GUBERNUR Bali secara resmi menutup pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu 28 Pebruari 2026. Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali tahun 2026, mengangkat tema “Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa” yang telah berlangsung selama satu bulan penuh mulai 1 – 28 Pebruari 2026.
Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ini tak hanya berlangsung di tingkat Provinsi Bali, tetapi juga di berbagai daerah di Bali, hingga ke tingkat desa termasuk di lembaga pendidikan. Hal itu, untuk lebih membumikan bahasa, aksara dan sastra Bali. Walau demikian, sejumlah wilayah masih ada yang absen atau tidak melaksanakan festival bahasa, aksara dan sastra Bali itu.
Kepala Dinas Kebudataan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana mengatakan, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ini dimaknai sebagai altar pemuliaan bahasa, aksara dan saatra Bali sebagai taman spiritual untuk membangun jiwa yang mahasempura. Event budaya ini menjadi momentum seluruh lapisan masyarakat Bali untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan serta indentitas local di tengah arus modernisasi ini.
Alit Suryana melaporkan, dari 1500 desa adat di Bali hanya 1488 desa adat yang melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa Bali. Sedangkan 12 desa adat, tidak menyelenggarapan festival budaya tersebut. Desa adat yang ada di Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Karangasem, dan Kabupaten Tabanan semuanya melaksanakan hajatan tersebut.
Sedangkan desa adat yang tidak melaksakan itu ada Kabupaten Buleleng sebanyak 2 desa adat, di Kabupaten Badung 1 desa adat, serta di Kabupaten Klungkung, Bangli dan Gianyar masing-masing 3 desa adat yang tidak melaksanakan hajatan tersebut.
Selanjutnya, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali di tingkat desa/kelurahan, dari 716 desa/kelurahan yang ada, hanya 671 desa/kelurahan yang melaksanakan. Sedangkan sebanyak 45 desa/kelurahan absen. Jika di Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem dan Tabanan semua desa/kelurahan menggelarnya, namun di Kabuaten Badung 9 desa/keluaran yang tidak melaksankan. Semetara di Kabupaten Jembrana 7 desa/kelurahan, Bangli 11 desa/kelurahan, Buleleng 11 desa/kelurahan, Gianyar 6 desa/kelurahan dan Klungkung 1 desa/kelurahan.
Kalau di lembaga pendidikan dibawah Pemerintah Provinsi Bali, seperti SMA/SMK dari 498 SMA dan SMK di Bali hanya 495 yang melaksanakan Bulan Bahasa Bali. Sedang 3 sekolah absen. Sementara dari 16 SLB di Bali, semuanya melaksanakan. Demikian pula di perguruan tinggi.
Alit Suryana mengatakan, Bulan Bahasa Bali VIII tahun ini menghadirkan beragam program edukatif dan kreatif. Tahun ini melaksanakan sebanyak 17 lomba yang diikuti oleh 1.168 peserta dari perwakilan kabupaten/kota dan masyarakat umum. Bahkan peserta dari luar daerah Bali ikut berpartisipasi, seperti dari Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta dan Sulawesi.
Widyatula (seminar) yang membicarakan berbagai isi lontar diikuti sebanyak 958 peserta. Sementara tiga jenis Kriyaloka (workshop), seperti Baligrafi, Tuntunan Pangenter Acara Basa Bali dan Mabaosan Basa Bali diikuti sebanyak 516 peserta. Paguneman Pengawi Bali (Diskusi sastra) yang membicarakan kesustraan Bali itu diikutin oleh 183 terdiri dari pengarang, praktisi, wartawan, mahasiswa dan kritikus sastra.
Sasolahan sebagai bentuk apresiasi sastra Bali melalui perghelaran teater atau drama modern itu menampilkan sebanyak 12 sanggar dan komunitas. Lalu, kegiatan Malajah Sambil Maplalianan (ruang belajar ramah anak) dipandu oleh FKMGMP Bahasa Bali, perguruan tinggi dan praktisi basa Bali melibatkan sebanyak 525 peserta terdiri dari siswa SD di sekitar Kota Denpasar.
Pameran yang menghadirkan komunitas, UMKM dan lembaga pendidikan itu menjadi oerhatuian masyarakat, terutama generasi muda. Selama sebulan penuh itu, pameran Bulan Bahasa Bali dikunjungi sebanyak 1.429 pengunjung.
Sementara, utsawa (festival) mengetik aksara Bali dengan keyboard itu melibatkan sebanyak 150 orang terdiri dari siswa SMA/SMK. Lalu, Raksa Pustaka, konservasi lontar yang dilakukan oleh penyuluh Bahasa Bali berhasil mengkonservasi sebanyak 1500 lontar milik masyarakat. Lalu, untuk penganugrahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama diberikan kepada tokoh dan lembaga.
Wana Kerthi, Gemuh Landuh Sarwa Tumuwuh Tema Bulan Bahasa Bali 2027
Gubernur Wayan Koster yang menanggapi laporan Kepala Dinas Kebudayaan itu meminta instansi terkait mencatat dan mengatasi persoalan anggaran yang menjadi kendala tidak menggelar kegiatan Bulan Bahasa Bali. “Saya minta tahun depan selesaikan, agar semua bisa melaksanakan Bulan Bahasa Bali. Untuk desa/kelurahan yang sekarang tidak menggelar Bulan Bahasa Bali, saya minta Kadis PMD mencatat dan undang mereka, kita tanya apa alasannya,” tegasnya.
Fundamen paling kuat membuat Bali selalu ada dan hidup adalah budaya, yang meliputi adat istiadat, seni dan kearifan lokal. Karena itu, dirinya berkomitmen melestarikan aksara dan Bahasa Bali itu. “Itu yang membuat Bali kuat, memiliki identitas, sekaligus menjadi kekuatan peradaban Bali. Aksara Bali, Bahasa Bali harus langgeng, selama dunia ini ada, Bahasa Bali harus tetap ada,” sebutnya.
Masyarakat Bali boleh berbangga, mengingat Bali satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki kegiatan khusus memuliakan bahasa daerah dan aksara Bali. Kreativitas anak-anak muda dalam memanfaatkan teknologi di jaman ini juga sangat baik. “Ada lagi keyboard aksara Bali, ini sangat keren, hanya ada di Bali. Saya minta ke Kadis Kebudayaan agar kalau bisa keyboard ini diberikan semua ke SMA/SMK, SMP, SD, keren sekali ini,” imbuhnya.
Bulan Bahasa Bali tak hanya ruang untuk mengasah kemampuan berbahasa dan menulis aksara Bali, namun juga sebagai media regenerasi. Buktinya, anak-anak dari SD sampai perguruan tinggi ikut berpartisipasi. Lihat saja, yang nyurat lontar tidak hanya penglingsir, tapi anak-anak muda. “Sebagai orang tua, tityang ingin sekali generasi kita fasih menulis aksara Bali, supaya seperti di China, Jepang dan Korea, di mana mereka sangat taat menggunakan aksaranya,” harapnya.
Pada acara penutupan Bulan Bahasa Bali VIII itu, sekaligus menetapkan tema Bulan Bahasa Bali tahun 2027 yang akan mengangkat tema “Wana Kerthi, Gemuh Landuh Sarwa Tumuwuh”. “Saya minta Kadis Kebudayaan dan para ahli untuk merumuskan, sehingga materinya lebih kaya, lebih inovatif dan kreatif,” pintanya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























