Masyarakat Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, melaksanakan upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu Batur pada Rabu, 11 Maret 2025. Upacara peresmian secara niskala itu dilaksanakan pascapelaksanaan renovasi palinggih yang dilakukan sejak bulan November 2025 lalu.
Upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas yang merupakan linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh itu dilaksanakan dengan sejumlah rangkaian. Adapun rangkaiannya mulai dari bakti piuning (5 Maret 2026), Nunas Tirta Semeru Agung, Sapta Lingga Giri Balidwipa, Pusering Jagat, Pura Jati, dan Tri Kahyangan Desa (7 Maret 2025), Mendak Ida Bhatara Tirta Semeru Agung (8 Maret 2026), caru rsigana, mlaspas-mupuk padagingan (10 Maret 2026), dan mendak nuntun, nyangling, ngenteg linggih, dan bakti ayaban (11 Maret 2026).
Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Duhuran Batur, mengatakan upacara ngenteg linggih tersebut dipimpin oleh sulinggih Siwa-Buddha. Sementara itu, caru rsigana dipimpin oleh trisadaka. “Sebagaimana adat yang telah kami warisi, upacara ini juga diupasaksi oleh Ida Dalem Semaraputra dari Puri Klungkung serta puri-puri lainnya sajebag Bali. Demikian juga dari guru wisesa, prajuru desa Batun Sendi Ida Bhatari, serta para bakta lainnya,” katanya.
Jero Gede mengatakan, Meru Tumpang Solas linggih Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh terakhir kali direnovasi pada tahun 1973. Selama rentang tahun tersebut, beberapa kali telah dilakukan penggantian atap yang menggunakan ijuk. Tahun 2025, renovasi dilakukan lantaran kondisi tubuh bangunan yang sudah mengalami lapuk parah di bagian belakang. Material yang awalnya menggunakan batu padas dipandang tidak terlalu cocok dengan kondisi cuaca yang ekstrem, sehingga diputuskan untuk mengganti pondasi dengan batu lava Gunung Batur yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan.
“Namun, kami tetap mempertahankan sukat dan simbol-simbol dalam palinggih agar tidak mengurangi makna. Daun pintu yang konon merupakan daun pintu dari meru di Pura Ulun Danu Batur sebelum 1926 juga tetap kami pakai, karena kondisinya juga masih sangat baik,” kata dia.
Pembangunan Meru Tumpang Solas linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh dilakukan secara kolaboratif. Sebagian dana pembangunan yang memakan anggaran kurang-lebih Rp 2 miliar tersebut merupakan bantuan Pemerintah Kabupaten Badung. Selain itu juga ada punia para bakta serta punia dari Usaha Duwe Desa Adat Batur (Batur Natural Hot Spring).
“Pembangunan ini dilakukan bersama-sama. Gotong royong, baik dari pemerintah, para bakta, dan krama Desa Adat Batur. Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak, baik yang menghaturkan punia berupa uang, bahan, sarana padagingan, dan yang paling utama adalah tenaga dan waktu selama pemugaran palinggih ini,” tegas Jero Gede.
Ida Dalem Semaraputra menegaskan posisi penting palinggih tersebut sebagai pusat orientasi utama pemujaan di Pura Ulun Danu Batur. Sebagaimana tersurat dalam lontar, Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh merupakan entitas Tuhan yang memiliki otoritas dalam menjaga kesejahteraan masyarakat beserta seluruh isi Pulau Bali. “Hari ini, setelah tiga bulan pemugaran dilakukanlah upacara mlaspas dan mendem padagingan. Setelah selesai, barulah arca Ida Bhatari Danuh ditempatkan kembali di palinggihnya, sebelum nanti akan menyongsong Ngusaba Kadasa pada Purnama Kadasa yang akan datang,” kata Ida Dalem.
Sementara itu, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, menyatakan rasa syukur karena pemugaran telah berjalan lancar. Sebagai orang nomor satu di Kabupaten Badung menyatakan bahwa apa yang dilakukan pihaknya merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan sebagai masyarakat Bali. “Setelah pemugaran selesai, Ida Bhatari Dewi Danuh akan distanakan kembali di meru tersebut. Harapan kita, semoga beliau berkenan dan memberi anugerah serta perlindungan pada masyarakat dan alam Bali,” katanya. [T][Ado]
Sumber: Siaran Pers
Editor: Adnyana Ole




























