Perkulihaan mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (Unud) boleh dibilang berbeda hari ini, Kamis 26 Pebruari 2026. Seluruh mahasiswa aktif angkatan tahun 2022, tahun 2023, tahun 2024 dan tahun 2025 belajar dalam satu ruangan, dan mengerjakan mata kuliah yang sama. Persaingan antar mahasiswa nyaris tidak ada, mereka justru akrab, komunikatif dan sama-sama mengenakan busana adat Bali yang rapi.
“Kami sedang mengikuti Festival Kamus Digital, serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2026. Sebelumnya, kami biasanya menggadakan seminar, tetapi kali ini mengajak seluruh mahasiswa Prodi Sastra Bali membuat dan menyusun kamus Bahasa dan Aksara Bali,” kata Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya, Ni Wayan Sri Kusumadewi disela-sela acara gestival itu.
Pagi itu, mulai pukul 09.00 Wita, ruang Soekarno di Kampus Nias Denpasar sudah dipenuhi mahasiswa dan dosen. Mereka duduk di berderet seperti kuliah, dan di depannya telah tersedia laptop yang siap menata kamus. Dari 50 mahasiswa yang ikut, masing-masing mengerjakan sekitar 20 halaman yang bahannya telah disiapkan sebelumnya. “Targetnya selesai hari ini, jika tidak bisa maksimal, maka bisa dikerjakan di rumah dan dikumpul tiga hari kedepan,” ucapnya.

Sebagai mahasiswa dan generasi muda, jelas Sri Kusumadewi digitalisasi sangat marak. Karenanya, sebagai mahasiswa harus bisa memanfaatkan digitalisasi tersebut untuk mempelajari aksara Bali yang diwarisi leluhur. Tidak hanya menulis di lontar. “Ternyata, kita bisa memanfaatkan teknologi canggih, seperti laptop, computer untuk belajar. Hal itu, juga untuk melestarikan bahasa sastra dan aksara Bali,” ungkapnya senang.
Sementara ini hanya ada kamus off line yang dicetak tebal dan berat. Di jaman ini, sebagain mahasiswa malas membawa buku yang berat-berat. “Kamuanya, penyusuanan kamus ke dalam digitalisasi dalam bentuk file itu untuk memudahakan kita mengaksesnya, termasuk dengan hand pone dan dimanaa saja,” ujar Sri Kusumadewi seraya mengatakan, mahasiswa yang ikut festival ini mendapatkan sertifikat.
Dosen Pembina Himpunan Mahasiswa Jurusan Mahasaba, Gde Nala Antara menjelaskan, festival kamus digital ini untuk menyusun kamus yang bisa dibawa kemana-mana dan bisa dibaca kapan saja, dan dimana saja. Selama ini, mahasiswa dan masyarakat umum sulit mendapatkan kamus yang lengkap. Kamus yang berisi aksara Bali. “Karena kesulitan itulah, kami di prodi bersama sama melakukan festival, mengetik ulang kamus yang sudah ada yang dikerjakan oleh para dosen sebelumnya di Lembaga Bahasa,” paparnya.
Kamus itulah yang disusun ulang. Termasuk menyempurnakan ejaan sesuai dengan perubahan ejaan yang telah ditetapkan pada tahun 2023 lalu. Ada pula kata-kata baru yang belum ada di kamus sebelumnya. “Semua itu, mungkin bisa di tambahkan oleh mahasiswa dan dosen yang ikut dalam festival ini, sehingga setelah acara ini akan ada editing lagi, dan kamus off line itu bisa menjadi digital yang bisa dibawa dan dibaca dimana mana,” imbuhnya.

Gde Nala Antara mengatakan, festival ini tidak hanya sekadar membuat kamus digital saja. Tetapi, sekaligus penerapan dan pengaplikasian, ilmu yang mahasiswa dapatkan selama berkuliah di Sastra Bali. Sebab dalam menyusun dan mengetik kamus, dengan Bali Simbar Dwijendra 2021 ini, sekaligus kembali mengingat dan menerapkan pembelajaran teori selama kuliah.
Baik itu tentang ketatabahasaan atau kelinguistikan, tentang komputerisasi aksara, tentang pasang aksara, tentang ejaan latin Bahasa Bali, tentang tata perkamusan yang disebut leksikografi. Tentang pemaknaan semantik, tentang kata-kata turunan dalam morfologi, dalam kalimat dan pelafalannya. “Itu semua implementasi dari materi kuliah, selama mereka belajar di Prodi Sastra Bali,” sebutnya.
Festival ini juga menjadi ajang mengaplikasikan ilmu yang didapatkan serta berkontribusi dalam melahirkan kamus digital Bahasa dan Aksara Bali. Keberadaan kamus digital ini tentu memudahkan, tidak hanya penggiat Bahasa dan Aksara Bali, tetapi seluruh elemen masyarakat dalam mempelajari dan mencari kata dan akasaranya yang sesuai dan benar.

Artinya, tanpa harus berat membawa kamus, tanpa harus susah ke perpustakaan, tetapi bisa di mana saja dan kapan saja dalam satu genggaman handphone. Selama ini mahasiswa dan masyarakat juga sulit mendapatkan kamus yang lengkap, dengan aksaranya juga. Ini sekarang dibuat dengan Aksara Bali. Jadi karena kesulitan itu, kami di Prodi Sastra Bali mengambil inisiatif dengan melibatkan mahasiswa di Bulan Bahasa Bali ini,” jelas dosen asal Karangasem ini.
Caranya, masing-masing mahasiswa di depan laptop dengan foto kopi kamus fisik yang telah dibagi-bagi dan mengetiknya ke dalam sebuah word untuk nantinya disatukan jika semua telah rampung. Tak hanya mengetik ulang dari kamus fisik yang sudah ada, namun juga menambahkan kata-kata baru seperti pandemi dan lain sebagainya.
Termasuk kata-kata baru yang mungkin belum ada di kamus sebelumnya, itulah yang ditambahkan oleh mahasiswa, sehingga setelah acara ini akan ada diediting lagi, baru kemudian kamus offline menjadi kamus digital dan bisa dibawa kemana-mana, dibaca dimana saja. “Hasil yang telah rampung juga akan disampaikan kepada Lembaga Bahasa Bali di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali,” tegasnya.
Koordinator Program Studi Sastra Bali, I Ketut Ngurah Sulibra yang membuka festival tersebut mengatakan, puluhan mahasiswa di Prodi Sastra Bali adalah cikal bakal pelestarian budaya dalam hal ini Bahasa dan Aksara Bali. Sehingga dengan ikut membuat kamus digital ini, tentu akan berkontribusi menjaganya ke depan agar mudah dipelajari anak cucu kelak. “Jadi kamus itu akan berisi kata, aksaranya, maknanya dalam huruf latin, serta kata turunannya,” imbuhnya.

Membuat kamus ini, sudah serangkaian dengan pembelajaran mata kuliah, seperti fonologi, morfologi, semantik dan lainnya. Ini menjadi gebrakan baru yang dilakukan Program Studi Sastra Bali, dengan mengajak mahasiswa membuat dan menyusun kamus Bahasa dan Aksara Bali. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























