24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Si Bau Berteman Hujan

Komang Astiari by Komang Astiari
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit parastu

Cerpen: Komang Astiari

AKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan menggiring rohnya ke surga ataukah ke neraka?

Ingin sekali aku meminta, jika boleh, “Tuhan, nenek orang yang berhati murni, bersih, bawalah dia ketempat terindahMu”

Namun sayang, aku tidak pernah mengenal Tuhan. Siapa Dia? Apakah dia lelaki ataukah perempuan? Bersahaja atau kah penuh murka? Mereka sering menyebut Dia Maha Kuasa. Saat dia memiliki kehendak, satu jentikan jari akan mampu mengubah situasi apapun. tanpa meminta persetujuan kita.

Bagiku itu omong kosong. Jika memang Tuhan Maha Kuasa, tidakkkah Dia mau mengobati hatiku yang selalu dilanda sepi setiap kali aku rindu nenek? Kenapa Dia membiarkan saja aku terjebak dalam perasaan kehilangan bertahun tahun lamanya. Tidakkah sejengkalpun Dia menghapus lukaku. Sudah cukup dalam, sudah cukup lama.

Hujan turun mengguyur seisi jalanan. Waktu menunjukkan pukul 05.15 sore, jam pulang kantor selalu menimbulkan kemacetan dimana-mana. Dari sisi kanan aku mendengar umpatan anak muda, hujan brengsek katanya. Aku tertawa kecil, menggumam, apa salah hujan?

Manusia bisanya mengeluh, hujan salah panas salah. Kenapa tak kau salahkan saja penciptanya? Aku justru berteman dengan hujan, bukan dengan siapa yang menciptakannya, karena hujan itu nyata, bisa kurasakan melalui kulitku.

Diam-diam aku selalu menyambutnya. Aku bahagia saat dia datang. Aku bekerja di Rumah Sakit jiwa Bangli, sebuah kota kecil yang sejuk sebagai perawat yang setiap hari berhadapan dengan mereka yang berkelainan jiwa. Mereka memanggilku Wayan.

Aku terkenal sebagai si ulet, baik hati, polos. Setidaknya kepolosanku bisa dimanfaatkan oleh mereka. Aku tidak pernah peduli diperlakukan seperti apa, asalkan mereka bahagia, aku senang.

Pernah suatu waktu aku mampu membeli sebuah mobil, bekas. Tapi belum genap satu tahun, aku menjualnya kembali. Bosan. Memiliki mobil sama sekali tidak enak. Aku harus melalui kota dan jalanan dalam sebuah kotak. Kadang aku menjadi sesak nafas.

Orang-orang berkata, “Kamu sudah gila ya? Bekerja sebagai perawat di RSJ apa kamu jadi ikutan gila?”

Aku tertawa dan menjawab, “Tentu saja tidak. Apa salahnya naik motor ke sana ke mari? Uangnya bisa kusisihkan untuk menikah nanti.” 

“Bahkan pacar saja tidak punya,” imbuh mereka. Aku hanya terdiam. Malas untuk melanjutkan.  

***

Melekat dalam ingatanku kenangan-kenangan bersama nenek. Ketika aku masih berumur 7 tahun, jam 2 dini hari nenek akan membangunkan aku, menggoyangkan badanku bahkan ketika aku belum membuka mata, dia akan menggotongku ke dalam angkutan umum yang sudah penuh sesak. Ketika kubuka mata, tahu-tahu aku sudah ada didalamnya berjejal dengan banyak orang dewasa lengkap dengan barang barang dagangannya.

Nenekku penjual kue basah di pasar kumbasari. Pukul 3 dini hari dia akan menggelar dagangannya, kuenya jarang tersisa, barangkali karena kuenya enak. Pukul  6 kuenya akan habis terjual lalu aku akan membantunya membersihkan meja dagangan.

Saat tiba di gubuk nenek, aku akan terburu-buru menyiapkan tas, bersiap-siap pergi ke sekolah. Tidak mandi, apalagi menggosok gigi. Membasuh wajahpun asal asalan. Lalu aku ingat sekali teman-teman akan meledekku bau.

“Hiiiiyy si Wayan Bau datang. Si Wayan bau datang. Awas kena kuman.”

Temanku sedikit. Satu-satunya temanku barangkali hanya si Ketut. Si Ketut jarang bicara, dia bodoh, setidaknya itu yang sering dikatakan guru-guru di kelas. Walaupun jarang bicara setidaknya dialah satu satunya orang yang menerima aku si bau sebagai temannya.

Predikatku di sekolah cukup bagus, ada dua. Predikat siswa paling bau dan predikat anak haram. Mereka akan menyebutku anak haram saat sekolah mengundang orang tua untuk rapat wali kelas, aku tidak datang dengan siapa siapa.

“Nenek bodoh, Yan, mana mungkin ikut rapat,” kata nenek tiap kali aku menyodorkan surat undangan dari sekolah.

Pernah suatu kali aku menguping dari balik ruang guru mereka sedang menggosipkan aku si anak haram. Lahir dari ayah yang tidak jelas. Pergi ke sekolah adalah ibarat pergi ke neraka, siksaan demi siksaan yang datang bertubi-tubi menghantamku tepat di titik terlemahku, membuatku seringkali tidak berdaya.

Aku lebih sering berteman dengan sepi, mojok di sudut sekolah dibalik semak-semak dan menangis sesenggukan. Tidak ada yang tahu. Bahkan nenek sekalipun. Ibuku seorang penari joged bungbung yang diundang dari satu daerah ke daerah lain. Dia sangat digandrungi terutama oleh laki laki hidung belang lantaran goyangannya yang mampu menghibur dan memenuhi nafsu mereka.

Nenek pernah berkata bahwa tarian joged adalah tari pergaulan yang mampu membangkitkan kebersamaan. Namun beberapa orang mulai menyalahgunakan fungsi tarian itu sebagai tarian tidak beretiket. Aku rasa ibu adalah salah satunya.  

Seusai menari dia akan dibuntuti beberapa lelaki yang memintanya untuk melayaninya, bersedia membayarnya dengan harga berapapun. Aku tidak tahu apakah ibu menerima tawaran lelaki itu atau tidak, yang kuingat ibu biasaya terdiam, lalu menggenggam tanganku dan berlalu dari lelaki lelaki yang menjijikkan itu.

Lalu aku? Siapa ayahku akupun tidak pernah mengetahuinya. Nenek berkata ayah meninggal saat aku masih bayi. Namun kata guru-guruku ayah bukannya meninggal, tapi tidak jelas yang mana, tidak ada satupun lelaki yang sudi mengakui aku sebagai anak.  

Hatiku semakin bertambah sakit, tiap malam saat nenek tertidur pulas aku menggambar sesosok pria yang kuanggap sebagai  Bapak. Lalu menangis  sepuasnya.

Saat usiaku 10 tahun ibuku pergi entah kemana lalu aku melanjutkan hidup bersama nenek di tengah gubuk yang hampir roboh dan bekerja sangat keras bersama-sama. Saat musim hujan tiba, gubuk nenek tidak kuat menahann air. Air menetes di mana mana. Seisi rumah becek dan aku akan melihat nenek menangis sambil meminta maaf padaku.

“Kenapa meminta maaf nek? Bukan nenek yang menciptakan hujan.”

Nenek akan tersenyum mendengar kata kataku. Berbeda dengannya aku justru bersuka ria ketika hujan datang. Hujan itu meneduhkan. Membuat seisi rumah menjadi sejuk. Suasana setelah hujan yang semakin membuatku jatuh cinta. Suara kodok, suara binatang malam lalu bau dedaunan membuatku seolah berada di lingkaran kebahagiaan. Aku mencintai hujan. Aku mencintai nenek.

Nenek tidak pernah memakai baju yang bagus dan bersih dia selalu terlihat lusuh dan juga bau. Tapi aku tidak pernah mempedulikannya. Dia adalah wanita tercantik yang pernah aku kenal. Aku melihat ke dalam dalam hati nenek. Saat makan dia akan mengutamakan aku. Bahkan laba hasil berjualan kue basahnya sering dipakainya untuk membelikanku mainan meskipun aku tidak membutuhkannya.

Bagiku permainan paling indah adalah bermain dibawah guyuran hujan. Aku pernah berimajinasi bisa berteman dengan kodok, dengan kunang kunang. Pernah sesekali aku membaca buku pangeran kodok di perpustakaan sekolah. Sepulang dari sekolah aku akan berburu kodok menangkapnya lalu menciumnya, kodok itu, tentu saja menolak, padahal aku berharap dia berubah menjadi manusia, setidaknya bisa kujadikan teman saat aku menangis atau saat bermain dengan hujan.

Aku sudah terlalu bosan bermain dengan kesepian. Aku mencintai nenek. Dia membesarkanku dengan ketulusan. Aku lulus SMA dengan predikat terbaik. Saat itu aku merasa bahagia setidaknnya predikat bau dan anak haram yang menempel pada diriku bertahun tahun lamanya berhasil kubuktikan dengan predikat siswa terbaik, nilai tertinggi.

Sepulang sekolah aku kegirangan masuk ke dalam gubuk nenek. Namun sayang justru di saat-saat berbahagiaku justru hari di mana nenek tidak bisa melihat. Nenek buta. Bagaimana nenek bisa melihat nilai dan piagamku jika nenek buta? Aku menangis sejadi jadinya. Memeluknya yang wajahnya mulai nampak sangat lelah di usianya yang ke-70 tahun. Belakangan aku menemukan penyebab kebutaan nenek. Nenek mengidap diabetes.

“Tugasmu belajar Yan, tapi nenek selalu membebanimu dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Kamu tidak pantas memikul beban yang lebih berat lagi,” ucapnya tabah.

Sesekali nenek akan terdiam di kamar merenung, asyik dengan pikirannya. Namun kadang sepulang bekerja aku menemukannya menangis dan berteriak teriak. Tiga bulan setelah kejadian itu, nenek mati gantung diri.

Sesak dalam dadaku meledak ledak. Tidak ada lagi nenek, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Nampaknya nenek tidak tahan dengan kondisinya. Tiap malam nenek menangis menyesali apa yang terjadi padanya, menyesali telah membuatku repot merawatnya yang penyakitan.

Sementara setamat sekolah, aku hanya bekerja sebagai buruh angkut di pasar, penghasilanku pas pasan, kadang kami harus berhutang untuk membelikan nenek obat. Hari hari setelah nenek meninggal aku menenggelamkan diriku dalam banyak kegiatan, pekerjaan. Aku bekerja  16 jam sehari, berusaha lari dari rasa sedih dan sesal.

Saat malam tiba aku masih sering menangisi kepergiannya. Nenek sangat berharga bagiku.aku bahkan tidak mengenal siapa ayah dan ibuku, tapi nenek, dia adalah hidupku. Tuhan telah merampasnya, entah di bawa kemana nenek setelah mati. Jika Tuhan Maha Kuasa, kenapa Dia tidak menghapus rasa sedih kehilangan yang aku rasakan bertahun lamanya.

Aku jengah, hidupku harus berubah. Sedikit demi sedikit, aku berhasil mengumpulkan uang untuk kuliah keperawatan. Aku ingin membantu mereka yang sakit, setidaknya dengan begitu, aku bisa mengenang masa-masa ketika merawat nenek sakit. Setelah lulus banyak perusahaan kudatangi berharap menerima ku sebagai pegawainya hingga pada suatu hari sebuah rumah sakit jiwa menerima aku menjadi perawat junior.  

***

Mereka berlari menghindari hujan. Aku justru menerobos hujan dengan suka cita. Aku mencintai hujan. Hujan mengingatkanku pada nenek, pada gubuk nya yang penuh kasih. Hujan membuatku merasa dekat dengan nenek, membuatku mampu merasakan kembali dekapannya.

Sesampainya di kantor, mereka memandangiku dan berkomentar, “Hai, Wayan, kenapa kamu basah begitu?”

“Aku sedikit bermain-main,” kataku sambil tertawa kecil menghindari percakapan yang lebih panjang.

Aku tidak langsung masuk ke dalam ruang perawat. Ada satu kamar pasien yang selalu aku datangi setiap kali tiba di kantor. Aku mencintai pasien itu meskipun rasa cintaku tidak sebesar rasa cintaku pada nenek.

Belakangan aku mengetahui bahwa ternyata pasien yang masih terlihat cantik di usianya yang setengah abad itu adalah ibuku. Kami akan berbincang lama sekali sebelum kembali bekerja. Bercerita tentang nenek, tentang hari hariku, tentang gadisku.

Seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan kami tanpa meminta ijin memecah obrolanku dengan ibuku. “Wayan, jangan kabur lagi, ya. Lain kali kami tidak akan lagi menghalangi kamu bermain di bawah hujan.”

Aku baru menyadari ternyata badanku yang tanpa busana dan celanaku yang compang-camping ini benar-benar basah sekali. (T)

Tags: Cerpen
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Pertigaan Beringin Sayan-Mengwi: Stasiun Cinta Romantika Mahasiswa

Next Post

Putus Cinta, Sakit Hati, Anak Muda Kadang Ingin Makan Ban…

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Putus Cinta, Sakit Hati, Anak Muda Kadang Ingin Makan Ban…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co