6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
February 24, 2026
in Esai
Setiti Bali, Awal Organisasi Modern di Bali dari Era Kolonial

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938

Di Bali ada banyak komunitas, ikatan, atau organisasi tradisional.  Antropolog Clifford Geertz terpesona melihat orang Bali terpaut dalam begitu banyak kelompok atau ikatan atau organisasi tradisional seperti ikatan dadia (warga), banjar, dan seka. Ikatan atau seka ini kadang solid kadang juga renggang dengan struktur longgar.

Seka dibentuk sesuai dengan kepentingan anggotanya, diberikan nama sesuai aktivitasnya. Contohnya banyak seperti sekaa manyi (kelompok orang yang anggotanya menerima pekerjaan panen), subak (oranisasi petani berbasis irigasi), seka tuak (komunitas hobi minum tuak), seka semal (penangkap tupai), seka gong (kelompok gamelan), dan banyak lagi.

Sementara seka tradisional berkembang terus, organisasi modern yang belakangan juga disebut dengan organisasi massa (ormas) mulai muncul. Sejak kapankah Bali mulai mengenal ormas? Mengapa dibentuk? Apakah kegiatannya?

Ormas pertama yang muncul di Bali adalah Setiti Bali (Hidup Bali), tahun 1917. Michel Picard (1999) menyebutkan Setiti Bali sebagai ‘organisasi modern’, bolehlah disingkat ormon. Istilah ormon dipakai untuk membedakan dengan organisasi tradisional seperti sekaa-sekaa yang tentu sudah ada sebelum 1917.

Setiti Bali dibentuk dan dipimpin oleh I Gusti Cakra Tenaya, punggawa (Camat) Sukasada, Buleleng. Menurut Picard, Setiti Bali dibentuk untuk mengkonter Sarekat Islam yang mendirikan cabang di Singaraja.

Setiti Bali bubar tahun 1920, dilanjutkan ormon baru Suita Gama Tirta, dipimpin I Gusti Putu Jlantik, keturunan Raja Buleleng dan anggota Raad van Kerta Singaraja.  Lalu, tahun 1923 muncul organisasi Santi (Santy), didirikan bersama oleh Gusti Putu Jlantik, Cakra Tenaya, dan Ktut Nasa. Nama terakhir adalah seorang guru dari Bubunan, Buleleng.

Kehebatan Santi

Prestasi Santi cukup hebat, terbukti ormon ini berhasil mendirikan sekolah perempuan. Saat itu, jumlah perempuan bersekolah amat sedikit. Kehadiran sekolah perempuan Santi, mendorong remaja putri bersekolah.

Selain sekolah, Santi juga memberikan kursus gamelan dan latihan baca lontar dalam rangka memperdalam ajaran Hindu.

Prestasi luar biasa Santi adalah keberhasilannya menerbitkan kalawarta Santi Adnyana, koran pertama di Bali. Dari koran ini muncul penulis/jurnalis yang kelak berkiprah di media massa berikutnya.

Foto repro Majalah Djatajoe, No. 7, 25 Februari 1938

Organisasi Santi pecah karena tokoh-tokohnya berbeda pendapat dalam berbagai hal termasuk status kasta (jaba vs triwangsa).  Ktut Nasa, seorang jaba, keluar lalu menerbitkan koran Surya Kanta di bawah organisasi bernama sama Surya Kanta, dominan anggotanya kaum jaba. Sementara itu, I Gusti Cakra Tenaya menerbitkan koran Bali Adnyana, seolah sorong triwangsa. Polemik soal agama dan kasta berlangsung di kedua koran tersebut. Seru!!

Kedua koran ini hidup antara tahun 1924-1929. Yang menonjol dalam era lima tahun itu, bukanlah organisasinya, tetapi korannya. Pemerintah kolonial Belanda tidak khawatir dengan perselisihan pendapat yang sangat tajam di antara kedua kubu karena dapat menganggu stabilitas.

Bulan Mei 1926, pemerintah kolonial mensponsori berdirinya ormon yaitu Catur Wangsa Derya Gama Hindu Bali, sesuai namanya untuk semua wangsa dan menyatukan kelompok bertikai. Ketuanya adalah I Gusti Bagus Djelantik, Raja Karangasem, wakilnya adalah Cokorda Gde Raka Sukawati, punggawa Ubud, sedangkan IG Cakra Tenaya menjadi representatif Buleleng.

Organisasi Pelajar

Tahun 1920-an, murid Bali yang bersekolah di rantau Jawa juga membentuk organisasi pelajar yang disebut HUDVO (entah apa singkatannya, ‘O’-nya ‘onderwijs’). Saat liburan, anggota HUDVO pulang ke Bali menggelar pentas drama/tonil/ stambul di Singaraja dan Denpasar untuk menggali dana beasiswa agar lebih banyak lagi anak Bali bisa bersekolah ke Jawa. Tonil mereka pentas dalam bahasa Belanda atau Melayu atau Bali, tergantung penontonnya.

Tahun 1930-an, pelajar Bali membentuk organisasi Bali Dharma Laksana (BDL), yang kemudian menerbitkan majalah Djatajoe. Cabang BDL juga terbentuk di Yogya, anggotanya antara lain adalah I Gusti Made Djelantik (kemudian menjadi dokter dan kritikus seni) dan I Gusti Ngurah Rai (kemudian pahwalan revolusi). Selain menerbitkan majalah, ormon ini juga mendorong remaja untuk sekolah dan melakukan gerakan pemberantasan buta huruf (PBH).

Tahun 1938, anggota BDL mencapai 505 orang (di Bali dan Jawa), wajib berlangganan Djatajoe. Majalah kebudayaan berbahasa Indonesia ini menjadi wadah komunikasi bagi kaum intelektual waktu itu, para anggota BDL yang suka menulis.

Kalangan remaja putri Bali tak mau ketinggalan. Mereka juga membentuk ormon yang diberi nama Puteri Bali Sadar (PBS). Para pengurus PBS juga banyak yang menjadi anggota BDL, seperti suami/pacar mereka. Dengan mendirikan PBS, mereka bisa lebih fokus membantu nasib kaumnya lewat gerakan PBH.

Ketua PBS I Gusti Ayu Rapeg (istri IGP Merta anggota BDL), lewat tulisannya di Djatajoe mendesak pemerintah Belanda untuk mengeluarkan undang-undang perkawinan agar lelaki Bali tidak sekehendak hati berpoligami.

Ada banyak lagi organisasi modern yang dibentuk dan diikuti oleh kaum terdidik Bali. Tujuannya sebagian besar untuk memajukan pendidikan. Untuk mencapai tujuan itu, mereka aktif menggali dana, lewat jual majalah atau pentas seni.

Ormon Seni

Selain organisasi modern, di Bali juag banyak organisasi seni, seperti Pitamaha yang dibentuk oleh Cokorda Gde Agung Sukawati bersama Walter Spies (Jerman) dan Rudolf Bonnet (Belanda) tahun 1936. Pitamaha antara lain bertujuan memajukan seni rupa Bali. Sesudah kemerdekaan, Cok Sukawati mendirikan Museum Puri Lukisan untuk mewujudkan cita-cita Pitamaha.

Spirit nasionalisme di kalangan pemuda Bali waktu itu masih bersifat kedaerahan atau etnonasionalisme. Spirit nasionalisme yang sesungguhnya baru tampak pada perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Tahun 1950 merupakan tonggak penting kehidupan organisasi modern di Bali. Tanggal 14-17 April 1950, organisasi-organisasi pemuda di Bali menggelar Kongres Pemuda se-Bali di Denpasar. Seperti dilaporkan majalah Merdeka (No. 70, 20 Mei 1950, hlm. 7), delegasi kongres sepakat membentuk Kesatuan Pemuda Nasional Indonesia, yang memperjuangkan persatuan Indonesia sesuai dengan cita-cita UUD 1945 (Lihat ‘Kongres Pertama Pemuda Bali 1950, Seruan Kembali ke NKRI’, Bali Post, Minggu, 20 Maret 2016, p. 4).

Kehadiran organisasi pemuda atau ormas memang ditentukan oleh situasi kondisi saat dibentuk. Dewasa ini, banyak intelektual yang membentuk ormas untuk menjalankan cita-cita mereka, namun kadang citranya terlanjur tampak pragmatis, sampai rela berkelahi bahkan membunuh sesama warga Bali.

Meski ormas-ormas yang ada juga melakukan kegiatan sosial, citra yang lebih menonjol pada mereka adalah kekerasan daripada kegiatan sosialnya. Dalam situasi demikian, rasanya perlu kita bercermin dari ormon di Bali yang ada pada zaman kolonial yang berjuang memajukan pendidikan dengan tulus (I Nyoman Darma Putra). [T]

  • Versi awal tulisan ini dimuat di Bali Post, Minggu, 20 Maret 2016, p. 4, pendamping tulisan Dr. Suryadi berjudul “Kongres Pertama Pemuda Bali 1950: Seruan Kembali ke NKRI”

Penulis: Nyoman Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bali Adnjanaintelektualkolonialorganisasiorganisasi modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

Next Post

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Juri Hadiah Sastera Rancage untuk Bali sejak 2000. Dia adalah dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Bukunya yang berkaitan dengan sastra Bali modern adalah Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2010). Sejak 2011, dia menjadi pemimpin redaksi Jurnal Kajian Bali, awalnya teakreditasi Sinta-2, sejak 2024 terindeks Scopus Q1, dan kemudian Sinta-1.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

Penyuluh Bahasa Bali Temukan Saduran Lontar Sutasoma Tahun 1855 di Gria Suksuk Sibangkaja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co