MESKI asal dan desa kelahiran saya adalah Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng, di tahun 1975, namun sejak SMP saya sudah berdomisili di kota Singaraja. Jadi itu sekitar tahun 1987, saat besekolah di SMPN 1 Singaraja dan melanjutkan studi di SMAN 1 Singaraja (Smansa). Selama kurun waktu itu, sebelum melanjutkan kuliah di Denpasar, di Fakultas Kedokteran Unud di tahun 1993, boleh dikatakan, sebagai remaja bersama teman-teman, kami menikmati kota Singaraja, hampir setiap hari.
Saya membuat tulisan ini, karena begitu terasa bagi saya, perubahan wajah kota Singaraja setelah 40 tahun tersebut. Semoga tulisan ini dapat memberi gambaran masa lalu kepada generasi Z, Alpha dan seterusnya, kota di mana mereka tinggal sekarang.
Hal yang paling mencolok adalah, berpindahnya hingar-bingar pusat ekonomi dari Jalan Diponegoro dan sekitarnya, ke Jalan Ahmad Yani. Di tahun 90-an, Jalan Diponegoro adalah Blok M-nya Buleleng. Sebut saja toserba Bahtera, toko sepatu Bata, toko perlengkapan sekolah legendaris Indra Jaya atau toko fesyen Karya Murni dan lain-lain.
Oh ya, hampir lupa. Karena suka buku, saya sering mengunjungi toko buku favorit dulu di Jalan Sutomo, di sekitar Bank BCA sekarang. Masih dekat dengan Jalan Diponegoro. Namanya Toko Gunung Agung. Di sanalah saya mendapatkan novel-novel karya penulis terkenal seperti Marga T, Mira W, dan Hilman Hariwijaya yang menulis serial Lupus. Tahu Lupus kan?
Dan tentu saja saya juga mendapatkan buku-buku penulis hebat Gola Gong. Di seberang sebelah baratnya, tepat di tikungan Jalan Ngurah Rai mau ke Jalan Ahmad Yani ada toko kaset bernama Asean. Mungkin hampir semua rekaman musik di era kaset koleksi saya, dibeli di sana. Selain Asean, ada lagi satu toko kaset terkenal di Jalan Diponegoro agak ke utara, bernama toko Terminal Music. Saya masih ingat dan tersimpan sampai saat ini kaset yang saya beli di sana yaitu album kedua band trash metal Megadeth bertajuk Peace Sells… But Who’s Buying?
Di tahun 90-an, keramaian dan gemerlap lampu kota bertahan hingga tengah malam. Kini, ruas Jalan Diponegoro sudah sepi menjelang sore. Hanya Pasar Senggol yang berdekatan dengan Pasar Anyar yang mengisi malam di sekitar Jalan Diponegoro. Mungkin toko-toko di sepanjang Jalan Diponegoro perlu didesain ulang agar bisa kembali menjadi daya tarik ekonomi produktif seperti yang sekarang melaju kencang di Jalan Ahmad Yani.
Dulu, hanya ada satu kafe yang menjadi tempat nongkrong namanya pun sangat sederhana Kafetaria. Bandingkan dengan nama-nama kafe buat anak muda nongkrong sekarang: Danke, Kopi Nau, Kopi Kenangan atau Key Coffee dengan pilihan kata-kata untuk nama yang jauh lebih berani dan to the point. Lokasinya kira-kira di sekitar toko buku Gramedia sekarang di Jalan Ahmad Yani. Tepat di seberang gerai wara laba Pizza Hut.
Toko buku Gramedia, Pizza Hut dan resto-resto fast food lain seperti KFC dan McDonald atau toko perlengkapan rumah tangga pabrikan modern seperti Asko dan Mr DIY kini memberi wajah baru bagi kota Singaraja.
Begitu pula, di bidang farmasi. Jika dulu kita semua mengenal toko obat Sumber Waras yang ikonik di Jalan Hasanuddin, Kelurahan Kampung Baru, kini di sepanjang Jalan Ahmad Yani berdiri apotek-apotek dengan layanan lebih modern seperti K24 atau Apotekku. Masih terkait bidang kesehatan, dulu sangat terkenal keberadaan RS Tentara (RST) di Jalan Ngurah Rai. Warga Buleleng, hingga pelosok-pelosok memilih RST untuk berobat. Sekarang ada begitu banyak RS yang baru di setiap sudut kota.
Romantika di tahun 90-an yang tak mungkin terlupakan, tentu saja adalah moda transportasi bemo dengan berbagai warna sesuai jalur trayeknya. Bemo selalu ditunggu-tunggu para pelajar, pegawai atau warga umum untuk bepergian di seputar kota. Kami pun sampai punya bemo langganan yang memang didesain khusus oleh sopirnya untuk menarik perhatian anak muda. Mulai dari stiker di sekujur bodi bemo, sound sistem dan interiornya.
Kini, angkutan bemo nyaris punah digantikan oleh kendaraan pribadi terutama sepeda motor yang tentu saja memakan lebih banyak subsidi BBM dan meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas serta kemacetan. Oh ya, meskipun didesak bisnis kuliner modern seperti disebutkan tadi, berbagai resto fast food import, namun sejumlah ikon kuliner asli Singaraja masih tetap eksis sampai kini, seperti syobak Khelok, nasi Bik Juk atau roti legendaris Roti Go.
Namun ada yang kian hari makin tersisih. Yaitu pasar tradisional dan toko-toko kelontok wirausaha lokal yang menjajakan keperluan hidup sehari-hari akibat ekspansi tak terbendung retail mini market yang didukung modal dan pemegang kebijakan. [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole


























