30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére

Onessimus Febryan Ambun by Onessimus Febryan Ambun
July 14, 2023
in Opini
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére

Gambar oleh Onessimus Febryan Ambun

Pendahuluan

Akhir-akhir ini, gerakan emansipasi di berbagai bidang seolah-olah telah menjadi primadona dan semakin meningkat kuantitasnya. Aksi-aksi yang sering terdengar di berbagai media terutama tentang gerakan feminis, gerakan hak sipil, gerakan anti-rasisme, gerakan LGBT, gerakan hak pekerja, dsb, merupakan aksi-aksi yang pada umumnya menyuarakan emansipasi. Tak dapat dimungkiri, di tengah dunia yang masih saja mengalami berbagai macam penindasan dan ketidakadilan di pelbagai aspek kehidupannya, gerakan emansipasi sangat mutlak dibutuhkan. Gerakan emansipasi itu sendiri adalah suatu perjuangan atau usaha untuk mencapai kesetaraan, kebebasan, dan pembebasan dari segala bentuk penindasan, ketidakadilan, diskriminasi, atau ketergantungan yang dialami oleh kelompok tertentu dalam masyarakat.  

Di antara berbagai kampanye emansipasi yang sering digemakan oleh berbagai gerakan akhir-akhir ini, emansipasi di bidang pendidikan merupakan salah satu ide yang cukup menarik perhatian. Salah seorang aktivis gerakan emansipasi hak-hak buruh sekaligus filsuf terkenal asal Prancis, Jacques Rancière, berpandangan bahwa akar dari segala jenis ketimpangan yang masih terus berlanjut hingga saat ini sejatinya disebabkan oleh sistem pendidikan dunia yang tidak adil. Rancière berpendapat bahwa dunia pendidikan sangat butuh untuk diemansipasikan. Namun, pada dasarnya Rancière menawarkan konsep emansipasi yang berbeda dari pandangan tradisional. Menurutnya, emansipasi bukanlah sekadar pemberian kebebasan atau pembebasan dari penindasan eksternal, tetapi juga melibatkan pembebasan diri dari kondisi yang membuat seseorang dianggap sebagai “tidak kompeten” atau “tidak berdaya”.[1]

Dalam bidang pendidikan, Rancière menggambarkan emansipasi sebagai sebuah proses yang terkait dengan kesetaraan dan kebebasan intelektual. Dia menentang pembagian yang otoriter dalam masyarakat antara mereka yang memiliki pengetahuan, dan mereka yang dianggap “tidak tahu”.[2] Rancière berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemauan dan kapasitas untuk berpikir dan belajar, tanpa memandang status sosial, latar belakang, atau tingkat pendidikan mereka. Namun, sebelum berlangkah lebih jauh, akan disajikan biografi singkat aktivis sekaligus filsuf hebat ini dan latar belakang pemikirannya.

Biografi

Jacques Rancière adalah seorang filsuf Perancis kontemporer kelahiran Aljazair pada tahun 1940. Setelah  ayahnya meninggal, ia bersama ibunya pindah ke Marseille – Perancis. Kemudian, ia menghabiskan masa kecil serta studinya di Paris. Selanjutnya ia belajar filsafat di École Normale Supérieure di Paris di bawah bimbingan filsuf Marxis strukturalis, Louis Althusser. Pada tahun 1969 ia bergabung dengan fakultas filsafat di Centre Universitaire Expérimental de Vincennes yang baru dibentuk, yang menjadi Universitas Paris VIII pada tahun 1971. Ia tetap di sana hingga pensiun sebagai profesor emeritus pada tahun 2000. Ia juga menjabat sebagai profesor filsafat di Eropa Graduate School di Saas-Fee, Swiss.[3]

Rancière yang juga dikenal sebagai murid Louis Althusser, turut menyumbang artikel dalam buku suntingan Althusser yang berjudul Lire le Capital (1965). Buku ini hingga saat ini masih sangat berpengaruh dalam pemikiran Marxis. Dari sana Rancière mulai mendalami Marx secara kritis dan dari sana pula ia meninggalkan Marxisme, dengan menolak Althusserianisme atas Marxisme ilmiahnya. Rancière mengubah arah teoritisnya dari filsafat Marxisme ke filsafat egalitarianisme yang merupakan bentuk baru dari perkembangan teori-teori emansipasi yang bercirikan penghindaran segala macam bentuk tendensi ekonomi-politik, sebagaimana telah menjadi ciri khas dari filsafat Althusser dan Marx.[4]

Berangkat dari pengalamannya bersama Althusser, juga pada saat yang sama dalam usahanya untuk meneliti proses emansipasi kelas pekerja di abad ke-19, sekitar tahun 1980-an Rancière menulis buku (novel) hasil riset tentang pendidikan yang merupakan bentuk penolakannya atas kesenjangan intelektual dalam lingkup pendidikan. Dari risetnya itu, Rancière lantas menyejajarkan proses emansipasi kaum buruh dengan proses emansipasi intellektual.[5] Di situ, ia mengangkat kisah tentang Jean-Joseph Jacotot (1770-1840) seorang guru bahasa Perancis yang bekerja di Belanda. Berjudul Le Maître Ignorant (1987), buku ini berkisah tentang pengalaman mengajar dari Jacotot yang memperaktikan metode pendidikan yang emansipatif.

Kisah Le Maître Ignorant

Dalam bukunya, Ranciére mengisahkan bahwa sekali waktu, Jean-Joseph Jacotot (1770-1840), orang Perancis, pernah mengajarkan bahasa Perancis kepada murid-muridnya di Belanda yang berbahasa Belanda. Namun permasalahannya, Jacotot sendiri tidak dapat berbicara bahasa Belanda. Ia kebingungan untuk mengajari para siswanya berbahasa Perancis. Ia kemudian bereksperimen dengan meminta murid-muridnya membaca novel bilingual (dua bahasa) Perancis-Belanda, “Télémaque” hingga setengah habis, mengulanginya dari awal lagi, dan mencoba menuliskan sesuatu dalam bahasa Perancis. Betapa terkejutnya ia mendapati mereka telah mampu menguasai bahasa Perancis dasar tanpa dirinya perlu menjelaskan sesuatu sama sekali.[6]

Peristiwa kecil ini sejatinya sangat menjungkirbalikkan pikiran Jacotot yang besar dalam tradisi pencerahan. Ia meminta murid-muridnya menulis dalam bahasa Prancis apa-apa yang mereka ingat dari buku yang telah dibaca. Karena bahasa Prancis begitu rumit, bisa dipahami bahwa Jacotot tidak berharap banyak untuk keberhasilan anak didiknya mengerjakan yang ia minta. Pasti akan banyak faute d’ortographe (kesalahan tulis), barbarisme (penggunaan bahasa yang salah kaprah), dan segala kekeliruan lain yang mengerikan, apalagi karena selama proses pengajaran ini Jacotot tidak pernah menjelaskan apa pun tentang tata bahasa atau konyugasi kata-kata bahasa Prancis.[7]

Namun, pada akhirnya anak-anak Belanda itu mampu belajar bahasa Prancis tanpa diberi penjelasan. Pengalaman ini menyadarkan Jacotot bahwa “kemauan” belajar bahasa Prancis ternyata begitu menentukan bagaimana anak-anak itu akhirnya “mampu” berbahasa Prancis. Lebih dari itu, Jacotot mulai berpikir bahwa semua manusia memiliki kemampuan yang sama untuk memahami apa yang juga dipahami dan dilakukan oleh sesamanya. Inilah yang menjadi inti argumentasi Rancière tentang kesetaran dalam bidang pendidikan atau emansipasi pendidikan. Bahwasannya, melalui metode “Pengajaran Universal Alamiah“, semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pengetahuan tanpa adanya sistem hierarkis di mana guru berperan sebagai “bank“ yang menyalurkan segala pengetahuan dengan metode penjelasannya yang sia-sia dan tidak emansipatoris.  

Konsep Pendidikan Emansipatif menurut Rancière

Dalam buku Le Maître Ignorant, sebagaimana telah dijelaskan, Rancière memperkenalkan konsep “emansipasi intelektual”. Menurut Rancière, emansipasi intelektual adalah proses di mana individu diberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan menggunakan kemampuan mereka untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Emansipasi intelektual juga membebaskan individu dari struktur hierarki yang ada dalam masyarakat, Rancière percaya bahwa pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memberikan kesempatan pada individu untuk belajar mandiri dan mengembangkan kemampuan mereka.

Rancière menyatakan bahwa pendidikan harus membebaskan siswa dari struktur hierarki dan memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan dengan bebas tanpa bayang-bayang seorang guru dengan sistem pendidikan gaya bank. Yang mana hal ini juga akan menghasilkan kesenjangan antara siswa yang berprestasi dengan siswa yang kurang berprestasi, karena kurikulum formal cenderung mengabaikan perbedaan individu dalam belajar.[8] Ia mengusulkan sebuah model pendidikan yang ia sebut “metode Jacotot” yang mengedepankan prinsip penghapusan hierarki antara guru dan murid.[9] Dalam metode ini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan siswa belajar secara mandiri dengan menggunakan sumber daya yang tersedia seperti buku dan media lainnya.

Di sini, Rancière mengajarkan tentang “Pengajaran Universal Alamiah“ di mana secara sederhana konsep ini dimengerti bahwa setiap individu dapat belajar tanpa memerlukan penjelasan dan instruksi panjang lebar. Dalam sebuah artikelnya tentang Rancière di Majalah Basis, Setyo Wibowo mengambil contoh sederhana tentang Metode Pengajaran Universal Alamiah ini dengan usaha seorang bayi untuk mempelajari bahasa ibunya atau tentang anak-anak yang mempelajari para Lamafa (pemburu ikan paus di Lamalera) dalam menangkap seekor paus. Mereka bisa mempelajari hal-hal tersebut dengan baik tanpa pelajaran formal atau bahkan tanpa penjelasan apapun.[10]

Pendekatan pendidikan yang diajarkan oleh Rancière dalam Le Maître Ignorant sangat kontras dengan pendekatan pendidikan tradisional. Pendekatan Rancière menekankan pada kesetaraan antara guru dan murid, sehingga membuka ruang bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan secara mandiri dan kreatif. Rancière sangat menekankan egalitarianisme pedagogis. Menurutnya, “qui enseigne sans émanciper abrutit”, “siapa yang mengajar tanpa mengemansipasikan yang diajar berarti membodohkan (membebalkan)“.[11] Di sini, dalam pandangan Rancière, guru haruslah menjadi fasilitator dari sistem pendidikan yang emansipatoris, di mana sang guru tersebut mesti menghargai kemampuan serta kemauan yang dimiliki para murid sebagaimana dalam metode Jacotot yang egalitarian. Dalam metode Jacotot, siswa dianggap sebagai subjek yang aktif dalam proses belajar, ia bukanlah objek yang pasif yang hanya menerima pengetahuan dari guru. Inilah yang menjadi landasan pendidikan emansipatif ala Rancière.

Penutup

Dalam kesimpulannya, tak dapat dimungkiri bahwa pandangan Jacques Rancière tentang pendidikan yang terungkap dalam bukunya “Le maître ignorant” merupakan sebuah kontribusi yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Pandangan ini menekankan pada pentingnya emansipasi intelektual, penghapusan hierarki dalam pendidikan, dan pemberdayaan siswa untuk belajar secara mandiri dan kreatif. Metode Jacotot yang diajarkan oleh Rancière sejatinya dapat membantu mengatasi masalah ketidaksetaraan dalam pendidikan dan keterbelakangan intelektual. Meskipun demikian, pandangan Rancière tentang pendidikan juga memiliki beberapa kelemahan, seperti kebutuhan akan guru yang sangat terampil dan waktu yang lebih lama dalam memperoleh pengetahuan.

Namun demikian, pada dasarnya pandangan Rancière tentang pendidikan emansipatif tetap menjadi inspirasi bagi pengembangan metode dan kurikulum pendidikan yang lebih efektif dan relevan dalam konteks pendidikan modern dewasa ini yang sarat akan ketimpangan dan ketidakadilan. Rancière sendiri sebagaimana telah disinggung pernah menyejajarkan proses emansipasi kaum buruh dengan proses emansipasi intellektual. Dalam idenya tersebut, secara tersirat ia ingin mengatakan bahwa emansipasi intelektual adalah akses menuju emansipasi-emansipasi lain. Jika emansipasi kaum buruh saja harus melalui proses emansipasi intelektual, bukankah emansipasi intelektual atau emansipasi pendidikan adalah akses menuju masyarakat dunia yang bebas dari ketimpangan dan ketidakadilan? Hal ini sangat perlu untuk dicermati. [T]


[1] S. Indiyastutik, “Demokrasi Radikal Menurut Jacques Rancière ”, dalam Diskursus – Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara, Vol. 15, no. 2, Oct. 2016, https://journal.driyarkara.ac.id/index.php/diskursus/article/view/31, hlm. 154

[2] Ibid., hlm. 136.

[3] Brian Duignan,  “Jacques Rancière”, dalam Ensiklopedia Britannica , https://www.britannica.com/biography/Jacques-Rancière, diakses pada 15 Mei 2023.

[4] Martin Suryajaya, Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme, (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hlm. 75. Sebagaimana yang dikutip oleh Ayi Hambali & Rakhmat Hidayat, “Konsep Pedagogi Emansipatif Menurut Jacques Rancière”, Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, 5.1, 2020, hlm. 3.

[5] A. Setyo Wibowo, “Pengajaran Universal Alamiah: Filsafat Pendidikan Jacques Rancière”, Majalah Basis, No. 11-12, tahun ke-62, 2013, hlm. 21.

[6]Jacques Rancière, Le maître ignorant, hlm. 7-8. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibid., hlm. 23.

[7] Ibid., hlm. 24.

[8] Ibid., hlm. 28

[9] Ayi Hambali & Rakhmat Hidayat, Op. Cit., hlm. 5

[10] Bdk. A. Setyo Wibowo, Op. Cit., hlm. 1 dan hlm. 19.

[11] Jacques Rancière, Op. Cit., hlm. 38. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibid., hlm. 27.

[][][]

  • BACA artikel lain dari penulis ONESSIMUS FEBRYAN AMBUN
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan
Tags: filsafatilmu filsafatJacques RanciéreOnessimus Febryan AmbunPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Next Post

Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Onessimus Febryan Ambun

Onessimus Febryan Ambun

Mahasiswa Prodi Filsafat IFTK Ledalero

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co