7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Lukisan Goenawan Mohamad, Tentang Usia 80 dan Potret

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
November 1, 2021
in Ulasan
Pameran Lukisan Goenawan Mohamad, Tentang Usia 80 dan Potret

Goenawan Mohamad [Foto dari katalog]

Sastrawan Goenawan Mohamad menggelar pameran tunggal lukisan di Museum OHD di kota Magelang, Jawa Tengah, di museum pribadi kolektor lukisan kenamaan Indonesia yaitu dr. Oei Hong Djien. Pameran ini berlangsung dari tanggal tanggal 24 Oktober 2021 sampai tanggal 28 Februari 2022.

Pameran itu mengambil tema Potret  yang dikuratori oleh Wahyudin. Pameran menampilkan sebanyak 215 lukisan di atas kanvas, maupun kertas,  dengan berbagai ukuran dengan bahan cat minyak dan cat akrilik, 1 video rekaman pertunjukan, 1 video wawancara.

Ada juga buah satu karya  seni instalasi yang berjudul “Kematian Subali” dan 8 buah objek art mirip dengan wayang golek. Karya ini yang pernah dipakai dalam pertunjukan  karya Onie dalam pertunjukan Den Kisot di Galeri Salihara pada tanggal 14 Juli 2019. Naskahnya ditulis oleh Goenawan Mohamad. Semua karya yang dipamerkan dikerjakan dari tahun 2018 hingga 2021.

Pembukaan Pameran dihadiri Wali Kota Magelang Muchammad Nur Aziz, tokoh tokoh penting  sastrawan,budayawan, seniman, kurator dan dosen seni rupa ISI Yogyakarta seperti Romo Mudji Sutrisno, Romo Sindhunata, Mahdi Abdulah,  Sutanto Mendut, Joko Pekik, Dr. Suwarno Wisetrotomo.

Suasana pameran tunggal lukisan Goenawan Mohamad di Museum OHD di kota Magelang, Jawa Tengah. [Foto-foto koleksi Museum ODH]

Tentang 80 Tahun dan Lain-lain

Pameran ini diselanggarakan sebagai perayaan hari  ulang tahun Goenawan Mohamad yang ke-80. Bagi Oei Hong Djien dalam pengantar katalognya menulis, pencapaian umur 80 tahun adalah manusia yang diberkati, maka harus dirayakan bukan seperti pelari marathon yang berhasil mencapai garis finis.

Goenawan Mohamad yang di akrab dipanggil GM sangat luar biasa. Dan masih aktif dalam berkarya.  Kita mengenal seniman-seniman yang mencapai puncak di usia tua seperti pelukis terkemuka dari China, Qi Bashi, Claude Monet, yang melukis ratusan Water Lilies yang berukuran raksasa, yang dia buat ketika berusia 80 tahun juga di Indonesia, maestro Widayat merayakan ulang tahunya yang ke 83 dengan pameran tunggal.

Dalam pembukaan pameran tersebut Oei Hong Djien nampak bergembira dan semangat menyambut pameran tunggal Goenawan Mohamad. Di pembukaan acara pameran tersebut, Oei Hong Djien memberikan hadiah kado kejutan ulang tahun dengan memainkan musik biola alunan lagu  “Salut d’Amour”. Lagu salam cinta yang digubah oleh Edward Elgar pada tahun 1888. Lagu cinta ungkapan rasa sayang kepada teman.

Banyak tamu undangan yang menghadiri pameran tersebut, terkesima, dengan alunan nada biola yang mendayu-dayu yang dimainkanya, karena yang seperti banyak orang ketahui seniman dan pecinta seni Oei Hong Djien hanyalah seorang kolektor seni yang dikagumi banyak seniman, dan belum pernah menyaksikan beliau memainkan alat musik.

Dalam pidato pembukaan pameran itu, Oei Hong Djien menyatakan cinta pertamanya adalah biola, yang ditinggalkan sudah 60 tahun, setelah jatuh lenganya terkilir, dengan momen ini, seperti memberikan energy baru kedalam dirinya.

Di dalam pembukaan pameran tersebut juga diadakan launching  buku “Hong Djien, Delapan Puluh Nan Ampuh”, yang ditulis oleh Wahyudin.  Buku itu berangkat dari peristiwa pameran dari perayaan ulang tahun 80 tahun Oei Hong Djien pada tahun 2019 di Yogja dan Magelang. Pameran itu melibatkan 16 ruang pameran, yang 15 ruang pameran di Yogjakarta, 1 di Magelang di museum OHD yang melibatkan 400 seniman. Dan buku itu resmi diluncurkan pertama secara seremonial oleh Goenawan Mohamad.

Kurator Pameran Tunggal Goenawan Mohamad, Wahyudin, mengatakan selama lima tahun belakangan ini Goenawan Mohamad telah melakukan pameran sebanyak 10 kali di 11 ruang pameran.

Pameran ini jadi unik, perupanya Goenawan Mohamad berumur 80 tahun di museum  seorang  kolektor yang berusia 82 tahun dan dibuka oleh seniman Djoko Pekik yang umurnya 84 tahun, dan kuratornya Wahyudin umurnya separuh dari seniman yang berpameran.

Wahyudin juga mengatakan pameran ini seperti dejavu yang mana sebelumnya lima tahun yang lalu pameran Goenawan Mohamad di laksanakan di plataran seniman Djoko Pekik, dan di buka oleh Oei Hong Djien, dan akhirnya bertemu lagi di pameran yang sama di Museum Oei Hong Djien.

Wahyudin sebagai kurator pameran juga mengungkapkan kekagumannya terhadap orang-orang berusia 80, karena orang itu adalah orang-orang yang ampuh, apa lagi yang masih produktif berkarya, berseni rupa, menulis puisi, menulis esai, masih  membuat pameran, dan suka hal-hal yang berbau tantangan, aktif dalam kegiatan kesenian dan mengapresiasi karya seni secara serius, seperti Goenawan Mohamad, Oei Hong Djien dan Joko Pekik.

Bagaimana kita yang usianya jauh lebih muda dengan mereka yang merasa mapan tidak ada tantangan yang sangat inspiratif. Kita yang separuh umurnya belum tentu produktif, kita belum apa apa, kita harus lebih semangat.

Pameran GM kali ini adalah pameran yang ke-10 kali. Goenawan  Mohamad telah menciptakan sekitar 500 karya yang di atas kertas, 100-an lukisan berbahan cat akrilik dan cat minyak yang dibuatnya di atas kanvas maupun kertas. Dan 99 persen dari 600 karyanya berupa potret, “Potret ini adalah karya penting dari Goenawan Mohamad 5 tahun terakhir, ujar Wahyudin.

Foto diambil dari katalog

Citra Kelabu

Dr. Suwarno Wisetrotomo, dosen di Fakultas Seni Rupa dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Kurator Seni Rupa, berkomentar GM adalah mata air yang mengalirkan nilai-nilai kedalaman, kemanusiaan, kebangsaan, dengan kritisisme yang dibalut dengan bahasa, kalimat-kalimat yang kuat dan lembut, sesekali menyihir. Secara mengejutkan nilai-nilai itu dihadirkan melalui gambar-gambar dan lukisan.

Dalam pandangan Dr. Suwarno Wisetrotomo, lukisan-lukisan yang dibingkai dengan tema “Potret” oleh Wahyudin selaku kurator, di OHD Museum, memang terasa lebih personal. Jika kehendak menghadirkan potret – dalam hal ini ‘potret’ dalam pengertian representasi dari wajah seseorang – adalah untuk menangkap karakter yang dikenali secara intim, maka hampir semua wajah itu (sebutlah Slamet Rahardjo, Djokopekik, Ayu Utami, Melati Suryodarmo, Slamet Gundono, Avianti Armand, dan lainnya) dihadirkan GM dengan citra kelabu.

Apakah memang kemuraman itulah yang ditangkap GM? Jika demikian, maka “karakter” yang dimaksud GM adalah tangkapannya (tentu saja) secara berjarak, bukan “karakter sebenarnya” yang dimiliki sang pemilik wajah. Mungkin pula, kesan ini tertangkap akibat dari pigmen warna yang digunakan GM yang hampir sama untuk seluruh karya.

Namun demikian, kata Dr. Suwarno Wisetrotomo, ia merasakan dengan takjub kekuatan garis, sapuan, dan bentuk yang dicapai GM. Artistik dan kena. Gambar-gambar GM terasa lebih “hidup” karena lebih eksploratif terhadap garis, bentuk, dan sesekali pigmen lain (warna) yang digunakan sebagai aksentuasi.

“Selebihnya saya merasakan pula, karya-karya seni rupa ini menunjukkan bahwa GM memang seorang yang sudah melampaui dirinya sendiri. Tak ada lagi pamrih apa-apa, kecuali ‘bersenang-senang’ dengan banyak cara,” kata Dr. Suwarno Wisetrotomo..

Hikayat Sri Rama

Dalam karya seni tersebut ada juga tokoh pewayangan yang dijadikan karya seni instalasi salah satunya yang berjudul “Kematian Subali”. karya ini juga mencuri perhatian. Ada apa sebenarrnya? Kenapa tokoh ini dibuat dua versi, satu berbentuk seni instalasi, yang satunya berbentuk lukisan yang judulnya Subali.

Juga lukisan Sugriwa, juga lukisan Rsi (mungkin yang dimaksud disini Rsi Gotama) dan lukisan Cupu (mungkin terinsfirasi dari kisah Cupu Manik Astagina ) dan lukisan yang berjudul prajurit Kiskenda, semua tokoh dan hal tersebut berkaitan dengan kisah Subali dan Sugriwa di  kerajaan Kiskenda.

Di lukisan Sugriwa, Goenawan Mohamad menempelkan puisi Sugriwa yang dibuatnya pada tahun 2011dan menjadi jukstaposisi yang berbunyi :

‘Aku telah berkhianat,’ kata kera merah itu.
‘Apa yang terjadi?’ tanya sang petapa.
‘Aku tak mengerti: telah datang dua orang asing dari ayodya
Yang membunuh saudara kandungku, dan aku memeluk mereka
sebelum aku memeluk tubuh saudaraku, dan mereka berkata
Dengan suara yang tentram, “ada keadilan.
‘Aku takut,’ sambung kera merah itu pula.
‘kita tak perlu takut kepada yang ada dan bisa jelas.’
Empat malam sebelumnya, dari sebelah tenggara hutan
Petapa itu mendengar jerit: ‘Namaku Subali!’
Ia pun berjalan mendekat. Bulan hanya sebelah.
Dalam terang yang terbatas, ditemukanya genangan darah
dan sehelai daun tal yang tergeletak. Seekor burung pungguk
memandangi dari gelap-merasa lebih mengerti tentang malam dan jejak yang terhapus.
Keadilan dan kematian begitu sederhana di semak kosong ini.
Juga sesal dan suara sedih. ‘Aku memang angin
Ia tak ada,’ kata kera merah itu pula
‘tapi aku tak ingin membunuh Subali.’
‘Kau tak membunuhnya, Sugriwa.
Ada perang dan keinginan yang selalu bukan milik kita.

Goenawan Mohamad, Hikayat Sri Rama
(Kompas, 18 Desember 2011

Ide puisi itu muncul ketika Goenawan Mohamad menghayati lebih dalam mengenai cerita Ramayana tentang perkelahian saudara kandung antara Subali dan Sugriwa, akhirnya dalam peperangan tersebut Subali dibunuh oleh Sri Rama dengan busur panahnya.

Puisi yang ditulis oleh Goenawan Mohamad  itu ingin menunjukkan simpati dia kepada Subali dalam cerita Ramayana sebagai tokoh penting tapi dikorbankan, atas kesewenang-wenangan Sri Rama  menggunakan Sugriwa, mengorbankan Subali saudara kandung Sugriwa. Demi kepentingan kekuasaan pribadinya. Seolah olah bukan dia yang membunuh padahal aktor intelektualnya adalah Sri Rama yang luput dari pembacaan kritis.

Karya seni instalasi dan Subali yang dibuatnya  bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada orang yang dianggap sia sia. kalau kita tarik di masa modern, itu adalah jendela kebudayaan bagi kita untuk menghayati satu sosok dan satu pristiwa.

Peristiwa Subali ini dikontekstualisasikan ke jaman politikus modern, menjadi jendela bagi kita melihat peristiwa, membuka tafsir dan ruang kontekstual.

Suasana pameran tunggal lukisan Goenawan Mohamad [Foto Syakieb Sungkar]

Selain Ramayana ada karya seni GM, yang terinspirasi oleh kisah Mahabarata dalam lukisan yang judulnya “ Bima dan Tengkorak, terinspirasi oleh kisah kekerasan yang terjadi di dalam cerita Mahabarata, ketika Drupadi istri Pandawa di telanjangi di depan umum, dan Pandawa tidak bisa berkutik karena kekalahanya bermain dadu melawan Korawa, dan di sana Drupadi bersumpah akan mencuci rambutnya dengan darah Duryodana ( keluarga korawa ) sumpahnya tersebut seperti mengkritik kelemahan kelamhan  pandawa, yang tidak bisa berbuat apa apa waktu kejadian tersebut. Nampak dalam lukisan tersebut Bima di buat menunduk seperti malu terhadap Drupadi tidak menggunakan jubah layaknya kesatria, hanya menggunakan celan kolor berwarna merah.

Melukis potret, bagi GM merasa ditantang. Ternyata melukis potret itu, memberi penghormatan kepada wajah, ini berhubungan dengan jam terbang, bukan sekedar tantangan melukis potret, jadi semangat itu ditopang oleh kebijaksanaan tapi dengan tidak ada jam tertentu tidak didapatkan.

GM bilang mengapa beri hormat wajah, wajah itu tidak pernah menjadi sesuatu menjadi total dan selesai, memanggil dia untuk terus menerus melukis potret, kalau tidak di jam terbang tertentu, enigmanya tidak akan selsesai. Yang tak terduga-duga ini menyangkut kebijaksanaan atau hikmat atau filosofi,

Bahkan lukisan yang sempat  dipamerkan di Bienale Jatim yang judulnya Moon Over Bourbon Street yang dibuat di tahun 2018 diubah lagi di tahun 2021 dan dipamerkan lagi pada pameran sekarang ini di Museum OHD, dari cara dia melukis yang diubah lagi sudah kelihatan rasa ketidak puasan, dan selalu mencari tantangan baru, dan tentu hasilnya lebih menarik dengan menambahkan warna Burnt Sienna di bagian topi objek lukisan tersebut dan jubah objek tikus itu dibuat lebih gelap dan bulan dibuat lebih terang.

Ada juga lukisanya melukiskan tokoh politik di Birma Myanmar, Aung San Suu Kyi, dilukisannya dengan menggunakan masker, GM ingin mengabadikan peristiwa politik penting yang melanda Birma di masa pandemi ini.

Selain melukiskan tokoh penting di Birma, GM juga melukis rakyat biasa dengan lukisan yang judulnya Seri Birma: Rakyat Desa, dengan menggambarkan sosok perempuan paruh baya yang kelihatan payudaranya dengan pakaian seadanya, dan di depannya ada gambar mangkok dan nasi dan ada garis kuning yang dibuat buat segi empat. Ada juga menggambarkan kaum borjuis Birma dengan lukisan yang judulnya Seri Birma: Saudagar dengan melukiskan manusia seperti wayang, yang di depanya ada piring dengan telur.

Lukisan itu isa dilihat seperti pelukisan puisi dengan bahasa gambar, yang mana rakyat jelata hanya bisa makan nasi saja, sedangkan kaum kaya sudah bisa makan lauk pauk contohnya penggambaran telur dan piring.

Tentu lukisan tersebut terlahir dengan peristiwa politik yang penting dan menjadi pemberitaan di seluruh dunia di masa pandemi ini. Goenawan Mohamad-lah seniman Indonesia pertama kali yang mengangkat Birma, dalam karya seninya. Yang sebelumnya belum ada seniman Indonesia yang mengangkat karya seni mengenai histori dan legenda Birma.

Di lukisan King Jim adalah lukisan sahabatnya tokoh seniman teater Jim Adhi Limas, adalah seniman Indonesia, yang setelah 50 tahun baru bisa pulang ke Indonesia. semenjak pemerintahan Presiden Soekarno. Selama ini beliau menetap di perancis menjadi aktor teater dan aktor film, di usianya yang sekarang 83 tahun.

Judul lukisan  King Jim sendiri diambil dari kisah King Lear William Shakespeare, yang mana Jim Adhi Limas pernah memerankan menjadi sosok King Lear William Shakespeare, akhirnya dalam lukisan tersebut Jim Adhi Limas di lukis lengkap dengan jubah raja dan pakai mahkota seperti di dalam kisah King Lear William Shakespeare. dan menjadi judul lukisn King Jim.

Estetika GM memancing kita memasuki pengetahuan di luar gambar, mengajak kita menelusiri perkara estetik, dan mencari pengetahuan baru dari judul lukisan yang direpresentasikan Goenawan Mohamad.

Karena bukan ilustrasi, terkurung pada kisah  Ramayana, maupun mahabarata semata, begitu juga puisi yang ditampilkan, dengan ruang baca dan ruang tapsir terbuka, mampu mengjak kita ke peristiwa aktual, tentu kepada pembaca awam.

Begitu juga generasi milenial yang masih belum akrab dengan tokoh-tokoh di atas seperti Sugriwa dan Subali. Dan mendapatkan perspektif baru.

Bagi Goenawan Mohamad paling prinsip dalam spirit berkaryanya dalam pameran tersebut adalah berbagi kesenangan atau kegembiraan. Yang penting bagi dia prosesnya asik dan hasilnya menyenangkan. Didalam berpameran pun penonton bisa menemukan yang hal hal yang asyik dan menyenangkan. [T]

Tags: Goenawan MohamadPameran Seni Rupasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bima Hidup Lagi, Teater Mandiri Hidup Terus | Dari Pentas “GERR” di Festival Seni Bali Jani

Next Post

Pameran Seni Rupa “Megibung”: Kolaborasi dan Kesadaran Berbagi dalam Proses Berkarya

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Seni Rupa “Megibung”: Kolaborasi dan Kesadaran Berbagi dalam Proses Berkarya

Pameran Seni Rupa “Megibung”: Kolaborasi dan Kesadaran Berbagi dalam Proses Berkarya

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co