25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Status Medioker atawa Semenjana, Bukan Akhir Segalanya

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 24, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Pak dokter, nanti ikut turnamen tenis khusus lansia ya! Untuk memperingati 17 Agustusan, biar rame,” kata Pak S sambil menyeka keringat, di pagi yang cerah itu.

”Saya boleh ikut, Pak, umur saya kan baru 42 tahun,” sergah saya.

”Ya, untuk Pak Dokter dapat dispensasi khusus untuk ikut,” lanjutnya menyemangati.

Ada rasa getir di sudut hati menerima ajakan itu. Saya yang baru umur 40-an dianggap memiliki kemampuan setara dengan bapak bapak yang menjelang pensiun itu. Tapi hanya sebentar, langsung perasaan itu saya netralisir.

Baguslah, sudah diajak main daripada cuma jadi penonton yang manis. Begitu saya menghibur diri. Inilah nasib seorang medioker (dalam hal kemampuan bermain tenis pastinya) kadang dipandang sebelah mata oleh sesama penggemar tenis di lapangan.

Mediocrity atau mediocritas dalam dalam bahasa Latin, merupakan sebuah istilah yang sering dipakai untuk mengungkapkan hal yang standar. Maksudnya, kualitas atau tingkat kesuksesannya biasa biasa saja.  Mediocrity sama sekali tidak istimewa. Oya, dalam bahasa kita istilah ini cukup indah untuk status ini, SEMENJANA

 Di zaman millenial ini, istilah mediocrity dinilai lebih tajam lagi. Medioker dianggap mencerminkan sifat yang setengah setengah.

Senista itukah sifat medioker?, sehina itukah seorang medioker?

Saya yang merasa seorang medioker, dalam satu sisi kehidupan, ingin sedikit meluruskan tentang argumentasi ini. Menurut saya status medioker banyak kita temukan di masyarakat, bahkan kalau kita lapang dada, status negara kita pun boleh dibilang medioker di antara bangsa bangsa luar sana, bahkan sekelas ASEAN sekalipun.  

Bukti sahihnya ada di lapangan hijau. Timnas senior kita terakhir juara tingkat ASEAN adalah tahun 1991. Hampir 30 tahun yang lalu.Setelah itu kita lebih banyak menjadi penonton negara negara tetangga  kita menjuarai turnamen tingkat regional itu. Begitu banyak faktor yang menghasilkan manusi a atau masyarakat kelas semenjana ini.

Mungkin seharian kita berdebat, sampai keluar urat leher, tak akan menemukan kesamaan pendapat. Tapi saya berani menyampaikan tiga penyebab pokoknya. Karakter bangsa yang permisif, budaya kekeluargaan yang menafikan individu, dan terakhir sistem pendidikan kita yang menjejalkan begitu banyak hal ke otak anak anak kita. Membuat mereka tahu banyak, tapi tak tahu sama sekali.

Untuk tiga hal tadi mungkin akan saya bahas pada tulisan lain setelah diskusi dengan pakarnya. Pada kesempatan ini saya cuma ingin membahas mengapa saya tak dianggap pintar di lapangan tenis, itu saja titik.

Tenis, adalah olahraga ke-4 yang saya tekuni setelah sepakbola, bulutangkis dan futsal. Sepak bola sudah saya gandrungi sejak tahun 1986, saat Maradona mengantar Argentina menjadi Juara Dunia. Bulutangkis merupakan olahraga wajib untuk kami yang berasal dari desa Pandak, Tabanan, Belum lengkap rasanya kalau tak mampu meneplok si  bulu. Bahkan waktu kecil saya punya cita cita kalau tak jadi pemain bola seperti Maradona, bolehlah menjadi pemain bulutangkis nasional seperti    idola saya Liem swie King yang terkenal  dengan smashnya yang keras dan tajam, sampai diber julukan khusus “King Smash”.

Khusus untuk olahraga tenis, saya menekuninya sejak 5 tahun yang lalu, bersama teman teman guru SMA yang bertugas di daerah Busungbiu atas termasuk  daerah tetangga di Pupuan. Saya ingat sekali waktu pertama kita mengenal olahraga ini, sampai tak kenal waktu. Kadang di hari Jumat atau Sabtu jam 12 siang pun kami masih di lapangan.

Untungnya tempat kami main berada di punggung gunung Batukaru, di daerah Pujungan, jadi teriknya surya  diimbangi oleh dingninya angin yang berhembus dari puncak gunung . Olah raga ini memang lebih sesuai dengan umur saya yang menginjak 40-an, dibandingkan dengan sepakbola  dan bulutangkis yang mengutamakan kekuatan dan kecepatan. Di tenis kita bisa menyesuaikan kemampuan kita dengan kecepatan bola dan kekuatan diri kita sendiri. 

Pengalaman menekuni olahraga ini meyakinkan saya akan kebenaran beberapa petuah  orangtua kita dulu.” Usaha tak akan mengkhianati hasil”,” Practice make perfect”. Satu kata kunci untuk sukses di olahraga ini, bahkan olahraga apapun. Dan juga kehidupan itu sendiri adalah latihan dan ketekunan. Saya sendiri merasakan kebenarannya. Mengalami fase benyah latig sebagai pemain tenis.


Penulis bersiap main tenis

Dulu kalau saya ke lapangan, semua orang yang ada di lapangan selalu menghindar  jadi pasangan saya, karena permainan saya yang berantakan. Tapi seiring wakktu dan seringnya latihan, saat ini kalau saya datang teman teman berebut untuk jadi pasangan saya, terutama para pensiunan seperti yang saya ceritakan  tadi. Dan saya bisa menyimpulkan orang yang lebih bagus permainannya dari saya adalah mereka yang lebih dulu mulai mengenal tenis, dan yang lebih sering pergi ke lapangan untuk berlatih. Jadi latihan dan ketekunan memang kunci utamanya, bahkan mengalahkan bakat menurut pandangan saya.

Dan akhirnya yang menjadi acuan saya dalam menjalani hobby dan juga kehidupan ini barangkali hampir serupa. Kalu kau tak cukup mahir pada satu bidang, maka kau perlu memperbanyak bidang yang kau kuasai walaupun tak terlalu lihai. Barangkali ini penyebab saya  menerima status semenjana seperti saat ini. Main tenis bisa sedikit, bulu tangkis tak mengecewakan, sepak bola masih kuat melawan seumuran saya, apalagi cuma profesi dokter seperti saya.

Dan setidaknya saya mendapat beberapa manfaat dari situasi ini. Selain tetap diajak main oleh lebih banyak orang. Khusus untuk kemampuan olahraga saya,barangkali salah satu yang bisa saya tonjolkan minimal di lingkungan sesama dokter. Jadi  teman teman dokter di Buleleng mengenal saya sebagai si maniak olah raga. Setiap ada kegiatan olahraga biasanya saya didapuk sebagai kordinatornya.

Baiklah cukup sampai disitu pembelaan saya, biar tak terlalu malam tidur, besok masih ikut turnamen tenis lansia itu.Siapa tahu bisa jadi juara,  biar tak dianggap medioker lagi. Pesan saya untuk yang merasa  senasib dengan saya, saat kau berstatus semenjana di satu bidang, cobalah menutupinya dengan kelebihan di bidang lain, kalau bisa di lebih banyak bidang lagi. Pasti  anda akan lebih sukses dari saya, dijamin. [T]

Tags: doktermediokerolahragatenis
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

Yan Nano, Mencari Tuhan dengan Bersepeda

Next Post

RIPUH

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

RIPUH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co