23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
May 31, 2019
in Esai
Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Foto: Dok Penulis

Muda, bebas, dan penuh ambisi, mungkin demikian saya menggambarkan diri ketika mengenyam pendidikan baik di bangku sarjana dan setelahnya.


Seperti umumnya seorang muda lainnya, saya selalu membayangkan akan sukses dahulu, menikah kemudian setelah mapan, kemudian membina rumah tangga kecil nan bahagia. Dalam benak, ambisi utama sebagai seorang yang suka bepergian tentu mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Cara-cara berpikir seperti itu yang kemudian membawa saya memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi keluar daerah, wara-wiri di dalam dan luar negeri, keluar masuk kota dan desa hingga beberapa daerah yang susah terjamah, memiliki banyak cita-cita jangka panjang, hingga akhirnya memutuskan untuk bekerja mengabdikan diri dan mencari pengalaman baru di bagian Indonesia timur. Hingga saat itu jalan pikiran saya masih sama.

Waktu terus berjalan, umur tak bisa disangkal. Saya menyadari diri kian beranjak dewasa. Berpikir bebas tak lagi sebebas biasanya. Pun usia juga yang akhirnya membuat saya sadar bahwa kebebasan bukan hanya milik saya sendiri. Hidup memang tak bisa seperti matematika, rasa bebas itu yang kemudian yang menjadi poin perubahan. Kebebasan yang saya rasa pada titik tertentu membuat saya merasa bahwa saya belum mencapai apapun dalam hidup ini.

Ambisi saya seketika berubah, dari yang rasanya tinggi nan muluk-muluk menjadi sangat realistis. Cita-cita kemudian tidak jauh dari membahagiakan orang tua. Caranya? Rawat mereka, mulai pikul beban keluarga selayaknya pria dewasa. Pada akhirnya, berpikir untuk menikah dengan kekasih mulai muncul ke permukaan. Dengan cara demikian, saya tidak perlu jauh dari orang tua dan kekasih lagi.

Saya yang kemudian memutuskan menikah tahun 2018 memang merasa telah siap. Saya memulai menapak dan membuat jejak baru dalam hidup, yang kini tak sendiri lagi. Saya memang terhitung belum lama menikah, pun demikian perubahan yang kami berdua rasakan memang jauh. Awal mula menjalani kehidupan berdua masih terasa seperti sejoli yang berbulan madu, seakan belum menikah.

Selang bulan kedua, kami pun kembali menjalankan kehidupan dan pekerjaan kami sehari-hari untuk menyambung hidup. Istri saya merupakan seorang tenaga medis yang tak jelas kapan libur dan waktu pulangnya. Saya, yang memutuskan berhenti bekerja di Indonesia bagian timur, mendapatkan pekerjaan untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bali. Setelah hampir lima tahun menjalin hubungan jarak jauh, saya tidak ingin hidup terpisah lagi. Banyak hal yang harus saya ketahui dari dirinya, pun dia dari saya.

Memiliki kesempatan untuk berkarir yang baru membuat saya memiliki cita cita dan pengharapan tinggi kembali. Saya mulai memiliki banyak kolega, bekerja disana dan disini. Menikmati kesibukan sebagai seorang professional. Berbeda dengan istri, jadwal saya sedikit lebih teratur, pergi jam 7 pagi, pulang jam 10 malam paling cepat.

Tuntutan hidup membuat kami merasa tak ada bedanya dengan ketika berhubungan jarak jauh yang dulu kami jalani. Kami hanya bercengkrama saat malam menjelang tidur. Tidak  jarang kami tidak bertemu hingga dua tiga hari karena pekerjaan masing-masing. Walaupun perjalanan karir masih jauh, kami merasa berada dipuncak karir masing-masing terhitung hingga saat itu.

Tuhan memang maha baik, Ia dengan segala rahmatNya kemudian menganugerahi kami seorang keturunan, seorang bidadari kecil datang dalam hidup kami. Datangnya pun mengalir saja. Kami merasa berdoa biasa saja dengan panjatan pada umumnya. Tepat 12 Desember 2018, kami menjadi sepasang ayah dan ibu. Rupa anak menurut orang orang sangat mirip dengan ayahnya, terutama bagian alis, mata, hingga bibir.

Sekali lagi jalan hidup kami berubah. Kami yang semula sangat getol mengejar karir, mulai teralihkan pada anak. Kami berbagi tugas. Pada awal kelahiran anak kami, istri yang masih dalam masa cuti dari pekerjaannya mengembil alih tugas merawat buah hati. Saya tetap menjalankan rutinitas yang saya sebutkan di atas tadi, penuh tanggung jawab. Sesampai rumah pun susah sekali menghabiskan waktu dengan anak. Tidak jarang harus sering tidur lebih larut karena mengerjakan pekerjaan kantor, pun ketika pulang tepat pukul 10 malam saya merasa sangat lelah dan harus istirahat.

Anak kami semakin bertumbuh, matanya mulai melihat sosok orang tuanya, mulai mendengar bisikan-bisikan kami dan merespon dengan gerakan. Sebagaimana bayi pada umumnya, ia akan menangis ketika lapar maupun mengantuk, tertawa saat bercanda, dan tidur saat selesai minum susu. Akan tetapi, anak selalu menangis ketika saya mengajaknya bercanda, ataupun ketika saya gendong. Nangisnya bukan main. Tangannya akan selalu bergetar seakan marah, menolak memandang saya, hingga berontak. Alhasil, istri harus berusaha lebih untuk menenangkan keadaan anak.

Kejadian ini terus berulang, hingga pada satu titik, saya merasa harus bisa lebih dekat dengan anak. Saya dan istri berdiskusi beberapa kali. Saya kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaan utama karena berbagai alasan. Pertama, masa cuti istri segera berakhir. Ini berarti kami harus berpikir bagaimana mengasuh anak kami. Mencari perawat maupun pengasuh bayi sempat menjadi opsi. Namun kami merasa anak adalah tanggung jawab kami. Segala tumbuh kembangnya sangat bergantung pada kami. Maka jadilah keputusan kami untuk bertukar peran, hingga saat ini.

Berhenti dari pekerjaan anda, terutama ketika kita memiliki cita cita besar memang terasa rumit. Belum lagi jika anda memikirkan aspek sosial dimana anda sebagai laki-laki (mungkin) dianggap kurang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Tidak jarang anda akan ditanya, saat ini sibuk ngapain? Pekerjaan bagaimana? Anda kan memiliki pendidikan yang mumpuni, kenapa di rumah? Akan selalu ada anggapan-anggapan berbeda dari orang disekitar anda. Kami terus terang kurang peduli dengan hal semacam itu. Kami sebagai sebuah keluarga kecil sadar betul bahwa anak adalah asset utama yang tidak akan terbeli dengan apapun.

Maka jadilah kami bertukar peran, setidaknya hingga saat ini. Kendati saya tidak sepenuhnya berhenti dari bekerja, secara finansial memang sangat terasa bedanya. Pendapatan kami memang menurun drastis. Istri saya memang bekerja kembali, tetapi dia pun tetap harus  membagi waktunya bekerja agar juga bisa bersama dengan anak, yang juga berarti pendapatannya juga menurun.

Pertanyaannya kemudian, apakah itu setimpal? Saya katakan tidak. Kami mulai merasa bahwa karir merupakan segelintir kebahagiaan, sama sekali tidak setimpal dengan kebahagiaan yang kemudian kami dapatkan bersama anak. Harga sebuah rasa bahagia jauh dari setimpal jika kami bandingkan dengan karir.

Saya harus bersyukur pada Tuhan, yang memberikan jalan rasa bahagia disegala keterbatasan. Berkat keputusan tersebut, saya beserta istri mempu memperhatikan tumbuh kembang anak setiap hari dan akan terus demikian setidaknya hingga ia sedikit lebih besar.

Stigma sosial lain yang datang kami lupakan dengan melihat senyum di wajah anak kami. Dia yang dulu selalu menangis ketika saya gendong, kini tidak lagi. Malah lebih sering tidur dalam pangkuan ayahnya. Dia yang selalu berontak ketika saya ajak bercanda, kini berlaku sebaliknya.

Tangan dan mimik wajahnya lebih sering mengajak bercanda daripada berontak menolak. Elena Dharmesta, begitu kami menamai putri kami. Namanya memiliki arti cahaya terang dari semesta alam. Sesuai namanya, Ia membawa rasa cerah dalam kehidupan kami. Ia merupakan anugerah alam semesta agar kami mampu berbuat lebih sungguh demi keluarga.

Terdengar aneh mungkin, tapi memang seperti kata sepotong bait lagu,

harta yang paling berharga adalah keluarga,

istana yang paling indah adalah keluarga,

puisi yang paling bermakna adalah keluarga,

mutiara tiada tara adalah keluarga. [T]

Tags: anak-anakKeluargapemudaprofesiRumah Tangga
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Titip Rindu untuk Pengantin Generasi Muda Hindu

Next Post

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co