25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére

Onessimus Febryan Ambun by Onessimus Febryan Ambun
July 14, 2023
in Opini
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére

Gambar oleh Onessimus Febryan Ambun

Pendahuluan

Akhir-akhir ini, gerakan emansipasi di berbagai bidang seolah-olah telah menjadi primadona dan semakin meningkat kuantitasnya. Aksi-aksi yang sering terdengar di berbagai media terutama tentang gerakan feminis, gerakan hak sipil, gerakan anti-rasisme, gerakan LGBT, gerakan hak pekerja, dsb, merupakan aksi-aksi yang pada umumnya menyuarakan emansipasi. Tak dapat dimungkiri, di tengah dunia yang masih saja mengalami berbagai macam penindasan dan ketidakadilan di pelbagai aspek kehidupannya, gerakan emansipasi sangat mutlak dibutuhkan. Gerakan emansipasi itu sendiri adalah suatu perjuangan atau usaha untuk mencapai kesetaraan, kebebasan, dan pembebasan dari segala bentuk penindasan, ketidakadilan, diskriminasi, atau ketergantungan yang dialami oleh kelompok tertentu dalam masyarakat.  

Di antara berbagai kampanye emansipasi yang sering digemakan oleh berbagai gerakan akhir-akhir ini, emansipasi di bidang pendidikan merupakan salah satu ide yang cukup menarik perhatian. Salah seorang aktivis gerakan emansipasi hak-hak buruh sekaligus filsuf terkenal asal Prancis, Jacques Rancière, berpandangan bahwa akar dari segala jenis ketimpangan yang masih terus berlanjut hingga saat ini sejatinya disebabkan oleh sistem pendidikan dunia yang tidak adil. Rancière berpendapat bahwa dunia pendidikan sangat butuh untuk diemansipasikan. Namun, pada dasarnya Rancière menawarkan konsep emansipasi yang berbeda dari pandangan tradisional. Menurutnya, emansipasi bukanlah sekadar pemberian kebebasan atau pembebasan dari penindasan eksternal, tetapi juga melibatkan pembebasan diri dari kondisi yang membuat seseorang dianggap sebagai “tidak kompeten” atau “tidak berdaya”.[1]

Dalam bidang pendidikan, Rancière menggambarkan emansipasi sebagai sebuah proses yang terkait dengan kesetaraan dan kebebasan intelektual. Dia menentang pembagian yang otoriter dalam masyarakat antara mereka yang memiliki pengetahuan, dan mereka yang dianggap “tidak tahu”.[2] Rancière berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemauan dan kapasitas untuk berpikir dan belajar, tanpa memandang status sosial, latar belakang, atau tingkat pendidikan mereka. Namun, sebelum berlangkah lebih jauh, akan disajikan biografi singkat aktivis sekaligus filsuf hebat ini dan latar belakang pemikirannya.

Biografi

Jacques Rancière adalah seorang filsuf Perancis kontemporer kelahiran Aljazair pada tahun 1940. Setelah  ayahnya meninggal, ia bersama ibunya pindah ke Marseille – Perancis. Kemudian, ia menghabiskan masa kecil serta studinya di Paris. Selanjutnya ia belajar filsafat di École Normale Supérieure di Paris di bawah bimbingan filsuf Marxis strukturalis, Louis Althusser. Pada tahun 1969 ia bergabung dengan fakultas filsafat di Centre Universitaire Expérimental de Vincennes yang baru dibentuk, yang menjadi Universitas Paris VIII pada tahun 1971. Ia tetap di sana hingga pensiun sebagai profesor emeritus pada tahun 2000. Ia juga menjabat sebagai profesor filsafat di Eropa Graduate School di Saas-Fee, Swiss.[3]

Rancière yang juga dikenal sebagai murid Louis Althusser, turut menyumbang artikel dalam buku suntingan Althusser yang berjudul Lire le Capital (1965). Buku ini hingga saat ini masih sangat berpengaruh dalam pemikiran Marxis. Dari sana Rancière mulai mendalami Marx secara kritis dan dari sana pula ia meninggalkan Marxisme, dengan menolak Althusserianisme atas Marxisme ilmiahnya. Rancière mengubah arah teoritisnya dari filsafat Marxisme ke filsafat egalitarianisme yang merupakan bentuk baru dari perkembangan teori-teori emansipasi yang bercirikan penghindaran segala macam bentuk tendensi ekonomi-politik, sebagaimana telah menjadi ciri khas dari filsafat Althusser dan Marx.[4]

Berangkat dari pengalamannya bersama Althusser, juga pada saat yang sama dalam usahanya untuk meneliti proses emansipasi kelas pekerja di abad ke-19, sekitar tahun 1980-an Rancière menulis buku (novel) hasil riset tentang pendidikan yang merupakan bentuk penolakannya atas kesenjangan intelektual dalam lingkup pendidikan. Dari risetnya itu, Rancière lantas menyejajarkan proses emansipasi kaum buruh dengan proses emansipasi intellektual.[5] Di situ, ia mengangkat kisah tentang Jean-Joseph Jacotot (1770-1840) seorang guru bahasa Perancis yang bekerja di Belanda. Berjudul Le Maître Ignorant (1987), buku ini berkisah tentang pengalaman mengajar dari Jacotot yang memperaktikan metode pendidikan yang emansipatif.

Kisah Le Maître Ignorant

Dalam bukunya, Ranciére mengisahkan bahwa sekali waktu, Jean-Joseph Jacotot (1770-1840), orang Perancis, pernah mengajarkan bahasa Perancis kepada murid-muridnya di Belanda yang berbahasa Belanda. Namun permasalahannya, Jacotot sendiri tidak dapat berbicara bahasa Belanda. Ia kebingungan untuk mengajari para siswanya berbahasa Perancis. Ia kemudian bereksperimen dengan meminta murid-muridnya membaca novel bilingual (dua bahasa) Perancis-Belanda, “Télémaque” hingga setengah habis, mengulanginya dari awal lagi, dan mencoba menuliskan sesuatu dalam bahasa Perancis. Betapa terkejutnya ia mendapati mereka telah mampu menguasai bahasa Perancis dasar tanpa dirinya perlu menjelaskan sesuatu sama sekali.[6]

Peristiwa kecil ini sejatinya sangat menjungkirbalikkan pikiran Jacotot yang besar dalam tradisi pencerahan. Ia meminta murid-muridnya menulis dalam bahasa Prancis apa-apa yang mereka ingat dari buku yang telah dibaca. Karena bahasa Prancis begitu rumit, bisa dipahami bahwa Jacotot tidak berharap banyak untuk keberhasilan anak didiknya mengerjakan yang ia minta. Pasti akan banyak faute d’ortographe (kesalahan tulis), barbarisme (penggunaan bahasa yang salah kaprah), dan segala kekeliruan lain yang mengerikan, apalagi karena selama proses pengajaran ini Jacotot tidak pernah menjelaskan apa pun tentang tata bahasa atau konyugasi kata-kata bahasa Prancis.[7]

Namun, pada akhirnya anak-anak Belanda itu mampu belajar bahasa Prancis tanpa diberi penjelasan. Pengalaman ini menyadarkan Jacotot bahwa “kemauan” belajar bahasa Prancis ternyata begitu menentukan bagaimana anak-anak itu akhirnya “mampu” berbahasa Prancis. Lebih dari itu, Jacotot mulai berpikir bahwa semua manusia memiliki kemampuan yang sama untuk memahami apa yang juga dipahami dan dilakukan oleh sesamanya. Inilah yang menjadi inti argumentasi Rancière tentang kesetaran dalam bidang pendidikan atau emansipasi pendidikan. Bahwasannya, melalui metode “Pengajaran Universal Alamiah“, semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pengetahuan tanpa adanya sistem hierarkis di mana guru berperan sebagai “bank“ yang menyalurkan segala pengetahuan dengan metode penjelasannya yang sia-sia dan tidak emansipatoris.  

Konsep Pendidikan Emansipatif menurut Rancière

Dalam buku Le Maître Ignorant, sebagaimana telah dijelaskan, Rancière memperkenalkan konsep “emansipasi intelektual”. Menurut Rancière, emansipasi intelektual adalah proses di mana individu diberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan menggunakan kemampuan mereka untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Emansipasi intelektual juga membebaskan individu dari struktur hierarki yang ada dalam masyarakat, Rancière percaya bahwa pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memberikan kesempatan pada individu untuk belajar mandiri dan mengembangkan kemampuan mereka.

Rancière menyatakan bahwa pendidikan harus membebaskan siswa dari struktur hierarki dan memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan dengan bebas tanpa bayang-bayang seorang guru dengan sistem pendidikan gaya bank. Yang mana hal ini juga akan menghasilkan kesenjangan antara siswa yang berprestasi dengan siswa yang kurang berprestasi, karena kurikulum formal cenderung mengabaikan perbedaan individu dalam belajar.[8] Ia mengusulkan sebuah model pendidikan yang ia sebut “metode Jacotot” yang mengedepankan prinsip penghapusan hierarki antara guru dan murid.[9] Dalam metode ini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan siswa belajar secara mandiri dengan menggunakan sumber daya yang tersedia seperti buku dan media lainnya.

Di sini, Rancière mengajarkan tentang “Pengajaran Universal Alamiah“ di mana secara sederhana konsep ini dimengerti bahwa setiap individu dapat belajar tanpa memerlukan penjelasan dan instruksi panjang lebar. Dalam sebuah artikelnya tentang Rancière di Majalah Basis, Setyo Wibowo mengambil contoh sederhana tentang Metode Pengajaran Universal Alamiah ini dengan usaha seorang bayi untuk mempelajari bahasa ibunya atau tentang anak-anak yang mempelajari para Lamafa (pemburu ikan paus di Lamalera) dalam menangkap seekor paus. Mereka bisa mempelajari hal-hal tersebut dengan baik tanpa pelajaran formal atau bahkan tanpa penjelasan apapun.[10]

Pendekatan pendidikan yang diajarkan oleh Rancière dalam Le Maître Ignorant sangat kontras dengan pendekatan pendidikan tradisional. Pendekatan Rancière menekankan pada kesetaraan antara guru dan murid, sehingga membuka ruang bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan secara mandiri dan kreatif. Rancière sangat menekankan egalitarianisme pedagogis. Menurutnya, “qui enseigne sans émanciper abrutit”, “siapa yang mengajar tanpa mengemansipasikan yang diajar berarti membodohkan (membebalkan)“.[11] Di sini, dalam pandangan Rancière, guru haruslah menjadi fasilitator dari sistem pendidikan yang emansipatoris, di mana sang guru tersebut mesti menghargai kemampuan serta kemauan yang dimiliki para murid sebagaimana dalam metode Jacotot yang egalitarian. Dalam metode Jacotot, siswa dianggap sebagai subjek yang aktif dalam proses belajar, ia bukanlah objek yang pasif yang hanya menerima pengetahuan dari guru. Inilah yang menjadi landasan pendidikan emansipatif ala Rancière.

Penutup

Dalam kesimpulannya, tak dapat dimungkiri bahwa pandangan Jacques Rancière tentang pendidikan yang terungkap dalam bukunya “Le maître ignorant” merupakan sebuah kontribusi yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Pandangan ini menekankan pada pentingnya emansipasi intelektual, penghapusan hierarki dalam pendidikan, dan pemberdayaan siswa untuk belajar secara mandiri dan kreatif. Metode Jacotot yang diajarkan oleh Rancière sejatinya dapat membantu mengatasi masalah ketidaksetaraan dalam pendidikan dan keterbelakangan intelektual. Meskipun demikian, pandangan Rancière tentang pendidikan juga memiliki beberapa kelemahan, seperti kebutuhan akan guru yang sangat terampil dan waktu yang lebih lama dalam memperoleh pengetahuan.

Namun demikian, pada dasarnya pandangan Rancière tentang pendidikan emansipatif tetap menjadi inspirasi bagi pengembangan metode dan kurikulum pendidikan yang lebih efektif dan relevan dalam konteks pendidikan modern dewasa ini yang sarat akan ketimpangan dan ketidakadilan. Rancière sendiri sebagaimana telah disinggung pernah menyejajarkan proses emansipasi kaum buruh dengan proses emansipasi intellektual. Dalam idenya tersebut, secara tersirat ia ingin mengatakan bahwa emansipasi intelektual adalah akses menuju emansipasi-emansipasi lain. Jika emansipasi kaum buruh saja harus melalui proses emansipasi intelektual, bukankah emansipasi intelektual atau emansipasi pendidikan adalah akses menuju masyarakat dunia yang bebas dari ketimpangan dan ketidakadilan? Hal ini sangat perlu untuk dicermati. [T]


[1] S. Indiyastutik, “Demokrasi Radikal Menurut Jacques Rancière ”, dalam Diskursus – Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara, Vol. 15, no. 2, Oct. 2016, https://journal.driyarkara.ac.id/index.php/diskursus/article/view/31, hlm. 154

[2] Ibid., hlm. 136.

[3] Brian Duignan,  “Jacques Rancière”, dalam Ensiklopedia Britannica , https://www.britannica.com/biography/Jacques-Rancière, diakses pada 15 Mei 2023.

[4] Martin Suryajaya, Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme, (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hlm. 75. Sebagaimana yang dikutip oleh Ayi Hambali & Rakhmat Hidayat, “Konsep Pedagogi Emansipatif Menurut Jacques Rancière”, Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, 5.1, 2020, hlm. 3.

[5] A. Setyo Wibowo, “Pengajaran Universal Alamiah: Filsafat Pendidikan Jacques Rancière”, Majalah Basis, No. 11-12, tahun ke-62, 2013, hlm. 21.

[6]Jacques Rancière, Le maître ignorant, hlm. 7-8. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibid., hlm. 23.

[7] Ibid., hlm. 24.

[8] Ibid., hlm. 28

[9] Ayi Hambali & Rakhmat Hidayat, Op. Cit., hlm. 5

[10] Bdk. A. Setyo Wibowo, Op. Cit., hlm. 1 dan hlm. 19.

[11] Jacques Rancière, Op. Cit., hlm. 38. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibid., hlm. 27.

[][][]

  • BACA artikel lain dari penulis ONESSIMUS FEBRYAN AMBUN
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan
Tags: filsafatilmu filsafatJacques RanciéreOnessimus Febryan AmbunPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Next Post

Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Onessimus Febryan Ambun

Onessimus Febryan Ambun

Mahasiswa Prodi Filsafat IFTK Ledalero

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co