6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyikapi Tren Pariwisata 2026

Chusmeru by Chusmeru
February 7, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENCERMATI perkembangan pariwisata suatu negara tidak cukup hanya melihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun mobilitas pergerakan wisatawan domestik. Tak cukup dari seberapa besar pendapatan yang diperoleh negara. Pariwisata sebagai sebuah industri, juga mencakup perilaku dan motivasi wisatawannya.

Karena itulah, tren pariwisata setiap tahun akan berubah di berbagai negara seiring dengan perubahan perilaku dan motivasi wisatawan. Perubahan tren itu selayaknya disikapi oleh industri pariwisata untuk merancang strategi pengembangan agar tetap mampu bertahan di tengah persaingan.

Perkembangan pariwisata global menunjukkan pergeseran tren pariwisata menuju pengalaman autentik, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.  Generasi Milenial dan Gen Z sebagai wisatawan digital-native mendorong munculnya tren pariwisata baru seperti eco-tourism, wellness tourism, sport tourism, dan Meeting Incentive Convention and Exhibition (MICE).

Teknologi seperti AI (Artificial Intelligence), IoT (Internet of Things), dan AR/VR (Augmented Reality/Virtual Reality) turut menjadi penggerak utama dalam menciptakan perjalanan yang personal, efisien, dan imersif, sekaligus menempatkan wisatawan sebagai pusat ekosistem digital pariwisata. Hal ini terungkap dalam Siaran Pers Kementerian Pariwisata Indonesia (kemenpar.go.id, 4/12/2025).

Selanjutnya disebutkan dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, pemetaan tren pariwisata Indonesia pada 2026 dianalisis dari berbagai metode yang komprehensif dan berlapis. Baik wisatawan nusantara  maupun mancanegara memiliki preferensi terhadap jenis wisata yang serupa, namun dengan urutan prioritas yang berbeda. Enam tren pariwisata yang unggul di kedua segmen adalah: Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, Nature and Adventure-Based Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, Wellness Tourism, dan Bleisure. 

Kedua segmen wisatawan ini dipertemukan dengan fokus perjalanan yang lebih bermakna dan autentik. Wisatawan mancanegara cenderung menempatkan Cultural Immersion, Eco-Friendly Tourism, dan Nature-Based Adventure sebagai prioritas utama. Hal ini mencerminkan pencarian makna, koneksi lintas budaya, dan kepedulian terhadap keberlanjutan.

Sedangkan wisatawan domestik mengutamakan Culinary and Gastronomy Tourism dan Cultural Immersion yang menunjukkan orientasi pada relaksasi, eksplorasi rasa, dan kenyamanan di dalam negeri sendiri. Keduanya memiliki orientasi pada eksplorasi dan merasakan pengalaman secara langsung.

Jika tren pariwisata 2026 ini benar-benar terwujud, maka industri pariwisata harus menyikapi dengan memberikan produk dan layanan wisata dengan baik. Isu keberlanjutan yang selama ini menjadi fokus perbincangan wisatawan harus ditunjang dengan kebijakan pemerintah dan komitmen pengusaha pariwisata untuk menjaga lingkungan.

Dari beberapa tren yang diprediksi tersebut, tampaknya wisatawan mancanegara dan nusantara sama-sama mengharapkan pengalaman yang autentik dan mendalam di destinasi wisata. Artinya, wisatawan tidak lagi berburu destinasi wisata yang populer jika tidak mendapatkan kenyamanan berwisata. Begitu pula lama tinggal di destinasi tidak lagi menjadi prioritas dalam berwisata, namun lebih pada perjalanan yang mengesankan; meski sebentar dan hanya sendirian.

Fenomena Pemandu Wisata Freelance 

Pengalaman yang mendalam saat wisatawan melakukan perjalanan tidak dapat terpenuhi bila harus berlama-lama di suatu destinasi atau berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain dalam waktu yang panjang. Hal ini mendorong munculnya tren slow travel dan solo travel dari wisatawan. Liburan singkat namun berkualitas menjadi lebih penting ketimbang lama namun membosankan.

Berwisata secara mengesankan juga tidak harus bersama rombongan. Tren solo travel mengarah pada berwisata seorang diri untuk mendapat pengalaman lebih mendalam. Tren ini membuat agen atau biro perjalanan tidak begitu penting bagi wisatawan. Andai pun perlu pendamping, wisatawan akan mencari pemandu wisata freelance yang memiliki waktu panjang untuk menemaninya.

Apalagi bagi wisatawan dari Gen Z, perjalanan wisata tidak perlu direncanakan jauh hari. Sudden travel menjadi tren baru dalam berwisata. Mereka akan berwisata tergantung mood. Bisa saja tiba-tiba mereka memutuskan untuk berlibur ke Bali tanpa perencanaan yang matang. Sepanjang ada waktu luang dan dana yang cukup, maka mereka segera berwisata.

Tren wisatawan Gen Z ini ditangkap dengan cerdas oleh seorang pemandu freelance perempuan asal Jembrana, Bali. Sebagai penduduk lokal Bali ia menawarkan jasa pemandu wisata lepas bagi wisatawan domestik. Dengan logat Bali yang kental ia berselancar di dunia maya melalui akun Instagram @sitihajarhumairoh. Saat tulisan ini dibuat, ia telah mengunggah 716 postingan feed IGdengan jumlah pengikut sebanyak 59,5 ribu orang.

Sepertinya gayung bersambut. Wanita muda yang dipanggil dengan nama Siti ini kebanjiran pesanan memandu perjalanan wisata. Tarifnya pun relatif murah, hanya 500 ribu rupiah per hari. Tarif itu sudah termasuk kendaraan sepeda motor, BBM, dan parkir. Sedangkan biaya masuk objek wisata dan makan ditanggung wisatawan.

Siti tidak mematok batas waktu memandu. Prinsipnya ia siap mengantar wisatawan domestik ke mana pun di Bali sampai capai. Jika wisatawan menggunakan mobil sendiri, ia pun bersedia jika hanya memandu saja dengan tarif menyesuaikan alias berdamai. Tidak tertutup kemungkinan jasa semacam ini akan diburu wisatawan Gen Z karena merasa nyaman dipandu oleh sesama Gen Z.

Dari unggahan feed di Instagramnya, sebagian besar wisatawan yang dipandu memang Gen Z. Sikap Siti yang ramah, humoris, dan profesional berhasil menggaet banyak calon pengguna jasanya. Bahkan Siti sempat memamerkan jadwal memandunya yang padat dalam sebulan. Siti adalah gambaran anak muda yang cepat dan tanggap menyikapi tren pariwisata Indonesia yang didominasi oleh Gen Z dan milineal.

Sebagian besar wisatawan nusantara yang dipandunya sesuai dengan orientasi tren 2026. Objek wisata alam banyak dicari wisatawan. Pengalaman budaya juga menjadi alasan wisatawan berkunjung ke Bali. Dan tentu saja kuliner menjadi pertimbangan bagi wisatawan. Sebagai pemandu freelance, Siti banyak memberikan rekomendasi tentang akomodasi, objek, dan kuliner yang sesuai dengan prefrensi wisatawan.

Micro Tourism: Harapan Baru bagi Daerah

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia memang sedang tidak menggembirakan. Harga kebutuhan pokok melambung setiap hari. Namun hasrat berwisata juga tak surut seiring dengan melemahnya kemampuan ekonomi masyarakat. Berbagai upaya dilakukan agar masyarakat dapat berwisata, meski dengan keterbatasan.

Kondisi seperti itu memunculkan fenomena micro tourism, yaitu perjalanan wisata dengan skala kecil, jarak yang dekat, waktu kunjungan yang singkat, dan dengan anggaran yang secukupnya. Secara nasional fenomena ini mungkin tidak begitu tampak memberi kontribusi pada pendapatan negara. Akan tetapi micro tourism sangatlah memberi harapan baru bagi daerah di Indonesia.

Inovasi dan diversifitas produk wisata akan dilakukan oleh pemerintah daerah. Persaingan antardaerah di sektor pariwisata menjadi sangat ketat. Setiap daerah akan menggali potensi wisatanya dengan mempertimbangkan autentisitas. Tren pariwisata 2026 yang ramah lingkungan dan petualangan berbasis alam yang natural akan membuat banyak objek wisata daerah diburu wisatawan.

Paling tidak, micro tourism akan memberikan tiga keuntungan bagi daerah. Pertama, secara sosial budaya akan menjadi sarana mempertahankan identitas daerah. Sudah pasti wisatawan bukan hanya menikmati pemandangan alam di daerah. Mereka juga ingin mengenal aktivitas sosial budaya masyarakat. Di sinilah momentum daerah untuk melestarikan potensi sosial budayanya lewat pariwisata.

Kedua, secara ekonomi daerah juga diuntungkan. Tidak perlu terlalu muluk-muluk berbicara manfaat ekonomi micro tourism bagi masyarakat di daerah. Pendapatan dari parkir objek wisata saja jika dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Belum lagi UMKM, baik kuliner maupun hasil kerajinan lokal akan diminati wisatawan Gen Z.

Keuntungan ketiga adalah proses pelestarian lingkungan. Secara ekologis, pariwisata memang dapat menjadi ancaman. Namun jika masyarakat setempat sepenuhnya diberi kepercayaan untuk mengelola objek wisata di daerah, maka mereka lebih memiliki sense of belonging. Sehingga masyarakat akan bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan lingkungan di objek wisata daerah.

Sesungguhnya berwisata memang untuk memenuhi kepuasan mata, hati, dan pikirian. Apalah artinya berwisata ke destinasi populer jika mata disuguhi pemandangan alam yang penuh sampah dan kemacetan lalu lintas. Apalah artinya berwisata bila hati dongkol dengan ulah pedagang makanan yang mematok harga tinggi. Berwisata adalah untuk menenangkan dan menjernikan pikiran. Dan itu bisa saja berupa objek wisata yang biasa dan dekat-dekat saja. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatapariwisata indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Mewarnai di Bulan Bahasa Bali 2026: Mengajak Anak-anak Mengenal Karakter dari Warna

Next Post

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Membaca Perempuan dengan Tubuh yang Rentan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co