PERCAYA atau tidak, agenda malajah sambil maplalianan (belajar sambal bermain) di ajang Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 menjadi favorit bagi anak-anak setingkat TK dan SD. Setiap maplalianan ini digelar, anak-anak yang terlibat tampak ceria dan berhasil memancing kreativitas mereka.
Lihat saja pada kegiatan malajah sambil maplalianan pada, Kamis 26 Pebruari 2026. Ruang ramah anak yang berada Wantilan Taman Budaya Denpasar itu tampak cerah, secerah senyum anak-anak pagi itu.
Saat itu, giliran Gus Bao dari Kelompok Pendongeng Gerhana yang memandu kegiatan dunia anak-anak itu. Ia menyajikan satua berjudul “Umah Ipian I Bojog”, yang diambil dari tulisan Made Taro. Meski itu sebuah satua Bali, namun Gus Bao mengkemas cerita itu menjadi pertunjukan satua Bali dibalut dengan maplalianan “ngengkebang batu” (menyembunyikan batu). “Saya memadukan cerita dengan permainan agar anak-anak tertarik,” kata Gus Bao.
Satua itu mencerikan I Bojog yang tidak memiliki rumah, sehingga ingin membangun rumah untuk tempat tinggalnya. Namun, keinginan itu terus tertunda karena ia sibuk mencari makanan, maplayanan, magending dan kesenangan lainnya. Ia selalu tidak memiliki waktu untuk membangun rumah, tetapi selalu banyak memiliki waktu untuk bermain. Berbeda pada malam harinya, I Bojog selalu bermimpi telah menyelesaikan rumahnya.

Dalam mimpi itu, rumah I Bojog sangat bagus, kokoh, dan kuat yang selalu ada di dalam mimpinya saja. Dalam mimpi itu, rumahnya selesai dibangun dengan cepat dan tepat. Namun, berbeda dalam kenyataannya, rumah I Bojog itu tidak pernah jadi. Artinya, ia tidak menyelesaikan bangunan apapun.
Keesokan harinya juga begitu. Sebelum membangun rumah, I Bojog kembali maplalianan Ngengkebang Batu sambil bernyanyi Sijang-sijang. Mereka terlena dengan permainan itu, sehingga tak terasa hari sudah sore. I Bojog lupa membangun rumahya. Kejadian seperti itu terus berulang-ulang, sehingga rumah dikenyataannya tidak pernah ada. Sedangan di dalam mimpinya, rumah itu selesai. “Karena itulah satua itu berjudul “Umah Ipian I Bojog”, Rumah Impian Para Monyet,” ucapnya.
Menariknya, anak-anak yang mendengarkan satua itu tidak mengantuk, tidak bercanda ataupun ngobrol bersama teman-temanya. Mereka telihat fokus, bahkan tampak ceria dan selalu agresip menjawab pertanyaan yang diberikan Gus Bao sebagai pencerita. Sebab, ia memberikan satua yang tak hanya mudah dikenali, tetapi dibalut dengan belajar magending dan maplayanan. “Saya sengaja mengkemas satua itu dengan menyanyi dan bermain, sehingga mereka tertarik dan senang,” kata Gus Bao serius.
Di awal kegiatan, anak-anak memang tampak malu malu. Namun, Gus Bao memiliki strategi menarik. Anak-anak yang mendengarkan satua itu, dilibatkan sebagai pemain. Artinya, tokoh di dalam satua itu diperankan langsung oleh anak-anak. Suasana pun menjadi lebih atraktif. Anak-anak yang mulanya diam, kini lebih kreatif. Mereka beromba-lomba mengacungkan tangan agar dipilih sebagai salah satu peran. Semua memerankan tokoh bojog, mengeluarkan suara bojog dengan berbagai karakter.
Anak-anak yang sudah terpikat itu tak hanya menyulap ruangan malajah sambal maplalianan menjadi rumah bojog, tetapi mereka juga mengeluarkamn ide ide kreatif. Hal tersebut ditunjukan ketika pencerita menanyakan jenis makanan bojok, posisi bojog tidur dan lainnya. Anak-anak yang bias menjawab pertanyaan diberikan hadiah, sehingga membuat anak-anak menjadi lebih bersemagat “Ini sebagai pembelajaran mengenal nama-nama buah, termasuk buah local,” papar pria kalem ini.
Pada saat adegan I Bojok akan membangun rumah, semua bojog diajak bermain, yaitu maplalianan Ngengkebang Batu sambal menyanyikan lagu berjudul Sijang-sijang. Bermain sambal menyanyi itu, membuat anak-anak lebih berkonsentrasi. “Permainan ini untuk membuat anak-anak lebih fokus, dan membangkitkan intuisi anak. Sebab, anak yang lain bakal menebak batu yang disembunyikan oleh pemain sebelumnya,” jelasnya.

Gus Bao mengatakan, pesan yang disampaikan tidak secara langsung, tetapi di dalam alur cerita itu anak-anak diajak mencari pesan cerita itu. Hal itu dapat diuji melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya kepada peserta. “Bojog itu akhirnya tidak memiliki rumah karena terus menunda dengan kesibukannya maplalinan. Makanya, anak-anak jangan terlena dengan kesenangan saja, tetapi lupa dengan tugas,” pesannya.
Gus Bao kemudian mengajak anak-anak maplalianan Ciwa. Permainan ini mirip conglak ala Bali yang memakai papan yang bentuknya mirip dengan congklak, tetapi aturan mainnya sedikit beda. Secara umum permainan ini hampir sama yakni memindah batu ke lobang-lobang itu. Ciwa itu dibuat dengan memakai botol bekas, dan batu itu diganti dengan kacang tanah.
“Dalam maplalianan Ciwa itu, tentu bagus sebagai pembelajaran berhitung Bali. Permainan itu diisi dengan memindahkan batu. Lalu, mereka menghitung dengan bahasa Bali, maka di sini ada kegiatan belajar Bahasa Bali,” imbuh Gus Bao. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























