SAAT ini siapa yang butuh membaca. Siapa yang butuh makna. Siapa yang butuh ruang ketiga.
Pada saat saya kecil, di tahun 1990an saya membayangkan kota ini sebagai Kota Singa yang gagah, menakjubkan, membanggakan. Dari semua cerita bapak saya, tidak pernah saya dengar cerita buruk sekalipun soal Singaraja. Saya selalu menaruh kota ini di puncak ingatan sebagai kota terbaik.
Lalu tiba-tiba di tahun 1999 sekira bulan Oktober, karena dunia politik panas, tiba-tiba di kota Singaraja terjadi kebakaran di mana-mana, bahkan perpustakaan juga hampir ludes terbakar. Saya masih ingat, buku-buku berserakan dan berhamburan hampir dilalap api. Saya sangat sedih, karena buku-buku yang nyaris terbakar itu adalah sebuah tanda buruk bagi sebuah kota. Saya menyelamatkan beberapa. Berjalan kaki memunguti yang tersisa dari puing-puing. Kesedihan itu rasanya masih ada dan saya ingat betul rasanya.
Dan kini, hampir 27 tahun setelah peristiwa itu, 2026, saya merasa sudah saatnya Singaraja membangun kembali sebuah kebutuhan membaca yang besar.
Namun kebutuhan membaca tidak datang tiba-tiba. Dia tidak jatuh dari langit. Dia harus diciptakan dan diupayakan untuk ada.
Lebih dalam lagi, kita harus tahu mengapa.
Ketika 1 orang bisa membaca tidak serta merta orang di sekitarnya akan suka membaca juga. Ketika 1 rumah dipenuhi buku, tidak berarti tetangganya juga punya setumpuk buku. Membaca adalah pilihan. Namun pilihan dapat dibuat, dianjurkan, dan diketoktularkan.
Untuk sebuah kota, bernama Singaraja, kebutuhan itu bukan lagi sebuah kemewahan, tapi keharusan. Sangat tidak berlebihan jika kota ini mau berbenah, berpikir, dan berubah kea rah yang lebih progresif, sebuah toko buku mutlak ada.
Perjuangan menghadirkan toko buku di Singaraja bukan tanpa alasan. Ke mana para pecinta buku pergi jika tak ada surga buku di Singaraja. Perpustakaan milik pemerintah memang ada, namun tidak cukup menjadi sumber rujukan buku terbaru, buku yang membuat kita berpikir, buku yang membuat kita menyangsikan makna, buku yang membuat kita melahirkan perspektif baru, buku yang menggugah rasa untuk terus bertumbuh.
Berpuluh tahun berlalu sejak saya SD, saya mendambakan sebuah pusat literasi yang bagus, yang bisa memberi saya rasa hangat dan nyaman ketika membaca dan membiarkan imajinasi bekerja untuk membuat sebuah dunia alternatif yang bisa menawar luka di dunia nyata.
Dan itu akhirnya tidak terjadi sampai akhirnya pada tahun 2008 saya membuat perpustakaan kecil keluarga yang datangnya dari koleksi suami dan koleksi sendiri. Sebuah perpus mini yang terus bertumbuh dan mendominasi rumah kami yang juga terus bertumbuh. Perpus ini membersamai perjalanan saya sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai manusia yang berevolusi.
Saya sadar sebagai perempuan, saya harus rakus membaca. Salah satu kerakusan yang dianjurkan adalah rakus membaca. Saya membawa buku bersama saya ketika sedih, marah, kecewa, dan menulis buku untuk mneyalurkan respons saya.
Saya tertolong oleh buku-buku ini. Saya merasa harus memberi sebuah respons jika buku telah berhasil saya baca. Sampai titik ini, saya tak pernah benar-benar selesai rakus membaca dan masih akan terus begitu. Ruang Mahima adalah ruang dimana manusia menemukan sesuatu yang mereka rindukan, tempat bercerita, ruang ketiga, ruang alternatif, dan ruang jeda dari segala kecepatan massif dunia.
Kini di tahun 2026, hampir 18 tahun perjalanan membangun rumah baca dan rumah pengetahuan yang kami sebut Mahima, kami hadirkan sebuah alternatif baru, sebuah wadah baru bernama Anima tokobuku.
Perjalanan ini telah menempuh proses 18 tahun dan tidak lahir dari ruang hampa. Mahima kini menjelma menjadi sebuah jejaring ekosistem baca dan tulis yang cukup berdampak, memiliki sebuah festival sastra, dan telah merancang pembibitan penulis-penulis pemula sejak lama.
Kehadiran Anima bukan sebuah akal-akalan gimmick, tapi sebuah kebutuhan dan kerinduan untuk belajar dalam sistem yang lebih rapi, manajemen perbukuan yang diusahakan bersama.
Anima diniatkan sebagai sebuah ruang belajar menata idealism dan realita, sebuah titik yang jarang bertemu dengan imbang, namun diusahakan dan diterjadikan.
Pada akhirnya, manusia memang harus menemukan makna dalam dirinya, sebuah keharusan yang dia harus gali sepanjang hidupnya.
Sebuah kota, juga harus menemukan dirinya, menemukan maknanya. Dihidupi oleh manusia di dalamnya. Orang yang tinggal di sana. Di Singaraja, Anima hadir untuk menemukan kembali makna Singaraja, mengapa harus ada Singaraja untuk apa dan mau kemana.
Mendidik kota dengan sebuah kebutuhan membaca yang harus terus menerus dipelihara dan dirayakan bersama.
Sebuah kehadiran, yang denyutnya terasa masih kecil, tapi senantiasa terus ada.
Penulis: Kadek Sonia Piscayanti
Editor: Adnyana Ole


























