SELAMA pelaksanaan Bulan Bahasa Bali, Februari 2026, Penata Layanan Operasional (Penyuluh Bahasa Bali) Dinas Kebudayaan Provinsi Bali berhasil melakukan konservasi dan digitalisasi terhadap 486 cakep lontar di seluruh Bali. Dari jumlah lontar sebanyak itu terdapat sejumlah lontar yang tergolong unik, misalnya lontar dengan usia yang sangat lama.
Data Penyuluh Bahasa Bali menyebutkan konservasi lontar terbanyak dilakukan di Gianyar, yakni sebanyak 176 cakep lontar, lalu di Klungkung sebanyak 127 lontar, Badung 65, Jembrana 28, Tabanan 25, Karangasem 24, Buleleng 20, Denpasar 11, dan Bangli sebanyak 10 cakep lontar.
Lontar dengan usia sangat tua ditemukan di Geria Kutuh Kawanan, Banjar Dinas Sangging, Desa Kamasan, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Lontar tersebut milik Keluarga Besar Geria Kutuh Kamasan.

Di geria itu Penyuluh Bahasa Bali menemukan lontar yang paling tua dari tahun 1615 Saka (1693 Masehi) berjudul Bhagawan Kamandaka, tentang ilmu kepemimpinan. Meski lontar itu tergolong tua, tetapi tulisannya masih sangat jelas dan bisa dibaca.
“Dari sebanyak 200-an lontar yang ada, kami baru berhasil melakukan konservasi saja, belum sampai pada tahap identifikasi. Itu pun baru bisa kami lakukan sebanyak 100 lontar. Sisanya, akan dicarikan waktu lain untuk dapat melakukan konservasi, sekaligus identifikasi,” kata Ida Bagus Ari Wijaya, salah satu staf di Dinas Kebudayaan Bali yang menangani konservasi lontar pada Bulan Bahasa Bali 2026 ini.
Di Kabupaten Badung, tepatnya di Gria Suksuk, Banjar Lambing, Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Penyuluh Bahasa Bali juga menekukan lontar dengan usia yang cukup tua. Lontar tersebut milik Ida Pedanda Istri Rai bersama Ida Pedanda Istri Oka yang merupakan warisan dari leluhurnya.

Di geria itu ditemukan lontar yang ditulis oleh Ida Pedanda Wayahan Mambal sekitar tahun Saka 1870. Penyuluh Bahasa Bali juga menemukan lontar merupakan hasil salinan Lontar Sutasoma tahun 1855 yang disurat oleh Ida Bagus Rai Banjar Kraman Abiansemal. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























