DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari balik selimut tipis, telinga saya selalu menangkap bunyi yang sama setiap Ramadan: kentongan dipukul berulang, diikuti teriakan anak-anak yang setengah mengantuk namun tetap bersemangat, “sahur… sahur… sahur!”
Suara itu bukan sekadar alarm. Ia adalah tanda bahwa di luar sana, ada orang-orang yang rela keluar dalam gelap, berjalan dari ujung gang ke ujung yang lain, hanya untuk memastikan tetangganya tidak ketiduran dan melewatkan sahur.
Kini, tradisi itu semakin jarang saya dengar. Di banyak perumahan dan kompleks perkotaan, sahur keliling sudah lama menjadi kenangan. Yang menggantikannya adalah alarm ponsel yang disetel masing-masing, notifikasi dari aplikasi jadwal imsakiyah, atau paling ramai sebuah pesan di grup WhatsApp keluarga: “Sahur udah siap!” Fungsional, memang. Tetapi ada sesuatu yang diam-diam ikut hilang bersamanya, sesuatu yang tidak mudah dicarikan penggantinya.
Dalam kajian komunikasi, tradisi sahur keliling sesungguhnya jauh lebih kaya dari sekadar fungsi praktisnya sebagai “pengingat waktu”. Jika ditelaah melalui perspektif Komunikasi Ritual yang dikembangkan James W. Carey (1989), komunikasi tidak semata berfungsi untuk menyampaikan informasi (transmission view), melainkan juga untuk membangun, memelihara, dan memperbarui realitas sosial bersama (ritual view). Sahur keliling bukan sekadar cara menyampaikan pesan “sudah masuk waktu sahur”; ia adalah ritual yang setiap malamnya menegaskan kembali bahwa kita adalah satu komunitas; kita menjalani Ramadan ini bersama-sama.
Anak-anak yang berlarian dengan kentongan di tangan tidak hanya menjalankan fungsi komunikasi informatif. Mereka sedang berpartisipasi dalam sebuah ritual komunal yang mempertegas rasa memiliki terhadap kampung dan tetangga. Ketika seorang bapak membuka pintu dan tersenyum kepada rombongan bocah yang lewat, di situ terjadi pertukaran makna yang melampaui kata-kata. Ia sedang mengatakan: “Saya mengakui kehadiran kalian dan saya bagian dari komunitas yang sama dengan kalian.”
Hilangnya Interaksi Antargenerasi
Yang membuat saya paling tertegun adalah bukan hilangnya kentongan itu sendiri, melainkan hilangnya interaksi antargenerasi yang selama ini ia ciptakan. Tradisi sahur keliling adalah salah satu dari sedikit ruang di mana anak-anak secara langsung terlibat dalam kehidupan ritual komunitas orang dewasa. Mereka tidak hanya menonton, mereka berperan. Mereka yang membangunkan, mereka yang mengelilingi, mereka yang menjadi “suara kampung” di tengah malam.
Dalam teori komunikasi antargenerasi, transfer nilai dan norma sosial paling efektif terjadi bukan melalui pengajaran formal, melainkan melalui partisipasi bersama dalam praktik-praktik kehidupan sehari-hari. Sahur keliling adalah salah satu wahana itu: anak-anak belajar bahwa Ramadan bukan hanya urusan ibadah pribadi, bahwa ada tanggung jawab sosial yang melekat pada bulan itu, bahwa kampung adalah ruang hidup bersama yang perlu dijaga dan dirawat secara aktif.
Ketika tradisi itu digantikan oleh alarm ponsel, anak-anak kehilangan pengalaman itu. Ramadan menjadi urusan yang lebih privat, lebih individual, lebih terkurung dalam batas dinding rumah masing-masing.
Tentu saja ada alasan-alasan yang masuk akal mengapa tradisi ini memudar. Perumahan modern dengan tembok tinggi dan portal keamanan tidak ramah terhadap anak-anak yang berkeliling di malam hari. Jam tidur yang semakin larut membuat terbangun pukul tiga terasa lebih berat. Orang tua yang khawatir akan keamanan anak-anak enggan membiarkan mereka keluar dalam gelap. Semua alasan itu valid dan dapat dipahami.
Namun di sisi lain, kita perlu jujur mengakui bahwa sebagian dari “kepraktisan” yang kita pilih itu datang dengan harga yang tidak kita sadari sedang kita bayar: melemahnya jaringan komunikasi komunal yang selama ini menjadi perekat kehidupan sosial di lingkungan kita.
Sahur Keliling yang Berharga
Di beberapa kampung yang masih menjaga tradisi sahur keliling, ada sesuatu yang berbeda dan terasa. Tetangga yang biasanya hanya bertegur sapa sekilas tiba-tiba terhubung kembali oleh bunyi kentongan yang sama-sama mereka dengar.
Anak-anak dari berbagai rumah yang mungkin jarang bermain bersama di siang hari, di malam Ramadan menjadi satu regu yang kompak mengelilingi kampung. Ada tawa kecil di kegelapan, ada langkah-langkah yang terdengar di jalan yang sunyi, ada kehidupan yang berdenyut di luar jadwal yang biasanya.
Erving Goffman pernah menulis bahwa kehidupan sosial manusia sangat bergantung pada kehadiran fisik bersama, momen-momen di mana tubuh-tubuh berada di ruang yang sama, berbagi pengalaman yang sama secara langsung. Di era ketika semakin banyak interaksi kita pindahkan ke layar, momen-momen kehadiran fisik seperti sahur keliling menjadi semakin langka dan karenanya semakin berharga.
Mungkin kentongan itu tidak akan kembali berbunyi di gang-gang perumahan modern. Mungkin alarm ponsel memang sudah cukup efisien untuk membangunkan kita. Tetapi yang tidak bisa digantikan oleh alarm mana pun adalah rasa bahwa ada tetangga yang peduli, ada komunitas yang menjaga, ada suara-suara di luar sana yang hadir bukan karena kewajiban melainkan karena memang begitulah cara orang-orang itu mencintai kampung dan sesama penghuninya.
Sahur keliling bukan sekadar tradisi yang indah untuk dikenang. Ia adalah pengingat bahwa komunikasi yang paling bermakna sering kali bukan yang paling canggih, bukan yang paling efisien, melainkan yang paling manusiawi. [T]
Penulis: Ashlikhatul Fuaddah
Editor: Adnyana Ole



























