24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memegati Cerita Kekalahan Tentang Desa

Ni Luh Sinta Yani by Ni Luh Sinta Yani
May 17, 2022
in Esai
Memegati Cerita Kekalahan Tentang Desa

Foto ilustrasi: Don Rare

Cerita turun temurun tentang desa selalu identik dengan kekalahan, kemiskinan, kebodohan, dan ketinggalan zaman.  Orang desa dipandang sebagai orang yang lugu dan mudah diolok-olok. Situasi desa dideskripsikan sempit, tidak ada jalan, tidak ada internet, dan jauh dari peradaban.

Kultur tradisional yang dibangun di desa selama berabad-abad semakin dianggap tak pantas berkembang pada era modern, karena kuno dan terkadang tidak masuk akal. Berbeda dengan kota yang dipersepsikan sebagai tempat kemajuan teknologi, industri, pemikiran, dan tempat yang paling ampuh untuk meraih kesuksesan.

Hantaman keras terhadap stigma tentang desa, menyebabkan banyak orang desa yang cenderung enggan tinggal di desa. Bahkan ironisnya, sebagian dari mereka malu mengakui kedesaannya. Mereka tak ingin dilabeli orang udik, sampai-sampai mereka harus merubah semua kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang desa. Menghapus jati dirinya sebagai orang desa, dan berlagak ‘kekotaan’ ketika mereka memang terpaksa harus singgah ke desanya kembali.

Masyarakat menginginkan desa sama persis seperti kota. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya modernisasi terhadap desa. Perbandingannya adalah kota, sehingga pembangunan hingga tumpuan perekonomian desa menyesuaikan dengan lidah orang kota. Dalil kuat yang digunakan adalah memajukan desa agar mampu mandiri dan sejahtera. Dalil ini tentunya ada dukungan yang kuat dari beberapa teori, semisal teori dari WW. Rostow.

Sapi dan Kesetiaan Petani – Cerita dari Posko Pengungsian di Desa Les

Dalam teorinya, Rostow menjelaskan secara gamblang bahwa karakteristik masyarakat desa lebih kepada penggunaan alat yang sangat sederhana sehingga pekerjaan menjadi sangat lama dan tingkat produktifitasnya masih sangat rendah. Karena demikian, masyarakat desa yang biasanya menggantungkan hidupnya dalam pertanian, dipaksa beralih ke industri yang memanfaatkan teknologi tinggi, meninggalkan cara-cara tradisional, dan menanggalkan identitas kearifan lokalnya. Tapi, yakin semua pembangunan tersebut semata-mata untuk kepentingan masyarakat desa? Lalu, apa yang sebenarnya salah dari desa? Mengapa desa mesti didiskreditkan seperti itu?

Selama ini, pembangunan-pembangunan yang dilakukan di desa hanya menjadikan orang desa sebagai objek semata. Pembangunan tersebut belum sepenuhnya mengakomodir kebutuhan masyarakat desa. Ini tidak bisa ditampikan, karena kebanyakan dari mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi, tidak memahami makna sesungguhnya dalam pembangunan, dan hanya menjadi entitas bagi sang subjek pembangunan.

Yang lebih menyakitkan lagi, pembangunan yang dilakukan merupakan kebutuhan personal namun dipakai sebagai kebutuhan publik. Doktrin kuat yang ada dalam pikiran masyarakat desa mengenai pembangunan hanya sebatas pembangunan fisik. Pemimpin desa dinyatakan berhasil memimpin apabila dia mampu menciptakan prasarana di desa. Tidak ada yang salah dengan pembangunan infrastruktur karena itu bagian yang penting juga terhadap kemajuan desa. 

Namun, ada satu hal yang lebih krusial untuk dibangun di desa, yakni pembangunan sumber daya manusianya. Membangun jalan di desa mungkin bisa dikerjakan hanya dalam rentang waktu beberapa bulan saja, tapi untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas butuh waktu yang bertahun-tahun. Lama, tapi sangat mungkin untuk dilakukan.

Gede Suryantara dari Desa Les | Menganyam Bambu, Menganyam Hidup, di Pondok Kecil Tepi Hutan

Pegangan erat dalam pembangunan sumber daya manusia terhadap masyarakat desa adalah nilai-nilai adiluhung yang sudah diwariskan oleh para tetua. Terkesan usang, tapi jika dikaji lebih dalam, ajaran para tetua yang diturunkan melalui budaya menyimpan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan. Ini menjadi pagar kuat masyarakat untuk membentengi arus negatif dari globalisasi. Nenek moyang telah merumuskan nilai tersebut dengan begitu apik sesuai dengan karakteristik daerah dan kepercayaan.

Nilai tersebut yang mestinya dipegang teguh, bukan malah malu mengakuinya. Contoh nasihat kecil yang sering diajarkan oleh masyarakat di desa yaitu melepaskan alas kaki ketika memasuki ruangan. Bagi masyarakat kota yang melihat ini, mereka akan menertawakan dan dicap ‘ndeso’. Ternyata, hal kecil yaitu melepas alas kaki ketika masuk ke ruangan memiliki nilai yang sangat mendalam yakni nilai saling menghargai.

Alas kaki sangat identik dengan kotor, jadi ketika memasuki ruangan yang sudah bersih dengan alas kaki yang kotor, maka kita tidak menghargai orang yang membersihkannya. Sedalam itu para tetua terdahulu memikirkan nilai-nilai kehidupan. Masih banyak sekali tauladan yang diwasiatkan oleh anak-cucunya. Seharusnya, menjadi orang desa adalah anugerah karena telah diberikan bekal berupa nilai-nilai kebajikan.

Perlu menjadi perhatian pula, budaya yang diwariskan hingga saat ini jangan sampai membuat masyarakat desa menjadi kaku dan anti terhadap perubahan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tetap diikuti untuk kemajuan pemikiran dan peradaban. Yang paling penting, masyarakat desa harus menjadi pelaku dalam perkembangan tersebut.

Gerakan-gerakan dinamis mulai dibentuk dari kesadaran individu masyarakat, seperti pentingnya pendidikan di keluarga, pendidikan di sekolah, maupun pendidikan di masyarakat. Ketiga komponen ini terintegerasi dan saling mendukung satu sama lain dalam menciptakan generasi yang unggul. Generasi muda harapan desa mampu bersekolah tinggi bahkan sampai ke luar negeri, dengan kesadaran dan cita-cita nanti ketika mereka pulang, mereka telah membawa misi besar untuk membangun desa.

Mereka akan mengimplementasikan ilmu yang peroleh untuk memperbaiki sendi-sendi kehidupan di desa. Tentunya ini juga butuh dukungan kuat dari masyarakat desa. Jangan sampai ketika mereka pulang kembali ke desa, dianggap sebagai sebuah kegagalan, dianggap mereka tidak mampu beradaptasi di tempat lain, dan dianggap tidak mampu memperoleh pekerjaan yang baik di luar sehingga harus kembali ke desa. Kehadiran para diaspora desa adalah harapan untuk kemajuan desa serta bukti bahwa orang desa tidak bodoh dan mampu untuk bersaing.

Satu pihak yang juga berperan besar terhadap pembangunan sumber daya manusia untuk masyarakat desa, ialah pemerintah desa. Sebagai pembuat kebijakan publik, pimpinan desa memiliki wewenang untuk menciptakan program-program kerja yang mengarah pada pengembangan SDM. Kemampuan dasar yang menjadi bekal seorang pemimpin desa adalah mampu menentukan identifikasi permasalahan desa sehingga  mampu menempatkan prioritas program.

Apalagi semenjak diberlakukan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa. Desa diberikan ruang untuk berkembang (desentralisasi otonomi daerah), karena yang memahami terhadap desa adalah desa tersebut. Jadi melalui desentralisasi, setiap keputusan untuk pembangunan desa disepakati melalui musyawarah desa. Undang-Undang ini menjadi peluang besar untuk pemimpin desa dalam menyejahterakan masyarakatnya. Pemerintah desa harus memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dengan pendekatan berbasis hak dalam roda kehidupan di desa.

Pembangunan berbasis hak berarti memahami dan meletakkan hak-hak dasar (asasi) sebagai cara dan sekaligus tujuan pembangunan. Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai komponen terpenting dalam pengambilan keputusan terkait sumber daya alam dan komunitas.

Pendekatan berbasis hak diperlukan karena pembangunan desa selama ini dilakukan tanpa menempatkan manusia desa sebagai subyek pembangunan yang terlibat atau dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Kalaupun berbicara tentang manusia, pembicaraan itu condong dalam kerangka pendekatan amal/belas kasih atau sebatas memenuhi kebutuhan. Pendekatan tersebut jauh dari memadai karena tidak membuat warga berdaya hingga mampu terlibat dalam pengambilan keputusan di setiap tahap pembangunan.

Valentine, Menanam Pohon, dan Puisi Kasih Sayang dari Desa Pedawa

Pendekatan berbasis hak membantu pemegang hak dan pengemban kewajiban mengenali dinamika kekuasaan atas sumber daya dan proses pembangunan. Pendekatan ini tidak hanya mendorong proses pembangunan yang inklusif, tetapi juga membantu mengatasi ketidakadilan atau kesenjangan dan menjamin hasil pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Pendekatan berbasis hak mendorong pengembangan program yang memberikan prioritas pada kelompok miskin, rentan, dan marjinal. Dengan pendekatan ini pengemban kewajiban didorong untuk tidak sekadar bertanya tentang apa yang harus dilakukan tetapi juga mengapa dan bagaimana itu dilakukan. Tidak sekadar menyediakan layanan dasar tetapi juga mengatasi ketidakadilan akibat minimnya akses.

Melalui kolaborasi antara masyarakat desa dan pemerintah desa yang kuat, maka segala cita-cita yang ingin dicapai bersama akan terwujud. Kesadaran dan rasa memiliki terhadap desa adalah factor utama yang mestinya mulai diterapkan pada masing-masing individu masyarakat desa. Berkembangnya desa akan berpengaruh besar terhadap perkembangan negara karena desa adalah basis terkecil dari negara. Pembangunan sumber daya manusia yang dimulai sejak dini, akan mengakhiri cerita kekalahan tentang desa di masa depan. [T]

Tags: desaPembangunanpembangunan desa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konversi Agama, Jangan Anggap Biasa

Next Post

Buleleng Raih Opini WTP Kedelapan dari BPK RI | Bupati Suradnyana: Ini WTP Berkualitas

Ni Luh Sinta Yani

Ni Luh Sinta Yani

Perempuan dari Tejakula, Buleleng bagian timur. Aktivis KMHDI yang suka menulis

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Buleleng Raih Opini WTP Kedelapan dari BPK RI | Bupati Suradnyana: Ini WTP Berkualitas

Buleleng Raih Opini WTP Kedelapan dari BPK RI | Bupati Suradnyana: Ini WTP Berkualitas

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co