IBLIS BETINA DI DALAM CERMIN
seperti itu wajahku
tak lebih dari iblis betina
wadah dari segala rasa
terpancar dari wajahku :
cinta, benci, luka dan rindu
bercampur menjadi amarah yang jahat
kalian bisa melihatnya pada mataku
ada sedikit mimpi yang mencabik
seperti hendak memeluk luka dari rindu yang tak pernah tuntas
sekali memandang ke bintang yang berguguran
sekali pada rembulan yang pudar
sekali pada diri sendiri
yang selalu bertanya :
siapakah iblis betina ini?
Boyolali, 2026
PLASMA
zat ketiga yang lahir dari luka antara langit dan garam
kabut itu turun perlahan
menduduki ruang yang semula dihuni oleh arwah
bersamanya,
datang bisikan-bisikan dari waktu yang telah melepaskan tulangnya
aku berdiri disini
tubuhku diam
tetapi di dalam dadaku ada pintu yang terbuka satu persatu
seolah ada tamu-tamu tua yang kembali dari pengasingan mengendus bau masa silam dari liang kerongkonganku
mereka bukan arwah
bukan kenangan
mereka lebih tua dari keduanya
mereka adalah bentuk lain dari diriku yang telah lama mati
karena aku pernah menolak mendengarkan
ketika plasma datang
jiwa-jiwa yang dulu dipasung dalam penghakiman akan bangkit
mereka tak berkata
tapi dalam diamnya
kau akan merasa berguncang
lebih dalam dari gempa manapun
mereka menatapmu dari balik kabut
dengan mata yang pernah kau miliki waktu kau masih murni
dan bila kau berani memandang balik
kau tak akan tahu
siapa yang sesungguhnya sedang dilihat
mereka atau engkau yang telah lama hilang
tak ada penjelasan
tak ada permisi
yang ada hanyalah kembalinya mereka
yang pernah engkau buang demi menjadi waras
dan mungkin
itulah saat engkau benar-benar hidup untuk pertama kalinya
ketika kau biarkan yang telah mati
menumpang di perahu jiwamu
untuk satu pelayaran terakhir
tanpa arah
tanpa kompas
dan tanpa nama
“laut adalah ibu bagi segala rahasia, kabut adalah nafasnya, dan plasma adalah suara yang kau sembunyikan dalam tubuhmu sendiri.”
Boyolali, 2026
SALAM CINTA
kebahagiaanku ada di balik kelopak matamu
mari menyelesaikan segala itu
mengambil segenap kedua
kemenangan dan kekalahan manusia
dalam mengatasi kehadirannya
sedikit meninggalkan sesuatu
ialah cinta dan kumpulan puisi dalam nafas alam
dan pergulatan menentang dera
bercerita dari lembar ke lembar
menangkap segala kejadian dan peristiwa
menyanyi dalam segala lagu dan irama getar
dari hati demi hati
mengembalikan segala cahaya
yang tiba dari bintang, bulan dan mimpi
semacam pelangi melingkari alam
dalam susunan warna dan rasa
dan tercapailah satu pengenalan
tercapai satu pendekatan
seakan satu saudara sekandung
dengan segenap perasaan
salamku padamu
cintaku bersamamu selamanya
Boyolali 2026
JIWAKU PERGI
malam menyungkur bayangannya
menghanyutkan tubuh yang sudah tak kenal batas
di bawah langit yang berdenyut dengan sinar hitam
dimana batu-batu gurun
memanggil nama yang hilang
dimana waktu berhenti
menghadap cermin yang retak
dan naga-langit tertidur
dalam pikiran yang kosong
roh telah mengembara
terperangkap di sela-sela
pujangga angin yang berkelana
tak ada harapan untuk kembali
hanya sisa-sisa darah di dalam tanah merah
terbungkus kain berasap yang tak sempat terbakar
ia tak lagi mampu mengenali wajahnya
berkeliaran dalam jurang naya
yang tak meraba batas
meski bibir pernah mengucap doa
tapi tiap kata meluncur kekosongan
menemui jalan buntu
di ruang gelap tak terdefinisi
ia menunggu
menunggu sesuatu yang terlupakan
terlalu lama, sampai jejak kaki di pasir menjadi abu
dan tiba-tiba langit
meremukkan gigi-gigi bintang
menghadirkan kematian
dalam wujud padi rontok
berdebu di tangan yang tak lagi menggenggam harapan
sesuatu yang tak pernah diberitahu datang
seperti ombak yang menggulung
pulang ke lembah penghisaban
lalu ia bersandar pada pohon delima tua
dimana daunnya yang merah jatuh satu-satu
meninggalkan cahaya bayangan
yang kabur diantara rongga tubuh
jika nanti
jika kelak
nama ini terhapus oleh hujan
biarkan ia menghilang dalam bisu tanah yang tak bersuara
karena kematian adalah ruang
yang menelan seluruh cerita
Boyolali, 2026
KITA YANG TUMBUH DI ANTARA RETAKAN KOTA
aku mencintaimu
seperti trotoar mencintai langkah kaki yang letih
tak pernah dipeluk
hanya diinjak berkali-kali
namun tetap setia menahan arah
di dadamu
aku belajar bahwa cinta bukan perayaan
melainkan antrean panjang di depan loket harapan
orang-orang membawa luka
dan kita saling menyembunyikan tangis
agar tampak dewasa di hadapan dunia
malam menurunkan baliho wajah-wajah bahagia
iklan keluarga sempurna
sementara kita berdua
menyusup di gang sempit perasaan
mencuri waktu
membagi sunyi
seperti roti terakhir
kau bilang
cinta tak selalu punya rumah
kadang ia hanya berteduh
di bawah jembatan ingatan
menunggu seseorang yang berani tinggal
meski air pasang kenyataan terus datang
aku memelukmu
bukan sebagai kekasih semata
melainkan sebagai sesama manusia
yang pernah dipatahkan sistem
dilupakan doa-doa
dan dipaksa tersenyum demi kelangsungan hidup
jika suatu hari
kita tak lagi bersama
biarlah kota ini mengingat
bahwa pernah ada dua orang
yang saling mencintai
tanpa modal selain keberanian
dan kejujuran untuk tetap merasa
karena cinta
adalah satu-satunya kemewahan
yang masih bisa dimiliki
oleh mereka
yang tak punya apa-apa
Boyolali, 2026
KITA MENUNGGU DI TEPI YANG SAMA
kita jatuh cinta di antara berita-berita buruk
tentang harga yang naik dan doa yang tak sempat diucapkan
kau menyeduh kopi seolah sedang merawat luka kota
aku meminumnya perlahan agar tak ikut pahit
di luar, lampu-lampu jalan bekerja keras menipu gelap
sementara kita belajar mencintai tanpa janji
tanpa peta, tanpa jaminan hari esok
aku ingin memelukmu seperti hujan memeluk atap seng
berisik, namun jujur
tak menyembunyikan apa-apa
kadang kita lelah menjadi manusia
yang harus kuat di siang hari
dan pura-pura baik-baik saja di hadapan orang banyak
tapi malam tahu cinta kita bukan sekadar rasa
ia adalah perlawanan kecil terhadap sepi
terhadap dunia yang terlalu sering lupa cara mendengarkan
jika suatu saat kita harus berpisah arah
biarlah kenangan ini tinggal di sela-sela hidup orang lain
sebagai kabar baik, bahwa dua manusia
pernah saling memilih
meski segalanya serba terbatas
karena mencintaimu
adalah caraku tetap percaya
bahwa duniamasih bisa diselamatkan
oleh hal-hal sederhana
Boyolali, 2026
PEREMPUAN YANG BELAJAR MENCINTAI PELAN-PELAN
aku mencintaimu, dengan cara yang tidak riuh
seperti perempuan menyimpan rahasia di lipatan bajunya sendiri
setiap pagi aku menanak rindu
di dapur yang sempit
sementara dunia di luar terus meminta perempuan
agar kuat, agar sabar, agar tak banyak berharap
aku belajar mencintaimu tanpa suara
sebab terlalu sering,
perasaan perempuan dianggap berlebihan
atau tak perlu didengar
kau datang bukan sebagai penyelamat
melainkan sebagai jeda
tempat aku boleh lelah
tanpa harus menjelaskan apa pun
di pelukmu, aku tak perlu menjadi siapa-siapa
selain perempuan yang ingin dicintai
tanpa syarat, tanpa penghakiman
jika suatu hari aku memilih diam
jangan kira itu ketiadaan
itu hanya caraku merawat cinta
agar tidak habis dipakai dunia
aku mencintaimu seperti perempuan mencintai hidup
pelan
namun sepenuh hati
meski berkali-kali harus terluka
Boyolali, 2026
.
Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole



























