan meminta bantuan kepada pasukan kera di bawah pimpinan Sugriwa, Raja Ayodya yang sedang mengalami pengasingan tersebut siap berperang dengan Rawana yang beristana di negeri Alengka. Hanoman yang telah diutus menjadi mata-mata Rama pun telah berhasil mencatat peta kerajaan Alengka di dalam pikirannya. Yang terpenting tentu tempat Dewi Sita disekap, yaitu di Taman Angsoka.

Rama yang gelap hatinya tanpa sinar cinta Sita ingin segera berperang melawan Rawana. Oleh sebab itu, laut yang membentang dihadapannya lebih dirasakannya sebagai pemisah, tinimbang penghubung. Memang demikian kata orang bijaksana, rindu asmara dan kasih sayang itu melahirkan duka cita ‘ikanang unĕng lawan asih maweh ilik’. Duka cita itu pulalah yang menyebabkan Rama lebih dominan dikuasai oleh sisi kemanusiaannya daripada sifat Wisnu yang sesungguhnya juga bersemayam di dalam dirinya. Rama marah kepada laut, karena laut juga dikiranya bersekongkol dengan Rawana untuk menghalangi dirinya untuk bertemu Sita. Kemarahan yang kuat menyebabkan Rama memutuskan untuk mengeringkan laut dengan panah apinya. 

Seluruh dunia bergetar ketika Rama mulai membentangkan panahnya. Laut bergemuruh kencang ketika panah api (astra bahni) tersebut dilepaskan. Laut terbelah, sedangkan ikan-ikan yang hidup di dalamnya menjadi kepanasan. Pengarang Kakawin Rāmāyana yang dalam tradisi Bali diyakini sebagai seseorang dengan kaliber Yogiswara ini dengan sangat mengagumkan menjelaskan kehidupan di laut yang tengah kepanasan. Ikan pesut, lumba-lumba, udang, penyu, kepiting, ikan layang-layang, ubur-ubur, dan lainnya seperti dimasak hidup-hidup di sebuah tempayan besar lautan. 

Bara api yang ada di ujung panah Rama itu ternyata sampai menebus lapisan dunia bawah atau sapta patala.  Hal itu menyebabkan Naga Basukih yang menghuni lapisan-lapisan tanah kepanasan lalu muncul ke permukaan. Menyadari hal itu, Dewa Baruna sebagai dewa laut bergegas ke permukaan untuk bertemu dengan Rama. Pada momentum inilah Baruna menyampaikan pesan penting untuk menjaga laut kepada Rama sebagai reinkarnasi Wisnu di dunia sekaligus pemimpin jagat. Baruna berpesan agar laut dan isinya senantiasa dijaga dengan ungkapan “He natha wyartha den ta haru hara umanah wwai ning jaladhi, sakweh ning rāt gawen tekana kita mangĕmit “wahai Raja, engkau tidak boleh membuat kekacauan dengan memanah air laut, [sebab] engkau adalah pencipta seluruh dunia, engkau juga yang wajib menjaganya”.   

Kembali menyadari hakikat dirinya, Rama kemudian memutuskan untuk mengikuti saran Baruna untuk menarik anak panahnya. Ia tidak lagi menggunakan cara pragmatis untuk sampai di Alengka. Ia mengurungkan keinginannya mengeringkan laut. Rama sadar bahwa dirinya adalah perwujudan Wisnu yang tidak berbeda dengan alir air termasuk laut ketika merawat kehidupan. Dengan kerja keras, ia bahu-membahu bersama pasukan kera untuk membangun jembatan dengan bebatuan yang dikumpulkan dari pegunungan. Meskipun Rama mampu mengeringkan laut untuk menyeberangkan pasukan kera agar dengan cepat sampai ke Alengka demi memperjuangkan cintanya, tetapi ia telah disadarkan Baruna. Hanya atas nama cinta dan kehidupan pribadinya, Rama merasa tidak boleh mematikan begitu banyak kehidupan. 

Berbeda dengan Realita

Itulah citra hubungan laut dengan seorang pemimpin arif bernama Rama dalam Kakawin Rāmāyana. Rama sadar bahwa laut adalah perwujudan dirinya di alam semesta yang harus dijaga beserta isinya. Di sisi lain, Sita sendiripun pasti tidak akan rela apabila ia diselamatkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai kesemestaan. Sebab, Rama adalah Wisnu yang berwujud air, sedangkan Sita adalah Sri yang berwujud tanah. Pertemuan keduanya menjadi muasal kehidupan.

Berbeda dengan kisah Rama dan Sita, hari ini dalam realita kita melihat bahwa laut di sebagian wilayah Indonesia tengah digadaikan oleh koalisi penguasa dan pengusaha. Laut dengan pagar bambu misteri di Tanggerang sepanjang 30 km belum ditemukan siapa pelaku di baliknya. Sementara di sisi lain, sertifikat hak guna bangunannya telah terbit dari otoritas pemerintah. Mereka berkilah bahwa pagar itu sebagai sarana mencegah abrasi sebagai alasan untuk membungkus kebusukannya.

Di Bali sendiri, tempat karya sastra Kakawin Ramayana disenandungkan hingga hari ini, perusakan laut terus terjadi. Pulau Serangan yang mungil dan memesona (sirangen) telah dikuasai pengusaha. Dengan alasan pengembangan wilayah tertinggal, kemudahan akses, dan kemajuan ekonomi, pulau yang dikenal sebagai stana Pura Sakenan itu direklamasi. Sembari menunggu tanah urug mengental dan siap dibanguni berbagai resort, villa, hotel dan akomodasi wisata lainnya, mereka  mulai memagari laut dari aktivitas nelayan dengan alasan keamanan. Masyarakat lokal dibuat semakin tak berdaya akibat penetapan kawasan itu sebagai KEK atau Kawasan Ekonomi Nasional. Dengan menasionalkan statusnya, tentu pihak pemerintah lokal tidak bisa berbuat banyak. Apalagi hanya suara-suara nelayan.

Kita belum tahu pasti bagaimana arus bawah laut ketika satu pulau diperluas sehingga berubah dari bentuk alaminya selama beratus-ratus tahun dalam keseimbangan. Meski demikian, dari sastra kita tahu pasti bahwa alam dan laut memiliki cara kerjanya sendiri. Yadhu Parwa dengan terang menarasikan bahwa laut bisa membuncah lebih tinggi dari bayangan, bahkan menenggelamkan satu pulau atau kerajaan. Apa yang menyebabkan laut demikian murka? Tiada lain dari kutukan Gandari yang kehilangan seratus putranya. Semoga rintik tangis ibu nelayan yang kehilangan mata pencaharian dan ibu dari ikan-ikan yang kehilangan tempat hidupnya tidak meluapkan laut seperti dalam Yadhu Parwa! [T]

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA

Dhyāna Paramitha: Laku Asih pada Semesta dalam Jinārthi Prakrĕti
“Kandapat” dan Alasan Memuja Leluhur: Catatan dari Geguritan Japatuan
Perlindungan Sastra untuk Kekerasan Terhadap Anak:  Catatan dari Pustaka Adiparwa

Dari Ujung Lidah sampai Ujung Pangrupak: Membaca Saraswati sebagai Momentum Literasi

Jelajah Sungai dalam Sastra dan Sarira
Tags: filosofi baliKakawin Ramayanalautrenungansastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Next Post

Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Lirik Dangdut, Bahasa, Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co