MENCERMATI perkembangan pariwisata suatu negara tidak cukup hanya melihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun mobilitas pergerakan wisatawan domestik. Tak cukup dari seberapa besar pendapatan yang diperoleh negara. Pariwisata sebagai sebuah industri, juga mencakup perilaku dan motivasi wisatawannya.
Karena itulah, tren pariwisata setiap tahun akan berubah di berbagai negara seiring dengan perubahan perilaku dan motivasi wisatawan. Perubahan tren itu selayaknya disikapi oleh industri pariwisata untuk merancang strategi pengembangan agar tetap mampu bertahan di tengah persaingan.
Perkembangan pariwisata global menunjukkan pergeseran tren pariwisata menuju pengalaman autentik, berkelanjutan, dan berbasis teknologi. Generasi Milenial dan Gen Z sebagai wisatawan digital-native mendorong munculnya tren pariwisata baru seperti eco-tourism, wellness tourism, sport tourism, dan Meeting Incentive Convention and Exhibition (MICE).
Teknologi seperti AI (Artificial Intelligence), IoT (Internet of Things), dan AR/VR (Augmented Reality/Virtual Reality) turut menjadi penggerak utama dalam menciptakan perjalanan yang personal, efisien, dan imersif, sekaligus menempatkan wisatawan sebagai pusat ekosistem digital pariwisata. Hal ini terungkap dalam Siaran Pers Kementerian Pariwisata Indonesia (kemenpar.go.id, 4/12/2025).
Selanjutnya disebutkan dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, pemetaan tren pariwisata Indonesia pada 2026 dianalisis dari berbagai metode yang komprehensif dan berlapis. Baik wisatawan nusantara maupun mancanegara memiliki preferensi terhadap jenis wisata yang serupa, namun dengan urutan prioritas yang berbeda. Enam tren pariwisata yang unggul di kedua segmen adalah: Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, Nature and Adventure-Based Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, Wellness Tourism, dan Bleisure.
Kedua segmen wisatawan ini dipertemukan dengan fokus perjalanan yang lebih bermakna dan autentik. Wisatawan mancanegara cenderung menempatkan Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, dan Nature-Based Adventure sebagai prioritas utama. Hal ini mencerminkan pencarian makna, koneksi lintas budaya, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.
Sedangkan wisatawan domestik mengutamakan Culinary and Gastronomy Tourism dan Cultural Immersion yang menunjukkan orientasi pada relaksasi, eksplorasi rasa, dan kenyamanan di dalam negeri sendiri. Keduanya memiliki orientasi pada eksplorasi dan merasakan pengalaman secara langsung.
Jika tren pariwisata 2026 ini benar-benar terwujud, maka industri pariwisata harus menyikapi dengan memberikan produk dan layanan wisata dengan baik. Isu keberlanjutan yang selama ini menjadi fokus perbincangan wisatawan harus ditunjang dengan kebijakan pemerintah dan komitmen pengusaha pariwisata untuk menjaga lingkungan.
Dari beberapa tren yang diprediksi tersebut, tampaknya wisatawan mancanegara dan nusantara sama-sama mengharapkan pengalaman yang autentik dan mendalam di destinasi wisata. Artinya, wisatawan tidak lagi berburu destinasi wisata yang populer jika tidak mendapatkan kenyamanan berwisata. Begitu pula lama tinggal di destinasi tidak lagi menjadi prioritas dalam berwisata, namun lebih pada perjalanan yang mengesankan; meski sebentar dan hanya sendirian.
Fenomena Pemandu Wisata Freelance
Pengalaman yang mendalam saat wisatawan melakukan perjalanan tidak dapat terpenuhi bila harus berlama-lama di suatu destinasi atau berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain dalam waktu yang panjang. Hal ini mendorong munculnya tren slow travel dan solo travel dari wisatawan. Liburan singkat namun berkualitas menjadi lebih penting ketimbang lama namun membosankan.
Berwisata secara mengesankan juga tidak harus bersama rombongan. Tren solo travel mengarah pada berwisata seorang diri untuk mendapat pengalaman lebih mendalam. Tren ini membuat agen atau biro perjalanan tidak begitu penting bagi wisatawan. Andai pun perlu pendamping, wisatawan akan mencari pemandu wisata freelance yang memiliki waktu panjang untuk menemaninya.
Apalagi bagi wisatawan dari Gen Z, perjalanan wisata tidak perlu direncanakan jauh hari. Sudden travel menjadi tren baru dalam berwisata. Mereka akan berwisata tergantung mood. Bisa saja tiba-tiba mereka memutuskan untuk berlibur ke Bali tanpa perencanaan yang matang. Sepanjang ada waktu luang dan dana yang cukup, maka mereka segera berwisata.
Tren wisatawan Gen Z ini ditangkap dengan cerdas oleh seorang pemandu freelance perempuan asal Jembrana, Bali. Sebagai penduduk lokal Bali ia menawarkan jasa pemandu wisata lepas bagi wisatawan domestik. Dengan logat Bali yang kental ia berselancar di dunia maya melalui akun Instagram @sitihajarhumairoh. Saat tulisan ini dibuat, ia telah mengunggah 716 postingan feed IGdengan jumlah pengikut sebanyak 59,5 ribu orang.
Sepertinya gayung bersambut. Wanita muda yang dipanggil dengan nama Siti ini kebanjiran pesanan memandu perjalanan wisata. Tarifnya pun relatif murah, hanya 500 ribu rupiah per hari. Tarif itu sudah termasuk kendaraan sepeda motor, BBM, dan parkir. Sedangkan biaya masuk objek wisata dan makan ditanggung wisatawan.
Siti tidak mematok batas waktu memandu. Prinsipnya ia siap mengantar wisatawan domestik ke mana pun di Bali sampai capai. Jika wisatawan menggunakan mobil sendiri, ia pun bersedia jika hanya memandu saja dengan tarif menyesuaikan alias berdamai. Tidak tertutup kemungkinan jasa semacam ini akan diburu wisatawan Gen Z karena merasa nyaman dipandu oleh sesama Gen Z.
Dari unggahan feed di Instagramnya, sebagian besar wisatawan yang dipandu memang Gen Z. Sikap Siti yang ramah, humoris, dan profesional berhasil menggaet banyak calon pengguna jasanya. Bahkan Siti sempat memamerkan jadwal memandunya yang padat dalam sebulan. Siti adalah gambaran anak muda yang cepat dan tanggap menyikapi tren pariwisata Indonesia yang didominasi oleh Gen Z dan milineal.
Sebagian besar wisatawan nusantara yang dipandunya sesuai dengan orientasi tren 2026. Objek wisata alam banyak dicari wisatawan. Pengalaman budaya juga menjadi alasan wisatawan berkunjung ke Bali. Dan tentu saja kuliner menjadi pertimbangan bagi wisatawan. Sebagai pemandu freelance, Siti banyak memberikan rekomendasi tentang akomodasi, objek, dan kuliner yang sesuai dengan prefrensi wisatawan.
Micro Tourism: Harapan Baru bagi Daerah
Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia memang sedang tidak menggembirakan. Harga kebutuhan pokok melambung setiap hari. Namun hasrat berwisata juga tak surut seiring dengan melemahnya kemampuan ekonomi masyarakat. Berbagai upaya dilakukan agar masyarakat dapat berwisata, meski dengan keterbatasan.
Kondisi seperti itu memunculkan fenomena micro tourism, yaitu perjalanan wisata dengan skala kecil, jarak yang dekat, waktu kunjungan yang singkat, dan dengan anggaran yang secukupnya. Secara nasional fenomena ini mungkin tidak begitu tampak memberi kontribusi pada pendapatan negara. Akan tetapi micro tourism sangatlah memberi harapan baru bagi daerah di Indonesia.
Inovasi dan diversifitas produk wisata akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Persaingan antardaerah di sektor pariwisata menjadi sangat ketat. Setiap daerah akan menggali potensi wisatanya dengan mempertimbangkan autentisitas. Tren pariwisata 2026 yang ramah lingkungan dan petualangan berbasis alam yang natural akan membuat banyak objek wisata daerah diburu wisatawan.
Paling tidak, micro tourism akan memberikan tiga keuntungan bagi daerah. Pertama, secara sosial budaya akan menjadi sarana mempertahankan identitas daerah. Sudah pasti wisatawan bukan hanya menikmati pemandangan alam di daerah. Mereka juga ingin mengenal aktivitas sosial budaya masyarakat. Di sinilah momentum daerah untuk melestarikan potensi sosial budayanya lewat pariwisata.
Kedua, secara ekonomi daerah juga diuntungkan. Tidak perlu terlalu muluk-muluk berbicara manfaat ekonomi micro tourism bagi masyarakat di daerah. Pendapatan dari parkir objek wisata saja jika dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Belum lagi UMKM, baik kuliner maupun hasil kerajinan lokal akan diminati wisatawan Gen Z.
Keuntungan ketiga adalah proses pelestarian lingkungan. Secara ekologis, pariwisata memang dapat menjadi ancaman. Namun jika masyarakat setempat sepenuhnya diberi kepercayaan untuk mengelola objek wisata di daerah, maka mereka lebih memiliki sense of belonging. Sehingga masyarakat akan bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan lingkungan di objek wisata daerah.
Sesungguhnya berwisata memang untuk memenuhi kepuasan mata, hati, dan pikirian. Apalah artinya berwisata ke destinasi populer jika mata disuguhi pemandangan alam yang penuh sampah dan kemacetan lalu lintas. Apalah artinya berwisata bila hati dongkol dengan ulah pedagang makanan yang mematok harga tinggi. Berwisata adalah untuk menenangkan dan menjernikan pikiran. Dan itu bisa saja berupa objek wisata yang biasa dan dekat-dekat saja. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole


























