6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 27, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Abstrak

Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 636 M merupakan salah satu peristiwa militer paling menentukan dalam sejarah awal Islam sekaligus sejarah Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Kekalahan telak pasukan Romawi yang berada di bawah otoritas Kaisar Heraclius dari pasukan Muslim bukan hanya menandai runtuhnya dominasi Bizantium di wilayah Syam, tetapi juga melahirkan konsekuensi teologis, politis, dan kultural yang bersifat jangka panjang.

Artikel ini tidak memandang Perang Yarmuk semata sebagai peristiwa militer, melainkan sebagai sumber legitimasi religius dan sebagai titik awal produksi ingatan kolektif yang membentuk relasi Islam–Kristen hingga masa kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan sejarah kritis dan perspektif ushuluddin, tulisan ini menelusuri bagaimana kekalahan Bizantium berkontribusi pada lahirnya polemik teologis Kristen terhadap Islam, termasuk tuduhan bahwa Al-Qur’an merupakan hasil penjiplakan terhadap Bible, upaya delegitimasi kenabian Muhammad, serta reproduksi wacana permusuhan yang terus diwariskan dalam sejarah panjang perjumpaan dua agama besar dunia.

Pendahuluan

Sejarah pada hakikatnya tidak pernah bersifat netral. Ia selalu ditulis, ditafsirkan, dan diwariskan melalui kepentingan, trauma kolektif, serta kebutuhan akan legitimasi kekuasaan dan iman. Dalam konteks relasi Islam–Kristen, Perang Yarmuk menempati posisi sebagai salah satu simpul sejarah yang terus diingat, diperdebatkan, dan direproduksi dalam berbagai bentuk narasi.

Dalam tradisi Islam, Yarmuk dikenang sebagai kemenangan yang menegaskan pertolongan ilahi dan legitimasi risalah Islam, sementara dalam historiografi Kristen Bizantium, peristiwa ini dipahami sebagai tragedi geopolitik sekaligus krisis teologis yang mengguncang fondasi kekaisaran Kristen Timur. Perang yang berlangsung di lembah Sungai Yarmuk, wilayah Syam, pada tahun 636 M ini berakhir dengan kekalahan telak tentara Romawi Timur.

Kekalahan tersebut tidak sekadar berarti kehilangan wilayah strategis, melainkan juga runtuhnya klaim teologis Bizantium sebagai imperium Kristen yang dipilih dan dilindungi oleh Tuhan. Dalam konteks inilah Perang Yarmuk tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik antar pasukan, melainkan sebagai benturan dua klaim legitimasi ketuhanan yang saling meniadakan. Artikel ini berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai bagaimana Perang Yarmuk diproduksi sebagai ingatan kolektif dan bagaimana kekalahan Bizantium tersebut memengaruhi sikap teologis Kristen terhadap Islam dan Al-Qur’an hingga hari ini.

Perang Yarmuk dalam Konteks Sejarah

Untuk memahami signifikansi Perang Yarmuk, perlu dilihat latar belakang politik dan religius pada awal abad ke-7. Kekaisaran Bizantium pada masa itu berada dalam kondisi kelelahan struktural akibat perang panjang melawan Persia Sassania yang berlangsung selama beberapa dekade. Meskipun Kaisar Heraclius berhasil merebut kembali Yerusalem pada tahun 630 M dan mengembalikan Salib Suci ke kota tersebut, kemenangan itu tidak sepenuhnya memulihkan stabilitas kekaisaran.

Struktur ekonomi melemah, wilayah perbatasan rapuh, dan konflik internal gereja terus menggerogoti legitimasi kekuasaan. Pada saat yang sama, komunitas Muslim yang baru terbentuk di Jazirah Arab mulai mengalami konsolidasi politik dan religius setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ pada tahun 632 M. Ekspansi Muslim ke wilayah Syam tidak dapat dipahami semata sebagai ambisi teritorial, melainkan sebagai perjumpaan langsung dengan struktur kekuasaan religius Kristen Bizantium yang selama berabad-abad memosisikan dirinya sebagai pelindung iman Kristen sejati. Dalam konteks ini, benturan militer yang terjadi di Yarmuk merupakan benturan dua tatanan dunia yang masing-masing mengklaim legitimasi ilahi.

Jalannya Perang Yarmuk sendiri memperlihatkan ketimpangan jumlah pasukan antara tentara Romawi dan pasukan Muslim. Tentara Bizantium secara kuantitatif jauh lebih besar dan didukung oleh tradisi militer yang mapan. Namun pasukan Muslim yang dipimpin oleh para komandan seperti Khalid bin Walid mampu mengimbangi bahkan mengungguli kekuatan tersebut melalui strategi militer yang fleksibel, mobilitas pasukan yang tinggi, serta moral tempur yang didorong oleh keyakinan religius yang kuat. Sejarawan modern umumnya sepakat bahwa kekalahan Romawi di Yarmuk bersifat katastrofik, karena secara efektif mengakhiri kekuasaan Bizantium atas Suriah dan Palestina, wilayah yang sebelumnya menjadi pusat penting bagi politik dan teologi Kristen Timur.

Yarmuk dan Krisis Legitimasi Teologis Kristen

Dalam kerangka teologi Bizantium, kekaisaran dan iman Kristen merupakan dua entitas yang saling terkait dan saling menopang. Kekaisaran dipandang sebagai manifestasi kehendak Tuhan di dunia, sementara kemenangan militer dianggap sebagai tanda restu ilahi. Oleh karena itu, kekalahan di Yarmuk tidak hanya dibaca sebagai kegagalan strategi atau kepemimpinan militer, tetapi sebagai krisis iman yang mendalam.

Pertanyaan yang muncul dalam kesadaran teologis Bizantium adalah bagaimana mungkin sebuah imperium Kristen dapat dikalahkan oleh komunitas yang oleh banyak penulis Kristen awal dipandang sebagai “bidah Arab” atau bahkan sebagai kelompok pagan yang baru mengenal monoteisme. Jawaban atas pertanyaan ini tidak bersifat tunggal. Sebagian penulis Kristen awal menafsirkan kekalahan tersebut sebagai hukuman Tuhan atas dosa internal gereja dan penyimpangan moral umat. Namun seiring berjalannya waktu, narasi ini bergeser dari refleksi internal menuju delegitimasi Islam itu sendiri sebagai agama yang dianggap tidak sah.

Pergeseran ini tampak jelas dalam literatur polemik Kristen abad pertengahan, di mana Islam sering digambarkan sebagai ajaran sesat, sekte Kristen yang menyimpang, atau produk manipulasi seorang nabi palsu. Citra Islam sebagai “agama palsu” ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan merupakan respons terhadap trauma kekalahan geopolitik yang kemudian dialihkan ke dalam konflik teologis. Dengan mendeligitimasi Islam secara teologis, kekalahan militer Bizantium dapat dijelaskan tanpa harus menggugat klaim dasar bahwa kekaisaran Kristen berada di bawah perlindungan Tuhan.

Tuduhan Penjiplakan Al-Qur’an terhadap Bible

Salah satu tuduhan yang paling bertahan lama dalam polemik Kristen terhadap Islam adalah anggapan bahwa Al-Qur’an merupakan hasil penjiplakan terhadap Bible. Tuduhan ini telah muncul sejak polemik Kristen awal, seperti dalam karya Yohanes dari Damaskus pada abad ke-8, seorang teolog Kristen yang hidup di bawah kekuasaan Islam namun menulis dari perspektif apologetika gereja.

Argumen utama yang digunakan dalam tuduhan ini bertumpu pada keberadaan tokoh-tokoh yang sama dalam Al-Qur’an dan Bible, seperti Musa, Ibrahim, dan Isa, kesamaan kisah-kisah moral, serta kemiripan nilai-nilai etika yang diajarkan. Namun pendekatan semacam ini cenderung mengabaikan perbedaan mendasar antara kedua kitab suci tersebut, baik dalam struktur wahyu, konsep ketuhanan, posisi Yesus dalam teologi masing-masing, maupun epistemologi teks suci itu sendiri.

Dari perspektif ushuluddin Islam, Al-Qur’an tidak pernah mengklaim kebaruan absolut dalam narasi sejarah kenabian. Sebaliknya, ia menegaskan dirinya sebagai kelanjutan sekaligus koreksi terhadap wahyu-wahyu sebelumnya dalam kerangka wahdat al-risalah, yaitu kesatuan misi kenabian. Kesamaan kisah tidak dipahami sebagai bukti penjiplakan, melainkan sebagai indikasi konsistensi pesan tauhid sepanjang sejarah manusia. Al-Qur’an bahkan secara eksplisit mengkritik distorsi teks dan teologi yang terjadi dalam tradisi sebelumnya, sebuah kritik yang oleh sebagian tradisi Kristen dipahami sebagai ancaman langsung terhadap otoritas gereja dan fondasi teologinya.

Nabi Muhammad dan Delegitimasi Personal

Ketika upaya mengalahkan Islam secara militer mengalami kegagalan, polemik Kristen terhadap Islam mengalami pergeseran fokus ke wilayah personal, khususnya terhadap sosok Nabi Muhammad ﷺ. Dalam literatur polemik Kristen, Nabi Muhammad sering digambarkan sebagai figur yang digerakkan oleh ambisi politik, memanipulasi wahyu demi kepentingan kekuasaan, atau menyebarkan agama melalui kekerasan. Tuduhan-tuduhan ini kemudian direproduksi dan diperluas dalam tradisi orientalisme modern, sering kali tanpa pembacaan historis yang komprehensif dan adil. Fenomena ini dapat dibaca sebagai mekanisme psikologis dan teologis: jika Islam diakui sebagai agama yang sah secara moral dan teologis, maka kekalahan Bizantium di Yarmuk menjadi semakin sulit dijelaskan dalam kerangka teologi Kristen imperialis.

Narasi delegitimasi terhadap Nabi Muhammad tidak berhenti pada abad pertengahan, melainkan berlanjut hingga era modern, terutama dalam wacana Barat pasca-Perang Salib dan kolonialisme. Dalam banyak kasus, citra negatif tentang Nabi Muhammad direproduksi bukan sebagai hasil kajian ilmiah yang netral, melainkan sebagai warisan polemik lama yang terus diperbarui sesuai konteks zaman.

Produksi Ingatan dan Pewarisan Kebencian

Perang Yarmuk dengan demikian menjadi bagian dari memori laten dalam relasi Islam–Kristen. Ia tidak selalu disebut secara eksplisit dalam wacana teologis atau politik, tetapi hidup dalam sikap, prasangka, dan narasi yang diwariskan lintas generasi. Dalam teori ingatan kolektif, kekalahan besar jarang diingat sebagai fakta sejarah yang objektif; sebaliknya, ia diproduksi sebagai luka identitas yang membentuk cara suatu komunitas memandang dirinya dan pihak lain. Dalam konteks ini, Yarmuk berfungsi sebagai trauma historis yang memengaruhi produksi wacana tentang Islam dalam sebagian tradisi Kristen.

Namun penting untuk ditegaskan bahwa kebencian terhadap Islam atau Nabi Muhammad bukanlah sikap seluruh umat Kristen. Ia lebih tepat dipahami sebagai produk dari elite teolog tertentu, kepentingan politik, dan struktur kekuasaan yang merasa terancam oleh perubahan tatanan dunia. Sejarah relasi Islam–Kristen juga memperlihatkan fase-fase koeksistensi, dialog, dan kerja sama yang signifikan, seperti yang terjadi di Andalusia dan wilayah Timur Tengah pada masa awal Islam, di mana komunitas Muslim dan Kristen hidup berdampingan dalam kerangka sosial yang relatif inklusif.

Penutup

Perang Yarmuk pada akhirnya merupakan lebih dari sekadar pertempuran militer abad ke-7. Ia adalah titik balik sejarah yang melahirkan krisis legitimasi, produksi ingatan kolektif, dan polemik teologis yang panjang. Kekalahan Bizantium tidak hanya mengubah peta politik kawasan Mediterania Timur, tetapi juga memengaruhi cara sebagian tradisi Kristen memandang Islam, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad hingga hari ini.

Dengan pendekatan sejarah kritis dan ushuluddin, dapat disimpulkan bahwa banyak tuduhan terhadap Islam lebih merupakan respons terhadap trauma sejarah dan kehilangan hegemoni religio-politik, daripada hasil kajian teks yang objektif dan berimbang. Memahami Perang Yarmuk sebagai peristiwa sejarah sekaligus fenomena produksi ingatan membuka peluang bagi pembacaan yang lebih jujur dan dialog yang lebih adil antara dua tradisi iman besar dunia.[T]

Referensi:

Al-Balādhurī, Futūḥ al-Buldān

Al-Ṭabarī, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk

Al-Wāqidī, Kitāb al-Maghāzī

Ibn Kathīr, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah

Ibn Khaldūn, Muqaddimah

Theophanes the Confessor, The Chronicle of Theophanes

John of Damascus, De Haeresibus

 Sophronius of Jerusalem, Synodical Letter

Fred M. Donner, The Early Islamic Conquests

Hugh Kennedy, The Great Arab Conquests

Walter E. Kaegi, Heraclius: Emperor of Byzantium

John Haldon, Byzantium in the Seventh Century

Kenneth Cragg, The Call of the Minaret

Norman Daniel, Islam and the West

W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca

W. Montgomery Watt, Muhammad at Medina

Gabriel Said Reynolds, The Qur’an and Its Biblical Subtext

.

Tags: agamaIslamKristenperangTeologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lima Remaja, Satu Cerita: It’s Stellar Memulai Langkah Lewat ‘Berdansa dalam Cerita’

Next Post

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co