6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-ogoh: Narasi dan Akal Imitasi

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
February 17, 2026
in Esai
Ogoh-ogoh: Narasi dan Akal Imitasi

Ilustrasi diolah tatkala.co | Sumber foto: dari berbagai sumber di internet

Kira-kira sebulan lagi hari Pangrupukan akan tiba. Tidak mengherankan kita bisa mengamati mayoritas balai banjar pada malam hari menjadi lebih sibuk dari biasanya karena aktivitas para pemuda dalam mempersiapkan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh ini menjadi “gong” dari malam Pangrupukan. Ogoh-ogoh (lebih-lebih yang dibuat untuk diperlombakan terlebih dahulu), dari yang saya lihat dibangun atas konsep bentuk (badan) dan cerita (nyawa). Konsep bentuk berupa gambaran badan fisik. Estetika dan imajinasi untuk memvisualisasikan wujud bermain di sini. Namun, di balik itu ogoh-ogoh juga punya sukma yang diwujudkan dari narasi yang menghidupi badan fisik.  

***

Sejak akhir tahun kemarin, ada sejumlah rekan yang meminta tolong untuk memeriksa narasi ogoh-ogoh banjar mereka. Memeriksa yang dimaksud terkait dengan alur, atau kesesuaian dengan sumber cerita berdasarkan teks sastra yang ada. Saya senang hati membacanya, dengan harapan saya bisa menambah inventaris cerita untuk diri sendiri, sekaligus bisa menjadi momen saya belajar lebih banyak mana kala ada yang meminta tolong menelusuri sumber cerita yang mereka garap. Ketika harus mencari sumber cerita, otomatis saya dituntut untuk membuka kembali lembaran-lembaran cerita, wiracarita maupun sumber relevan lain. Umumnya mereka banyak mendengar cerita dari sumber lisan, sehingga perlu bantuan mencari sumber tertulisnya. Saya yang merupakan lulusan Sastra dianggap mampu membantu mereka.

Hasilnya, ketika saya dikirimkan draf narasi ogoh-ogoh, belakangan saya cukup mengerutkan dahi. Saya jelas-jelas membaca cerita yang terkilir. Terkilir yang saya maksud adalah saya tidak mampu melacak urat-urat yang bisa dipakai menemukan sumber ceritanya. Cerita yang disodorkan pada saya tampak memiliki gaya tulis yang tidak asing, gaya “sesosok” kawan yang robotik, bombastis tetapi hampa. Saya pun mencoba mengklarifikasi prasangka buruk saya.

“Hasil AI ya?”

Tidak banyak mengelak dan bersilat lidah, mereka mengakuinya. Narasi yang diberikan kepada saya adalah hasil AI (Artificial Intellegent/Akal Imitasi). Kecerdasan buatan ini rupanya dimanfaatkan pula membuat cerita untuk ogoh-ogoh. Kalau permasalahan membuat ogoh-ogoh agar memiliki visual baik secara fisik, secara jujur saya harus izin balik kanan. Namun, ketika berbicara dari segi narasi sastranya, mungkin saya boleh nimbrung berpendapat. 

Saya tidak sedang dalam posisi menghakimi pencipta narasi ogoh-ogoh yang bermodalkan AI. Menggunakan sarana apapun dalam membuat narasi ini adalah sah-sah saja dalam rambu-rambu dan etik tertentu. Saya juga tidak menempatkan diri sebagai yang paling benar soal cerita. Konon tidak ada cerita yang benar-benar benar di dalam kesemestaan ide manusia. Filsuf seperti Lyotard kurang lebih juga menyampaikan hal tersebut.

Narasi Kilat, Literasi Sekarat

Narasi cerita ogoh-ogoh, kalau dipetakan secara umum ada yang mengambil dari epos/wiracarita, foklor khas daerah, sastra-tutur, gambaran ilmu hitam, makhluk halus atau bhuta kala, maupun kritik sosial terkini. Sumbernya kurang lebih disarikan dari karya sastra Bali dan Jawa Kuno. Permasalahan bagi saya adalah ketika narasi-narasi buatan AI mengutip sumber kanon kesusastraan Bali dan Jawa Kuno, namun mendistorsikannya. Jelaslah secara etik hal ini perlu kita renungkan bersama.

Saya tampilkan sebuah contoh narasi ogoh-ogoh buatan AI sebagai berikut.

“Detya Kala Mayasura berdasarkan Kakawin Ramayana adalah putra yang mewarisi darah api Rahwana, ia bukanlah sekadar mesin pembunuh di medan laga; ia adalah Aparajita—sang arsitek tipu muslihat yang mampu mengubah kenyataan menjadi ilusi, dan kehampaan menjadi jebakan mematikan. Dalam tubuh raksasanya yang kokoh, bersemayam kecerdasan purba yang digunakan untuk membentengi angkara murka sang ayahanda dengan dinding-dinding sihir yang tak tertembus nalar manusia biasa. Ketika barisan kera pimpinan Sugriwa mengepung gerbang emas, Mayasura tidak menyambutnya dengan teriakan kosong, melainkan dengan labirin bayangan yang menyesatkan sukma para ksatria. Ia adalah personifikasi dari sisi gelap intelegensia—sebuah peringatan bahwa kecerdasan tanpa tuntunan Dharma hanya akan melahirkan monster yang memerangkap dirinya sendiri dalam kreasi sihirnya.”

Konon menurut AI cerita ini berasal dari Kakawin Ramayana. Konon. Namun sependek saya membaca kakawin indah tersebut, segmen cerita ini tidak pernah saya temukan. Tentu saja tidak masalah menciptakan sebuah versi cerita yang merupakan interpretasi, dekonstruksi, atau spin-off dari sebuah batang pokok cerita kanon kesusastraan Bali dan Jawa Kuno*. Keduanya umum kita temukan, sering disebut nyarang atau cerita versi kawi dalang. Ketika dua versi ini digunakan, agaknya kita perlu bertanggungjawab menyebut sumbernya adalah hasil rekaan. Tidak seperti cerita di atas yang meng-generate bebas sebuah cerita seolah-olah berasal dari sumber yang valid. Beberapa narasi yang sempat masuk ke pesan pribadi saya, 11-12 dengan contoh di atas.

Sebagai pembanding dengan narasi AI, contoh lainnya adalah sejumlah cerita yang dikembangkan dalang beken dibuat ogoh-ogoh, lalu oleh pembuat ogoh-ogoh mengiranya berasal dari Kakawin Ramayana. Kenyataannya, dalangnya sendiri pun jika ditanya menyebut kisah itu adalah hasil nyarang, hasil kontemplasi kreatif dalang yang dipantik dari Kakawin Ramayana. Jadi itu bukan cerita yang benar-benar tertulis di Kakawin Ramayana. Kalau Kakawin Ramayana dibedah sampai bertahun-tahun pun kisah ala dalang itu tidak mungkin ditemukan.

Ketika AI menyatakan “berdasarkan Kakawin Ramayana…”, ia sedang menggunakan otoritasnya untuk mewujudkan fakta palsu. Bagi sebagian pihak, pernyataan mesin ini bisa dianggap sebagai kebenaran instan. Jika ini dibiarkan, kita akan mewarisi mitologi baru hasil garis kode pemrograman. Hal ini akan berbeda dengan kebiasaan nyarang. Di sana ada tanggung jawab kreatif. Seorang dalang yang mereka cerita mengakuinya sebagai pengembangan atau kreasi. AI, di sisi lain seringkali “berbohong” tanpa merasa bersalah karena ia tidak memiliki kesadaran moral atas orisinalitas itu. AI tidak nyarang, ia hanya mencampur (blending) tanpa konteks.

AI tidak seperti manusia yang jika diajak berdiskusi cerita khusus akan menyatakan tidak tahu untuk tidak tahu, atau menyatakan perlu waktu untuk belajar jika belum menemukannya. AI akan menciptakan apapun yang diminta pengetik prompt, tidak peduli salah atau benar (sudah didahului disclaimer: “AI dapat melakukan kesalahan”, entah kita peduli atau tidak). Ketika diminta membuat narasi Detya Mayasura dari sumber Kakawin Ramayana, maka terciptalah narasi itu dalam hitungan detik. Tidak perlu repot menunggu orang yang paham untuk membuka buku, atau berusaha mengingat cerita yang mungkin sedang terpendam dalam pikirannya. Kenyataannya? Narasi AI itu secara faktual tidak pernah ada dalam rujukan Kakawin Ramayana.

Narasi yang diproses oleh AI memperlihatkan adanya jurang yang menganga antara kecepatan pemrosesan data AI dengan kedalaman pengendapan batin seorang kreator. Penggunaan AI untuk menyusun narasi ogoh-ogoh memang memicu pro-kontra, terutama ketika algoritmanya mulai menyenggol ranah sastra klasik dan folklor kedaerahan. Masalah mendasar dari narasi yang dihasilkan AI adalah sifatnya yang sekadar melakukan probabilitas statistik, bukan pemahaman maknawi. AI hanya merangkai kata berdasarkan frekuensi kemunculan data di internet, sehingga perlu dibedah lagi pemahaman atas tatwa dan satua yang menjadi nyawa sebuah ogoh-ogoh itu. Seringkali terjadi kekeliruan saat AI melakukan halusinasi digital dengan menyatakan sumber-sumber dari kutipan lontar, kakawin dan sejenisnya yang tidak pernah ada.

Lebih jauh lagi, kegagalan AI dalam menyajikan sumber sastra yang akurat berisiko melahirkan “kebenaran semu” yang justru menyesatkan. Ketika sebuah narasi ogoh-ogoh disusun tanpa pembacaan dan penghayatan terhadap naskah asli dan hanya mengandalkan prompt instan, kita sebenarnya sedang kehilangan jejak literasi**. Satu pegangan yang sebenarnya wajib terus dipelihara dan dilestarikan. Sayang sekali setumpuk cerita sastra dan lontar (yang sekarang sudah ada banyak alih aksara bahkan terjemahannya) disingkirkan oleh ketikan prompt yang kurang dari satu menit dapat menciptakan narasi tanpa harus menimbang dan berpikir panjang. Jika narasi yang menjadi roh dari ogoh-ogoh itu sendiri lahir dari proses generatif yang instan dan tidak faktual, maka apakah ogoh-ogoh masih mampu disebut mencerminkan identitas kebudayaan Bali atau malah mencerminkan kebudayaan mesin? Mengajegkan kebudayaan itu secara tidak langsung menuntut kita untuk belajar kearifan sastra.

Narasi Ogoh-ogoh adalah Milik Manusia

Sastra adalah sebuah aliran pemikiran yang dinamis. Pemikiran dan pemaknaan satu generasi dengan generasi lain terhadap sebuah karya sastra bisa berubah. Rawana pada masa lampau selalu diwujudkan sebagai antagonis utama, belakangan mulai banyak yang membicarakan versi lain bahwa Rawana adalah seorang berjiwa kesatria dan tauladan cinta sejati. Apapun narasinya, bagaimanapun sudut pandang pemakna, semua adalah sebuah fenomena yang patut dirayakan. Dalam koridor ini, sebaiknya narasi dan sudut pandang adalah milik manusia, bukan milik AI.

Sastra klasik Bali dan Jawa Kuno ketika digunakan sebagai narasi ogoh-ogoh, memiliki struktur, fungsi, makna dan rasa yang sangat halus dan spesifik. Elemen-elemen ini yang sering kali gagal ditangkap oleh AI yang cenderung tidak memiliki gambaran khusus untuk karya Bali dan Jawa Kuno. Kadang terlalu umum, kadang juga terlalu berorientasi pada pemahaman Barat dan mengesampingkan kearifan lokal kita. Ketergantungan pada narasi buatan mesin ini perlahan bisa mengikis kemampuan kritis dan imajinatif para pemuda untuk menggali kearifan lokal dari sumber aslinya, yakni para tetua dan naskah-naskah sastra.

Akal Imitasi seyogianya adalah alat bantu (tool), bukan sumber valid kitab dan lontar, bukan juga pengganti nalar. Kita dapat menggunakan AI untuk memperhalus diksi atau mengoreksi tata bahasa dari draf yang sedang dirancang. Di belakangnya, substansi narasi harus tetap menjadi hasil endapan diskusi intelektual dan spiritual kita sendiri, maupun bersama tetua, bersama penekun sastra, atau bersama sastra itu sendiri. Bernalar dan membaca ulang merupakan tindakan yang perlu kita galakkan untuk menjaga identitas kita di tengah era disrupsi ini. Apabila narasi ogoh-ogoh nantinya berpangku tangan pada AI, pelan-pelan kita harus siap-siap berpamitan dengan warisan tekstual kita yang kaya karena kita enggan untuk mulai belajar.

Semoga kita bisa merayakan hari Pangrupukan nanti sebagai kemenangan Akal Budi atas Akal Imitasi. Semoga ogoh-ogoh yang diarak saat itu secara fisik mampu memanjakan mata sekaligus dirasuki badan tekstual yang sehat, jujur, dan berwibawa secara sastra.

Catatan.

* Untuk kepentingan lomba, sebaiknya ikuti ketentuan yang berlaku.

** Ada pula permasalahan yang timbul ketika sketsa, bahkan kerangka ogoh-ogoh sudah jadi, namun belum memiliki narasi yang sesuai. AI sering dimainkan untuk bisa segera mencocok-cocokkan narasi dengan fisik ogoh-ogoh yang sudah kadung dikerjakan. Keadaan seperti ini biasanya lebih sulit untuk diatasi. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIHari Raya Nyepiogoh-ogohTawur Agung Nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ramadhan: Madarasah Tazkiyatun Nafs yang Terlupa?

Next Post

Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co