6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MBG: Antara Harapan dan Realita

Ni Made Ratminingsih by Ni Made Ratminingsih
January 22, 2026
in Esai
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Ni Made Ratminingsih

BERTEPATAN dengan tanggal 25 Januari 2026 merupakan Hari Gizi Nasional. Sebuah momentum penting yang patut digunakan sebagai ajang refleksi kondisi gizi anak-anak Indonesia. Di tengah peringatan ini, wacana Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu menjadi perhatian dan penilaian kita bersama.

 Program ini hadir dengan tujuan utama yaitu memperbaiki status gizi anak, menekan angka stunting, serta meningkatkan konsentrasi dan capaian belajar siswa. Namun, di balik tujuan baik tersebut, muncul pertanyaan mendasar, apakah MBG benar-benar menjawab persoalan gizi secara substansial?

Secara substansi, tidak ada masalah dengan gagasan menyediakan MBG bagi anak-anak sekolah. Program ini bertujuan mulia, sebab asupan gizi yang memadai dapat berkontribusi pada fokus dan kesiapan belajar, kesehatan fisik, dan perkembangan kognitif.  Pun halnya, dalam konteks permasalahan sosial-ekonomi, MBG juga dapat menjadi sebuah alat yang digunakan pemerintah untuk merealisasikan keadilan sosial, yang memastikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat memperoleh nutrisi yang layak. Dengan cara demikian, sekolah bukan hanya sebagai pusat belajar, tetapi juga tempat memberikan keadilan bagi semua anak untuk tumbuh dan berkembang maksimal.

Namun, realita sering bertolak belakang dari niat baik tersebut. Permasalahan berupa berbagai kasus keracunan makanan telah mewarnai dalam proses realisasinya. Berbagai pihak, orang tua, guru, dan peserta didik mengalami trauma dan menolak MBG karena kasus-kasus keracunan tersebut. Meski demikian, program tersebut masih tetap dijalankan dengan alasan pemecahan masalah gizi bukan masalah instan namun perlu proses panjang dengan pembenahan dalam penanganan proses produksi dan distribusi.

Persoalan gizi tidak sesederhana menyediakan makanan gratis. Gizi adalah masalah multidimensional yang berkaitan dengan pendidikan keluarga, pola asuh, sanitasi, akses pangan, budaya makan, hingga literasi kesehatan. Masalah gizi tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar seporsi makanan di sekolah, sebab sejatinya anak-anak perlu asupan makanan yang lengkap di rumah.  Pendidikan keluarga dan pola asuh membentuk kebiasaan makan sejak dini. Orang tua hendaknya memiliki literasi kesehatan yang memadai untuk menyediakan nutrisi berkualitas bagi anak-anak. Namun, tidak semua orang tua paham tentang hal ini dan mampu menyediakannya (faktor ekonomi), sehingga program MBG di sekolah dapat berbenturan dengan pola dan budaya makan di rumah. Tanpa pendidikan keluarga yang memadai, Upaya perbaikan gizi bersifat parsial dan kurang optimal. Oleh karena itu, pendidikan keluarga menjadi lebih penting untuk keberlangsungan program.

Selain itu, sanitasi dan akses pangan menentukan efektivitas program gizi anak.  Faktor kebersihan dan akses pangan di beberapa wilayah dapat menjadi tantangan. Anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil dengam lingkungan yang kurang bersih dan susah dijangkau dapat menjadikan program MBG menghadapi tantangan dalam distribusi, sehingga dapat menyebabkan makanan menjadi basi sebelum sampai ke tempat tujuan.  Di lain pihak, budaya makan juga berperan penting. Preferensi keluarga dan anak-anak pada makanan tertentu dapat bertentangan dengan program MBG. Hal ini dapat berpotensi penolakan anak karena makanan yang diberikan tidak sesuai dengan selera mereka.  Akibatnya, tidak sedikit makanan yang terbuang, dikonsumsi setengah hati, atau tidak memberikan manfaat optimal. Gizi sesungguhnya tidak bisa dipaksakan melalui satu resep untuk semua.

Literasi kesehatan menjadi fondasi dari kesuksesan sebuah upaya untuk menyehatkan anak bangsa, Literasi kesehatan bukan sekadar pengetahuan tentang gizi, tetapi juga kemampuan memahami dan menerapkan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kemampuan pemahaman dan penerapan ini, program MBG tidak akan berjalan optimal, bila tidak dibarengi dengan penanaman pemahaman yang memadai kepada anak-anak dan juga orang tua.  Mereka perlu diberikan penjelasan dan pemahaman tentang apa yang dimakan dan apa manfaatnya, bukan sekadar makan untuk mengenyangkan. Oleh karena itu, MBG berkelanjutan hendaknya lebih menekankan pada pembentukan kesadaran, kebiasaan, dan tanggung jawab antara sekolah dan orang tua dalam membangun pemahaman dan penerapan makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak-anak yang menjadi generasi penerus dan SDM Indonesia ke depan.

Peran guru menjadi krusial dalam program MBG. Guru bukan hanya sebagai pembantu mendistribusikan makanan kepada anak-anak di kelas, namun guru perlu dibekali pelatihan untuk mengintegrasikan MBG dalam aktivitas pembelajaran terkait dengan edukasi gizi dalam setiap makanan yang didistribusikan, Dengan demikian, guru dapat memberikan penjelasan dan pemahaman kepada anak-anak tentang asupan gizi pada makanan yang dikonsumsi mereka. Dengan cara edukatif ini, diharapkan akan ada perubahan pola dan perilaku makan pada anak, karena didukung oleh proses pembelajaran tentang literasi kesehatan yang bermakna. Demikian juga pada orang tua, mereka perlu mendapatkan sosialisasi tentang literasi kesehatan yang menunjang keberhasilan program dalam jangka panjang.

Dengan momentum Hari Gizi Nasional, program MBG yang telah berjalan perlu direfleksikan apakah memang masih perlu dilanjutkan atau distop. Ini semua tergantung pada bagaimana impelemntasinya ke depan. Bila hanya masalah bagi-bagi makanan gratis saja, tanpa dibarengi dengan pendidikan literasi kesehatan, mungkin keberhasilannya kurang atau tidak optimal, sehingga program MBG perlu distop, karena kesehatan anak-anak seutuhnya lebih banyak ditentukan dari keluarga di rumah melalui pemahaman dan kesadaran diri untuk hidup sehat. Sebaliknya, MBG bisa dilakukan berkelanjutan bila program diperkuat dan dibarengi dengan edukasi literasi kesehatan. Dalam konteks ini, MBG diintegrasikan dengan pendidikan literasi kesehatan, bukan sebagai sebuah solusi tunggal dari semua masalah kompleks seperti kesiapan dan fokus belajar, perkembangan fisik, dan kognitif siswa,

Integrasi menjadi kata kunci. MBG perlu disinergikan dengan edukasi literasi kesehatan, yang melibatkan bukan hanya anak-anak, para guru, tetapi juga orang tua. Dengan demikian, anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga membangun pengetahuan, sikap, dan kebiasaan hidup sehat. Tanpa itu, MBG hanyalah menjadi kebijakan politis taktis yang tampaknya mengesankan di awal, tetapi kehilangan makna dan dampak dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, harapan besar MBG harus diimbangi dengan realita lapangan. Niat baik pemerintah patut diapresiasi, namun niat tersebut harus direalisasikan dengan usaha yang maksimal. Gizi anak adalah sebuah investasi masa depan suatu negara yang memerlukan penanganan komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis pendidikan. Di Hari Gizi Nasional ini, sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita resapi bersama bukanlah pada seberapa banyak porsi yang telah mereka konsumsi, namun sejauh mana mereka telah paham dan menerapkan pola hidup sehat. [T]

Penulis: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pasca Forum: Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan Indonesia 2025

Next Post

‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

Ni Made Ratminingsih

Ni Made Ratminingsih

Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A., pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

'Darurat Medsos' untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co