7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 17, 2019
in Esai
Zaman Patung Bali Membaca Lontar – Catatan Harian Sugi Lanus

Foto-foto: Istimewa

Ada jaman dimana patung Bali membaca lontar.

Ya banyak. Tersebar di berbagai belahan dunia.

Begitulalah yang tertangkap seniman patung di Bali era tahun sebelum kemerdekaan. Era sebelum Belanda masuk Bali, sekolahan non-formal dan proses pembelajaran tradisional di Bali banyak memakai lontar. Kegiatan baca tulis bermedia lontar. Inilah yang menginspirasi munculnya berbagai jenis patung kayu periode tahun 1930-an dengan tema pembaca lontar (lontar reader).

Sekitar tahun 1872 Belanda menguasai Bali Utara, dan akhirnya tahun 1906 sepulau Bali dikuasai, membuat Belanda mengolah akal menjadikan Bali destinasi pariwisata. Pariwisata membawa banyak perubahan perilaku masyakarat Bali, bukan lagi sebuah pertanyaan. Termasuk seni patung di Bali yang sebelumnya tidak terbayangkan menjadi mata pencarian sampai kini, dijual di galeri, toko seni dan pasar seni, bahkan diekspor dalam peti kemas.



Sekarang bagaimana nasib patung Bali baca lontar?

Seiring menghilangnya kemampuan baca tulis lontar di Bali, patung bertema baca lontar juga lenyap.

Mungkin: Pematungnya tidak membuat patung membaca lontar karena tak ada lagi pemandangan pembaca lontar di tengah masyarakat. Atau, jangan-jangan pematung sekarang malu karena patungnya baca lontar tapi dia sendiri tidak baca lontar?

Sekarang masih tersisa jejak berbagai patung Bali baca lontar lewat jejaring lelang online. Sebut saja salah satunya yang sangat besar: Christie’s Auctions & Private Sales (Rumah Lelang Christie’s) pun menjual patung Bali baca lontar. Laku cukup mahal. Padahal dulu “hanya cendera mata biasa”. Tapi begitulah, kualitas “cendera mata biasa” era itu dibuat tangan harus dan serius generasi seniman sejaman berdirinya Museum Pitamaha, zaman dimana seniman tradisionalnya tidak berbohong mengurangi mutu walaupun sekedar “cendera mata biasa”.

Ada yang celaka menjual patung Bali baca lontar?

Tidak. Yang celaka bukan hanya patung Bali baca lontar dijual, lontarnya warisan juga banyak dijajakan jadi cendera mata. Dijual pada pelancong.

Hooykaas (1979) mengenang bagaimana lontar dijual jadi cendera mata ketika Bali dibuka menjadi destinasi pariwisata, sekitar tahun 1914 secara formal. Terkhusus bagaimana menjamur, dimana-mana, lontar warisan dijajakan pada wisatawan bersamaan dengan era pengembangan jalan raya dan transportasi digenjot untuk mendukung pariwisata Bali tahun 1920-an.

Tulis Hooykaas:

“After the construction of metalled roads and iron bridges in Bali and the building of a hotel at Denpasar and a pasanggrahan in the hills at Kintamani by the Dutch Royal Mail Shipping Line KPM, tourists began to visit Bali. They proved eager buyers for the palmleaf MSS which the Balinese offered for sale.”

[Setelah pembangunan jalan keras dan jembatan baja di Bali dan pembangunan sebuah hotel di Denpasar dan pasanggrahan di perbukitan di Kintamani oleh KPM – Jasa Pejalanan Kapal Laut dan Paket milik Pemerintah Belanda, wisatawan mulai mengunjungi Bali. Mereka terbukti berminat membeli manuskrip lontar yang ditawarkan orang Bali untuk dijual].

Pemerintah Belanda bersama para cendikiawan Bali terjaga. Ini alarm bahaya untuk segera melakukan tindakan penyelamatan sebelum semua lontar Bali ludes diperjualbelikan sebagai cendera mata dan diboyong wisatawan asing yang datang dari antah berantah. Singkat cerita, digagaslah penyelamatan lontar, dan dibangun perpustakaan Gedong Kirtya.


Hookyaas menambahkan:

“In 1928 the Government, waking up to the situation, created a foundation (Kirtya) for the preservation of local MSS. A three-room building was erected in a corner of the grounds of the puri of the Anak Agung of Buleleng, himself a keen collector of MSS. In one room the copyists worked, in the second their copies were stored, and the third was reserved for interested readers, who came in a steady stream, as I witnessed almost daily for over two years (August 1939 to December 1941). Unquestionably thousands of Balinese visitors found their way to that reading-room, though perhaps less than one orientalist a year used the facilities offered by the Kirtya.”

[Pada tahun 1928 Pemerintah (baca: Pemerintah Kolonial Belanda), terjaga dengan situasi tersebut, mendirikan sebuah yayasan (Kirtya) untuk pelestarian manuskrip lontar lokal. Sebuah bangunan tiga kamar didirikan di sudut halaman puri Anak Agung Buleleng, yang merupakan kolektor manuskrip lontar yang sungguh. Dalam satu ruangan para penyalin lontar bekerja, di ruang kedua salinan mereka disimpan, dan dalam ruangan ketiga disediakan untuk para pembaca (pengunjung) yang tertarik, yang datang dengan arus kunjungan deras tiada henti, ketika saya menyaksikan hampir setiap hari ada pengunjung selama lebih dari dua tahun (Agustus 1939 hingga Desember 1941). Tak diragukan lagi, ribuan pengunjung Bali menemukan akses membaca lontar di ruang baca itu, meskipun mungkin kurang dari satu orientalis (orang asing) dalam setahun menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh Kirtya].

Ya, saya baru tersentak ketika membaca kesaksian Hooykaas, salah satu alasan kuat Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya dibangun karena pariwisata dikhawatirkan menjadi ajang berjualan lontar warisan. Untungnya, sebagaimana kesaksian Hooykaas, ribuan pengunjung Bali berkunjung ke Gedong Kirtya di tahun 1939-1941. Saya juga menjadi berpikir dan menduga-duga kenapa cukup banyak lontar di griya-griya di Buleleng disalin sekitar tahun itu? Mungkinkah Gedong Kirtya menjadi pemicu penyalinan lontar di Buleleng di tahun sekitar itu? Berdasar kesaksian Hooykaas dan juga informasi lokal di Buleleng, memang Kirtya dimasanya adalah pusat pertemuan para cendikiawan saling mengkopi berbagai lontar yang kami warisi di Buleleng sampai saat ini.

Ironis memang, pariwisata bukan hanya membuat kemunculan patung-patung Bali membaca lontar, tapi juga membuat manusianya menjual lontar. Untunglah ada intelektual sadar manuskrip bergegas melakukan upaya nyata penyelamat lontar di Buleleng dan penuh dedikasi membangun Gedong Kirtya.

Catatan Harian, 17 Desember 2019.

Tags: lontarpatung balisastraSeni Rupazaman
Share271TweetSendShareSend
Previous Post

Tangani “Ciberbullying”: Jangan Andalkan Undang-Undang Saja

Next Post

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co