6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati dan Bahasa Bebas Bencana

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
October 22, 2022
in Opini
Saraswati dan Bahasa Bebas Bencana

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Kumbhakarna tiba-tiba tersentak tatkala menyadari lidahnya telah keliru berucap. Wajahnya tiba-tiba tertunduk lesu ketika teringat pada nasibnya. Tirakat keras yang dilakukannya benar-benar sudah pupus. Sungguh memilukan, seorang kesatria perkasa yang semestinya berlaga di medan perang kini harus beristirahat panjang di atas ranjang.

Kumbhakarna tahu bila kesaruan nasibnya adalah ulah Dewi Saraswati, sang penguasa kata-kata. Kumbhakarna berusaha tegar dan tak ingin menyalahkan siapapun. Ia sekaligus mafhum bila segalanya terjadi karena kelengahan pikirannya. Ia sadar hanya peminjam kata-kata dari penguasanya yang sejati sehingga tidak seutuhnya merasa berhak untuk mengajukan protes.

Kalau punya kesempatan tentu dia cuma ingin berpesan kepada setiap orang bahwa kata-kata itu laksana alat pinjaman yang mesti dipergunakan dengan penuh kehati-hatian. Bila tidak mawas maka alat itu dapat menjadi rusak, melukai orang lain, atau kedua-duanya. Meski tidak sering secara eksplisit disampaikan, si pemilik pastilah memiliki standar harapan agar alat miliknya tetap aman ketika dipinjamkan.

Saban enam bulan (menurut perhitungan Kalender Bali) umat Hindu di Bali memperingati kemuliaan Devi yang telah memusnahkan upaya keras Kumbhakarna. Bisa jadi para bijak di masa lampau telah menyadari jika Kumbhakarna yang sangat perkasa saja dapat diperdaya oleh Sang Devi, apalagi manusia biasa yang penuh kelemahan.

Hal itu pulalah yang menyebabkan ajaran-ajaran tentang pengendalian lisan bertebaran dalam tradisi Hindu Nusantara. Kendatipun berdasarkan sumber-sumber tekstual juga tampak bila tradisi ‘puasa bicara’ merupakan kelanjutan dari kebiasaan orang-orang suci di Tanah Bharata.

Salah satu narasi yang cukup populer tentang ‘puasa bicara’ dapat ditemukan dalam Teks Adiparwa Jawa Kuno yang mengisahkan seorang pendeta mulia bernama Bhagawan Samiti yang sangat taat menjalankan puasa bicara (monabrata).

Ketika sang pendeta tengah tekun melaksanakan monabrata di dalam hutan dekat pertapaannya tiba-tiba Raja Parikesit lewat untuk mengejar binatang buruan. Saat melihat keberadaan sang pendeta, Raja Parikesit segera menanyakan arah pergi binatang buruan yang sedang dibuntutinya.

Tentu saja sang pendeta tidak menjawab pertanyaan Raja Parikesit karena dapat membatalkan brata yang tengah dijalaninya. Kebisuan Bhagawan Samiti membuat Raja Parikesit merasa tidak dihargai sehingga membalasnya dengan mengalungkan bangakai ular di leher sang pendeta.

Peristiwa pelecehan tersebut diketahui oleh putera Bhagawan Samiti yang pemarah bernama Sang Srenggi. Saking murkanya atas perlakuan Parikesit kepada ayahandanya, Sang Srenggi mengutuk Raja Parikesit tewas tergigit Naga Taksaka dalam waktu tujuh hari. Kendatipun segala upaya telah dilakukan untuk melindungi Raja Parikesit dari kutukan Sang Srenggi namun akhirnya nyawa sang raja tidak dapat diselamatkan.

Kisah tersebut mengindikasikan pelaku-pelaku monabrata sangatlah istimewa. Orang-orang yang berani mengganggu pelaku brata tersebut akan menerima akibat yang fatal. Ketentuan itu tak terkecualikan juga bagi seorang raja besar sekaliber Parikesit.

Sejatinya Parikesit adalah sosok yang istimewa. Sebab ketika tercemar oleh racun panah Asvattama saat masih berada dalam kandungan Utari, Bhatara Kresnapun turut berupaya keras untuk menyelamatkan nyawanya. Sayangnya ketika tanpa sengaja mengganggu pendeta yang tengah melaksanakan monabrata, nyawanya tidak dapat tertolong lagi.

Monabrata menduduki posisi yang penting dalam Agama Hindu karena merupakan prototipebagi pengendalian kata-kata secara lebih luas. Orang-orang yang terbiasa berbicara dengan bebas pastilah merasakan kesulitan-kesulitan ketika mulai berlatih monabrata. Pada tahap ini manusia juga menyadari bila berkata-kata merupakan kebutuhan yang mendasar dan sangat rentan untuk lepas kontrol.

Banyak orang kerap baru berpikir ulang atau menyesali diri ketika ucapannya telah salah arah. Temuan kata-kata secara fungsional sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan produktif sekaligus juga dibayangi oleh potensinya yang dapat menimbulkan bencana. Kata-kata lazimnya dipergunakan dalam aktivitas komunikasi.

Komunikasi sendiri berasal dari bahasa latin cum (bersama) dan units (satu). Secara lebih jelas istilah tersebut dihubungkan dengan kata latin communio yang mengarah kepada hubungan untuk mencapai kesatuan. Kendatipun telah diarahkan sebagai alat untuk mencapai hubungan yang menentramkan namun seringkali kata-kata juga secara tidak sengaja atau dengan sengaja disimpangkan sehingga mengakibatkan dampak-dampak yang tidak diharapkan.

Satu-satunya solusi untuk mewujudkan komunikasi yang penuh etika adalah mendidik pelaku-pelakunya dengan bersungguh-sungguh. Bahasa pada dasarnnya tidak hanya berfungsi dalam urusan-urusan eksternal seperti untuk menyampaikan maksud tertentu kepada orang lain seperti merayu, membujuk, memberitahu, menyampaikan keluhan, dan sebagainya. Secara lebih privat bahasa memiliki peran dalam menata proses berpikir seseorang pada dimensi internal.

Wilhelm Von Humbolt menyatakan bahasa terdiri dari dua bagian yakni bunyi dan pemikiran. Bunyi merupakan struktur eksternal sedangkan pemikiran adalah struktur internal. Struktur eksternal berupa bunyi dapat didengar oleh orang lain ketika seorang penutur tengah berbicara. Uniknya ketika berada dalam kesendirian suara-suara seperti yang dimiliki oleh struktur eksternal juga tetap mengendap dan berputar-putar dalam pikiran seseorang.

Bayangkan ketika bahasa tidak dikenal oleh seorang individu maka orang tersebut bahkan menjadi sangat sulit untuk melakukan monolog dengan dirinya sendiri. Pastinya orang-orang yang berada dalam kondisi demikian juga sangat sulit untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya yang lain.

Para penganut Hindu telah semenjak lampau menyadari anugerah bahasa yang sangat kompleks oleh karenanya tiada henti-hentinya melakukan pemujaan kepada Saraswati. Di Bali, orang-orang yang sangat pintar sekalipun tidak berani takabur dan tetap menjadikan Saraswati sebagai junjungannya. Terlebih ketika akan membuka kitab-kitab utama bahkan yang sebenarnya telah dikuasainya di luar kepada seorang ahli tetap akan memohon restu dari Dewi Saraswati.

Budaya semacam itu sejatinya dapat mencegah kemunculan orang-orang pintar yang bertindak sekehendak hatinya. Dalam dimensi keilmuan juga menghindarkan kebebasnilaian dari ilmu pengetahuan. Pada kondisi yang terarah semacam itu orang-orang cerdas belajar ilmu-ilmu pengetahuan utama bagi transformasi diri sekaligus sebagai wujud loyalitas sosialnya. Pengejawantahan lebih lanjut dari monabrata adalah praktiknya dalam relasi sosial.

Setelah berpikir dan bermonolog internal dengan matang seseorang kemudian dapat menata perkataannya secara berhati-hati ketika berinteraksi dalam lingkungan sosialnya. Terkait dengan hal itu  Sarasamuscaya 75 memperingatkan terdapat empat hal yang tidak pantas terdapat dalam perkataan, yakni ucapan yang jahat, ucapan kasar, ucapan yang mengandung fitnah, dan ucapan yang mengandung dusta (nyang tanpa prawrttyaning, wak, pat kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar picuna, ujar mithya).

Kelanjutan dari tradisi lisan tentu dapat ditemukan pada tradisi tulisan. Manusia dengan kecerdasannya mampu menata tulisan sebagaimana menata kata-kata. Ketika tradisi virtual semakin mapan tradisi tulisan juga semakin berkembang pesat. Orang-orang dapat menulis atau menemukan konten tulisan apapun dengan mudah seolah tanpa batas. Puncaknya muncul tulisan-tulisan bertipe programming language yang semakin populer dari hari ke hari. Bahasa tipe itu juga dapat melantarkan maksud-maksud pembuatnya, seperti halnya kata-kata konvensional.

Tampak jelas juga bila programming language yang dengan mudah menghegemoni ucapan dan tulisan konvensional dapat merubah cara pandang maupun budaya para penggandrungnya. Seperti kehadiran media virtual yang dengan tiba-tiba dapat menggeser kebiasaan-kebiasaan lama secara instan. Dengan demikian kehadiran tipe bahasa baru seperti itu patut kita waspadai karena tabiatnya yang belum banyak dikenal.

Von Humbolt pernah berpendapat jika cara pandang seseorang tentang kehidupan dan budaya disesuaikan dengan bahasa asalnya. Apabila seseorang ingin membebaskan diri dari garis bahasa asalnya maka harus mempelajari bahasa lain. Demikian pula ketika ingin mengubah cara pandangnya maka seseorang harus mengenal budaya serta dialek bahasa lain terlebih dahulu. Bersandar pada gagasan Humbold tersebut semestinya disiapkan langkah-langkah antisipasi agar bahasa-bahasa varian baru tidak menimbulkan kekacauan.

Kendatipun formatnya telah sangat maju, programming language tetaplah berada di bawah kekuasaan Dewi Saraswati sebagai penguasa bahasa/ kata-kata (Vagdevi, Vagisvari). Sebab programming language meruapakan perkembangan lebih lanjut dari bahasa konvensional yang telah eksis sebelumnya.

Guna mengindari ‘terpeleset’ ketika menggunakan bahasa fitur baru maka setiap orang mesti memuja Dewi Saraswati dengan bersungguh-sungguh. Sang Devi selalu mengarahkan pemuja-pemujanya untuk menggunakan bahasa dalam bentuk apapun dengan benar. Selanjutnya para pemuja yang menyadari bila bahasa yang dipergunakan bukan seutuhnya milik dirinya akan sangat berhati-hati.

Perayaan Saraswati di Bali bukanlah sekadar mengupacarai naskah-naskah kuno yang telah dikeurubuti rayap, namun juga mengupacarai format-format bahasa masa depan yang dipastikan tidak melahirkan bencana. Kita optimis bahwa Saraswati selalu relevan menjadi payung zaman yang beradab. [T]

Saraswati: Kecantikan Misterius dari Sains dan Seni yang Tidak Ada Habisnya
Sri Mpu Sri Dharmapala Vajrapani: Pemuja Budha dan Saraswati dari Timur
Memuja Saraswati, Keriangan yang Sama dari Seluruh Dunia
Tags: BahasaDewi SaraswatiHari SaraswatihinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Bandem Tentang Festival Seni: Kurator Perlu Melakukan Riset yang Baik

Next Post

Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Desa Tembok Bersiap Bangun Sekolah Internet Komunitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co