12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Intuisi

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Kadek Heny Sayukti

 

Cerpen: Devy Gita

“Menurutku, hanya lelaki pengecut yang mendekati wanita yang sudah menjalani prosesi sakramen pranikah di gereja.”

Bram mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, alis tebalnya tertaut, napasnya pun tak teratur.

“Kau pun seharusnya sadar akan dirimu, kita sudah bersama selama 6 tahun, Seruni!” tatapan mata Bram menghujam seperti sepasang kilat.

Aku hanya terdiam, menunduk saat ini bukan pilihan yang tepat. Bram paling tidak suka saat lawan bicaranya menunduk tak berdaya. Dia butuh argumen balasan, dia laki-laki yang tidak pernah puas hanya dengan jawaban seadanya. Dengannya, bicara harus jelas dan bisa diterima logika. Dia bisa mempertanyakan hal yang sama berkali-kali hanya untuk meyakinkan jawaban yang didapatnya sama dengan sebelumnya. Semacam lie detector alami.

Saat ini laki-laki itu duduk dengan dada naik turun menahan emosi yang dia pendam selama perjalanan 3 jam dari Singaraja. Jaket belum terlepas dari tubuhnya. Sesuatu sedang mengamuk dalam pikirannya. Dia berkali-kali menutup wajahnya dan menghela napas. Menatapku lurus tak berkedip, dengan keraguan dan rasa tidak percaya berputar di setiap sudut wajah lelaki muda tampan ini.

Seseorang telah menghianati kepercayaannya, meremukkan komitmen yang telah dibangun selama 6 tahun. Dalam waktu kurang dari satu jam, dunia Bram seperti terbalik dan pikiranku tiba-tiba dipenuhi berupa-rupa angin kencang. Tornado, puting beliung, topan silih berganti menari.

Rasa bersalah menyergap seperti hansip dan aku malingnya. Sesaat aku kehilangan sadarku, jika saja satu bulan bisa dikatakan sekejap. Setidaknya satu bulan tidak lebih lama dari 6 tahun. Sadarku memutuskan untuk kembali saat melihat Bram duduk di atas motornya di depan kamar kos yang kutempati di Denpasar. Menelanjangiku dengan pandangan terkejut yang sekuat tenaga dia sembunyikan pada waktu melihatku berboncengan dengan Teguh, lelaki yang memasuki celah komitmen kami. Semua rambut di tubuhku terasa ditarik dan ingin melepaskan diri. Perutku mual, darahku seperti berhenti mengalir.

Bram menatap Teguh penuh selidik, kedua lelaki itu beradu pandang dan aku bisa mendengar gemertak rahang Bram. Mereka hanya saling menatap tanpa bicara, ini menyeramkan. Aku sedikit takut mereka akan saling jatuh cinta bukannya saling mengadu kepalan tangan. Kupikir lelaki dewasa memang lebih bisa mengontrol emosi, mereka masih punya malu untuk berkelahi di depan umum atau membuat keributan. Jika mereka perempuan, kurasa mereka sekarang sudah bergelut di tanah saling cakar dan tampar.

“Apakah kau tahu Seruni akan segera kunikahi?” tanya Bram memecah kebekuan mereka

“Akan segera bukan berarti sudah menikah bukan? Seruni masih berhak memilih.” Teguh melihat ke arahku.

Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Bahkan airmata pun tidak. Hanya lambaian tanganku yang memintanya untuk segera meninggalkanku dan Bram. Tatapan Teguh selalu bisa mengaduk emosiku. Hanya dia yang mampu menggoyahkanku, pas menutup celah yang menganga antara aku dan Bram yang terpisah jarak. Masihkah aku bisa memilih? Bagaimana dan siapa yang harus kupilih?

Malam itu, kesunyian mendekap lebih erat. Membawa aku dan Bram dalam diam yang mencekam. Pertanyaan-pertanyaan meluncur dari Bram, dan membutuhkan jawabanku segera. Sedangkan aku masih bergumul dengan pikiranku sendiri. Sakramen prapernikahan yang sudah kujalani di Gereja selama sebulan belakangan. Prosesi sakral yang harus dilewati sebelum menikah secara Katolik.

Aku menjalani setiap prosesnya dengan sadar, sesadar-sadarnya. Tidak ada yang memaksaku menikah dengan Bram. Aku mencintainya dengan penuh. Berpindah keyakinan atas kemauanku sendiri. Pastor berulang kali menanyakan keputusanku, orang tuaku mencecarku, mencoba menemukan ragu dalam setiap kata dan argumen yang kuungkap. Ragu telah tiada, aku sudah melangkah mantap memasuki Gereja, mencari damai dalam pelukan Maria.

Kemudian, Teguh datang. Awalnya, aku hanya menganggap dia teman biasa, teman mengobrol ringan. Seperti kapas yang tertiup angin, melayang tanpa sadar. Entah bagaimana kami menjadi semakin dekat. Dia tampan, muda, pandai bermain musik.  Hanya sekadar suka tidak akan membuatku begitu nelangsa saat dia tidak ada.  Aku merasa goyah. Aku mempertanyakan arti Bram dan juga Teguh dalam hidupku. Jika mencintai dua orang di saat yang bersamaan, siapa yang harus dipilih? Apa mungkin bisa jatuh cinta pada orang kedua kalau memang benar-benar mencintai orang pertama?

“Seruni, apakah dia berarti untukmu?” Bram mengusap rambutku pelan. Tangannya bergetar. Emosi masih mengalir deras dalam setiap selnya, tapi dia tetap membuat dirinya tenang. Apakah cinta yang membuatnya begitu tegar, tidak sekalipun dia meledak atau berusaha menumpahkan rasa kesalnya. Dia menahannya hampir sempurna. Senyum masih bisa dia sunggingkan padaku. Senyum yang 6 tahun lalu membawaku jatuh dalam tulusnya. Kumis dan jenggot mengelilingi senyum pedih itu. Sebelumnya, wajah itu selalu bersih. Ah, Bram.. Bagaimana bisa aku mengorbankan perasaan laki-laki ini?

“Bram, aku baru mengenalnya. Apakah dia bisa menjadi lebih berarti darimu?” jawabku parau. Jujur saja, saat ini hanya jawaban seperti itu yang bisa kuberikan karena aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang terjadi di dalam hati dan otakku. Mereka sedang berperang maha dahsyat. Otakku menentang dengan keras apa yang sudah kuperbuat. Hatiku? Sentimentil, dia bersedih untuk Teguh yang berjinjit pelan memasuki kehidupanku.

Komitmen mengikat bagai rantai di leher seekor anjing  yang tak membiarkannya berkeliaran. Saat dua orang memutuskan untuk bersama terikat dalam rantai yang bernama komitmen. Tanpa adanya aturan tertulis, kedua orang tersebut mesti saling menjaga hati. Orang ketiga yang merangsek paksa atau dituntun dengan sengaja membinasakan sulur-sulur kepercayaan yang terpilin rapi.. Saling memberi cinta dan perhatian dalam porsi seimbang layaknya makanan 4 sehat 5 sempurna. Jika bagian yang diberikan salah satu terlalu besar, pasangannya akan begah karena cinta, menyakitkan. Begitu pula jika terlalu sedikit porsi yang disuguhkan, akan ada hati yang busung lapar. Tak kalah pilu. Apa yang terjadi jika diberi makanan yang sama selama bertahun-tahun?

Teman-temanku berkata aku sedang mengalami kejenuhan akut, ketakutan dan kegelisahan sebelum pernikahan yang juga dialami banyak orang yang kukenal. Pernikahan terdengar indah seperti dalam dongeng. Cinta bersatu, lonceng Gereja merdu berdentang, begitu berbunga-bunga.

Namun, dalam realita yang aku saksikan, sahabatku berpisah dari suaminya. Lalu, temanku yang lain selalu mengeluh pasal mertua yang terlalu ikut campur. Mereka membuat cerita pernikahan yang merona menjadi seperti mimpi buruk. Aku tidak merasa khawatir, namun alam bawah sadarku mempunyai ceritanya sendiri. Dia diam-diam memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelah aku dan Bram menikah.

Hati kecilku juga merasa bosan akan hubungan jarak jauh. Jembrana – Denpasar, sama-sama sibuk dengan kegiatan sendiri, komunikasi seadanya. Kepercayaan memang di atas segalanya, tidak pernah ada rasa ragu dan curiga. Entah percaya atau pasrah, mungkin usia hubungan yang tidak lagi seumur jagung membuat semuanya berjalan lurus. Sangat lurus bahkan, tidak ada lubang ataupun kelokan. Membosankan..

Aku merasa bosan, begitu juga Bram. Kebosanan yang dilampiaskan Bram dengan lebih banyak mengajar anak-anak di Gereja dekat tempat tinggalnya, mencari kesibukan dan memberdayakan dirinya untuk membantu orang lain. Sementara aku, membiarkan kebosananku membuka celah bagi hiburan lain untuk pentas. Aku kalah pada rasa jenuh yang membelah diri dengan cepat dalam sel darahku.

“Apa yang membuatmu datang tanpa kabar?” tanyaku pada Bram yang sedang bersandar lelah pada lemari kayu di belakangnya.

“Intuisi, Seruni. Sesuatu mengatakan padaku, aku harus segera menemuimu.” Jawabnya pelan. Hanya karena sebuah intuisi. Seorang Bram meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk menemuiku tanpa mengabari terlebih dahulu. Intuisi yang begitu jujur. Tidak ada kebohongan dalam setiap ucapan yang dia bisikkan pada Bram.

Begitu hebatnya sebuah intuisi dari hubungan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Intuisi seorang Bram yang menyeretku kembali dalam ikatan. Menyeretku kembali pada dekapan dada bidangnya. Mengingatkanku akan sakramen yang harus kuhadiri esok hari. (T)

Denpasar, 19 Agustus 2017

Tags: Cerpen
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Pakaian Serba Putih, Laku “Ngiring”, dan Pemberontakan Kultural

Next Post

Mursal Buyung, Dosen Antik-Nyentrik: Tak Ada Spidol, Ia Mencoret Tembok Kelas

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post

Mursal Buyung, Dosen Antik-Nyentrik: Tak Ada Spidol, Ia Mencoret Tembok Kelas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co