23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

AjeNg Bali Tour by AjeNg Bali Tour
February 13, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Tragis Pengantar Valentine

Salah satu adegan dalam film Romeo and Juliet

Jika ditanya, apakah yang paling universal di dunia ini? Tak lain, tak bukan, pastilah jawabannya cinta. Mengawali Februari yang becek sana-sini romantis ini, hal yang paling ditunggu khususnya oleh muda-mudi adalah waktu dimana cinta dimuliakan, hadiah diberikan. Yap! 14 Februari boleh jadi adalah hari paling keramat bagi setiap pasangan di muka bumi ini.

Bagaimana tidak? Bagi pasangan PDKT, inilah saat yang tepat buat mengungkap cinta. Bagi yang lama pacaran, ini saat paling berat karena harus memutar otak dimanakah mencari tempat aman bermesraan di tengah kebijakan jam malam PSBB atau PPKM atau PKM atau PPKN atau PPPP-PPPP pemerintah lainnya? Sedang bagi jomblowan-jomblowati, inilah waktu membuat video tiktok sekreatif mungkin untuk mengisi luwang hati mereka yang hampa tanpa cinta. Oh, betapa tragis, betapa kasihannya…

Namun tahukah semeton? Setragis-tragisnya pasangan ini, sekasihan-kasihannya jomblowan-jomblowati ini, sesungguhnya ada orang yang lebih naas nasibnya lantaran cinta. Di musim bulan cinta inilah biasanya akan banyak beredar cerita-cerita tentang cinta mulai dari kisah Romeo dan Juliet, Cleopatra dan Mark Antony, Bonnie dan Clyde, Layla dan Majnun, Paris dan Helen, Rada dan Khrisna, Jin dan Jun, dan segala jenis kisah cinta impor lainnya. Padahal kalau mau tragis-tragisan, kurang tragis apa lagi coba negara Indonesia yang dijajah selama 3,5 abad ini? Apalagi di zaman covid seperti sekarang.

Bali sendiri yang dikenal sebagai pulau seribu pura, sebenarnya juga punya seribu cerita tragis semacam ini. Untuk menyeimbangkan cerita lokal-global inilah, mimin persembahkan cerita-cerita asli Bali yang tak kalah tragis sebagai lambang keabadian cinta. Berikut adalah beberapa cerita cinta khas Bali yang membuat semeton sedih berderai air mata.

Jayaprana-Layonsari

Dimulai dari cerita di Bali Utara. Jayaprana-Layonsari adalah cerita yang paling terkenal karena ketragisannya. Kisah ini bermula dari sebuah desa di kerajaan Kalianget yang hancur karena wabah. Bukan wabah covid loo ya… Adalah Jayaprana, seorang anak yang selamat dari bencana. Raja Kalianget begitu iba dengan Jayaprana, maka diangkatlah ia menjadi anak raja. Saat Jayaprana dewasa, ia kemudian dipersilakan oleh raja mencari calon istri. Maka berjumpalah Jayaprana dengan Layonsari. Cinta kemudian tumbuh diantara keduanya.

Ketika Jayaprana dan Layonsari meminta restu kepada Raja, bukannya mendoakan kebahagiaan mereka, eh, Sang Raja malah jatuh cinta pada Layonsari. Seperti sesenggakan baline, I Love Tunang Timpal Panak. Setelah janur kuning melengkung, maka tikunglah! Rajapun menyusun siasat dengan Patih Sawunggaling untuk melenyapkan Jayaprana. Jayaprana dibunuh. Sementara Layonsari yang kehilangan suami tercinta, menolak diperistri Raja. Ia pun bunuh diri menyusul Jayaprana. Melihat hal itu, Raja jadi gila, lalu menghancurkan kerajaannya sendiri dan bunuh diri.

Di sini dapat kita petik hikmahnya, semeton. Saat jadi penguasa janganlah berusaha merampas istri rakyat. Nanti bisa gila dan mati. Lebih baik rampaslah bansos harta rakyat. Itu lebih aman. Karena belum pernah ada cerita penguasa jadi gila dan mati karena merampas harta rakyat.

Sampek Engtay

Cerita Sampek Engtay ini juga tak kalah tragisnya, semeton. Cerita ini adalah kisah dua remaja di sekolah. Sampek adalah vampire yang menyamar jadi manusia pemuda biasa-biasa yang haus akan darah suci perawan ilmu pengetahuan. Sementara Engtay adalah perempuan yang menyamar jadi laki-laki. Penyamaran ini sengaja dilakukan Engtay karena pada zaman itu dikisahkan sekolah hanya untuk kaum laki-laki.

Selama masa sekolah, Sampek dan Engtay menghabiskan waktu bersama. Singkat cerita, Engtay mengungkapkan rahasianya pada Sampek bahwa ia sebenarnya perempuan. Keduanya kemudian menjalani hubungan diam-diam. Hingga tiba suatu saat Engtay dipanggil pulang oleh ayahnya untuk dijodohkan dengan Subandar Macun. Sebagaimana anak remaja umumnya, berita ini tentu membuat syok pasangan ini.

Mereka kemudian menyusun rencana untuk kawin lari. Hari pertemuan ditentukan oleh Engtay dengan sebuah teka-teki dan Sampek harus bisa memecahkannya. Sayangnya, Sampek gagal memecahkan teka-teki Engtay, Hingga akhirnya Sampek jatuh sakit dan mati. Engtay pun menikah dengan Subandar Macun. Di perjalanan menuju rumah Subandar Macun, Engtay melihat kuburan Sampek di tengah jalan. Engtay menangis di makamnya. Makam lalu terbuka dan meloncatlah Engtay ke dalam menyusul Sampek. Mereka menjelma menjadi sepasang kubu-kubu bahagia di udara. Ohh… Sungguh romantisnya kan, Ton?

Dari cerita tersebut begitu banyak nilai-nilai adiluhung yang bisa kita petik. Salah satunya, kita bisa tahu bahwa bukan lidah yang lebih tajam dari pisau, tapi teka-teki! Buat kaum hawa yang merasa cowoknya bodoh tak sensitif, jangan coba-coba main tebak-tebakan. Ntar doi sakit hati… Ditinggal.. Mau? Sedang buat pasangan yang baru menikah, hati-hatilah memilih tempat bulan madu. Rasional dikitlah.. masa jalan-jalan ke kuburan? Sewa hotel atau villa kek… Mumpung hotel dan villa hari ini sedang banting harga.

Kado Kematian untuk Pacarmu

Last but not least, yang terakhir ini bukan cuma cerita, Ton. Tapi buku kumpulan cerita karya pemuda asli Bali bernama Wayan Agus Wiratama. Ini yang paling naas… Selain bukunya tak laku, di dalamnya berisi banyak cerita tentang kisah derita cinta segala usia. Lebih naas lagi karena hampir semua berlatar kematian. Ada kisah lelaki yang memergoki mantannya makan sate di pantai bersama pacar barunya lalu dibunuh. Ada kisah seorang ayah yang mati dikeroyok masa karena kedapatan selingkuh dengan istri tetangga. Ada kisah kematian perempuan karena disangka pelacur. Dan lain sebagainya. Pokoknya semua kisah berkisar seputar cinta dan mati yang dibedah dengan berbagai macam perspektif ilmu. Mulai dari ilmu sastra sampai filsafat, dari ilmu kemanusiaan sampai kebinatangan. Komplit!

Buku ini cocok buat semeton-semeton yang masih kebingungan memilih kado yang tepat di hari valentine. Bagi yang baru pacaran, buku ini bisa jadi tanda warning-warning buat selalu serius dalam menjalani hubungan kalian. Sedang bagi yang baru putus, buku ini bisa jadi hadiah terakhir kepada mantan biar dia tahu begitu sakitnya hati ini melihatmu makan sate dengan pacar baru… huuuuu… T_T

Nah.. Demikianlah semeton yang berbahagia dan yang masih sendirian di bulan cinta ini. Sebenarnya masih banyak lagi cerita cinta tak kalah tragis dan menggetarkan yang dimiliki Bali. Nanti mimin sambung lagi pada valentine-valentine yang akan datang. Kanggoang bedik-bedik gen. Sing dadi liu-liu, batuk nyanan. Rahajeng Valentine.

Salam AjeNg Bali!

Tags: cerita cintacerita remajaHari ValentineJayaprana dan LayonsariRomeo dan Juliet
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kama Sutra” Sebagai Kompendium Erotika Timur

Next Post

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

AjeNg Bali Tour

AjeNg Bali Tour

Penyedia jasa tour & travel narasi Bali alternatif

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co