24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Nikah, Kapan Punya Momongan, dan Pertanyaan Tiada Akhir

Putri Wulan by Putri Wulan
June 19, 2020
in Esai
Kapan Nikah, Kapan Punya Momongan, dan Pertanyaan Tiada Akhir

ilustrasi diolah dari sumber Google

Memasuki umur 20 tahunan adalah masa-masa paling rentan. Rentan akan permasalahan kehidupan, target menyelesaikan sekolah serta mulai tahu betapa susahnya mencari pekerjaan. Intinya ialah bagaimana membangun suatu rasa tanggung jawab pada diri sendiri. Menjadi sedikit menyebalkan, ketika ke-kepo-an orang-orang sekitar dan sanak saudara mulai memberi pertanyaan-pertanyaan berkelanjutan tiada akhir.

Pertanyaan iseng sih, tapi tidak semua bisa dengan santai tanpa beban menjawabnya.

Tak sedikit yang merasa tidak nyaman dan bahkan malah marah sampai buat status di social media, dan ternyata dilihat oleh orang yang memberi pertanyaan tersebut, lalu orang itu marah dan balik ‘ngegas’ dan terjadilah suatu perdebatan. Karena sejatinya tidak afdol kalau emosi tidak buat staus dimana-mana, bukankah begitu, sobat baper?

Pertanyaan level 1 biasanya dimulai dari “Kapan skripsi-an?” dan menjalar menjadi “wah Kapan nih wisuda?”. Ketahuilah, para mahasiswa, memiliki bebannya sendiri dalam menyelesaikan study mereka. Beberapa mungkin mulus-mulus saja, tapi untuk yang mengalami kesulitan dalam mengambil mata kuliah atau yang harus mengulang beberapa mata kuliah karena nilai yang dicapai kurang memuaskan, tentu akan memakan waktu lebih lama untuk mencapai tugas akhir. Dan apabila diantara mereka sedang membuat tugas akhir, apakah mereka mudah membuat suatu topic bahasan yang mereka pilih sebagao tugas akhir?

Tidak semudah itu. Mereka harus bulak-balik ke perpustakaan, mencari bahan kesana-kemari, bertemu dosen untuk review saja tidak mudah. Dari pengalaman saya dan teman-teman seperjuangan membuat tugas akhir, bertemu dosen seperti bertemu artis. Apabila dosennya memang mengayomi dan pengasih, pasti akan membimbing mahasiswanya dengan mempermudah pertemuan dan memberikan revisi dengan cara yang mudah ditangkap oleh mahasiswa.

Nah, seandainya mendapat dosen yang kiranya “mengospek” mahasiswanya. Menjadi PHP (Pemberi Harapan Palsu) ketika janji untuk bertemu, marah-marah dulu karena moody, atau memberi revisi yang gamang, susah di mengerti dan memberi bahan bacaan yang sangat susah dicari. Mencari bahannya sudah sepeti mencari kitab suci, Ya Gusti, tugas akhir bebannya sangatlah berat, belum lagi didera pertanyaan “kapan lulus”.

Rasanya batin menjerit dan meronta-ronta ingin menjelaskan tapi dirasa sia-sia saja, malah akan membuang-buang tenaga. Kebanyakan mahasiswa berubah perasaannya dan menjadi bad mood ketika ditanya, merasa ke-trigger berubah menjadi rasa cemas karena tugas akhir yang tak kunjung selesai karena berbagai kendala seperti yang dijelaskan di atas.

Naik satu level, ke level selanjutnya ialah pertanyaan “Sudah punya pacar belum?” baik, ini bisa diatasi dengan jawaban singkat padat jelas, dan kebawa perasaan seperti “belum, hehe” tambahkan ‘hehe’ untuk terlihat lebih tegar. Selesai sampai disitu, karena orang-orang biasanya akan melanjutkan pertanyaan mereka ke level 2A, yaitu “Kapan Menikah?” apabila jawabanmu adalah “Ya, saya sudah punya pacar” atau mereka tau kalian sudah punya pacar dan sudah berhubungan sejak lama. Tipe pertanyaan ini seperti ombak, akan terus ada dan mungkin saja semakin intens dan dalam skala besar apabila sedang berkumpul dengan keluarga besar.

Untuk yang sudah memiliki pacar mungkin akan gampang saja menjawab, karena memang sudah ada planning atau yah santai lah tinggal jawab yang ada, tapi tetap mereka akan merasa sedikit terganggu bagaimana pun ketika orang-orang sudah mulai memaksa dan memberi pertanyaan macam it uterus menerus kita akan merasa risih. Apalagi untuk yang belum memiliki pacar, yang sebenarnya mereka belum focus ke arah memiliki hubungan dengan seseorang, bisa jadi masih focus meniti karir atau memiliki kesibukan lain yang penting dibandingkan dengan mencari pacar, bahkan ada yang enjoy dengan kesendiriannya.

Kembali lagi pada pengalaman pribadi, di umur saya sekarang yang memasuki angka 28 tahun, pertanyaan seperti itu pasti ada setiap saya pulang kampung. Apalagi di saat saudara-saudara seumuran sudah habis karena sudah lebih dahulu menikah. Bagi mereka, umur saya sudah layak untuk menikah, tetapi bagi saya, tidak usah dijawab cukup senyum atau tertawa lebay dan pergi dari kerumunan. Menurut saya pribadi, saya tidak akan pernah buru-buru dan terpaksa menikah hanya karena umur.

Tapi teman-teman saya kebanyakan merasa sangat terganggu dan tersinggung dengan pertanyaan tersebut. Bahkan ada yang menargetkan dirinya, harus memiliki pacar, siapa pun itu dan segera menikah, akhirnya apa? Setelah sebulan menikah, merasa kurang cocok. Salah pilih pasangan katanya.

Sampailah kita pada pertanyaan level atas disaat seorang sudah meraih semuanya, lulus sekolah, mendapatkan pacar, dan sudah menikah. Ya, “Kapan punya momongan?”. Ini menjadi beban tersendiri bagi sepasang suami istri, bahkan bisa menjadi pemicu mereka untuk memulai perdebatan. Saya mengutip dari halaman web hellosehat.com ada beberapa faktor pasangan belum memutuskan untuk memiliki anak, diantaranya setiap pasangan memiliki rencana sendiri dan pilihan setiap orang berbeda, dalam hal ini beberapa pasangan memilih untuk tidak memiliki anak

Selain itu menurut saya ada faktor lain lagi seperti salah satu pasangan mungkin sulit untuk memiliki anak. Masih saya kutip dari website yang samapertanyaan macam ini akan menambah beban mereka dan bisa memicu stress dan trauma. Stres di sebabkan karena pertanyaan yang bertubi-tubi. Bahkan stress itu sendiri memiliki pengaruh cukup besar bagi seorang istri yang memang ingin memiliki anak. Sedangkan trauma, bisa disebabkan dari seorang istri yang baru saja mengalami keguguran dan mendapatkan pertanyaan serupa bahkan lebih kejam seperti “kok belum hamil lagi?”, memberikan pertanyaan tersebut seperti menorehkan luka pada pasangan tersebut. Mereka pastinya membutuhkan waktu yang cukup untuk memulihkan duka dan trauma dan sehingga belum siap memiliki anak dulu.

Ketahuilah tidak bijak rasanya menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat privasi kepada orang-orang yang kita temui. Bahkan untuk seorang saudara sekalipun. Namun bagaikan sebuah ironi, pertanyaan tiada akhir seperti diatas susah untuk tidak menjadi kebiasaan di masyarakat. Bijaklah dalam perkataan, berpikir dan pertimbangkan sebelum bertanya demikian. Tidak akan ada yang tahu bagaimana situasi dan kondisi mood dan mental seseorang dan bagaimana mereka meresponnya. [T]

Tags: Keluargamahasiswamenikahpacarpacaran
Share99TweetSendShareSend
Previous Post

Teori Konspirasi, Selalu Asyik & Mendebarkan

Next Post

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Putri Wulan

Putri Wulan

Lahir di Denpasar, 25 Maret 1992. Seorang Mental Health Survivor, yang menjadikan menulis sebagai alat yang membantunya untuk bangkit dan kembali memiliki tujuan hidup. Menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana dan lulus di tahun 2015. Suka menulis, menonton, mendengarkan musik, dan jalan-jalan.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co