6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
in Esai
Mungkinkah Bahasa Bali Punah?

Ilustrasi tatkala.co dibuat dengan ChatGpt

PERTANYAAN tentang mungkinkah Bahasa Bali punah terasa kian relevan jika kita menengok kehidupan Bali hari ini. Di tengah pesatnya pariwisata, teknologi, dan arus globalisasi, cara orang Bali berkomunikasi ikut berubah. Di rumah, di sekolah, bahkan di lingkungan bermain anak-anak, bahasa Indonesia kini lebih sering terdengar ketimbang Bahasa Bali. Pergeseran ini terjadi perlahan, hampir tanpa disadari, namun dampaknya sangat besar bagi keberlangsungan bahasa daerah.

Dulu, Bahasa Bali hidup kuat sebagai bahasa sehari-hari. Anak-anak tumbuh dengan Bahasa Bali sebagai bahasa pertama yang mereka dengar dari orang tua dan lingkungan sekitar. Bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga pembawa nilai, sopan santun, humor, hingga cara pandang orang Bali terhadap dunia. Kini situasinya berbeda. Banyak keluarga memilih menggunakan bahasa Indonesia sejak anak-anak mereka masih belia. Alasannya beragam, mulai dari ingin anak lebih siap masuk sekolah, takut anak kesulitan mengikuti pelajaran, sampai anggapan bahwa bahasa Indonesia terasa lebih praktis.

Bahasa ibu tentu bisa apa saja. Setiap keluarga berhak menentukan bahasa yang digunakan di rumah. Namun ketika Bahasa Bali tidak lagi dikenalkan sebagai bahasa ibu, muncul persoalan baru. Anak-anak tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan bahasa daerahnya sendiri. Akibatnya, ketika mereka dewasa, Bahasa Bali terasa asing. Tidak sedikit orang Bali hari ini yang mengaku mengerti sedikit, tetapi tidak percaya diri untuk berbicara. Ada pula yang benar-benar tidak paham, terutama ragam halus yang sarat makna budaya.

Padahal, mengenalkan Bahasa Bali sejak dini tidak akan menyulitkan anak di masa depan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak mampu menyerap lebih dari satu bahasa secara alami. Anak yang sejak kecil terbiasa dengan Bahasa Bali dan bahasa Indonesia justru memiliki kepekaan bahasa yang lebih baik. Mereka bisa tumbuh sebagai penutur dwibahasa tanpa harus mengorbankan salah satunya. Masalahnya bukan pada kemampuan anak, melainkan pada kebiasaan orang dewasa yang perlahan meninggalkan Bahasa Bali.

Jika kondisi ini dibiarkan, Bahasa Bali berisiko mengalami penyempitan fungsi. Ia hanya dipakai saat upacara adat, kegiatan resmi, atau di ruang kelas sebagai mata pelajaran. Bahasa yang hidup seharusnya dipakai dalam percakapan sehari-hari, dalam canda, dan dalam nasihat orang tua kepada anak. Ketika Bahasa Bali hanya hadir di ruang formal, ia kehilangan denyut kehidupannya. Lambat laun, kosakata menghilang, ungkapan tradisional terlupakan, dan generasi muda semakin jauh dari akar budayanya.

Bahasa tentu tidak bisa dipisahkan dari identitas. Dalam Bahasa Bali tersimpan konsep tingkat tuturan dalam berucap ─ perbedaan rasa hormat dalam bertutur dengan lawan tutur tertentu. Semua itu sulit diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bahasa lain. Saat Bahasa Bali melemah, yang ikut melemah adalah jembatan nilai antar generasi. Anak-anak mungkin tetap menjadi orang Bali secara administratif, tetapi pemahaman terhadap budayanya sendiri menipis.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Sekolah menuntut penguasaan bahasa Indonesia. Media dan gawai menghadirkan konten berbahasa nasional dan asing. Dunia kerja menuntut keterampilan komunikasi yang luas. Semua itu nyata. Namun di tengah tuntutan tersebut, ruang keluarga tetap memiliki peran paling penting. Orang tua adalah guru pertama. Jika di rumah Bahasa Bali dihidupkan kembali, digunakan dalam percakapan ringan, dalam memanggil anak, bercerita, maupun menasihati, maka benih kecintaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Upaya pelestarian juga bisa dilakukan secara kolektif. Desa adat, sekolah, dan komunitas kreatif dapat menghadirkan ruang penggunaan Bahasa Bali yang menyenangkan. Misalnya melalui lomba-lomba, pertunjukan seni, konten digital, atau kegiatan literasi berbahasa Bali. Bahasa perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan dunia anak muda, bukan hanya dalam buku pelajaran. Ketika Bahasa Bali terasa relevan dan membumi, generasi muda akan lebih mudah menerimanya.

Ungkapan lama mengingatkan kita. Utamakan bahasa Indonesia, pelihara bahasa daerah, kuasai bahasa asing. Kalimat ini bukan sekadar slogan. Di dalamnya ada keseimbangan. Bahasa Indonesia menyatukan kita sebagai bangsa. Bahasa asing membuka jendela dunia. Sementara bahasa daerah menjaga akar identitas. Ketiganya bisa berjalan beriringan, tidak perlu saling meniadakan.

Jadi, mungkinkah Bahasa Bali punah? Jawabannya bergantung pada pilihan kita hari ini. Jika kita terus membiarkannya tersisih dari rumah dan kehidupan sehari-hari, risikonya nyata. Namun jika kita mulai dari langkah kecil, berbicara kepada anak dengan Bahasa Bali, menertawakan lelucon sederhana dalam Bahasa Bali, dan merasa bangga menggunakannya, harapan itu masih ada. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BahasaBahasa BalibaliBulan Bahasa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru dan Patriotisme yang Bocor

Next Post

‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

'Leaving on a Jet Plane': Bisikan Nostalgia dan Takdir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co