24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gelap, Cahaya, Rindu

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 9, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kali ini, saya ingin menjaga jarak dengan apa yang sudah saya pelajari. Menjaga jarak, artinya memberikan ruang antara pelajar dengan pelajaran. Pelajar kita sebut subjek, pelajaran disebut objek. Ruang itu dijaga, dengan harapan agar penilaian yang dilakukan bisa seobjektif mungkin. Kenapa menilai? Karena itulah yang dilakukan kebanyakan orang saat melihat, mendengar, menyentuh, mencium sesuatu. Bukankah itu yang selalu kita lakukan dengan sadar atau pun tidak.

Tidak sadar diibaratkan seperti kegelapan. Pada situasi itu, tidak ada yang bisa dilihat mata. Mata seperti buta, tapi sesungguhnya tidak. Meski mata dibuka lebar-lebar, tetap tidak ada hal lain yang dilihat kecuali gelap. Seperti barisan mata ikan tuna di keranjang dagang. Bagaimana barisan mata itu melihat, jika pemiliknya sudah mati.

Pada banyak pustaka klasik, kematian yang dilalui dengan sadar adalah cita-cita. Saya tidak mengerti kenapa barisan pustaka itu membicarakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Saking banyaknya pustaka sejenis itu, saya sempat menduga bahwa menjelaskan kematian adalah obsesi intelektual para pendahulu. Bagaimana mungkin menjelaskan sesuatu yang belum dialami? Sampai di titik itulah saya menghentikan pertanyaan. Dan tidak mencari jawabannya.

Tidak mencari adalah salah satu cara yang saya pelajari untuk mendapatkan jawaban. Seperti dua orang yang mengelilingi satu pulau. Bagi yang mencari akan dikelilinginya pulau itu. Bagi yang menunggu, ia akan diam tidak kemana-mana. Yang diam atau yang pergi, sama-sama sampai di “rumah”.

Perbedaannya terletak pada pengalaman. Yang pernah pergi, tahu bagaimana atmosfer tempat yang dilaluinya. Yang diam hanya menikmati cerita-cerita dari yang pergi. Mereka berdua memiliki kesimpulan yang sama, bahwa yang pergi akan kembali. Mereka berdua sama-sama tersenyum atas kesimpulan itu. Tapi senyum keduanya tidak sama rasanya.

Mirip dengan senyum orang yang menang dan yang kalah. Meski keduanya tersenyum, tapi keduanya menyimpan rasa berbeda. Anehnya, banyak juga orang yang dengan mudah menunjukkan rasa kemenangannya, tapi sangat susah mengakui kekalahan. Padahal keduanya sama saja di mata saya yang kecil ini. Menang atau kalah, keduanya tetap akan berubah.

Setelah perubahan itu terjadi, barulah mereka sadar, kalau segala yang diperebutkannya selama ini tidak lebih dari sekadar onggokan batu. Saya tidak bermaksud mengatakan kalau batu tidak ada nilainya. Tiap hal yang ada di bawah kaki langit dan di atas pangkuan bumi ini selalu bernilai. Hanya saja, tidak semua nilai itu bisa berguna di saat yang tepat. Memilih waktu yang tepat bukanlah perkara mudah.

Begitulah barangkali kelindan pikiran jika memikir-mikirkan pikiran sendiri yang gelap gulita. Pada masa-masa belakangan ini, saya sangat tertarik pada “pikiran”. Sebabnya, hanya karena ia begitu hebat. Bahkan, oleh tradisi, pikiran dijadikannya raja dari segala macam indria. Saya tidak benar-benar menemukan terjemahan yang pas untuk menerjemahkan kata indria dalam bahasa Indonesia. Dalam pemahaman sederhana, saya sebut saja indria sebagai alat. Karena ia adalah alat, maka sewaktu-waktu ia bisa tidak berguna.

Agama juga alat. Oleh banyak orang, agama disebutnya candu. Tapi oleh orang yang sama, agama itu dijalaninya dengan penuh kenikmatan. Seperti pecandu alkohol yang menikmati kemabukannya. Sudah tahu bisa mabuk, tetap saja diminumnya. Tidak penting lagi apa yang membuatnya mabuk, apakah bir hitam, arak, tuak, berem, atau yang lain. Pecandu agama, juga demikian.

Tidak penting lagi baginya, apakah yang sesungguhnya membuatnya mabuk. Apakah ritual yang di dalamnya adalah upakara dan upacara, ataukah mabuk karena sasana yang dijunjungnya setinggi batas galaksi. Dan, bukan tidak aneh lagi, ada orang yang dimabukkan oleh produk-produk intelektualnya sendiri berupa permenungan tattwa atau filsafat.

Ketiganya sama-sama pemabuk yang berkumpul di Bale Banjar menikmati be celeng. Masing-masing pemabuk, berpendapat kalau alkohol yang membuatnya mabuk adalah teman paling tepat untuk menikmati be celeng. Mereka terlihat berbeda karena punya “selera”. Yang membuat mereka terlihat sama, adalah sama-sama pusing kepala, dan sama-sama muntah. Seingat saya, muntahan selalu beraroma busuk.

Agama selalu terlihat kontradiktif. Pagi ia akan bilang kalau membunuh tidak dibenarkan. Siang hari ia akan bilang, membunuh itu diperbolehkan asal begitu dan begini. Sebenarnya, perlakuan itu boleh apa tidak? Biarkan saja pertanyaan tadi dijawab oleh ahlinya ahli. Biarkan juga ahli-ahli itu mempertanggungjawabkan keahliannya yang konon didapatnya dengan susah payah dan dibuktikan oleh jejeran gelar seperti ular naga yang panjangnya bukan kepalang.

Tugas ahli memang begitu, yakni mengentaskan kegelapan pikiran dengan cahaya pengetahuan. Bodoh adalah gelap, cerdas adalah terang. Itulah jajaran konseptual yang sudah mendarah daging di tubuh. Tapi jangan salah, orang bodoh yang setia lebih utama dari pada orang cerdas tapi culas.

Contohnya seperti seorang bodoh yang menjadi pengiring raja. Karena suatu alasan, raja bepergian dengan menunggangi kuda. Sementara si bodoh mengikutinya dari belakang. Tugas si bodoh adalah memungut segala sesuatu milik raja yang terjatuh. Si bodoh yang taat itu melaksanakan perintah raja yang sudah seperti kata-kata Dewa.

Segala macam benda yang dijatuhkan oleh raja dipungutnya dan dimasukkan ke dalam sebuah kantung. Suatu ketika, kuda yang ditunggangi raja, berak sambil berjalan. Kotoran kuda itu jatuh tepat di depan si bodoh. Atas nama kesetiaan, dipungutlah kotoran itu dan dimasukkannya ke dalam kantung. Raja mana yang bisa menyalahkan kesetiaan semacam itu?

Ada cerita lain lagi. Ini tentang dua orang. Yang satunya cerdas, yang satunya bodoh. Mereka bertetangga. Karena bertetangga, maka wajarlah keduanya saling membantu. Si Pintar pernah sekali waktu meminjam sebuah penggorengan besar pada Si Bodoh. Sekarang Si Bodoh ingin menagihnya. Si Pintar memberikan satu penggorengan kecil pada Si Bodoh. Katanya, penggorengan besar miliknya telah beranak, dan sekarang anaknya dulu yang akan dikembalikan.

Si Bodoh percaya dan pulang ke rumah. Sampai di rumah, penggorengan kecil itu ditaruhnya di tungku dan ternyata pas. Di tungku itu pula ia mengaduk-aduk penggorengan saat memasak, tapi penggorengan yang ini tidak seperti penggorengan miliknya yang dulu. Dulu jika ia mengaduk-aduk penggorengannya maka penggorengan itu akan bergoyang. Ia tidak tahu, itu karena tungku lebih kecil dari pada penggorengannya. Dia hanya pernah mendengar, kalau ciri-ciri orang mati adalah tidak bergerak. Dikuburlah penggorengan itu karena katanya sudah mati.

Keesokan harinya, datanglah Si Pintar ke rumah Si Bodoh menagih penggorengan. Si Bodoh pun menerangkan kalau penggorengan kecil itu sudah mati, dan dikuburnya di belakang rumah. Si Pintar hanya kaget, tersenyum masam, dan kebingungan.

Itulah dua cerita singkat tentang kebodohan dan kepintaran. Yang satunya bercerita tentang Si Bodoh yang setia. Yang satunya, tentang Si Bodoh yang jujur dan polos. Ternyata kebodohan identik dengan kesetiaan, kejujuran dan kepolosan. Pada masa kini, orang yang demikian selalu dilindas jaman. Sayangnya, ketiga sifat itu adalah terjemahan dari satu kata yang selalu dielu-elukan pada tiap-tiap seminar tentang kebaikan. Terjemahan saya atas ketiga kata itu adalah Dharma.

Jadi jangan salahkan orang menjadi cerdas lalu culas, karena ia tidak ingin dilindas seperti orang-orang bodoh. Jangan juga mengeluh karena sering diliciki oleh orang yang lebih cerdas, karena kita sudah pernah licik pada mereka yang lebih bodoh. Hal ini semacam antiklimaks bagi saya sendiri. Sebenarnya, mana yang lebih baik, antara jadi bodoh di tempat gelap, atau cerdas di tempat terang. Mungkin keduanya sama saja, saking gelap atau karena saking terangnya, orang tak melihat apa-apa. Justru karena tidak melihat apa-apa, sang raja pikiran jadi tidak terikat oleh segala hasil pengelihatan. Banyak orang tidak ingin terikat, tapi tidak banyak yang tidak ingin melihat.

Selalu saja kontradiktif. Di satu sisi, orang tidak ingin merindukan, karena terkesan menyakitkan. Di sisi yang lain, dia butuh kerinduan agar tahu seberapa ukuran perasaannya dan perasaan orang yang dirindukannya. Tapi rindu tidak pernah ada jika jarak juga tidak. Rindu lenyap jika jarak hilang. Konon rindu bisa lenyap hanya karena dua hal.

Pertama karena ia bosan. Kedua, karena sudah bertemu dan menyatu. Keduanya sama-sama menghilangkan, tapi serasa tidak sama. Selalu begitu. Lalu dimana masalahnya? Semua masalah ada di dalam sini. Dan itu juga yang sering kita sembunyikan. Seperti masalah banyak orang atas keinginannya meninggalkan kebodohan yang gelap menuju kecerdasan yang terang. Tapi anehnya, setelah segalanya terlihat saat cahaya bersinar, kita justru diam-diam merindukan kegelapan [T]

Tags: cintafilsafatkemanusiaanrenungansastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Tepi Sawah Dibuka Aneka Workshop Bertema Budaya Indonesia

Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau – Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Belle et Sébastien dan Le Nouveau - Dua Film Terpilih Perancis di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co